Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 83 : Love You All The Time


__ADS_3

Tanpa malu-malu, Kailla langsung mel*mat bibir Pram, berharap suaminya itu melupakan keinginannya untuk mengambil minuman. Kali ini dia bukan hanya sekedar mengecup seperti biasanya, tapi mel*mat seperti yang sering Pram lakukan padanya.


Pram yang awalnya sempat terkejut, menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya.


“Ada apa dengannya? Tidak biasanya dia begini.”


Pram berusaha melepaskan dirinya dari ciuman Kailla. “Kai, kamu baik-baik saja?” tanya Pram setelah berhasil menjauhkan bibir Kailla dari bibirnya. Pram menangkupkan tangannya pada wajah Kailla, menunggu jawaban istrinya.


Kailla hanya menggeleng, dia menatap manik mata laki-laki tampan di depannya.


“Aku takut, jangan kemana-mana Om,” ucap Kailla pelan, kembali mengeratkan pelukannya, menelusupkan tubuhnya ke dalam dada bidang Pram yang hanya terbalut kaos tidur tipis.


“Aku akan mengambil minuman sebentar Kai.” izin Pram. Melihat wajah Kailla yang sedikit pucat dan masih gemetaran ketakutan, dia tidak yakin Kailla baik- baik saja. Dia harus keluar, dan mengecek sendiri apa yang sudah terjadi di luar.


“Jangan!” protes Kailla. Kali ini Kailla benar-benar memberanikan diri mel*mat bibir Pram lebih dari yang tadi dia lakukan, berharap suaminya itu benar-benar tidak pergi meninggalkannya. Tangannya bergelayut di leher Pram, tidak membiarkan laki-laki itu menjauh sedikit pun


darinya.


“Kai, jangan salahkan aku,” bisik Pram lirih saat dia mulai menikmati apa yang dilakukan Kailla padanya. Segera dia menggulingkan tubuh Kailla supaya berada di bawah kungkungannya.


“Aku bisa gila sekarang, Kai.” ucapnya pelan, disela-sela ciuman Kailla.


Tanpa banyak pertimbangan lagi, dia membalas semua perlakuan istrinya yang masih belum mengerti apa-apa. Tidak membiarkan Kailla menguasai sepenuhnya, karena saat ini dia yang harus memegang kendali. Kailla cukup menikmatinya saja.


Pram mel*mat bibir merah yang menggoda itu tanpa memberi waktu untuk Kailla mengambil napasnya sama sekali. Tidak sampai disitu, tangannya sudah sibuk meremas dan menjamah seluruh bagian tubuh istrinya.


Puas dengan bibir merah merekah itu, Pram kembali tergoda dengan leher jenjang Kailla yang tampak menantang ketika si empunya menggeliat dan menggelinjang akibat kenakalan jari jemarinya yang sedari tadi menjelajah tubuh mungil pasrah di bawahnya. Berkali-kali Pram membuat tanda kepemilikannya di sana, membuat leher putih mulus itu memerah seketika.


Tidak ada satu pun yang luput dari jangkauan tangan Pram. Ketika dia merasa tidak ada lagi penolakan dari Kailla seperti biasanya, saat itu lah dia tahu kemenangan sudah ada di depan matanya.


Semuanya terlihat indah di mata Pram. Bagaimana Kailla mendesah dan bergetar hebat pada pelepasan pertamanya, di bawah kungkungan tubuh kekar Pram. Dan Pram yakin, Kailla sendiri tidak mengerti apa yang dirasakannya saat ini.


“Kai, kamu tidak punya kesempatan mundur lagi,” bisiknya di telinga Kailla yang masih memejamkan matanya dengan nafas yang masih tersengal-sengal.

__ADS_1


Tanpa meminta izin, Pram melepas semua yang melekat di tubuh Kailla dan tubuhnya tanpa tersisa. Dia tersenyum menatap istrinya yang hanya sanggup membuka mata sekilas, tanpa bisa memberi perlawanan lagi seperti biasanya. Mata itu sayu. Mata itu luar biasa. Yang membuat Pram bahagia saat ini, tidak ada lagi air mata yang turun dari mata indah Kailla seperti pertama kalinya.


Pipi itu masih sama meronanya. Malu-malunya masih persis seperti kemarin, tapi sekarang Kailla tidak menolak lagi. Tanpa paksaan lagi.


“Aku tidak akan menyakitimu, Kai,” bisik Pram pelan sebelum memulai semuanya. Tidak ada jawaban sama sekali, hanya seulas senyum tipis dengan mata masih terpejam. Pelipis dan kening Kailla masih penuh dengan tetesan peluh. Rambut panjang istrinya tergerai indah dan sedikit berantakan di atas bantal sutera putih.


“Kai, tatap aku sekarang.” pinta Pram lembut, setelah mereka menyatu. Kelopak mata itu perlahan terbuka. Indah! Pram tahu, rasa sakit itu masih nyata. Mata Pram menangkap kernyitan kecil di wajah Kailla, sekaligus merasakan cakaran halus di punggungnya ketika dia memaksa masuk.


“Kai, terimakasih.” Pram mengecup lembut kening berkeringat itu. Merapikan beberapa helai rambut yang berantakan menutupi sebagian wajah cantik Kailla. Sebisa mungkin dia ingin membuat Kailla nyaman, karena guncangan selanjutnya bukan tidak mungkin membuat istrinya mengingat malam pertama mereka. Malam dimana seorang Pram mengambilnya dengan sedikit paksaan.


“Kai, aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” bisik Pram berulang-ulang di telinga Kailla. Berusaha membuat Kailla terlena dengan kata-katanya dan melupakan hentakan-hentakan yang dia lakukan pada tubuh mungil itu.


Tangannya terus-terusan membelai, senyumnya selalu terukir di wajah tampannya. Dia hanya ingin Kailla merasa nyaman dengan semua perlakuannya. Dia tidak ingin Kailla merasa tersakiti.


“Kai, love you all the time.” Kata-kata ini terdengar di sela-sela desahan Kailla dan erangan panjang Pram. Dia harus bersusah payah mengucapkannya, nafasnya masih naik turun setelah melepas benih-benihnya ke dalam rahim Kailla. Walau dia tahu, benih-benih itu hanya akan terbuang percuma. Demi istrinya, dia terpaksa menunda untuk memiliki bayi. Walaupun sebenarnya dia sangat menginginkannya.


Cup! Sebuah kecupan manis di kening Kailla pertanda pesta itu usai sudah. Tampak Pram menarik selimut berwarna tosca, menutupi tubuh polos istrinya. Dia tidak mau berlama-lama membiarkan tubuh polos Kailla menantang matanya, bukan tidak mungkin dia akan menerkamnya kembali. Dia tahu Kailla kelelahan saat ini.


Pram tersenyum, saat melihat bra hitam Kailla juga teronggok tidak jauh dari kaosnya berada. Masih berasa di telapak tangannya, sungguh indah sesuatu di balik pakaian dalam itu. Begitu menggemaskan! Tidak jauh berbeda dengan pemiliknya.


“Di nakas kamarku, Om,” sahut Kailla masih memejamkan matanya. Mengatur nafasnya yang masih tersengal sedari tadi. Pergulatan tadi sungguh menguras tenaga untuknya yang masih pemula. Dia sudah tidak sanggup bergerak, terlalu lelah walau hanya sekedar membuka mata.


Ceklek! Terlihat Pram keluar dari kamarnya sambil memakai kaos tidurnya. Tapi tidak lama dia sudah kembali dengan wajah sedikit kesal.


“Kai..,” panggil Pram berdiri tepat di depan tempat tidur.


“Hmmmmm,” Kailla hanya bergumam, tidak bergerak atau membuka mata sama sekali.


“Kamu tidak meminum pilmu?” tanya Pram sambil menunjukan deretan pil masih tersegel rapi belum tersentuh sama sekali.


“Ini sudah hampir dua minggu dari pertama kita melakukannya. Dan kamu tidak menyentuh pilmu.” ucap Pram. Dia menghela napasnya, menatap Kailla yang tidak meresponnya sama sekali.


“Hmmm...” gumam Kailla lagi.

__ADS_1


“Kai, kamu tahu kan aku melepaskannya di dalam, kalau tahu seperti ini aku akan membuangnya di luar,” sesal Pram.


Kailla bergeming, entah dia mendengar atau tidak semua ucapan Pram. Dia masih menikmati bergelung di dalam selimut. Kesadarannya sudah di ambang batas antara mimpi dan kenyataan.


Pram menghela napas kasar, meraih sebuah tempat sampah tidak terlalu jauh darinya.


“Baiklah kalau itu maumu Kai.” Tampak Pram melepaskan satu persatu pil itu dari kemasannya. Menjatuhkannya tepat ke dalam keranjang bundar, bergabung dengan gumpalan tisu dan kertas yang sudah tidak terpakai.


Bruk! Pram menyudahinya dengan melempar kemasan kosong ke tempat sampah.


Kailla tersadar, dia masih sempat melihat Pram melempar kemasan pil KBnya ke dalam tempat sampah.


“Aduh! Kenapa dibuang Om?” tanyanya dengan suara serak menatap Pram. Dia bangun seketika, menyusul berdiri di sisi Pram sambil mendekap erat selimut yang menutupi tubuh polosnya.


“Mulai sekarang, kamu tidak perlu meminumnya lagi.” ucap Pram tegas, tidak ada penawaran.


“Hah!” Kailla menatap sedih melihat beberapa butir pil yang masih terlihat di antara tumpukan sampah kertas.


“Mulai sekarang, aku akan menggunakan pengaman atau melepaskannya diluar.” jelas Pram menatap ke samping.


Dia tersenyum menatap Kailla yang masih berantakan. Tadinya dia sedikit kesal, tapi setelah dipikirkan kembali harusnya dia bahagia. Cukup berdoa dan meminta kepada Tuhan, semoga benihnya segera tumbuh menjadi bayi di dalam rahim Kailla.


“Bagaimana kalau aku hamil?” Kailla berjongkok kali ini, menatap keranjang bulat dan pil-pilnya dengan mata berkaca-kaca.


“Berarti Tuhan memang menginginkan kita memilikinya sekarang.” jawab Pram. “Jangan dipikirkan,” lanjut Pram lagi, meraih tubuh Kailla dan mendekapnya erat.


“Berdoa saja, mudah-mudahan aku tidak setangguh itu.” bisik Pram pelan. Mengecup puncak kepala Kailla berulang kali.



***


Terimakasih dukungannya. Love you all

__ADS_1


__ADS_2