
“Sayang, kamu belum menjawab keinginanku belajar bahasa Jerman?” tanya Kailla ragu.
Pram terlihat menghentikan langkahnya. Tadinya dia sudah bersiap meraih gagang pintu kamarnya.
Pram menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Kailla, “kalau aku tidak mengizinkan, apakah kamu keberatan?”
Pram benar-benar tidak bisa melepaskan Kailla saat ini. Dia sudah tidak bisa mempercayai siapa pun, termasuk Bayu. Tidak ada yang bisa diandalkan lagi. Membawa istrinya keluar dari zona nyaman ternyata juga bisa mempengaruhi hubungan mereka. Semua diluar perhitungan Pram.
Kailla belum pernah memiliki hubungan dengan siapapun kecuali 3 orang teman kampusnya dan beberapa asisten yang setiap hari mengawalnya. Kalau dia tidak menjaganya dengan baik, bisa saja ada laki-laki yang mencuri kesempatan.
Kailla masih polos sekali, dia tidak pernah menjalin hubungan special dengan siapapun, tidak tahu rasanya berpacaran. Belum pernah merasakan jantung berdetak kencang saat melihat orang yang disukai. Tapi Pram tahu, getar-getar itu pernah ada di hati Kailla. Dion! Laki-laki biasa, tapi bisa mencuri perhatian istrinya. Dan Pram harus curang saat itu. Memang dia ada di posisi yang memegang kendali. Kalau dia tidak cepat, hati Kailla akan memilih Dion dibandingkan dirinya.
“Kamu tidak mengizinkanku?” tanya Kailla memastikan sekali.
Pram hanya mengangguk, dia tidak bicara apapun. “Aku belum memikirkannya. Bisakah saat ini, kamu hanya fokus untuk kehamilanmu saja?” tanya Pram.
“Hah? Maksudmu?” tanya Kailla, dia sedikit bingung dengan jawaban Pram yang menurutnya tidak ada hubungan dengan pertanyaannya.
“Kai..” Pram menghampiri istrinya dan mengajak Kailla duduk di tepi ranjang. Mungkin ini waktu yang tepat untuk berbicara secara dewasa dengan Kailla.
“Aku ingin kamu hamil secepatnya. Selama ini, aku berusaha menundanya hanya karena aku memikirkan perasaanmu. Aku tahu, kamu belum siap hamil dan belum mau punya bayi.” Pram berkata.
“Tapi beberapa hari yang lalu, kamu sendiri yang mengatakan ingin segera hamil. Dan aku menganggap kamu sudah cukup dewasa dan paham dengan hubungan yang kita jalani saat ini. Walau aku tahu, masih ada sedikit keterpaksaan di sana,” ucap Pram, telunjuknya mengarah di dada Kailla.
Kailla hanya diam mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir Pram.
“Untuk saat ini tidak perlu memikirkan banyak hal, persiapkan dirimu untuk hamil karena itu tidak mudah.. Kemarilah..!” ucap Pram, merengkuh tubuh Kailla ke dalam pelukannya.
“Setelah melahirkan dan anak kita bisa ditinggalkan, kamu harus menyelesaikan kuliahmu. Capai semua impianmu. Kamu mengerti Kai?”
“Iya....,” Kailla menjawab singkat dan masih tetap menunduk.
“Ada yang mau kamu sampaikan padaku? Apa kamu mau menolak? Aku siap mendengarkan sekarang.”
Kailla menggeleng.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan meminta sekretarisku mengatur janji dengan dokter SpOG. Kita belum melakukan test untukmu. Aku harus memastikan semuanya baik-baik saja dan kamu benar-benar siap hamil. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu atau bayi kita nanti,” jelas Pram.
“Mungkin sedikit terlambat, seharusnya kita melakukannya sebelum menikah. Tapi memang awalnya, kita tidak berencana untuk punya anak secepat ini. Dan aku juga tidak punya banyak waktu mengurusnya,” lanjut Pram.
“Baiklah..” Kailla menjawab singkat. Dia tidak membantah Pram. Setiap Pram sudah membuat keputusan, suaminya itu tidak akan terbantahkan. Kailla sudah paham betul, kapan dia bisa membangkang, kapan dia harus diam dan menurut. Dia sudah mengenal Pram 20 tahun. Pram akan memberinya waktu dan kesempatan berbicara, tapi saat Pram sudah membuat keputusan artinya dia sudah tidak punya kesempatan.
“Cium aku sekarang! Aku harus ke kantor,” pinta Pram.
Kailla langsung mengecup bibir Pram sekilas. Cup!
“Sudah!” ucap Kailla sambil tersenyum.
“Hahaha.... ciuman seperti apa ini!” ucap Pram sambil tertawa.
“Aku sudah mirip dengan debt collector sedang menagih cicilan yang sudah lewat tempo. Ckckck,” lanjut Pram sembari menggelengkan kepala menatap istrinya.
“Aku berangkat sekarang, sopir sudah menungguku di bawah,” pamit Pram mengecup kening Kailla sekilas.
“Jangan nakal, kalau tidak aku akan menggigitmu nanti malam,” lanjut Pram menempel dan mengesek-gesekkan hidungnya dengan hidung mancung Kailla sambil mengernyit.
***
“Bu, kita masak apa?” tanya Kailla, membuka salah satu lemari dan mengambil celemek bersih untuk dipakai menutupi dress tidurnya.
“Hanya ada bahan-bahan ini di kulkas Non,” jawab Bu Ida menunjukkan buncis, wortel, tomat, kol dan jamur.
“Hanya ini saja Bu?” tanya Kailla bingung. Dia tidak tahu harus memasak apa. Selama ini dia hanya masuk ke dapur untuk masak indomie dan telur mata sapi saja.
Ada baso, ayam fillet dan udang di kulkas Non,” sahut Bu Ida. Terlihat wanita tua itu bersiap membuka salah satu sisi kulkas side by side yang berdiri kokoh di samping kitchen set.
“Jadi mau masak Bu? Aku mau membawa makan siang untuk suamiku ke kantor,” jelas Kailla.
“Sayuran dioseng saja semuanya ya Non dan masak ayam kecap,” usul Bu Ida.
“Pak Pram tidak bawel soal makanan. Apa yang Ibu masak, dia akan makan tanpa banyak komentar. Mau itu enak atau tidak, dia tetap menghabiskannya,” lanjut Bu Ida.
__ADS_1
Kailla mengangguk. Suaminya memang tidak cerewet. Bahkan kalau tidak ada lauk di rumah, dia dengan sukarela makan nasi dengan telur ceplok dan kecap. Motto Pram “dia makan untuk hidup bukan hidup untuk makan”. Dia benar-benar tidak pernah memusingkan mengenai apa yang dia makan.
Setelah siap, tampak Kailla memasukkan nasi putih dan lauknya ke dalam lunch box. Dia menyiapkan 2 porsi, untuknya dan Pram. Tampak dia menenteng lunch box itu turun bersama Bayu ke parkiran, menemui sopir yang sudah siap di mobil untuk mengantar mereka ke kantor.
“Pas, begitu sampai ke kantor jam makan siang,” ucap Kailla tersenyum melihat jam di pergelangan tangannya.
***
Pram baru saja menyelesaikan rapatnya bersama Winny dan staffnya. Hari ini dia tidak ada jadwal meeting di luar, semua rapat diadakan di kantor KRD.
“Pram, makan siang yuk!” ajak Winny saat ruang rapat sudah mulai sepi. Beberapa staff sudah meninggalkan ruangan, tinggal Mitha yang masih membereskan berkas-berkas Pram.
Pram menatap Rolex di pergelangannya, sudah hampir jam 12.00 siang. “Boleh! Tapi aku tidak bisa lama-lama, setelah makan siang aku masih ada rapat lagi,” ucap Pram menyetujui usul Winny.
Dia berdiri, mengancingkan jasnya dan bersiap meninggalkan ruangan, menyusul Winny yang sudah keluar terlebih dulu.
“Mit, tolong berkas-berkas diantar ke ruanganku,” perintah Pram.
“Dan minta David ke ruanganku setelah dia makan siang,” titah Pram lagi.
“Baik Pak,” sahut Mitha mencuri pandang pada atasannya.
Mitha dari tadi menguping pembicaraan atasannya dengan Winny. Entah kenapa, sejak beberapa hari yang lalu, dia mencurigai kedua orang ini. Ini bukan kali pertama Pram meeting dengan Winny, sebelumnya Mitha sudah pernah menemani Pram meeting di luar bersama Winny. Atasannya terlihat akrab dengan Winny, berbeda saat Pram berhadapan dengan klien lain.
Bahkan tadi pagi, dia sempat memergoki atasannya sedang mengobrol sambil tertawa berduaan di ruangan Presdir. Winny bahkan membawa cake kesukaan Pram. Mitha tidak tahu kalau Winny adalah teman kuliah Pram, sehingga kedekatan keduanya disalah artikan oleh Mitha.
***
Next :
Wajah Kailla langsung berubah saat Mitha menunjukkan foto suaminya dan Winny.
“Ini kan perempuan yang berpelukan dengan suamiku di depan apotik,” bisik Kailla pelan. Matanya sudah berkaca-kaca. Tangannya mengepal, dengan kasar dia mengusap air mata yang turun di pipinya.
Dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Bayu. “Bay! Cepat ke ruangan Bosmu!” perintah Kailla.
__ADS_1