Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 180 : Tanda Kemerahan


__ADS_3

Pram menarik tangan Kailla, mengajaknya duduk bersama di sofa. Dia memang batal terbang ke Bali hari ini, tapi setidaknya dia harus menyelamatkan dirinya sendiri. Dia tidak mau nanti malam di usir Kailla dari kamar tidur mereka. Bagaimana pun, dia harus menyelamatkan harga dirinya sebagai seorang suami. Sungguh memalukan kalau sampai harus tidur di luar.


“Kai, kita cari makan siang?” ajak Pram, merangkul tubuh mungil istrinya yang sedang sibuk dengan ponsel di tangan.


Aku kenyang melihat wajahmu!” jawab Kailla ketus. Dia tidak mau melihat Pram saat ini. Padahal suaminya itu sudah tersenyum semanis mungkin, untuk meluluhkan hatinya.


“Bagaimana kalau kita ke mall?” tawar Pram lagi, melirik sekilas ke pergelangannya. Dia masih punya waktu 3 jam, sebelum meeting nanti sore.


“Aku tidak mau,” tolak Kailla, menatap ke arah Pram yang sedang tersenyum jahil padanya.


“Atau mau melihat dedek bayi?” tanya Pram lagi. Tapi Kailla tetap menolak. Istrinya hanya menggelengkan kepala sedari tadi.


“Masih marah padaku?” tanya Pram, langsung merebut ponsel dari tangan Kailla. Dan menyembunyikannya di belakang punggung. Dia sudah bersiap menunggu Kailla menyerangnya. Dengan begitu dia baru bisa membujuk istrinya.


“Sayang! Kembalikan!” perintah Kailla.


“Tidak, maafkan aku dulu,” pinta Pram, masih saja tidak mau menyerahkan ponsel Kailla. Membuat istrinya kesal sendiri setelah gagal mengambil kembali ponselnys. Dia baru saja akan memenangkan gamenya, tiba-tiba Pram merebutnya paksa.


“Pram....!” ucap Kailla setengah berteriak, kesal. Sontak dia menutup mulutnya sendiri setelah panggilannya tadi membuat Pram menatap tajam ke arahnya.


“Kamu memanggilku apa tadi? Coba ulangi!” ucap Pram. Untuk pertama kali, Kailla berani memanggil namanya.


“Coba panggil lagi namaku Kai. Aku akan menghukummu,” omel Pram, sudah bersiap menerkam Kailla.


Kailla menggeleng. “Aku tidak mau. Jangan mendekat,” ucap Kailla.


“Beraninya kamu memanggil nama suamimu sekencang itu.” Pram pura-pura mengomel.


“Bagaimana kalau kita berdamai,” pinta Kailla memelas, saat melihat Pram sudah mendekat dengannya. Dia langsung berlari, menjauh. Sambil tertawa mengitari meja kerja.


“Jangan mendekat Sayang,” ucap Kailla terkekeh. Mengarahkan telunjuk ke arah suaminya.


“Kita berdamai saja,” lanjut Kailla tersenyum memohon.


“Aku mau pulang saja,” ucap Kaila lagi. Dia sudah berada di belakang kursi kerja Pram. Dari tadi berkeliling meja kerja untuk menghindari suaminya sungguh melelahkan.


“Ayo Sayang. Sudah lama kita tidak main kejar-kejaran,” goda Pram. Dia berdiri tepat di seberang meja. Tampak Pram membuka kancing jasnya, kemudian melempar jas itu asal ke sofa.


“No..no! Aku lelah Sayang,” rengek Kailla setelah melihat gelagat suaminya. Dia memilih duduk di kursi kerja suaminya, sambil mengatur kembali nafasnya yang berantakan. Berharap Pram menyudahi semuanyaa.


Pram sedang menggulung lengan kemejanya saat berjalan menghampiri Kailla.


“Sayang, jangan marah lagi. Aku tidak bisa bekerja dengan tenang kalau marah ,” bujuk Pram.


Terlihat Pram memutar kursi yang diduduki istrinya supaya menghadap langsung padanya.


Kedua tangannya tertumpu pada pegangan kursi, mengunci disana, supaya Kailla tidak bisa pergi kemana-mana lagi.


“Aku tidak marah. Aku tidak masalah kalau kamu pergi. Tapi aku tidak mau ditinggal, aku mau ikut bersamamu,” ucap Kailla menengadahkan kepalanya. Memberanikan diri menatap mata suaminya.

__ADS_1


“Kai, aku ada pekerjaan di sana. Aku bukan jalan-jalan,” jelas Pram tersenyum.


Pram harus berbohong kali ini. Dia tidak mungkin berkata jujur, kalau dia ke Bali untuk mengungkap masa lalu mertuanya yang mungkin ada kaitan dengan masa lalunya sendiri. Dia tidak yakin, tapi nama dan tanggal lahir di akta kelahiran itu membuatnya penasaran.


“Tapi, kalau kamu tidak mengizinkanku, aku tidak akan pergi. Kamu dan anak kita yang terpenting dalam hidupku,” ucap Pram.


Lama Kailla terdiam mencerna ucapan suaminya, sebelum akhirnya membuka suara.


“Kamu pergi berapa lama?” tanya Kailla.


“Kamu mengizinkanku berapa hari?” Pram balik bertanya.


Kailla menggeleng. Tidak memberi jawaban sama sekali.


“Besok aku berangkat dengan penerbangan paling pagi. Aku berjanji akan pulang sebelum hari berganti,” ucap Pram, menatap penuh harap pada istrinya.


“Boleh?” tanya Pram lagi, setelah melihat Kailla tetap diam.


“Baiklah, tapi Sam harus ikut bersamamu,” sahut Kailla.


“Kai, kamu tidak salah?” tanya Pram memastikan.


“Tidak. Aku serius,” sahut Kailla.


“Dengan Sam atau aku tidak mengizinkanmu,” lanjut Kailla lagi.


“Kamu tidak mempercayaiku Kai?” tanya Pram. Dia hampir tidak percaya istrinya bisa seposesif ini.


“Baiklah, aku akan membawa Sam denganku. Tapi aku mau kamu tetap di rumah selama aku di Bali,” perintah Pram.


“Iya, aku akan menepati janji asalkan kamu juga tidak melanggar janjimu,” sahut Kailla mengangguk.


“Terimakasih Sayang,” ucap Pram, mengecup seluruh wajah Kailla.


“Aku memberimu.... em......” Kailla terlihat menghitung jari-jari tangannya.


“Oh ya.. 18 jam! Kamu hanya punya waktu 18 jam. Kalau kamu tidak kembali, aku akan menyusulmu!” ucap Kailla serius.


“Astaga Nyonya! Kamu benar-benar mengikatku sekencang ini,” ucap Pram.


“Aku bukan mengikatmu. Itu tanda aku mencintaimu,” sahut Kailla, terkekeh.


***


Kailla masih terlelap, saat Pram sudah bersiap-siap berangkat ke airport. Dia tidak membawa apapun, selain pakaian yang melekat di badannya.


“Sayang bangun,” panggil Pram, menguncang tubuh Kailla yang sedang memeluk guling.


“Sayang..., aku harus ke airport sekarang,” panggil Pram lagi.

__ADS_1


“Hmmmm,” gumam Kailla, masih memejamkan matanya.


“Ayo bangun Sayang. Suamimu butuh ciuman sebelum pergi,” bisik Pram di telinga Kailla.


“Sudah jam berapa Sayang?” tanya Kailla dengan suara serak. Kedua tangannya langsung menarik leher Pram yang sedang membungkuk di depan wajahnya.


“Sayang, aku sudah rapi sekarang,” protes Pram, saat Kailla menarik tubuhnya ikut berbaring di ranjang.


“Aku tidak rela. Aku sepertinya berubah pikiran,” ucap Kailla, memeluk erat tubuh Pram yang hampir tumbang menindihnya.


“Aku harus pergi. Sam sudah menungguku di luar,” jelas Pram.


“Ah.... kenapa kamu harus setampan ini,” gerutu Kailla saat sudah melihat dengan jelas penampilan suaminya. Dia langsung bangkit berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki. Suaminya tidak mengenakan setelan jas kerja seperti biasanya. Hari ini Pram mengenakan pakaian casual.


“Ah... aku tidak rela!” ucapnya lagi. Dia langsung memeluk Pram.


“Hahaha... jangan seperti ini Kai. Aku tidak akan macam-macam di luar sana,” janji Pram.


“Huh..!” Kailla hanya mendengus kesal, menatap seberapa tampan suaminya saat ini.


“Cium aku sepuasmu! Aku butuh itu, supaya aku bisa terus-terusan mengingatmu,” pinta Pram, tersenyum.


Kailla tertegun, dia mundur beberapa langkah. Memperhatikan Pram kembali.


“Perlihatkan jarimu?” pinta Kailla.


Setelah Pram mengulurkan tangannya, Kailla langsung berkata.


“Jangan pernah melepas cincin nikah ini. Awas kalau sampai aku tahu, kamu tidak memakainya selama di Bali,” ancam Kailla.


“Iya... apa lagi?” tanya Pram.


“Lepaskan jaketmu!” perintah Kailla.


“Buat apa Nyonya?” tanya Pram. Tapi dia tetap menuruti perintah istrinya.


“Jangan membantah atau protes!” ucap Kailla, setelah melihat suaminya melempar jaket kulit itu di atas ranjang.


Dengan sigap dia membuat beberapa tanda kemerahan di leher Pram.


“Ah... Kai, kamu sudah gila,” ucap Pram, saat Kailla menghisap kasar lehernya sehingga terasa ngilu.


“Sudah! Sempurna!” ucap Kailla tersenyum puas. Melihat banyak tanda kemerahan di leher Pram.


"Jadi para gadis di Bali itu tahu, laki-laki ini sudah ada yang memiliki. Kalau mereka tidak yakin dengan cincin di jarimu, kamu bisa memamerkan karya seni buatanku Sayang," ucap Kailla, tersenyum penuh kemenangan.


***


Terimakasih.

__ADS_1


Maaf telat up


__ADS_2