Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 167 : Teman Baik Pram


__ADS_3

Teriakan di pagi buta itu benar-benar mengganggu tidur sebagian penghuni rumah mewah itu.


Kailla yang memang sudah tidak bisa tidur lagi, memilih mengintip dari jendela besar di kamarnya yang memang tepat menghadap ke jalan raya.


Tampak seorang laki-laki berdiri di depan gerbang, berdebat dengan security baru mereka.


Penampakan laki-laki itu sangat familiar walau di tengah kegelapan.


“Sam!” bisik Kailla memilih berlari keluar dari kamarnya. Dia harus memastikan kalau itu benar Sam.


Pram yang terkejut dengan suara berisik dari langkah kaki dan pintu yang terbuka kasar, memaksanya bangun setelah memastikan ada sesuatu yang tidak beres mengganggu Kailla. Entah apa itu, pasti ada sesuatu yang menganggu Kailla.


Kai, kamu kenapa?” tanya Pram, ikut bangkit dan mengejar Kailla yang sudah menuruni tangga terlebih dulu.


“Kai, hati-hati Sayang. Kamu sedang hamil,” ucap Pram, mengingatkan Kailla yang seolah lupa dengan kondisinya sekarang.


“Ada Sam di bawah Sayang!” sahut Kailla setengah berteriak tanpa menengok lagi ke arah suaminya.


“Sam?” ucap Pram heran. Dia menatap Kailla yang masih berlari.


“Apa Kailla begitu terpukul harus berpisah dengan Sam?” tanya Pram pada dirinya sendiri.


Melihat Kailla membuka pintu depan rumah dan tergesa-gesa keluar menuju ke halaman, Pram terpaksa mengikuti ke mana istrinya melangkah. Dia tidak mau terjadi apa-apa. Saat ini masih dini hari, bisa saja itu orang yang berniat tidak baik. Mana ada orang baik-baik, muncul di depan gerbang rumah pada jam segini.


“Kai...! Kai...! Kamu mau kemana Sayang?” tanya Pram mengejar Kailla. Begitu dia sudah bisa meraih tangan Kailla, segera dia memeluk istrinya. Memeluk erat, menenangkan Kailla yang dianggapnya tertekan karena keegoisannya. Dia merasa egois, karena meminta Kailla melepaskan Sam.


“Sudah, maafkan aku. Kalau memang sayangmu begitu besar kepada Sam, aku pasti tidak akan memaksamu berpisah darinya. Maafkan aku, Sayang,” ucap Pram di sela pelukannya. Ada rasa sesal terkandung di dalam setiap ucapan Pram.


Kailla mendorong tubuh Pram. Dia harus segera memastikan laki-laki yang berdiri di depan gerbang. Dia yakin itu Sam.


“Kai.., kita masuk. Disini dingin. Angin laut tidak baik untukmu Sayang,” ucap Pram, terus mengekor istrinya.


“Tidak! Ada Sam di luar. Aku melihatnya sendiri Sayang,” sahut Kailla, menjelaskan.


“Tidak ada siapa-siapa, Sam di Austria Sayang,” jelas Pram. Tepat dia akan menarik Kailla masuk kembali terdengar suara teriakan dari luar gerbang.


“Non Kailla!” teriak suara laki-laki dari luar gerbang bercampur dengan suara security rumah.


“Non Kailla!” Suata itu terdengar kembali.


“Sam! Itu Sam!” teriak Kailla, menghempaskan tangan Pram yang sedang mengajaknya masuk ke dalam rumah.


“Sam...!” panggil Kailla berlari ke luar gerbang. Sekarang dia yakin. Itu benar-benar suara Sam.


Dan benar, itu Sam. Sedang memeluk tas ranselnya dengan wajah lelah. Kailla bisa melihat dengan jelas dari sorotan lampu jalan, Sam masih memakai pakaian yang sama saat terakhir mereka berpisah.


“Non, aku pulang!” ucapnya sambil tersenyum.


Pram yang menyusul di belakang Kailla terkejut melihat Sam sudah di depan matanya.


“Bagaimana kamu bisa sampai disini Sam?” tanya Pram heran.


“Aku ikut penerbangan setelah Non Kailla. Aku berubah pikiran Pak,” jelas Sam tersenyum.


“Bang!Bang! Bisa gak nanti ngobrolnya. Saya harus cabut, mau cari penumpang lagi,” potong tukang ojek yang sedari tadi menunggu Sam membayar ongkos ojeknya.


“Oh ya Non, bisa pinjam uang? Saya mau buat bayar ojek,” pinta Sam.

__ADS_1


Mendengar itu, Pram langsung masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang untuk Sam. Tak lama, dia sudah muncul kembali, membawa uang dan sebuah mantel tebal yang dipakaikannya di tubuh mungil istrinya.


“Ayo masuk Sayang,” ajak Pram.


“Kamu bisa menginterogasi Sam di dalam,” lanjut Pram, menggandeng masuk Kailla.


***


“Apa yang terjadi Sam?” tanya Kailla, sudah duduk di samping Pram yang sedang menatap tajam ke arah Sam.


“Aku mau kuliah disini saja Non,” sahut Sam.


“Aku tidak bisa meninggalkann Non Kailla,” lanjut Sam lagi. Sebenarnya, Sam baru patah hati. Dia ditolak Mitha. Semangat Sam langsung menciut saat Mitha memintanya kembali ke Indonesia dan menyelesaikan kuliahnya dulu, baru mengungkapkan cintanya kembali.


Dan yang membuat Sam terpuruk adalah pernyataan sayang Mitha yang dikirim lewah chat, yang membuat Sam tidak tidur semalaman itu bukan Mitha yang menulis, tapi teman kostnya yang iseng.


“Lalu bagaimana kamu tahu alamat ini?” tanya Kailla heran.


“Aku menghubungi Bayu. Tadinya aku naik taksi ke rumah lama. Sepinya Non, tidak ada siapa-siapa. Mana gelap lagi. Bulu kuduk semuanya merinding Non,” cerita Sam.


***


Dua minggu kemudian.


Hari ini, di kediaman Pram pagi-pagi sekali sudah terlihat banyak kesibukan. Semua asisten dan pembantu di rumah mewah itu terlihat sibuk sudah sejak beberapa hari yang lalu. Sebenarnya hari ini adalah hari ulang tahun Kailla yang ke 21 tahun. Tapi karena Kailla menolak untuk dirayakan dan hanya ingin menghabiskan waktu seharian dengan daddynya, akhirnya Pram terpaksa mengubah rencananya.


Hari ini, Pram akan mengundang beberapa rekan bisnis dan teman-temannya untuk merayakan kepindahannya di rumah yang baru. Ini juga menjadi kesempatan Pram, untuk mengenalkan Kailla pada kolega dan sahabatnya. Mereka menikah tanpa resepsi. Hanya beberapa orang saja yang hadir sebagai saksi. Mungkin inilah kesempatan Pram untuk mengenalkan istrinya kepada semua orang.


Sore itu sudah banyak tamu Pram berdatangan, termasuk salah satu teman baik, yang sekarang menjadi rekan bisnis Pram di usaha property. Mereka sudah lama tidak bertemu, sejak temannya itu pindah ke Surabaya. Tapi saat dia akan membeli rumah yang sekarang ditempati, mereka bertemu kembali.


Dari kejauhan tampak temannya itu turun dari mobil dan menggandeng perempuan cantik yang masih berusia muda.



“Dua minggu yang lalu. Bagaimana kabarmu?” Pram bertanya balik.


“Seperti yang terlihat. Oh ya, kenalkan istriku Bella.” Bara memperkenalkan.


“Oh, kamu tidak mengundangku. Aku sampai tidak tahu kalau kamu sudah melepas masa dudamu,” ucap Pram, meledek Bara. Pertemuan terakhir mereka hanya membahas pekerjaan, tidak menyinggung kehidupan pribadi sama sekali.


“Reynaldi Pratama,” ucap Pram, menyebutkan namanya saat bersalaman dengan Bella.


“Oh ya silahkan masuk!” ajak Pram pada kedua tamunya.


“Teman-teman yang lain, sebagian sudah di dalam Bar,” lanjut Pram.


“Bagaimana hasilnya. Kamu puas dengan rumahmu Pram?” tanya Bara.


“Istriku menyukainya,” ucap Pram singkat. Saat ini mata Pram sedang berkeliling, mencari Kailla yang sedari tadi belum keliatan sama sekali.


“Aku tinggal dulu, aku mencari istriku dulu. Silahkan dinikmati pestanya,” pamit Pram.


Baru saja melangkah, mata Pram menangkap sosok cantik yang mulai sedikit berisi karena kehamilannya sedang menuruni tangga. Kandungan Kailla sekarang masuk minggu ke 11. Dia sudah tidak rewel atau muntah dan mual. Nafsu makannya pun sudah kembali. Hanya tetap sulit untuk minum vitamin.


Pram menghampiri Kailla yang kesulitan merapikan ujung gaunnya yang terinjak hak sepatunya. Saat Pram berjongkok dan merapikannya, dia langsung melotot menatap Kailla.


“Kai, kamu masih membantahku! Aku sudah melarangmu menggunakan sepatu hak tinggi!” omel Pram, langsung memaksa melepas sepatu milik Kailla dan membiarkan istrinya telanjang kaki.

__ADS_1


Dia masih menenteng sepatu Kailla di tangannya, saat Bara dan Bella menghampirinya.


“Pram, istrimu?” tanya Bara, pada gadis yang sedang cemberut karena baru saja diomeli suaminya itu.


“Oh ya, kenalkan ini istriku Kailla Riadi Dirgantara.”


“Kai, kenalkan ini Barata Wirayudha dan istrinya Bella,” ucap Pram.


“Kailla..,” ucap Kailla sambil tersenyum menyodorkan tangannya pada kedua tamu suaminya itu.


“Bara yang membantu proses renovasi rumah ini. Kalau ada yang kamu tidak suka, kamu boleh mengomelinya sekarang,” ucap Pram sambil tertawa.


“Tidak, aku suka semuanya,” ucap Kailla menatap Bella dan Bara bergantian.


“ Sepertinya masih seumuranku,” ucap Kailla dalam hati.


Setelah acara perkenalan itu, Kailla dan Bella terlibat percakapan, meninggalkan para suami yang sibuk membahas proyek mereka selanjutnya. Ternyata Bella masih kuliah dan belum lama pindah ke Jakarta. Tadinya dia kuliah di Surabaya. Mendengar cerita Bella tentang kampusnya, muncuk keinginan Kailla segera meneruskan kuliahnya kembali. Tapi sekarang dia sedang hamil.


“Kai, kamu masih kuliah?” tanya Bella tiba-tiba, memecahkan lamunan Kailla.


“Aku sedang cuti. Mungkin setelah aku melahirkan, baru melanjutkan kuliahku yang tertunda,” sahut Kailla, tertunduk sedih.


“Tidak apa-apa, tidak ada kata terlambat untuk belajar,” sahut Bella mencoba menghibur.


“Kamu kuliah dimana?” tanya Bella lagi.


“Kemarin aku mengambil bisnis, tapi sepertinya aku tidak akan meneruskannya. Suamiku mengizinkanku mengambil jurusan yang aku sukai. Aku mau mengambil desain interior, Bell.” jelas Kailla.


“Nanti coba di kampusku saja, Kai. Aku juga masih baru di Jakarta, belum punya teman. Lagian rumah kita berdekatan. Kita bisa berangkat bareng nanti,” usul Bella.


“Dan kita bisa mengerjai suami kita bareng,” ucap Kailla usil. Bella langsung terbelalak mendengar ucapan Kailla. Hubungan rumah tangganya dengan Bara saja masih simpang siur. Dia belum memiliki keberanian untuk mengerjai suaminya yang sampai sekarang belum menjadi suami seutuhnya.


***


Setelah pesta usai, Kailla memilih duduk menemani Pram di ruang keluarga. Ada beberapa sahabat Pram, termasuk Bara yang masih enggan pulang dan memilih berbincang di sana. Maklum saja, sudah lama mereka tidak bertemu.




Perbincangan itu baru terhenti saat salah satu dari istri teman Pram mengajak suaminya pulang. Kailla yang sudah mengantuk, bisa bernafas lega.


“Sayang, malam ini aku tidur di kamar Daddy ya?” pinta Kailla dengan wajah memohon setelah tertinggal mereka berdua,


“Kamu sedang hamil Kai, tidak nyaman tidur di tempat daddy,” tolak Pram, mengelus perut Kailla.


“Selama ini setiap ulang tahunku, daddy selalu menghabiskan waktunya denganku. Dan sekarang karena aku sudah menikah dan daddy juga sedang sakit. Aku yang akan menemaninya,” jelas Kailla.


“Bukannya kamu sudah seharian bersama Daddy Kai,” ucap Pram lagi.


“Aku bukan hanya ingin menghabiskan waktu seharian dengan Daddy. Kalau bisa, aku mau menghabiskan seumur hidupku bersama Daddy,” sahut Kailla sedih.


****


Kailla terbangun saat mendengar seseorang menggedor pintu kamarnya dengan keras. Setelah perdebatan panjang dengan Pram, akhirnya dia terpaksa mengalah dan tidur di kamarnya malam ini.


Tok!Tok!Tok!

__ADS_1


“Non... Pak..!” Terdengar suara panik Bu Sari dari luar pintu kamar.


__ADS_2