Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 63 : Tunggu Aku Menikahi Om-mu


__ADS_3

Pram baru saja menghubungi rekannya untuk meretas ponsel Anita. Paling tidak itu jalan yang bisa dilakukannya untuk mendapat informasi mengenai keberadaan Kailla saat ini.


Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan keadaan Kailla. Dia bukan takut Anita menyakiti Kailla, dia khawatir Kailla yang ketakutan seorang diri di tempat asing tanpa seorang pun yang dia kenal. Dia yakin Anita tidak akan menyakiti Kailla selagi keinginannya belum tercapai.


Pagi itu dia ada janji untuk bertemu Bayu. Semalam begitu mendengar perintah Pram, Bayu langsung memerintahkan anak buahnya untuk melacak semua cctv di tempat kejadian, melacak plat nomor mobil yang digunakan sampai mencari tahu identitas orang-orang yang terlibat dalam penculikan. Paling tidak dengan begitu mereka bisa mencari tahu lebih banyak hal, termasuk dimana Anita menyembunyikan Kailla.


Tapi sampai sejauh ini belum membuahkan hasil. Orangnya yang berjaga di depan rumah Anita sampai sekarang belum melaporkan apa pun.





(Ini visual abang Bayu ya. Yang selama ini dibayar Pram buat jagain Kailla )


“Pagi Bos,” sapa Bayu. Dia buru-buru berangkat ke Bandung begitu anak buahnya mengirimkan laporan padanya.


“Bagaimana Bay?”


“Ini laporan dari anak buah saya Bos.” Terlihat Bayu menyerahkan laporan-laporan hasil kerja anak buahnya di lapangan.


Pram terlihat membolak-balikan informasi yang berisi foto-foto yang diberikan Bayu. Hatinya teriris melihat bagaimana seorang lelaki mengendong Kailla yang sudah tidak sadarkan diri masuk ke dalam mobil.


“Brengsek! Berani-beraninya dia menyentuh istriku!” Tangan Pram sudah terkepal, menandakan kemarahannya saat ini.


“Bay, secepatnya kamu harus menemukan dimana istriku! Kerahkan semua anak buahmu! Aku akan membayar berapa pun biayanya.”


“Siap Bos! Kita pasti berusaha semaksimal mungkin.”


“Tidak bisakah melacak dari plat mobil ini? tanya Pram menunjuk sesuatu di dalam foto.


“Sudah Bos, tapi itu plat palsu. Tidak ada data apapun yang bisa di dapat dari plat nomor itu.” jelas Bayu lagi.

__ADS_1


“Bagaimana kedua laki-laki ini?” tanya Pram lagi.


Bayu menggeleng, “Kami belum berhasil mencari tahu identitas kedua orang ini, fotonya tidak terlalu jelas Bos! Tapi kami masih terus berusaha.”


Deg— Mata Pram terbelalak menatap sebuah foto, sopir kantor yang selama ini bekerja di RD group itu juga ikut terlibat. Terlihat dia ikut membantu kedua orang laki-laki yang sudah menculik Kailla.


“Ya Tuhan, aku menyerahkan istriku sendiri kepada mereka. Harusnya aku menjaga Kailla dengan tanganku sendiri.” Pram benar-benar menyesal saat ini. Harusnya dia membiarkan Kailla tetap bersamanya kemarin.


“Bay, aku ingin kamu mencari tahu lebih banyak tentang orang ini! Dia sopir kantorku. Aku ingin semua informasi tentang orang ini secepatnya!” perintah Pram sambil menunjukkan foto pada Bayu. Terlihat Pram menyodorkan ponsel berisi informasi yang dikirimkan David padanya semalam.


“Baik Bos!”


Deg— dia teringat kejadian di Bandung dulu. Sopir ini adalah sopir yang sama, apakah kejadian di hotel waktu itu dia juga ikut terlibat.


“Astaga! Bahkan aku tidak menyadari kalau musuhku di depan mata.”


“Oh ya Bos, aku sudah mengirim orangku untuk berjaga di depan rumah Anita. Tapi dari semalam sepertinya tidak ada tanda-tanda Anita kembali ke rumahnya.”


***


Pagi ini Kailla terbangun di sebuah kamar. Entahlah dia sendiri tidak yakin. Suasana di dalam kamar itu sangat gelap, tidak ada cahaya sama sekali. Rasanya pengap dan sesak sekali, membuat siapapun yang berada di dalamnya akan kesulitan bernapas. Kepalanya masih pusing, dia belum bisa mengingat apa-apa.


Setelah mengumpulkan semua ingatan dan kesadarannya, dia langsung menutup mulutnya, menahan tangis dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. Dia meraba-raba pakaiannya, masih utuh. Berarti semalam setelah tidak sadarkan diri, tidak terjadi apa-apa padanya.


Dia ingat, semalam setelah bayangan punggung Pram menghilang di balik lobby hotel ada dua orang laki-laki mendatangi mobilnya. Mengetuk-ngetuk kaca mobil di ke dua sisinya. Dan yang lebih mengerikan dari semua itu adalah ketika dia meminta sopir menjalankan mobil supaya kedua laki-laki itu tidak bisa mengganggunya, sopir itu malah tersenyum menyeringai menatap Kailla. Kailla masih ingat jelas apa yang dikatakannya


Flasback on


“Hahaha... Nyonya! Welcome!” ucap sopir itu sebelum akhirnya membuka pintu mobil, mengizinkan dua orang laki-laki itu untuk masuk dari dua sisi pintu yang berbeda.


“Dia cantik sekali!” ucap laki-laki yang duduk disebelah kiri Kailla, dia masih sempat memegang kasar dagu Kailla sebelum akhirnya mengecup paksa pipi gadis itu.


“Ah.... lepaskan aku!” teriak Kailla berusaha meronta dan mendorong kasar laki-laki yang mengecup paksanya. Belum berhasil mendorong, seseorang malah menangkap tubuh mungilnya dari belakang. Itu terakhir yang bisa dia ingat. Sebelum akhirnya salah satu dari mereka membekap mulut dan hidungnya dengan kain, sehingga dia kesulitan bernapas. Kailla masih berusaha menendang-nendang dengan kakinya, sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Flashback off.


Tak lama, pintu kamar tempat Kailla disekap terbuka. Terdengar suara langkah kaki, ada lebih dari satu orang yang masuk ke dalam ruangan itu. Karena ruangan yang gelap gulita, Kailla hanya bisa menebak dari pendengarannya saja. Dia sudah bersiap-siap, dia tidak tahu orang seperti apa yang datang dan menyekapnya disini.


Tring— Lampu di ruangan itu menyala. Kailla harus mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menormalkan pandangannya. Butuh waktu beberapa detik, baru dia bisa melihat kembali dengan sempurna.


“Tante!” pekik Kailla. Tangannya menutup mulutnya sendiri tanpa sadar, saat dia melihat Anita sudah berdiri di hadapannya. Di belakangnya tampak sopir kantor yang mengantarnya dan Pram ke Bandung.


Anita tersenyum. Senyumannya manis sekali berbeda dengan terakhir kali mereka bertemu. Dia menatap Kailla tanpa berkedip.


“Nanti sayang. Tunggu aku menikahi Om-mu, Pram. Baru aku mengizinkanmu memanggilku tante.” seringainya.


“Tante aku mohon lepaskan aku.” pinta Kailla mulai menangis. Sekarang dia bisa melihat ruangan ini dengan jelas. Anita menempatkannya di sebuah kamar yang lumayan luas. Lengkap dengan kulkas, televisi dan ada 1 set sofa di dalamnya.


“Sayang, jangan menangis lagi. Nanti Pram memarahiku lagi seperti dulu.” Anita mendekati Kailla kemudian memeluk dan mengusap-usap rambut Kailla. “Kamu masih sama seperti dulu, suka menangis.” lanjutnya lagi.


“Tante...” Kailla bingung dengan sikap Anita yang tiba-tiba berubah. Berbeda sekali ketika mereka bertemu kemarin, pandangan Anita sungguh menakutkan. Tapi hari ini Anita datang dengan senyum tersungging di wajahnya. Bahkan ketika melihatnya menangis, Anita langsung memeluk dan menenangkannya.




(Ini visual Anita dan Kailla kecil dulunya, saat Anita masih pacaran dengan Pram)


“Kamu masih suka barbie dan es krim kan? Nanti tante akan membelikannya untukmu. Tapi janji jangan memberitahu Pram,” bujuk Anita lagi. Terlihat dia mengulurkan jari kelingkingnya pada Kailla.



( Ini visual Kailla kecil ya)


***


Terimakasih dukungannya.. siang di up lagi ya.. love you all.

__ADS_1


__ADS_2