Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 87 : Gadis Penerjemah


__ADS_3

Perjalanan Jakarta -Austria ditempuh kurang lebih 18 jam. Sepanjang penerbangan Kailla lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur. Dia lelah sekali, semalaman Pram mengganggu waktu tidurnya. Belum lagi ketika bangun, Pram kembali menjamahnya. Bisa dipastikan kalau dia menolak, Pram tidak akan membiarkannya keluar kamar.


“Kai, kita akan transit di Dubai selama tiga jam.” ucap Pram, masih sibuk dengan laptop dan laporan-laporan di depannya.


“Hmmm,” Kailla hanya bergumam, matanya tetap terpejam.


“Aku lelah sekali,” sahut Kailla masih memeluk boneka kesayangannya. Boneka yang dibelikan daddy sewaktu ia berumur sepuluh tahun. Biasanya boneka itu hanya akan menjadi pajangan di kamarnya. Karena ia akan meninggalkan daddy dalam waktu yang cukup lama, Pram mengizinkan membawa bonekanya. Itu pun dengan syarat, saat mereka tidur Kailla hanya boleh memeluk Pram.


Setelah transit selama tiga jam di Dubai, kembali mereka menaiki pesawat yang sama menuju ke Wina, Austria. Dalam perjalanan enam jam ini, Kailla tidak tidur sama sekali. Bahkan ia tidak mengizinkan Pram menatap laptopnya atau mengecek laporannya. Pram hanya bisa duduk manis menemani kebawelannya. Bahkan tidak jarang ia mengomeli Pram yang tertidur mendengar ocehannya.


“Aku capek, Kai. Aku mengantuk,” rengek Pram ketika lagi-lagi Kailla mengomelinya saat ia tidak menjawab pertanyaan istrinya itu.


Begitu pesawat tiba di Bandara Internasional Wina, tampak Kailla yang sudah kelelahan bergelayut manja di lengan Pram, ditemani Bu Ida dan Bayu yang mengekor di belakangnya. Setelah Bayu selesai mengurusi semua administrasi dan bagasi, bergegas mereka keluar mencari utusan dari kantor RD Group cabang Austria.


“Maaf dengan Bapak Reynaldi Pratama?” Tiba-tiba seorang gadis cantik berpakaian seksi dan ketat menghampiri mereka. Terlihat dia berkali-kali memandang foto di ponselnya dan membandingkannya dengan Pram.


“Ternyata aslinya lebih tampan. Ketampanannya mengalahkan Tik Jesada Pholdee,” ucap sang gadis dalam hati.


Pram hanya mengangguk, tidak tersenyum atau pun menjawab. Wajahnya datar. Melihat gadis dengan penampilan aneh di depannya, dia sudah ingin mengumpat. Kalau benar gadis ini adalah salah satu karyawannya, dia akan memecat pihak HRD yang telah meloloskan gadis ini hingga bisa sampai di depan matanya sekarang.


Selamat siang Pak, saya Mitha” ucap gadis itu menunjukkan tanda pengenal RD Group dan menyalami Pram. Tampak gadis itu menyodorkan shopping bag berisi ponsel baru. Matanya menatap Pram tanpa berkedip.


“Benar-benar tampan Pak Presdir, bukan kaleng-kaleng,” ucap Mitha dalam hati.



(Ini visual Mitha ya, yang pengen nimpuk, ngomel dll waktu dan tempat dipersilahkan )

__ADS_1


“Terima kasih. Pieter tidak ikut bersamamu?” tanya Pram melihat gadis itu sekilas dan menerima shopping bag kemudian menyodorkannya kepada Bayu.


“Pak Pieter masih ada rapat, Pak. Bapak bisa menghubunginya melalui ponsel yang baru saya berikan.” sahut Mitha berusaha memberikan senyum semanis mungkin mencoba menarik perhatian Pram. Terlihat berkali-kali ia menurunkan rok ketat pendeknya ketika berbicara.


Tujuannya adalah memancing perhatian Pram agar mau menatap paha dan betis seksinya.


Baru saja Mitha akan berbalik untuk mengajak rombongan Pram menuju ke mobil, tapi Pram sudah terlebih dulu berkata.


“Kenalkan istriku, Kailla,” ucap Pram tersenyum menatap Kailla yang masih bergelayut manja di lengannya.


Tampak Kailla menyodorkan tangannya ke depan, menunggu Mitha yang saat ini sedang menatapnya dari ujung rambut ke ujung kaki.


“Mitha,” ucap Mitha singkat. Ia sempat tertegun sesaat. Sedari tadi, ia tidak menyadari kehadiran istri sang Presdir dikarenakan pesona Presdir terlalu memikat hatinya.


“Kailla.”


Pram menyadari sejak awal Mitha menghampiri mereka, istrinya sudah menggenggam erat lengannya seolah takut ditinggalkan. Belum lagi sorot mata Kailla menatap tanpa berkedip penampilan gadis yang akan menjadi bawahannya selama di Austria.


“Oh ya ... saya lupa mengenalkan diri saya ke Bapak. Saya dipekerjakan Pak Pieter sebagai penerjemah untuk Pak Presdir,” jelas Mitha. “Ke depan kita akan sering bertemu Pak,” lanjut Mitha. Matanya sekilas menatap ke istri sang Presdir yang terlihat tidak menyukainya.


“Astaga, suamiku akan ditempel terong-terongan seperti ini setiap hari.”


“Oke ....” sahut Pram singkat. Ia tidak mau terlalu banyak bertanya. Semakin sering mengobrol dengan gadis ini, semakin besar kemungkinan ia tidur di luar. Membayangkan itu saja, Pram sudah bergidik. Baru saja ia bisa menaklukan Kailla dan tentu saja tidak mau kehadiran Mitha malah menghancurkan perjuangannya selama ini.


Mitha mempersilahkan Pram dan Kailla masuk ke mobil bersamanya. Bu Ida dan Bayu masuk di mobil lainnya. Di dalam mobil pun Kailla masih saja bergelayut manja, tidak mau melepaskan Pram sama sekali. Sesekali ia menyandarkan kepala di pundak suaminya tanpa bicara, hanya mengawasi gadis yang sedari tadi menebar pesona di depan Pram.


“Cih! Kenapa harus mempekerjakan perempuan jadi-jadian seperti ini sih!” gerutu Kailla dalam hati.

__ADS_1


Setiap mendengar suara Pram yang bertanya pada si gadis, Kailla semakin kesal. Kalau saja ini di Indonesia, ia sudah siap menjambak.


Mitha yang sedari tadi mencuri pandang pada Kailla juga tidak kalah kesalnya. Ia lupa menanyakan kepada Pieter tentang sang Presdir. Begitu Pieter mengirimkan foto Presdir ke ponselnya, ia sudah terlalu senang, terpesona sampai lupa menanyakan statusnya. Pagi-pagi sekali, ia sudah ke salon, berdandan cantik untuk memikat hati Sang Presdir.


“Ih, cabe-cabean begini dijadikan istri. Apa di Indonesia sudah kurang perempuan. Kalau bertemu denganku duluan, belum tentu jadi menikah dengan cabe -cabean ini.” batin Mitha.


“Pak kita mau langsung ke apartemen Bapak atau mau berkeliling cari makan siang atau bagaimana?” tanya Mitha menatap Pram penuh kekaguman.


“Aduh, itu bibir Pak presdir rasanya manis kali, ya,” ucap Mitha dalam hati. Terlihat ia menelan saliva.


“Sayang, aku boleh jalan-jalan?” tanya Kailla manja. Menelusup ke dalam dada bidang Pram.


Pram tahu, hati Kailla saat ini sedang panas, seperti bara api di tempat abang jualan sate padang. Dikipas sedikit saja langsung bisa terbakar.


“Sayang, mau kemana?” tanya Pram tersenyum. Sebenarnya ia sudah ingin tertawa melihat tampang Kailla saat ini. Perpaduan kesal dan cemburu, kalau sedang tidak ada Mitha di dalam mobil sudah pasti ia akan melahap habis bibir merah yang begitu menggoda.


“Aduh! Kenapa rasanya Pak Presdir ngomongnya ke aku, ya.” Mitha menatap Pram tanpa berkedip.


Melihat Mitha yang sedang menatap suaminya, hati Kailla semakin panas. Kali ini ia menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Pram. “Sayang kita ke tempat ini saja, ya.” Kailla menunjukkan ponselnya.


“Mau kesini? Baiklah!” Terlihat Pram menunjukkan foto tempat wisata di ponsel Kailla kepada Mitha. Mitha pun segera berbicara kepada sang sopir dalam bahasa Jerman yang tidak dipahami Pram dan Kailla sama sekali.




__ADS_1



Terimakasih dukungannya ya.


__ADS_2