
Malam pun tiba, Bayu masih belum berhasil mencari tahu keberadaan Kailla. Pram sendiri memilih menunggu di tempat Bayu. Sewaktu mereka berhasil melacak keberadaan Kailla, Pram bisa langsung bertindak.
“Bos, istirahat saja dulu,” tawar Bayu, menunjuk sebuah ranjang sederhana tidak jauh dari tempat mereka duduk saat ini.
“Bay, masih lama?” tanya Pram, mulai khawatir. Istri dan anaknya pasti tidak baik-baik saja.
“Orangku masih bekerja, Bos. Secepatnya kita pasti bisa menemukan Nyonya,” ucap Bayu menenangkan.
Pram mencoba memejamkan mata, walaupun pikirannya tetap tertuju pada istrinya.
“Ya Tuhan, lindungi istri dan anakku!” ucap Pram pelan. Terlihat ia meremas rambutnya sendiri. Ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, kecuali menunggu.
***
Di tempat berbeda, Kailla seakan tidak pernah lelah. Sampai malam tiba, suaranya, masih terdengar jelas. Ia menolak semua makanan, bahkan berteriak sambil menangis. Sesekali memanggil suaminya dengan berlinang air mata.
“Sayang ... tolong aku. Bukankah kamu mencintaiku. Kenapa meninggalkanku sendirian di sini,” isaknya menangis pilu.
Lelah menangis, kembali terdengar suara teriakannya. Ketiga laki-laki yang ditugaskan untuk menjaga, memilih menunggu di luar gudang. Mereka tidak tahan mendengar suara berisik Kailla yang berteriak mengganggu.
“Buka pintunya!” teriak Kailla memohon.
“Aku akan menghancurkan seisi tempat ini!” ancam Kailla, berteriak kencang dan menggedor pintu.
“Tolong buka pintunya. Lepaskan aku. Suamiku akan membayar kalian berkali-kali lipat. Aku berjanji,” teriak Kailla lagi dari balik pintu.
Ketiga laki-laki penjaga yang sedang menikmati minuman keras dan kacang kulit di luar gudang, mulai merasa terusik.
“Bro, bisa dibungkam tidak mulut perempuan itu. Berisik sekali!” gerutunya sambil tertawa.
Tampak salah satu dari ketiganya berdiri, dengan langkah sempoyongan karena efek minuman keras, berjalan menuju pintu masih dengan sebotol minuman di tangan.
“Apa yang akan kamu lakukan? Ingat pesan Bos, jangan menyakitinya.” Laki-laki yang lain berusaha menahan.
“Tenang saja, aku hanya membuatnya diam. Aku tidak akan menyakitinya. Kepalaku pusing mendengar suaranya,” jelasnya.
Dan benar saja, hanya sebentar terdengar teriakan memilukan Kailla.
“Tidak! Aku tidak mau ....” tolak Kailla, berteriak dan berusaha melawan. Suaranya terdengar memilukan dan penuh permohonan.
Setelah jeritan menyedihkan Kailla, suasana gudang terlantar itu senyap, tidak terdengar suara apa-apa lagi.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan?” tanya laki-laki yang lain, menyusul. Setelah hampir setengah jam temannya tidak kunjung kembali dan Kailla juga sudah tidak bersuara lagi. Hanya kesunyian yang tertinggal di dalam ruangan.
“Kamu menyakitinya?” tanyanya setelah melihat perempuan yang mereka sekap sedang tertidur di lantai tidak berdaya. Meringkuk kedinginan dengan tangan mendekap perut.
“Tidak. Aku hanya membantunya tidur dengan tenang, supaya dia tidak mengganggu malam panjang kita,” jawabnya sambil tertawa,
“Pasti tidak akan terjadi apa-apa. Aku tidak memukulnya,” jelasnya lagi.
Senyum tersungging di bibir keduanya, saat melihat pergerakan Kailla dalam tidur. Kailla memijat kepalanya yang pusing, kemudian terlelap kembali.
***
Waktu masih menunjukkan pukul 06.00 pagi, saat Bayu menepuk kencang pundak Pram yang tertidur.
“Bos!” panggil Bayu.
“Orangku sudah menemukan posisi Nyonya. Sebuah gudang tua, di pinggiran Jakarta. Kita harus segera ke sana, sebelum Andi tiba.” Bayu melanjutkan kata-katanya, setelah melihat Pram mulai sadar sepenuhnya.
“Info dari orangku yang berjaga di depan rumah Andi, kalau bandot tua itu sudah meninggalkan rumah pagi-pagi sekali, Bos,” lapor Bayu lagi.
Bergegas Pram berlari menuju mobil. Ia sudah tidak sempat mencuci muka di kamar mandi. Hanya meraih sebotol air mineral untuk kumur-kumur dan menyiram wajahnya sambil berlari.
Jalanan Jakarta yang lancar tanpa kendala, membantu mereka. Tidak membutuhkan waktu lama, iringan mobil mereka sudah terparkir tidak jauh dari bekas gudang yang tidak terpakai.
Ia sudah bergegas turun mengantongi senjatanya. Bagaimana pun, ia harus menyelamatkan Kailla secepatnya. Ada dua nyawa tak berdosa, menunggu penuh harap di dalam ketidakberdayaan.
Saat tiba di depan gudang tua, Pram harus berhadapan dengan tiga orang laki-laki berbadan kekar yang sudah siap menghadangnya.
"Ya Tuhan, Kailla-ku." Pram bergumam pelan saat melihat ketiganya. Membayangkan betapa Kailla berjam-jam ketakutan.
“Kita kedatangan tamu,” ucap salah satunya, tertawa sat melihat postur Pram yang jauh lebih kecil dari mereka.
Tawa ketiganya terhenti, senyum di bibir para pria itu lenyap saat Pram menodongkan senjata ke arah ketiganya bergantian.
Menyusul di belakang Bayu dan beberapa anak buahnya yang sudah siap menyerang. Pram memilih melangkah masuk, membiarkan Bayu yang mengurus di luar. Mendobrak kasar pintu kayu yang mulai lapuk, langkah kaki Pram terhenti saat melihat Kailla terikat tidak berdaya di sebuah kursi kayu tua. Ada Andi berdiri di sebelahnya dan seorang laki-laki berbadan kekar juga berdiri di samping Kailla.
“Sayang ...." panggil Kailla lirih dengan menangis berurai air mata. Tatapannya menyedihkan, berusaha mengirim signal dan meminta bantuan.
“Suamimu datang, Nyonya,” ucap Andi tersenyum puas
“Lepaskan istriku!” pinta Pram.
“Ayo keluarkan kertas yang harus ditandatanganinya,” lanjut Pram lagi.
__ADS_1
“Kenapa buru-buru sekali? Kita belum menikmati secangkir kopi hangat atau sarapan pagi,” ucap Andi tersenyum.
Pram melangkah maju dan mendekati Kailla, tetapi asisten Andi sudah menodongkan senjata ke pelipis Kailla.
“Turunkan senjatamu dari istriku! Aku tidak akan membantahmu!” bujuk Pram setelah melihat wajah ketakutan Kailla dengan bulir-bulir cairan kristal bening tumpah di pipi pucat istrinya.
“Apa yang kamu inginkan, aku akan mengabulkannya,” bujuk Pram.
“Lepaskan dia, aku berjanji akan membuatnya menandatangani semua yang kamu inginkan,” pinta Pram lagi, memohon. Ia sudah tidak sanggup lagi melihat wajah menyedihkan istrinya yang menangis ketakutan tanpa suara.
“Kamu bisa menodongkan senjata itu padaku. Jangan padanya. Dia akan mengikut semua perintahmu,” ucap Pram lagi, menyarankan.
Andi tertawa.
“Kamu mencintainya?” tanya Andi terbahak.
“Sangat!” Pram menjawab singkat dan penuh kepastian. Menatap Kailla penuh cinta.
“Dia juga sangat mencintaiku. Dia tidak akan bisa melihatku terluka,” lanjut Pram, tanpa mengalihkan pandangannya dari Kailla.
“Ayo todongkan padaku, dia pasti akan menurutimu. Percaya padaku.” Pram berusaha membujuk Andi.
Semakin lama senjata itu menempel di pelipis Kailla, istrinya akan semakin ketakutan berkepanjangan. Ia sudah tidak sanggup melihat air mata Kailla saat ini. Bahkan istrinya sudah tidak mampu bersuara, hanya bisa mengeluarkan air matanya dan bergetar ketakutan.
“Aku mohon lepaskan dia!” teriak Pram hampir menangis melihat wajah menyedihkan Kailla.
Pram mengeluarkan senjata dari saku celana, melemparnya sejauh mungkin. Bayu dan beberapa anak buah yang berhasil meringkus ketiga orang di luar pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kailla sedang ditodong senjata, bergerak sedikit saja akan berakibat fatal.
“Aku sudah tidak memiliki apa-apa. Aku mohon lepaskan istriku,” pinta Pram memohon.
“Aku tidak akan melawan. Aku berjanji, dia pasti akan menandatangi semua yang kamu minta,” pinta Pram lagi.
Setelah memastikan Pram memang tidak bisa melawannya, akhirnya Andi memilih mengalah dan mendengarkan semua permintaan Pram.
“Tanda tangan di sini!” perintahnya pada Kailla yang masih menatap Pram sambil menangis. Andi baru saja melepaskan ikatan pada tubuh Kailla.
“I’m ok ... I’m fine!” ucap Pram tersenyum, mengedipkan sebelah matanya pada Kailla.
“Lepaskan suamiku,” pinta Kailla, melihat Pram dengan senjata yang siap diletupkan di belakang kepala.
***
Terima kasih.
__ADS_1