Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 186 : Bali


__ADS_3

Sampai di kamar hotel, Pram menghubungi Kailla seperti janjinya. Saat sambungan video tersambung, terlihat pemandangan yang sangat dirindukan Pram. Istrinya sedang berbaring di ranjang, dengan gaun tidur kesukaannya.


“Sayang, kamu sudah tidur?” tanya Pram saat melihat Kailla yang sudah memejamkan matanya.


“Hmmmmm,” gumam Kailla masih memeluk gulingnya.


“Aku matikan saja, kalau kamu sudah tidur ya,” ucap Pram.


“Jangan..,” tolak Kailla, berusaha membuka mata dan menahan kantuknya.


“Kamu dari mana? Kenapa malam sekali baru menghubungiku,” tanya Kailla dengan suara serak.


“Aku keluar sebentar tadi. Ada sedikit urusan,” jawab Pram.


“Kamu tidak bertemu dengan gadis cantik kan?” todong Kailla, tiba-tiba kantuknya hilang. Mengingat suaminya sendirian di sana, jauh darinya.


“Hahahaha.. saat ini kamu bisa apa, selain mempercayai suamimu yang tampan ini,” ucap Pram sambil terkekeh.


“Ah... Sayang!” rengek Kailla seperti biasanya.


“Hehehe.. kalau aku mau berselingkuh, aku tidak perlu takut padamu Sayang,” jawah Pram, lagi-lagi membuat hati Kailla tidak tenang.


“Maksudmu?” tanya Kailla melotot.


“Sudah-sudah. Aku tidak macam-macam disini Sayang. Kamu sudah bersiap? David sudah mengirim tiket padamu?” tanya Pram lagi.


“Sudah Sayang,” jawab Kailla tersenyum.


“Aku lelah hari ini Sayang. Aku membutuhkanmu. Aku sedang ingin memelukmu,” ucap Pram tiba-tiba, sambil memijat pelipisnya.


“Aku melepaskan pakaianku sebentar ya. Jangan dimatikan,” pinta Pram, membiarkan ponselnya menyorot ranjang hotel. Pram sendiri sudah melangkah pergi, membuka pakaian dan melemparnya asal. Hanya dengan mengenakan celana boxer saja, dia sudah kembali berbaring di atas ranjang.


“Sayang..., kenapa telanjang seperti itu?” teriak Kailla mulai gusar.


“Hmmmm, aku kan tidak membawa pakaian ganti,” jawab Pram dengan santainya.


“Lagipula bukan hanya aku saja. Kamar Sam pasti begini juga pemandangannya. Hahaha....” Pram tergelak, membayangkan mereka berdua dengan Sam yang tidak membawa pakaian ganti sama sekali.


“Hah!? Benarkah Sayang?” tanya Kailla, mulai usil. Dia berencana mengerjai Sam.


“Kamu mau apa?” tanya Pram, setelah melihat gelagat yang tidak biasanya muncul di wajah Kailla.


“Jangan coba-coba menghubungi Sam!” perintah Pram, menatap tajam ke arah Kailla yang sudah tersenyum nakal.


“Kalau mau melihat, lihat punyaku saja. Aku kan suamimu,” ucap Pram lagi, sudah menepuk dadanya di depan layar ponsel.

__ADS_1


“Aku sudah bosan melihatmu. Sekali-kali mau ganti suasana. Mau lihat yang keluaran tahun 90an,” ucap Kailla usil. Terlihat dia menghitung dengan jari tangannya.


“Jangan mimpi di siang bolong Kai!” gerutu Pram.


“Yang tua itu sekarang banyak diburu orang Kai,” celetuk Pram, menimpali candaan istrinya.


“Itu kalau yang antik Sayang, kalau yang standar juga berakhir di tempat rongsokan. Hahaha,” sahut Kailla tidak mau kalah.


“Suamimu limited edition Kai,” ucap Pram membanggakan diri sendiri.


“Iya Sayang, kalau biasa-biasa saja, pasti sudah aku titipkan di pengepul barang bekas. Hahaha,” sahut Kailla. Dia menertawai Pram sampai perutnya terasa sakit.


“Kamu kenapa Sayang?” tanya Pram panik, saat melihat Kailla meremas perutnya.


“Perutku sakit kebanyakan menggodamu. Hahahaha.. Aduh perutku sakit,” jawab Kailla jujur.


Pram menggeleng, melihat kelakuan istrinya. Tapi kegilaan dan candaan Kailla adalah salah satu yang dirindukannya saat mereka berpisah seperti sekarang.


“Pasti otakmu sudah berpikir kemana-mana. Bukannya aku tidak tahu kelakuan istriku,” ucap Pram, mengarahkan telunjuknya ke layar ponsel.


“Hahaha... aku berpikir.. Hahahaha,” Kailla tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia terus-terusan tergelak.


“Hahaha... Sayang, aku berpikir kalau aku sudah bosan padamu. Aku..aku mau menukar tambah kamu dengan Lee Min Ho, kira-kira aku perlu nambah banyak tidak ya?” Kembali Kailla terbahak-bahak. Keningnya berkerut, seolah sedang berpikir keras.


“Kurang ajar kamu Kai. Kamu mau menukarku dengan siapa tadi.. aku tidak mengenalnya!” gerutu Pram. Raut wajahnya berubah menjadi kesal, dikerjai Kailla sedari tadi.


“Sayang aku mau tidur dulu,” ucap Kailla lagi, setelah menghentikan tawanya. Dia sudah lelah, mengerjai Pram sedari tadi.


“Hmmmm,” gumam Pram.


“Sayang, jangan matikan ponselnya sampai aku tertidur ya,” pinta Kailla lagi dengan manjanya. Berbaring memeluk guling dan menatap Pram dengan penuh cinta melalui layar ponselnya.


“Iya, cepat tidur, aku juga sudah mengantuk,” sahut Pram.


“Malam ini tidak ada yang memelukmu seperti biasanya. Ambil selimut, anggap saja aku yang sedang memelukmu,” ucap Pram tersenyum.


Tampak Kailla menyandarkan ponselnya tidak jauh dari tempatnya berbaring. Meletakkannya sedemikian rupa, supaya tetap bisa memandang suaminya.


“Good night Sayang,” bisik Kailla, tersenyum.


“Iya. See you Darling,” jawab Pram yang ikut berbaring telungkup, menyembunyikan tubuh telanjangnya di balik selimut tebal.


“Sayang...,” panggil Kailla, tiba-tiba membuka matanya kembali. Dia tersenyum kembali menatap Pram yang sudah memejamkan matanya.


“Hmmmmmm,” gumam Pram, mulai mengantuk. Dia sengaja menyandarkan ponselnya pada bantal supaya layar kamera tetap menyorot padanya.

__ADS_1


Samar-samar, Pram masih bisa mendengar suara Kailla yang sesekali memanggilnya. Tapi dia sudah terlalu mengantuk, tidak sanggup lagi menjawab panggilan istrinya walau hanya sekedar bergumam.


***


Pagi-pagi sekali Kailla bersama Bayu sudah menginjakkan kakinya di Ngurah Rai, Bali. Dari tadi dia sudah mencoba menghubungi Pram, tapi ponsel suaminya itu tidak aktif. Jalan satu-satunya adalah menghubungi Sam. Beruntung Sam menjawab , memberi alamat hotel tempat mereka menginap.



Saat sampai di depan lobi hotel, Sam sudah menyambut keduanya dengan riang gembira.


“Sam, kamu tidak mandi?” tanya Kailla saat berjalan menuju ke kamarnya, setelah berhasil meminta kunci cadangan pada petugas hotel.


“Sebaiknya Non Kailla tanyakan pada Pak Pram,” gerutu Sam kesal. Gara-gara Pram semalam dia harus mencuci pakaian, supaya keesokan harinya bisa dikenakan kembali. Padahal dia sudah mau membawa baju ganti, tapi Pram melarangnya kemarin.


“Bay, baju-bajuku mana?” tanya Sam.


Terlihat Bayu mengeluarkan kantong kresek hitam dari dalam tas ranselnya, melemparnya pada Sam.


“Astaga Bay!” Sam mengeluh, saat melihat pakaiannya dimasukkan ke dalam kresek hitam dalam keadaan tidak terlipat. Hanya dimasukkan asal. Terlihat Sam mencium isi di dalam kresekan.


“Dimana kamu mendapatkan kantong kresek ini Bay? Kenapa bau terasi?” tanya Sam bertambah kesal, mencoba mengeluarkan salah satu kaos dan mengendusnya di depan Bayu.


“Aku meminta pada Bu Ida,” sahut Bayu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Br*ngsek kamu Bay! Kresekan dari Bu Ida kan rata-rata bekas belanjaan sayur dan ikan di pasar,” omel Sam, semakin kesal.


“Aku tadi buru-buru. Sudah mau jalan ke bandara, baru kamu menghubungiku!” omel Bayu, tidak kalah kesal.


Mobil sudah berjalan keluar gerbang rumah, baru Sam mengabarinya. Meminta dibawakan pakaian. Karena buru-buru, dia tidak mengecek lagi. Memasukan pakaian itu asal ke dalam kresekan yang dimintanya pada Bu Ida.


Sam semakin mengomel, saat melihat pakaian yang dibawa Bayu untuknya. Semuanya kaos tidur dan celana pendek. Tidak ada satu pun kaos yang layak dikenakan untuk jalan-jalan.


“Bay, apa-apaan ini!” semprot Sam, mengeluarkan dan membentang sebuah kaos dengan kerah yang sudah hancur dan tidak layak pakai.


“Mana aku tahu, pakaianmu berantakan di lemari. Aku mengambilnya asal,” ucap Bayu, tanpa merasa bersalah sama sekali.


“Jangan-jangan bau terasi tadi bukan dari kantongnya, tapi dari bajunya,” celetuk Bayu, terbahak.


“Baju bukannya dilipat, tapi dilempar masuk ke dalam lemari!” omel Bayu.


Kailla yang mendengar percakapan keduanya jadi berpikir sendiri. Dia juga tidak memeriksa pakaian apa saja yang dimasukkan untuk suaminya ke dalam koper. Kemarin dia hanya mengambil tumpukan pakaian Pram, tidak memeriksanya satu per satu.


***


Terimakasih.

__ADS_1


Love you all


Mohon like dan komennya ya.


__ADS_2