
Pram tersenyum bahagia, ketika Kailla akhirnya mau mengalah. Walaupun dia harus menggunakan segala cara untuk menaklukan istrinya itu.
“Kai.. kamu belum mau mandi?” tanya Pram setelah melepaskan penyatuan mereka. Dia segera bangun dan meraih celana pendeknya, kemudian mengambil tisu untuk membersihkan sisa-sisa cairan yang dikeluarkannya di atas perut rata Kailla.
“Hmmmm..” Kailla bergumam. Saat ini tangannya sedang meraba-raba di sekitaran tempat tidur, mencari keberadaan selimutnya.
“Kai..., kamu tidur lagi?” tanya Pram lagi setelah melihat Kailla masih dengan tubuh polosnya sudah memejamkan matanya kembali. Kailla benar- benar tidak sanggup bergerak, bahkan menjawab pertanyaan Pram dia sudah tidak mampu.
“Hei... Sayang.” Pram duduk di tepi ranjang, tersenyum menatap wajah lelah Kailla yang masih bermandi keringat. Dengan lembut dia merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
“Aku mau tidur. Om menggangguku semalaman,” sahut Kailla.
“Ayo bangun! Kamu bisa tidur di pesawat nanti,” jelas Pram. “Ayo Sayang, kalau kamu tidak bangun sekarang, nanti aku akan mengganggumu lagi,” lanjut Pram. Kalimat terakhir Pram seketika membuat mata Kailla yang terpejam sedari tadi, terbelalak seketika.
“Aku tidak mau lagi Om..,” rengek Kailla, wajahnya langsung cemberut menatap kesal pada Pram.
“Haha..., mau dimandikan?” tanya Pram terkekeh. “Seperti dulu!” ucap Pram lagi, menaik turunkan kedua alisnya. Menggoda Kailla adalah salah satu kesukaannya sekarang. Melihat wajah cantik Kailla cemberut dengan pipi memerah merupakan kebahagiaannya saat ini.
“Tidak mau, aku bukan anak kecil lagi!” sahut Kailla kasar, terlihat dia langsung bangkit dari tidurnya dan meraih pakaiannya yang dilempar Pram ke lantai semalam.
Setelah berpakaian kembali, Kailla memilih keluar kamar masih sambil menguncir asal rambut panjangnya. Terlihat Pram mengekor di belakang Kailla tersenyum melihat punggung istrinya.
“Sam!! teriak Kailla. Baru saja dia melangkah keluar kamar, matanya melotot melihat Sam yang sedang duduk di ruang keluarga. Sam juga ikut-ikutan melotot melihat majikannya yang keluar dari kamar mistis diikuti Pram.
“Non..” sapa Sam.
“Gila ini! Bisa-bisanya dia dengan mudah menyerah pada laki-laki tua, si tukang marah-marah itu!” gerutu Sam dalam hati.
“Sam! Kelewatan kamu yah! Aku sudah hampir mati ketakutan,” cerocos Kailla. Bukannya dia tidak tahu, setiap Sam menginap di rumah, pasti selalu menjahilinya. Segera dia mengejar Sam yang berlari mengelilingi sofa ruang keluarga.
“Awas kamu! Semalam itu kerjaan kamu kan!” todong Kailla dengan mata melotot, bersiap menelan Sam bulat-bulat saat ini. Melihat Sam berlari berkeliling sofa, akhirnya Kailla berinisiatif naik ke atas sofa dan menarik kerah kemeja Sam supaya tidak bisa kemana mana lagi.
“Dapet kamu ya! Sini!” ucap Kailla kesal. “Gara-gara kamu ya! Semalam aku harus masuk ke sarang harimau,” gerutu Kailla.
Deg— Wajah Sam tertegun begitu mendengar kata-kata Kailla.
“Jadi semalam itu benar-benar siluman harimau,” ucap Sam dalam hati.
Pram yang sedari tadi menonton pertunjukan di depannya hanya bisa berdecak kesal sambil menggelengkan kepalanya.
“Kai..!” panggil Pram sedikit keras melihat istrinya yang masih mencekal Sam. “Lepaskan dia!” perintah Pram.
Bagaimana tidak kesal, istrinya sedang menarik kemeja Sam dengan kedua tangannya, sedangkan kedua tangan Sam sedang menyentuh pinggang istrinya berusaha supaya bisa melepaskan diri.
Pram memijat pelipisnya, melihat pemandangan ini membuat kepalanya pusing.
Hampir setiap hari dia bekerja sampai tidak tahu bagaimana hubungan Kailla dengan asistennya. Dia tahu selama ini Kailla selalu dekat dengan Sam, tapi tidak menyangka hubungannya sudah sedekat ini. Berbeda dengan hubungan Kailla dan asisten lainnya. Mungkin karena di antara para asisten, Sam umurnya paling mendekati Kailla, jadi hubungan mereka lebih mudah terjalin.
“Kai..!” teriak Pram, setelah panggilan sebelumnya tidak didengar kedua orang yang sedang berseteru di hadapannya. Saling tarik menarik, saling dorong mendorong.
Tampak Pram menghampiri dan menghempaskan tangan Sam dari pinggang Kailla, kemudian menarik kedua tangan Kailla yang sedang mencekal Sam.
“Kai, cukup!” Pram menarik istrinya supaya mengikutinya duduk di sofa.
“Sam! Kemari!” perintah Pram. Tangan Pram menunjuk jelas, meminta Sam berdiri di hadapannya. Tampak Sam dengan ragu-ragu berdiri di hadapan kedua majikannya dengan kepala tertunduk.
Kailla yang duduk di samping Pram juga terlihat menunduk, sesekali mengintip ke arah Sam sambil tersenyum jahil.
“Ada apa ini?” tanya Pram tegas. Tidak ada senyuman di wajahnya. Sebenarnya dia tidak mau mengurusi hal-hal sepele seperti ini. Tapi mau tidak mau dia harus terlibat, karena ini menyangkut kelakuan istrinya.
“Ma..maaf Pak.” ucap Sam terbata-bata masih dengan kepala tertunduk. Berbeda dengan ekspresi Sam, Kailla masih saja tersenyum ceria menatap laki-laki yang berdiri menunduk di depannya.
__ADS_1
“Sayang....” panggil Kailla manja, tiba-tiba dia beralih duduk di atas pangkuan Pram. Kedua tanganya sedang bergelayut manja di leher Pram.
“Dia mengerjaiku semalam Om,” adu Kailla manja memainkan leher kaos Pram. Tidak ada senyuman di wajah Pram saat ini. Hanya sebuah tatapan mematikan menatap Sam.
“Tidak Pak,” sahut Sam menolak pernyataan Kailla.
“Kamu tunggu disini, sebentar lagi David akan datang.” perintah Pram pada Sam setelah mengecek pesan masuk di ponselnya.
Mendengar kata-kata Pram, sontak kedua orang yang sedang berseteru itu langsung saling menatap. Mereka sama-sama tidak tahu apa maksud dan tujuan Pram meminta David datang ke sini.
“Om.., kamu tidak akan memecat Sam kan?” tanya Kailla berbisik. Dia mengeratkan pelukannya di leher Pram.
Pram menatap ke samping, memandang wajah istrinya yang sekarang tampak memelas.
“Sam ini kartu as ku. Bagaimana mungkin aku memecatnya.” batin Pram.
Kailla akan melakukan apa saja demi tidak memecat Sam, termasuk sekarang yang sedang dilakukannya. Dengan tidak tahu malunya, dia langsung duduk di pangkuan Pram. Kalau bukan karena Sam, Kailla tidak akan mungkin melakukannya dengan sukarela. Dengan alasan apapun, banyak hal gila yang akan dilakukan Kailla karena Sam.
Pram sudah ingin tertawa, tapi dia berusaha menahannya. Kedua orang ini harus diberi pelajaran. Tak lama David masuk ke dalam rumah membawa sebuah amplop coklat yang lumayan besar dan menyerahkannya kepada Pram.
“Pagi Presdir,” sapa David tersenyum. Senyumnya semakin terkembang saat dia melihat Kailla yang sedang duduk di pangkuan Presdirnya.
“Pagi Nyonya,” sapa David tersenyum menggoda Kailla. Melihat senyuman jahil David, Kailla langsung turun dan memilih duduk di sebelah Pram. David sendiri berdiri tepat di sisi Sam menunggu perintah selanjutnya.
“Sam, apa yang terjadi semalam? Kamu menjahili istriku?” tanya Pram serius, tampak dia membolak balikan amplop coklat di tangannya.
“Mati aku! Apa sebaiknya aku mengaku saja ya, seperti apa yang dikatakan Non Kailla. Siapa tahu Pak Pram berbaik hati kalau aku berkata jujur.”
“Maafkan aku Pak, semalam aku cuma sekedar iseng saja,” jawab Sam.
“Tidak Om, dia tidak menjahiliku.” ucap Kailla hampir berbarengan dengan jawaban Sam.
Pram menatap keduanya secara bergantian, mencari tahu jawaban siapa yang benar. Sedangkan David menutup mulutnya menahan tawa.
“Sepertinya yang Sam katakan,” ucap Kailla singkat berusaha membela Sam kali ini.
“Non Kailla benar,” sahut Sam juga.
Melihat kekompakan antara asisten dan majikannya, Pram hanya tersenyum kecut. Terlihat dia melempar amplop coklat itu ke atas meja dengan kasar. “Ambil itu Sam, kamu boleh keluar sekarang!” perintah Pram. “Tunggu aku di luar!” lanjutnya lagi.
“Dave, kamu bisa kembali ke kantor sekarang!” titah Pram tanpa melihat lagi, dia beranjak dari sofa meninggalkan ketiganya.
“Sam jangan khawatir. Kamu tidak akan dipecat,” ucap Kailla menenangkan Sam. Segera dia berlari menyusul Pram ke kamar.
***
Begitu masuk ke dalam kamar, Kailla melihat Pram sedang melepaskan kaosnya bersiap pergi ke kamar mandi.
“Om...” panggil Kailla berusaha mengajak Pram bicara.
“Ada apa?” tanya Pram, melihat Kailla dia mengenakan kaosnya kembali. Dia juga merasa ada yang harus dibicarakannya.
“Om serius memecat Sam?” tanya Kailla memastikan.
Kali ini Pram menatap Kailla. “Untuk kejadian tadi, apakah pantas aku tidak memecatnya?” tanya Pram serius. Nada bicara Pram biasa-biasa saja, tidak ada kemarahan di dalamnya
“Aku mohon maafkan aku, tapi jangan pecat Sam.” pinta Kailla, wajahnya terlihat sedih.
“Tadi itu sebuah kesalahan ya? Kenapa kamu meminta maaf Kai?” Pram balik bertanya.
“Kemarilah!” pinta Pram meminta Kailla mendekat padanya.
__ADS_1
Tampak Kailla berjalan dengan ragu-ragu dengan kepala tertunduk.
“Apa kesalahanmu tadi?” tanya Pram lembut. Tidak ada sedikit pun kemarahan disana, hanya sebuah tatapan penuh cinta.
“Eeee..... eeee.. apa karena aku bertengkar dengan Sam?” tanya Kailla bingung.
Terlihat Pram menarik tangan Kailla dan mengajaknya duduk di tepi ranjang.
“Umurmu berapa sekarang?” tanya Pram.
Kailla hanya menatap tidak menjawab sama sekali. Dia sendiri tidak paham maksud pertanyaan Pram, padahal suaminya itu jelas-jelas tahu umurnya sekarang.
“Aku menikah dengan seorang perempuan 20 tahun, bukan anak-anak Kai,” jelas Pram.
“Maafkan aku.” bisik Kailla pelan.
“Kemarilah,” Pram menepuk pahanya, meminta Kailla duduk di pangkuannya.
“Sam akan bekerja kembali, setelah kamu bisa mengurangi sikap kekakak-kanakanmu.” ucap Pram mendekap istrinya erat.
“Hah! Om serius memecatnya?” tanya Kailla, kali ini dia sudah cemberut, menghentakan kakinya ke lantai berulang kali.
“Kai..... aku bilang apa barusan?” tanya Pram.
“Apa yang kamu rasakan, tidak perlu ditunjukkan terang-terangan dan secara berlebihan, apalagi di hadapan semua orang,” lanjut Pram lagi.
“Maaf.., tapi aku mau Sam,” rengek Kailla.
“Aku akan mempertimbangkannya nanti.” Pram menjawab singkat.
“Kai... aku ini siapamu?” Pram bertanya kembali, menatap serius ke manik mata Kailla yang sedikit berkaca-kaca.
“Suamiku..” Kailla menjawab sambil melipat-lipat ujung kaosnya. Dia tahu saat ini Pram sedang memarahinya.
“Tolong perlakukan aku selayaknya suami, di depan ataupun di belakangku,” pinta Pram.
“Jaga kelakuanmu, Kai. Kamu harus tahu semua batasanmu sebagai seorang istri. Kamu tahu, begitu keluar dari kamar ini, kamu tidak bisa bersikap seenaknya seperti kamu bersamaku sekarang.” Pram menghela nafasnya, hanya berharap istrinya bisa mengerti kata-kata yang diucapkannya sedari tadi.
“Apapun yang kamu lakukan diluar sana, itu tanggung jawabku Kai. Kalau kamu menyayangiku, tolong jangan biarkan orang lain mempermalukanku karena sikapmu. Kamu mengerti?” tanya Pram.
“Maafkan aku,” Kailla menggangguk.
“Cium aku sekarang kalau mengerti.” ucap Pram tersenyum menatap Kailla. Istrinya sedang takut padanya saat ini.
“Aku mencintaimu Kai. Aku tidak rela orang lain merendahkanmu,” ucap Pram lembut.
Cup! Kailla mengecup sekilas bibir Pram, “ aku menyayangimu.” Kailla berkata.
“Ah.... aku mau ciuman seperti semalam Kai,” rengek Pram menggoda Kailla yang sedang tertunduk malu.
***
Terimakasih dukungannya
__ADS_1