
“Dad, ayo bangun.” bisik Kailla berusaha menahan tangisnya. Dia sedang berada di dalam ruang ICU, tempat daddynya terbaring dari tadi siang. Bunyi peralatan medis yang berdenyut-denyut membuat hati siapapun yang mendengar menjadi ngilu.
Tubuh daddy yang tadi pagi masih sarapan pagi bersamanya, sekarang terbaring tidak berdaya dengan selang-selang menempel di tubuhnya. Matanya tertutup rapat menandakan sang daddy sedang tidur panjang.
“Dad ayolah bangun, aku takut sendirian disini,” rengeknya. Dia menggengam erat tangan dingin yang tadi pagi masih memeluknya penuh kehangatan.
“Dad, bangun!! Ayo kita pulang,” bisiknya lirih di telinga sang ayah. “Dad, ayolah jangan bercanda. Aku janji gak nakal lagi.” lanjutnya, sedikit mengoyangkan tubuh daddynya yang masih tetap diam.
Kali ini airmata yang sedari tadi berusaha ditahannya menetes sudah, dia menggigit bibir bawahnya supaya suara tangisannya tidak terdengar keluar. Satu-satunya keluarga yang dia miliki di dunia ini hanya laki-laki yang terbaring lemah di hadapannya. Dia tidak sanggup membayangkan kalau laki-laki ini pergi meninggalkannya.
Setelah 20 menit berada di dalam, Kailla memutuskan keluar. Menumpahkan tangisannya yamg sedari tadi di tahannya. Donny, asisten sang daddy hanya bisa diam melihat putri majikannya yang menangis. Malam ini hanya Donny yang menemaninya. Sam dan Bu Sari sudah pulang sejak sore tadi.
“Non, ini dimakan. Dari tadi siang Non Kailla belum makan.” Tampak Donny menyodorkan sekotak nasi goreng.
“Terimakasih.” Kemudian meletakannya di atas bangku disamping tempat duduknya. Dia sedang tidak lapar dan sama sekali tidak memiliki nafsu untuk makan saat ini. Memilih menyandarkan kepalanya di dinding dan memejamkan matanya. Berharap ketika membuka mata, semua ini hanya sebuah mimpi.
Malam ini Kailla harus berada di dekat ruang ICU seperti anjuran dokter, karena sewaktu-waktu bisa saja dia dibutuhkan.
***
Pram sedang berada di kamar hotel. Sejak tadi dia berusaha menghubungi Kailla, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang tersambung.
“Anak ini benar-benar marah,” gumamnya.
Terlihat dia mengurut pelipisnya, memikirkan Anita membuat kepalanya pusing. Entahlah, dia seperti memiliki keyakinan yang kuat, kalau bayi itu bukan miliknya. Walaupun sebenarnya dia juga memiliki ketakukan kalau hal itu adalah kenyataan. Setidaknya dia harus memcari tahu kebenarannya. Dia sama sekali tidak bisa mengingat kejadian yang sebenarnya terjadi malam itu.
Dia tidak bisa membayangkan apa yang harus dilakukan seandainya bayi itu benar-benar miliknya. Dia tidak mungkin menikahi Anita, dan lebih tidak mungkin lagi harus meninggalkan Kailla. Tampak dia menghubungi seseorang dengan ponselnya.
“Bay, tolong cari tahu tentang wanita yang beberapa hari lalu aku kirimkan fotonya padamu. Aku ingin tahu semuanya. Semua aktivitasnya selama satu bukan terakhir,” perintah Pram pada orang di seberang telepon.
“Baik, Boss.
__ADS_1
“Maaf An, aku benar-benar tidak bisa menikahimu. Seandainya itu benar bayiku, aku hanya akan bertanggung jawab dan mengakuinya saja. Tidak masalah kamu menyebutku pengecut untuk kedua kalinya, tapi kali ini aku tidak bisa mengalah pada siapapun. Maafkan aku, An.”
***
Siang itu tampak Pram sedang berada di rumah sakit. Rencananya hari ini Anita akan pulang ke rumah.
“An, aku sudah mengurus semua administrasinya. Sebentar lagi sopir kantorku akan kesini dan mengantarmu pulang.”
“Hah! Bukan kamu yang akan mengantarku Pram?” tanya Anita menatap Pram yang sedang sibuk dengan ponselnya.
“Aneh, kenapa semua pesanku belum dibaca sama sekali,” batin Pram.
“Pram!!!!” teriak Anita,
“Iya.” jawab Pram singkat tanpa menoleh ke arah Anita.
“Kamu tidak mengantarku pulang?” tanyanya lagi.
“Hubungan kita tidak sejauh itu An. Aku tidak memiliki kewajiban untuk mengantarmu pulang.” tegas Pram menatap Anita tanpa ekspresi.
“Itu menurut keyakinanmu, itu hakmu. Aku tidak melarangnya. Tapi aku memiliki keyakinanku sendiri untuk saat ini. Paling tidak sampai aku menemukan bukti.” tutur Pram.
“Pram!!”
“Sudahlah An, selama ini aku sudah cukup berbaik hati padamu hanya karena rasa bersalahku padamu di masa lalu. Tapi tidak lagi sekarang. Kamu memanfaatkan rasa bersalah dan penyesalanku. Keterlaluan kamu An.”
“Aku harus menghubungi seseorang, aku keluar sebentar.” pamitnya. Perasaannya tidak tenang, tidak biasanya Kailla tidak membaca pesan-pesan yang sudah dikirimnya dari semalam. Apalagi dari kemarin sampai hari ini, Kailla sama sekali tidak bisa dihubungi. Mungkin sebaiknya dia menghubungi Sam.
“Iya Pak,” terdengar suara Sam dari seberang telepon.
“Kamu sedang dimana Sam? Kailla bersamamu?” Pram memberondong Sam dengan banyak pertanyaan.
“Saya di rumah sakit Pak. Non Kailla juga ada disini. Pak Riadi masuk rumah sakit kemarin.” Jelas Sam.
Deg——
__ADS_1
“Apakah Pak Riadi baik-baik saja? Kai.. bagaimana dengan Kailla? Berikan ponselmu pada Kailla,” perintah Pram. Hening— Selanjutnya Pram bisa mendengar suara Sam yang sedang berbicara dengan Kailla, tetapi dia tidak bisa mendengar suara Kailla sama sekali.
“Pak, eh... Non Kailla menolak menerima telepon Bapak.” Sam berkata dengan ragu-ragu.
“Pak Riadi sakit apa?” tanya Pram lagi.
“Bapak koma dari kemarin, Pak.” jawab Sam.
Mendengar jawaban Sam, amarah Pram pun langsung meledak.
“Bapak koma dan tidak ada seorang pun dari kalian berdua mengabariku. Keterlaluan!! Kai... Kailla, pastikan dia baik-baik saja. Kalau terjadi sesuatu padanya, aku akan membuat perhitungan denganmu, Sam!!” berang Pram.
“Maaf Pak.....”
Tutttttt.............
Sam belum menyelesaikan omongannya, Pram sudah memutuskan teleponnya. Segera dia berlari menuju mobilnya, bagaimanapun dia harus sampai ke Jakarta secepatnya. Tampak Pram mengeluarkan ponselnya kembali dan menghubungi seseorang.
“Dave, segeralah ke rumah sakit. Pak Riadi masuk rumah sakit dari kemarin. Tetap disana sampai aku datang. Pastikan Kailla tidak berurusan dengan semua administrasi dan jangan biarkan dia sendirian bertemu dengan dokter.” titah Pram.
Perasaan Pram saat ini benar-benar panik, dia bahkan tidak mengabari Anita kalau dia sudah dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Dia mengingat bagaimana kemarin di memutuskan telepon Kailla, malah dia sempat membentak Kailla. Dia menyesalinya sekarang. Pasti saat itu Kailla sangat membutuhkannya. Memikirkan bagaimana Kailla menghadapi semunya seorang diri, ada rasa ngilu di hatinya.
“Brengsek kamu Pram!!!” Terlihat dia meremas rambutnya. Sekarang yang dirasakannya ada penyesalan. Harusnya kemarin dia tidak pergi ke Bandung, harusnya kemarin dia tidak membentak Kailla. Mungkin saat ini dia bisa memeluk dan menenangkan gadis itu.
Pikirannya kalut, otaknya buntu sekarang. Dia benar-benar mengkhawatirkan Kailla, hanya ada Kailla. Kembali dia menghubungi Sam.
“Sam, kirimkan foto Kailla saat ini,” terdengar suara Pram sedikit melemah dibandingkan sebelumnya. Setidaknya dia harus memastikan sendiri kondisi Kailla saat ini.
“Baik Pak.”
Begitu Pram menerima foto yang dikirimkan Sam, pertahanan dirinya runtuh.
****
Terimakasih dukungannya. Mohon bantuan like dan komen ya jika berkenan. Terima kasih. Love you all
__ADS_1