Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 176 : Main Bola Lagi Yuk!


__ADS_3

Di kediaman Reynaldi Pratama, sore harinya.


Pram baru saja menerima panggilan dari pengacara mertuanya, meminta untuk menyiapkan data-data asli perusahaan yang entah kemana rimbanya. Kepindahannya ke rumah baru saat dia masih berada di Austria. Semuanya diurus oleh David dan Donny. Pram belum sempat memeriksa, kemana kedua asisten itu meletakkan lemari besi tempat penyimpanan data-data penting milik mertuanya.


Setelah berkeliling rumah mencari keberadaan semua asistennya, akhirnya Pram menemukan ketiganya sedang menghabiskan sore di belakang rumah. Donny, Sam dan Bayu sedang menikmati semilir angin laut, ditemani kopi panas di pinggir dermaga belakang rumah.


“Don, lemari besi dari ruang kerja Pak Riadi dipindahkan kemana ya?” tanya Pram.


Di kamar kosong, sebelah kamar Pak Riadi, Pak,” jelas Donny. Baru saja dia akan bangkit dan mengikuti Pram, tapi majikannya sudah menolak.


“Oke, aku bisa sendiri Don!” jawab Pram, berlalu pergi.



Bergegas Pram menuju ke kamar kosong yang dimaksud. Dia masih sempat berpapasan dengan Kailla yang sedang menikmati bubur kacang hijau buatan Bu Ida di ruang makan


“Sayang, mau kemana?” tanya Kailla, menyuapkan bubur kacang hijau itu ke dalam mulutnya. Ikut mengekor di belakang Pram, membawa segelas bubur kacang. Heran melihat Pram yang berjalan tergesa-gesa.


“Mau cari istri baru!” goda Pram, mengedipkan matanya pada Kailla yang berjalan di belakangnya.


“Ah.... tidak boleh!” ucap Kailla cemberut. Sontak membuat Pram tersenyum bahagia. Setidaknya istrinya masih menganggap dia berharga. Masih bisa cemburu.


“Aku harus mencari data-data perusahaan di dalam,” tunjuk Pram ke arah pintu.


“Mencurigakan. Jangan-jangan kamu menyembunyikan selingkuhanmu di dalam sana,” sahut Kailla.


“Hahaha..., aku tidak akan menyembunyikannya disini,” sahut Pram.


“Tapi aku akan menyimpannya di apartemen atau rumahku yang lain,” lanjut Pram.


“Hah! Coba saja kalau berani, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!” omel Kailla dengan mata melotot.


“Sudah. Jangan membahasnya. Aku tidak mungkin mempunyai simpanan. Satu istri saja sudah membuat kepalaku pusing,” jawab Pram tersenyum.



Begitu pintu kamar dibuka, Pram terkejut.


“Wow, kenapa aku sampai tidak tahu. Di sini ada ruang kerja tersembunyi,” komentar Pram. Semua isi ruang kerja Pak Riadi dipindahkan kedua asisten itu ke dalam satu ruangan. Terlihat dia mendekati sebuah lemari besi dengan tombol angka di pintunya.


“Sayang, kamu tahu passwordnya?” tanya Kailla tiba-tiba. Dia sedang duduk di kursi kebesaran, yang biasa digunakan sang daddy saat masih sehat. Menikmati segelas bubur kacangnya.


“Apa yang tidak aku ketahui tentang mertuaku,” sahut Pram denga penuh percaya diri. Setelah menekan beberapa angka pada tombol, Pram langsung bisa membuka pintu lemari itu dengan mudah.


“Apa yang kamu cari Sayang?” tanya Kailla, tiba-tiba sudah berdiri di samping Pram.


“Data-data asli perusahaan. Setahuku daddy menyimpannya disini,” jawab Pram, tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan data-data yang disusun rapi di dalam lemari.


“Sayang...,” panggil Kailla, menyodorkan sesendok bubur kacang hijau di depan mulut Pram.


Pram langsung melahapnya. Tampak dia memainkan bibirnya setelah menelan habis bubur yang disuapkan istrinya.


“Ini kemanisan Sayang. Minta Bu Ida kurangi gulanya setiap membuatkanmu bubur kacang hijau,” pinta Pram, tanpa menoleh ke arah istrinya.


“Iya...., tapi ini cocok dengan lidahku.” komentar Kailla.


“Sayang, tolong minta Bu Sari buatkan aku kopi hitam,” ucap Pram. Tangannya sudah menarik beberapa map hitam, dan membawanya ke meja kerja.

__ADS_1


“Iya, sebentar,” sahut Kailla, berjalan keluar.


Pram mengerutkan dahinya. Map yang diambil sepertinya salah. Seingat dia, mertuanya meletakkan data -data perusahaan di map berwarna hitam.


“Bukan! Ini data perusahaan lain,” ucapnya pelan. Baru saja dia akan menyimpan kembali data-data itu, tapi terlihat selembar kertas keluar dari tumpukannya yang sudah rapi. Dia menarik keluar dan bermaksud merapikannya kembali.


“Akta lahir?” Pram bingung melihat akta lahir seseorang yang sudah kusam menyelip disana.


Matanya membulat saat melihat nama si pemilik akta lahir.


“Reynaldi Pratama?” Dia membaca tulisan nama anak yang tertera di akta.


Dia bingung, tapi seperti ada sesuatu yang menarik minatnya disini. Dia sengaja membawa tumpukan data perusahaan itu ke atas meja kerjanya. Membaca dan meneliti lagi, apa saja isi di dalam map hitam itu.


Di dalam akta lahir itu, tertulis nama yang persis dengan namanya. Bahkan tanggal, bulan dan tahun lahirnya pun sama dengan akta yang dibuatkan Riadi untuknya. 10 tahun hidup di jalanan, dia tidak memiliki identitas sama sekali. Baru tinggal dengan Riadi, dia memiliki identitas diri, bahkan nama Reynaldi Pratama adalah nama yang diberikan Riadi untuknya.


Yang membuatnya bingung nama kedua orang tua yang tercantum di akta lahir itu.


“Pratama Indraguna ... Citra Wijaya,” ucap Pram pelan.


“Siapa lagi orang-orang ini,” lanjut Pram, mengerutkan dahinya.


Tak lama Kailla masuk sambil membawa secangkir kopi hitam, meletakkannya di atas meja. Persis di samping tumpukan map yang dikeluarkan Pram dari lemari.


“Apa ini Sayang?” tanya Kailla.


Pram menggeleng, pertanda dia juga tidak mengerti.


“Akta lahirmu Sayang?” tanya Kailla menunjuk ke akta lahir. Matanya menangkap nama suaminya di sana.


“Bukan, itu bukan milikku,” jawab Pram singkat.


“Bagaimana aku mencarinya?” tanya Kailla, menatap ke arah Pram.


“Aku yang menyimpan semua data milikmu, Sayang. Kamu tidak perlu mencarinya di sana. Dua tahun yang lalu, daddy sudah menyerahkannya padaku,” sahut Pram. Kembali meneliti berkas di hadapannya.


Matanya sekarang menangkap nama Pratama Indraguna dan Citra Wijaya di salah satu akta perusahaan yang pertama kali dilihatnya tadi.


“Oh, aku sudah sedikit mengerti sekarang,” ucap Pram pelan.


“Jadi bapak dan ibu yang namanya tertera di akta si anak ini, pemilik PT Wijaya Indraguna.” Untuk sementara itu yang bisa ditangkap Pram. Kembali membolak balikkan berkas-berkas yang tertata rapi di dalam bundel file.


Matanya kembali tertegun saat melihat sebuah berkas pengalihan PT. Wijaya Indraguna ke Wijaya Group. Kembali dahinya berkerut, otaknya sedang berpikir saat ini.


“Wijaya Group itu kan milik Mami Anna,” ucap Pram pelan, tapi masih terdengar oleh Kailla.


“Sayang, siapa Mami Anna?” tanya Kailla, mendengar Pram menyebut nama seorang ibu dengan bibirnya. Dia sudah berdiri di samping Pram, siap mendengar penjelasan suaminya.


Deg—


Pram langsung mengatupkan bibirnya. Menatap Kailla bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


“Kamu salah dengar, Sayang. Aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab Pram tersenyum.


Terlihat Pram buru-buru merapikan kembali data-data perusahaan yang belum pernah dilihat sebelumnya. Dia akan kembali lagi ke kamar ini nanti malam. Saat istrinya sudah tertidur lelap. Ada banyak pertanyaan, termasuk misteri akta lahir dengan nama dan tanggal lahir yang sama persis dengannya.


***

__ADS_1


Pukul 08.00 malam, Pram terlihat sudah masuk ke dalam kamarnya. Hal yang tidak biasa dilakukannya. Bahkan dia harus menyeret Kailla yang masih menikmati acara tv bersama Bu Sari dan Bu Ida di ruang keluarga.


“Sayang, aku masih mau nonton,” keluh Kailla saat sudah di dalam kamar tidur mereka.


“Kita tidur saja ya. Aku mengantuk Sayang,” ucap Pram, sambil menutup mulutnya yang pura-pura menguap lebar. Sejak sore tadi, perasaannya tidak tenang. Dia sudah penasaran dan akan mengupas tuntas misteri dari nama Reynaldi Pratama di akta lahir itu.


Pram langsung menggendong Kailla dan menjatuhkan istrinya perlahan ke atas ranjang.


“Ahhhh..!” teriak Kailla, terkejut. Pram menggendongnya tiba-tiba.


“Kita tidur sekarang,” ajak Pram tersenyum usil.


“Aku belum mengantuk,” tolak Kailla. Dia langsung bangkit duduk, bersiap turun dari ranjang.


“Mau kemana?” tanya Pram.


“Aku belum mau tidur Sayang,” ucap Kailla.


Baru saja Kailla akan melangkahkan kakinya, Pram sudah menarik tangannya kembali.


“Temani aku tidur, aku sudah mengantuk,” bujuk Pram.


“Huh! Biasanya aku juga tidur sendiri, tidak minta ditemani kalau sudah mengantuk,” omel Kailla.


“Ayolah Kai, nanti kalau aku sudah tertidur, kamu boleh pergi,” rayu Pram.


“Benarkah?” tanya Kailla.


“Iya, setelah aku tidur. Kamu boleh pergi,” ucap Pram.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Keduanya sedang saling menunggu. Membolak-balikkan badan sambil menggerutu dalam hati. Pram menunggu Kailla tertidur, supaya bisa leluasa mencari tahu banyak hal tentang data yang ditemukannya tadi sore. Sedangkan Kailla sedang menunggu Pram tertidur, supaya dia bisa menyelinap keluar dan kembali melanjutkan tontonannya.


“Sebenarnya kamu mau tidur apa tidak?” dengus Kailla kesal, setelah lelah menunggu, Pram tidak kunjung tertidur.


Pram menatap Kailla, tersenyum.


“Apa aku terkam saja ya, supaya dia kecapekan. Biasanya kalau sudah capek, dia akan tidur sendiri,” ucap Pram dalam hati.


“Kita main bola lagi yuk!” ajak Pram, sudah melempar selimutnya menjauh.


“Bukannya tadi mengantuk,” ucap Kailla.


“Sudah tidak mengantuk lagi. Ayo?” ajak Pram, tangannya sudah siap bekerja. Melepas kaos dan jam tangannya.


Kailla melotot.


“Aku tidak mau, aku masih mau menonton kalau kamu belum mau tidur,” tolak Kailla.


“Waduh!! Harus putar otak ini,” batin Pram.


“Bagaimana kalau layani aku satu ronde... saja,” pinta Pram dengan wajah memelas, mengangkat telunjuk di depan wajahnya.


Kailla tampak berpikir. “Baiklah, hanya sekali saja. Setelah itu biarkan aku keluar,” jawab Kailla pasrah.


“Siapa tahu setelah kelelahan, dia akan tidur dan tidak mengganggu ku lagi,” batin Kailla.


***

__ADS_1


Maaf telap up ya. Love You all.


__ADS_2