
Kailla baru keluar kamarnya saat hari sudah menjelang sore.
“Bu, Sam dimana?” tanya Kailla pada Bu Ida saat melewati dapur.
“Tuh!” tunjuk Bu Ida pada sosok yang sedang tertidur lelap di atas sofa ruang tamu sambil memeluk tas ranselnya.
“Bu, buatkan aku sandwich, aku lapar,” pinta Kailla.
“Dengan jus juga ya Non?” tanya Bu Ida.
“He..em,” jawab Kailla. Untuk saat ini dia tidak punya pilihan. Sejak hamil, hanya menu itu saja yang bisa masuk ke dalam perutnya.
Kaillla menghampiri Sam yang masih tertidur lelap.
“Sam.. bangun! Kita harus bicara,” panggil Kailla sembari menggoyang-goyangkan tubuh Sam dengar kasar.
Sam tetap bergeming. Masih lelap tertidur, tidak merasa terganggu sama sekali.
“Sam.., bangun!” panggil Kailla sedikit lebih keras. Masih sama. Sam masih setia dengan alam mimpinya, tidak terusik dengan panggilan majikannya.
Kailla berdecak kesal, tapi dia tidak kehilangan akal.
“Sam, ada Pak Pram! Cepat bangun!” teriak Kailla keras di telinga Sam.
Sekejap, asistennya itu langsung berdiri seperti orang kebingungan.
“I...iya Pak!” sahut Sam, mengusap mulutnya. Berdirinya masih belum terlalu tegak, pandangannya masih samar, karena dipaksa bangun dengan cara yang tidak manuasiwi. Apalagi kesadarannya belum terkumpul sempurna.
“Mana Pak Pram?” tanya Sam heran saat sudah sadar sepenuhnya, menatap ke sekeliling mencari sosok yang paling ditakutinya saat ini.
“Ini istrinya!” Kailla menunjuk pada dirinya sendiri sambil terkekeh.
“Ah Non! Mengejutkan ku saja!” gerutu Sam, memilih kembali duduk, memungut tas ransel yang sempat dijatuhkannya tanpa sengaja.
“Sam, kita perlu bicara,” ucap Kailla menjatuhkan bokongnya di sofa panjang, berbagi duduk dengan Sam,
“Hemmm,” gumam Sam, memijat keninganya yang sedikit pusing.
Oh ya, Non beneran hamil?” tanya Sam memastikan. Dia masih belum percaya majikannya bisa secepat itu hamil.
Kailla mengangguk.
Sam tampak berpikir.
“Non, kepengen makan bakso Mas Sugeng?” tanya Sam memastikan.
“Iya...., tapi tidak mungkin,” jawab Kailla.
“Ah, tadinya aku sudah bawain buat Non, tapi disita petugas bandara,” sahut Sam tertunduk lesu, mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan foto bakso lengkap masih terbungkus plastik.
“Astaga Sam! Kamu mau membawa beginian ke sini? Mana bisa sih!” ucap Kailla terbelalak. Dia menggelengkan kepalanya, menatap Sam.
“Iya.., kata bapak petugas itu juga begitu. Aku tidak tahu Non, baru kali ini naik pesawat. Tidak bisa bertanya ke siapa pun. Itu saja, aku dikerjain Donny! S*alan si Donny.” gerutu Sam kesal.
__ADS_1
Sedetik kemudian pandangan Kailla kembali menatap foto di ponsel Sam, sambil menelan ludah berkali-kali.
“Sam... keadaan daddy bagaimana?” tanya Kailla tiba-tiba, menyodorkan ponselnya kembali pada empunya.
“Pak Riadi sudah mendingan. Pas aku ke sini, Pak Riadi baru pulang dari rumah sakit. Sempat beberapa hari dirawat.” Sam menjelaskan.
Kailla terkejut. Pram tidak pernah menceritakan apa pun padanya, termasuk daddy sempat dirawat di rumah sakit.
“Daddy kenapa dirawat?” tanya Kailla mulai panik.
“Kondisi Pak Riadi drop! Sempat tidak sadarkan diri Non,” jelas Sam dengan polosnya. Dia tidak tahu selama Pram menyembunyikan keadaan Pak Riadi yang sebenarnya dari Kailla.
Kailla langsung menangis, air mata itu mengucur deras tanpa permisi. Menangis tanpa suara.
“Da..daddy pasti merindukanku. Hiks..hiks.., seperti aku merindukannya,” ucap Kailla, terisak.
Tak lama, dia menghapus kasar air matanya.
“Suamiku tahu?” tanyanya pada Sam. Menatap asistennya itu.
Sam mengangguk.
“Pak David menghubungiku untuk kembali ke Jakarta, membantu Donny mengurusi Pak Riadi atas perintah Pak Pram,” jelas Sam, berterus terang. Tanpa sadar, ucapannya akan membuat kedua majikannya bermasalah.
Kata-kata Sam, langsung menghujam hati Kailla. Membayangkan daddynya berjuang sendirian disana. Pasti daddy membutuhkannya, tapi daddy tidak bisa mengungkapkannya. Pasti daddy juga menangis dan kehilangannya, tapi tidak bisa mengucapkannya.
“Tega sekali dia. Bahkan menyembunyikan hal penting ini dariku,” batin Kailla.
Kailla langsung bangkit, berjalan menuju kamarnya tanpa berkata-kata. Meninggalkan Sam yang kebingungan.
“Kalau sampai Non Kailla kenapa-kenapa lagi, habis aku di tangan macan tua itu.” ucap Sam lagi.
“Hadeuh... “ Sam menghela nafasnya.
“Benar-benar dilema. Kalau aku tidak menyusul, kasihan Non Kailla. Tapi kalau aku disini. Hari-hariku tidak akan bisa tenang, setiap saat macan itu siap menerkamku kalau aku berbuat salah sedikit saja,” ucap Sam lemas. Bangkit dari duduknya, menghampiri Bu Ida dan Bayu yang sedang mengobrol di dapur.
“Bu, kopi ya!” pinta Sam pada Bu Ida. Baru saja dia mendudukan tubuhnya di kursi, pintu apartemen terbuka. Sontak ketiga asisten itu mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk.
Tampak Pram masuk dengan menenteng shopping bag di tangannya. Kemudian melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah.
“Sam..,” panggil Pram, saat melewati ruang makan.
“Iya Pak!” Sam langsung berdiri tepat di hadapan Pram.
“Bagaimana perjalananmu?” tanya Pram santai.
“Baik Pak,” sahut Sam.
“Kailla dimana?” tanya Pram lagi.
“Barusan masuk ke kamar,” jawab Sam, menunjuk ke arah pintu kamar.
“Oh... kamu ikut denganku sekarang,” perintah Pram, mengajak Sam masuk ke ruang kerjanya.
Tapi baru saja melangkahkan kakinya, Pram berbalik menatap Bu Ida.
__ADS_1
“Bu, siapkan makanan untukku dan Kailla,” perintah Pram. Sebisa mungkin dia harus membuat istrinya makan, hanya dia yang bisa membujuk Kailla makan dengan benar.
“Baik Pak,” sahut Bu Ida, mengangguk.
***
“Sam, duduk!” perintah Pram, meletakkan shopping bag yang ditentengnya sedari tadi ke atas meja kerja. Terlihat dia membuka kancing jasnya sebelum akhirnya duduk di kursi kebesarannya.
Pram menyodorkan shopping bag itu ke depan Sam. “Ambillah! Ini ponselmu,”
“Baik Pak,” jawab Sam.
“Sebenarnya aku memintamu ke sini, untuk menemani Kailla,” ucap Pram membuka pembicaraan. Dia menautkan kedua tangannya ke atas meja, menatap serius ke arah Sam yang duduk di hadapannya.
“Kalau kamu melihat laki-laki ini sering berkeliaran di dekat Kailla, kamu tidak perlu khawatir,” ucap Pram, menyodorkan ponselnya kepada Sam, memperlihatkan foto seseorang.
“Iya Pak.”
“Dia pengawal Kailla. Dan Kailla tidak mengetahuinya. Kamu harus bisa menjaga rahasia ini,” ucap Pram.
“Baik Pak.”
“Kailla sedang hamil. Moodnya sering berubah-ubah, tolong jaga semua informasi yang tidak penting dan dapat membuatnya sedih. Aku tidak mau dia kenapa-kenapa,” jelas Pram.
“Siap Pak.”
“Waduh! Aku baru saja membuat Non Kailla menangis,” batin Sam.
“Kalian bertiga dengan Bu Ida bisa kembali ke unit kalian, saat aku pulang dari kantor,” jelas Pram.
“Oke Pak.”
“Baiklah, yang lain kamu bisa tanyakan pada Bayu. Aku harus menemui Kailla sekarang.”
Pram beranjak meninggalkan ruang kerjanya. Terlihat Sam mengekor di belakangnya. Saat melewati ruang makan, Pram bisa melihat makanan yang sudah siap di atas meja. Tapi masalah muncul saat dia meraih gagang pintu kamarnya. Pintu kamar tidurnya terkunci dari dalam.
“Kai..,” panggil Pram sambil mengetuk pintu.
Hening tidak ada jawaban dari dalam. Pram kembali mengetuk dan memanggil istrinya, tapi tetap sama. Terlihat di buru-buru, mengeluarkan ponselnya, menghubungi Kailla di dalam kamar. Tapi panggilannya langsung dimatikan Kailla.
“Pasti ada yang tidak beres ini,” ucapnya pelan, menatap ketiga orang asisten yang sedang duduk di minibar.
“Kailla kenapa lagi?” tanya Pram, menghampiri ketiganya. Bu Ida menggelengkan kepalanya, Bayu mengangkat bahunya pertanda dia tidak tahu apa-apa dan Sam menunduk.
“Sam?” panggil Pram, menunggu jawaban. Setelah memperhatikan respon ketiganya, Pram yakin ini semua ulah Sam.
“Maaf Pak,” ucap Sam tertunduk.
“Kamu belum ada 24 jam disini. Tapi sudah membuat masalah untukku!” omel Pram. Menatap tajam pada asisten kesayangan istrinya itu.
“Ikut aku sekarang!” perintah Pram sudah bersiap menyeret Sam, kalau laki-laki itu masih tetap diam.
***
Terimakasih.
__ADS_1