Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 116 : Pengawal Baru


__ADS_3

“Kenapa marah padaku?” tanya Pram masih tetap menyuapkan nasi dan lauk ke mulutnya.


“Kenapa membawa perempuan itu kesini juga?” Kailla menjawab sambil cemberut.


“Perempuan yang mana lagi?” tanya Pram. Sendok di tangannya langsung dilepaskan di sisi kotak bekal. Dia kembali merengkuh pinggang istrinya dan memaksa Kailla untuk menatapnya.


“Perempuan yang kamu peluk di depan apotik!” Kailla menjawab ketus.


“Hah? Winny maksudmu?” tanya Pram memastikan.


“Aku lupa namanya, aku hanya ingat wajah dan kamu memeluknya!” gerutu Kailla kesal.


“Bukannya aku selalu cerita padamu, kalau aku ada meeting dengannya. Bahkan kemarin, aku masih memberitahumu,” jelas Pram. Dia bingung dengan sikap istrinya. Beberapa hari ini Kailla tahu dia akan menemui Winny, tapi kenapa tiba-tiba marah. Padahal kemarin baik- baik saja.


“Aku lupa Winny itu perempuan yang memelukmu,” sahut Kailla.


“Itu pelukan tanpa sengaja Sayang,” jelas Pram.


“Sengaja atau tidak, tetap pelukan. Kamu juga senyum-senyum dengannya, aku tidak suka,” ucap Kailla.


“Kamu pencemburu sekali Kai!” goda Pram.


“Aku tidak cemburu. Aku tidak suka milikku diganggu orang,” jawab Kailla ketus.


“Jadi kalau Winny itu bukan dia, kamu tidak akan mempermasalahkannya?” tanya Pram lagi.


“Iya...,” jawab Kailla pelan sambil menunduk.


“Intinya kamu masih mempermasalahkan pelukan itu Kai. Kamu tidak mempercayaiku?” tanya Pram lagi.


Kailla tidak menjawab, hanya menunduk.


“Baiklah, aku akan minta Donny mencari rekaman cctv di Restoran xxx supaya kamu percaya. Aku tidak berbohong padamu. Aku tidak memeluknya hari itu,” jelas Pram.


“Aku tidak memintamu mempercayaiku saat ini. Tapi tolong, jangan seperti ini lagi. Aku tidak bisa bekerja dengan tenang,” lanjut Pram lagi.


“Kenapa jadi aku yang salah? Harusnya ini kesalahanmu!” omel Kailla kembali mendengus kesal.


“Kamu yang pelukan dengannya, kenapa jadi aku yang salah!” Kailla sudah berdiri dari duduknya, berjalan meraih tas tangan miliknya yang diletakkan di sofa.


“Kita selesaikan di rumah, aku masih ada pekerjaan sekarang.” Terlihat Pram menghabiskan makanan di kotak bekal sebelum menyingkirkannya di sisi meja.


“Iya... aku juga masih belum puas marah padamu!” ucap Kailla sambil cemberut.


“Jadi kamu mau menungguku sekarang atau mau pulang duluan?” tanya Pram.


“Maksudnya, kamu mau mengusirku sekarang?” tanya Kailla mulai terpancing.


“Astaga Kailla... kamu minta digigit sekarang?” ucap Pram.


Mata Kailla membulat mendengar ucapan Pram. “Aku tidak mau. Setiap berbaikan denganmu, kamu selalu menggigitku!”


“Hahaha..., kamu bisa menungguku di tempat Mitha. Sekutu barumu!” ucap Pram menyindir istrinya.

__ADS_1


“Kamu masih berhutang banyak hal tentang Winny padaku. Aku akan mempertimbangkan akan berbaikan atau tetap berperang denganmu!” ucap Kailla ketus.


“Tunggu aku di tempat Mitha, nanti aku akan menjemputnya disana,” perintah Pram.


***


Setelah selesai dengan dokumen-dokumennya, Pram memilih menghubungi Bayu.


“Bay, informasi yang aku minta sudah kamu dapatkan?” tanya Pram pada Bayu yang sedang menunggu di lobby.


“Sudah Bos, semua data dan informasi tentang Mitha sudah di tanganku.” jawab Bayu.


“Oke!” Pram menjawab singkat.


“Oh ya Bos, saya sudah mendapatkan pengawal tambahan untuk Non Kailla. Dia sedang menunggu Bos di bawah. Apa mau menemuinya sekarang?” tanya Bayu.


“Baiklah! Aku yang akan ke menemuinya. Aku tidak mau istriku memergokinya,” jawab Pram.


Tampak Pram turun ke lobby untuk bertemu langsung dengan pengawal Kailla yang baru.




“Aku tidak ingin istriku tahu kalau kamu mengikutinya!” ucap Pram saat sudah berhadapan dengan orang itu.


“Baik Bos!”


“Istriku tidak suka diikuti, jadi terkadang di tempat-tempat tertentu dia tidak mengizinkan Bayu dan Sam mengikutinya. Dan di saat seperti itu kamu harus tetap mengikutinya,” titah Pram lagi.


“Minta datanya pada Bayu, ada beberapa orang yang harus istriku hindari. Jangan pernah biarkan orang-orang itu mendekatinya.”


“Baik Bos!”


“Bay, aku sudah mengirim foto seseorang di ponselmu. Dia juga termasuk orang yang harus dihindari istriku,” ucap Pram.


Bayu segera mengeluarkan ponsel dan membuka pesan di wa-nya. Seketika matanya melotot melihat foto yang dikirim Bosnya.



“Pak Pieter?” Bayu berbisik pelan.


“Iya, aku tidak ingin dia menemui istriku tanpa sepengetahuanku atau seizinku!” ucap Pram.


Terlihat dia menyodorkan tangannya pada si pengawal baru yang dia sendiri tidak tahu namanya.


“Aku titip istriku!” ucap Pram, setelah si pengawal menerima uluran tangannya. Tampak Pram menepuk pundak si pengawal, dan berjalan masuk ke kantor, meninggalkannya dan Bayu.


***


Mit, apa yang dilakukan suamiku dengan si Winny itu?” tanya Kailla saat dia sudah masuk ke dalam ruangan Mitha. Di dalam ruangan itu juga ada staff yang lain selain Mitha.


“Tidak ada, cuma mengobrol biasa, tapi Pak Presdir lebih banyak bicara dengannya dan mau tersenyum. Beda dengan klien-klien yang lain,” sahut Mitha. Tampak Mitha menarik sebuah kursi kosong untuk Kailla duduk.

__ADS_1


“Nyonya, kenapa kesini?” tanya Mitha keheranan.


“Suamiku menyuruh menunggunya di tempatmu. Sepertinya dia tahu kita bersekongkol. Hehehe,” sahut Kailla terkekeh.


“Jangan memanggilku Nyonya kalau tidak ada suamiku. Panggil namaku saja,” pinta Kailla sambil tersenyum.


“Ah.. aku tidak terbiasa Nyonya!”


“Kamu harus melaporkan semua hal yang dilakukan suamiku di luar sana. Jangan sampai ada yang terlewatkan. Ingat itu Mit!” ucap Kailla mengingatkan Mitha.


“Kalau ada perempuan yang menggodanya, jangan lupa kabarkan segera kepadaku,” ucap Kailla tersenyum licik.


“Nyonya sepertinya sangat mencintai Pak Presdir,” ucap Mitha sambil menggoda Kailla.


“Dia suamiku, aku tidak mau ada yang mendekatinya,” sahut Kailla. “Ini juga berlaku untukmu. Ingat itu!” Kailla mengarahkan telunjuknya ke arah Mitha.


“Aku sudah tidak berminat lagi pada Presdir. Setelah aku lihat-lihat, dia terlalu tua,” ucap Mitha sambil tertawa.


“Kurang ajar! Apa maksudmu?” Kailla mendengus kesal.


“Terlalu tua Nyonya!” goda Mitha.


“Alasan! Aku melihat sendiri bagaimana kamu menelan ludahmu saat menjemput suamiku di bandara,” gerutu Kailla.


“Hahaha, aku berpikir Pak Presdir masih single. Tapi begitu melihat istrinya, aku mundur teratur Nyonya.”


“Dasar perempuan penggoda!” gerutu Kailla. Melihat Kailla menggerutu, Mitha malah tertawa.


“Tapi penampilanmu waktu di apartemen itu sungguh luar biasa Nyonya!” ucap Mitha mengingatkan Kailla kejadian di ruang kerja Pram.


“Jangan mengingatkanku! Itu sungguh memalukan.” Kailla tertunduk.


“Pak Pieter sampai tidak berkedip. Setiap hari dia masih membahasmu Nyonya,” cerita Mitha.


“Pak Pieter menyukaimu Nyonya,” bisik Mitha di telinga Kailla.


Deg— Seketika membuat Kailla terkejut.


“Kamu serius?” tanya Kailla lagi.


“Waktu Nyonya memeluk Pak Pieter di ruang rapat, wajahnya langsung memerah,” jelas Mitha.


“Aku memeluknya? Aku tidak merasa memeluknya.” Kailla bingung.


“Iya, Nyonya memeluknya saat tertidur di ruang rapat. Sebaiknya Nyonya berhati-hati dengan Pak Pieter, kalau tidak ingin bermasalah dengan Pak Presdir.” Mitha memberi saran.


“Benarkah?”


“Dia tergila-gila padamu Nyonya! Ssstttt..ini rahasia kita berdua. Aku sering menangkap basah Pak Pieter,” bisik Anita membuka rahasia Pieter. Dia bahkan memergoki ponsel Pieter menyimpan foto-foto istri Presdirnya.


“Dia stalking semua akun medsos Nyonya,” lapor Mitha.


“Jangan katakan apa-apa pada suamiku. Kalau dia tahu, aku akan dikurung di kamar,” ucap Kailla pelan.

__ADS_1


“Siap,” ucap Mitha memberi kode tutup mulut dengan jarinya.


***


__ADS_2