
Pieter masih menatap tanpa berkedip. Kalau bukan mengingat istri Pram, dia pasti sudah memberanikan diri membelai wajah cantik yang sedang terlelap di depannya.
“Kalau kamu tidak mencintai Pram, aku akan memperjuangkanmu,” ucap Pieter pelan. Nyaris tidak terdengar.
Terlihat dia menghela napasnya berkali-kali. Saat ini dia sudah seperti orang bodoh, menyukai istri temannya sendiri. Seperti tidak ada lagi stok perempuan di dunia ini. Tapi ini masalah hati. Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta.
Perempuan di hadapannya ini, bukanlah perempuan sempurna. Dia hanya putri konglomerat yang biasa-biasa saja, bahkan dandanannya sangat sederhana. Tidak ada make up tebal atau polesan lipstik mencolok di bibirnya. Kalau dia tidak menenteng tas branded di tangannya, orang tidak akan tahu kalau dia bukan orang biasa.
Beberapa hari mengenalnya, Pieter tahu perempuan ini hanya gadis manja yang masih labil. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya. Yang membuatnya tertarik. Entahlah, perempuan ini kuat! Perempuan ini tangguh! Perempuan ini sulit untuk ditaklukan!
Semakin lama menatap, dia akan semakin gila. Pieter memilih kembali ke ruangannya sebelum terlanjur terjerat pesona yang membuatnya susah untuk mundur. Baru saja membalikkan badannya, dia sudah dikejutkan dengan sosok laki-laki yang saat ini sedang berdiri tepat di belakangnya, menatap tajam siap mencabik-cabik tubuhnya.
Deg— Pram!
“Sejak kapan Pram masuk? Kenapa aku sampai tidak menyadarinya?” batin Pieter.
“Pram...,” sapa Pieter gugup. Dia tidak berani berlama-lama menatap laki-laki yang berdiri kaku dan menatap sinis kepadanya.
“Iya...!” Pram hanya menjawab singkat, tanpa bergerak bahkan berkedip sedikit pun.
“Sejak kapan kamu masuk Pram?” tanya Pieter salah tingkah.
“Beberapa menit setelah kamu masuk. Tepatnya saat kamu mulai berjongkok di sana dan menatap pemandangan di hadapanmu tanpa berkedip,” ucap Pram.
“Sepertinya kamu tertarik sekali dengan istriku. Sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku disini,” lanjut Pram lagi.
“Kamu salah paham,” ucap Pieter. “Aku tidak berniat untuk...” Pieter tidak bisa melanjutkan kata-katanya, Pram sudah mencekal kerah kemeja dan menyeret Pieter keluar dari ruangannya.
“Pram, apa-apaan ini?” tanya Pieter setelah berada di luar ruangan.
“Kita ke ruanganmu. Ada yang harus kita selesaikan!” ucap Pram melepaskan cekalannya. Dia tidak mau menjadi tontonan staffnya karena menyeret Pieter. Dan terlebih lagi, dia tidak mau Kailla melihatnya berkelahi. Sejak dulu, dia tidak pernah mau berkelahi di depan Kailla, mau itu hanya sekedar bertengkar ataupun baku hantam.
Bukkk!!!
Sebuah pukulan mendarat tepat di rahang Pieter begitu mereka masuk ke dalam ruangan. Pieter yang tidak berpikir Pram akan memukulnya hanya bisa pasrah menerima pukulan.
“Itu untuk kebodohanmu!” ucap Pram meraih kerah kemeja Pieter dan mendorong tubuh temannya itu ke belakang.
“Bagaimana kamu bisa begitu bodohnya mau memperjuangkan perempuan milikku. Br*ngsek!!” lanjut Pram. Baru saja dia akan mencekal Pieter kembali, tapi kali ini Pieter sudah menangkisnya terlebih dulu.
__ADS_1
“Dia tidak mencintaimu! Hehehe..,” Pieter terkekeh. Dia memilih duduk di sofa dengan santainya. Seolah tidak peduli dengan kemarahan Pram.
“Kalaupun dia tidak mencintaiku, atas dasar apa kamu ingin memperjuangkannya?” tanya Pram.
“Dia istriku! Come on Bro! Kita bukan anak kecil lagi. Tidak bisakah kamu buka sedikit pikiran warasmu, jangan setiap saat mengikuti perasaanmu,” lanjut Pram lagi. Tangannya sudah terkepal kembali dengan urat-urat yang menonjol di dahinya.
“Aku hanya menyukainya. Aku tidak menganggunya,” ucap Pieter. “Aku bahkan tidak menyentuhnya sama sekali,” lanjut Pieter dengan tidak tahu malunya.
“Aku memperingatkanmu, jauhi istriku!” ucap Pram. Telunjuknya sedang terarah jelas ke Pieter.
“Ayolah Pram...., aku tidak berniat merebutnya darimu,” ucap Pieter lagi.
“Sekali lagi aku melihatmu mendekatinya, aku akan melemparmu keluar dari KRD,” ancam Pram. Dia masih mengingat Pieter adalah teman baiknya sekaligus orang yang membantunya selama dia berada di Austria. Kalau tidak, dia sudah menyeret laki-laki tidak tahu malu ini keluar dari kantornya.
“Ayolah Pram..,”
“Diam! Atau aku akan memukulmu lagi,” gertak Pram.
“Tidak perlu mencari tahu tentang Kailla, kalau kamu mau tahu lebih banyak bertanya padaku. Jangan dekati dia lagi, aku tidak mau istriku ketakutan padamu!” ucap Pram sebelum akhirnya keluar dari ruangan Pieter dan membanting pintu.
***
Istrinya masih terlelap di sana. Seolah tidak terganggu dengan apa pun.
“Dasar tukang tidur!” gerutu Pram. Pandangannya beralih ke kotak bekal di atas mejanya. Senyum langsung menghias wajahnya seketika. Dengan cekatan tangannya mengeluarkan dan membuka kotak makanan itu.
Begitu tutup kotak persegi itu terbuka, mata Pram terbelalak melihat isinya.
“Astaga Kailla, kamu benar-benar membawakanku telur ceplok dan nasi putih lengkap dengan lelehan kecap manisnya si malika.” Pram hanya bisa tersenyum kecut menatap pemandangan di depannya.
Dengan tanpa bicara dia tetap menghabisi makan siangnya. Sesekali dia menggelengkan kepalanya setiap mengingat kelakuan Kailla.
“Laki-laki mana yang bersedia hidup dengan wanita yang mengerikan seperti ini,” ucapnya pelan masih sibuk mengaduk-aduk makanan di dalam kotak bekal.
Kailla terbangun beberapa saat sebelum Pram menghabiskan isi kotak bekalnya. Dia terkejut melihat Pram yang sudah duduk di kursinya dan makan tanpa banyak bicara.
“Sayang...., kenapa tidak membangunkanku?” tanya Kailla ketika sudah berdiri di samping meja Pram.
“Kamu mau menyuapiku?” tanya Pram tersenyum. Dia melepas sendok dan garpu di tangannya, beralih menatap Kailla.
__ADS_1
“Aku tidak mau. Aku mau pulang sekarang. Kepalaku sedikit pusing, mungkin aku kurang tidur semalam,” ucap Kailla sambil memijat pelipisnya.
“Aku tidak memasak untukmu, tidak ada stok bahan makanan di kulkas,” lanjut Kailla lagi.
“Kamu sudah makan siang?” tanya Pram.
Kailla menggeleng.
“Sayang..., aku merindukan Sam,” ucap Kailla sambil duduk di pangkuan Pram.
“Bolehkah kamu membawanya kesini untukku?” tanya Kailla, bergelayut manja di leher Pram. Berharap dia bisa meluluhkan suaminya saat ini. Dia benar-benar rindu pada asistennya itu.
“Kalau aku tidak mengizinkan?” Pram balik bertanya.
Kailla cemberut, sembari jari-jari tangannya memainkan kerah kemeja Pram.
“Nanti aku akan mempertimbangkannya,” jawab Pram. Dia tidak tega melihat wajah kecewa istrinya. Sontak membuat Kailla tersenyum.
“Benarkah?” tanya Kailla memastikan lagi.
“Iya. Ayo aku akan mengajakmu makan siang. Kita ke kantin,” ajak Pram.
“Aku tidak mau makan di kantin. Aku tidak ingin makan pasta dan steak lagi. Aku bosan Sayang,” tolak Kailla.
Pram mengerutkan dahinya, menatap wajah Kailla keheranan. Selama ini Kailla belum pernah menolak kedua makanan itu. Bahkan dia bisa makan menu itu setiap hari.
“Kamu mau makan apa?” tanya Pram lembut, melingkarkan tangannya dipinggang Kailla. Bersiap menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir istrinya.
“Aku mau makan bakso yang gerobakan itu Sayang. Semangkok bakso panas lengkap dengan gorengan, seperti yang diposting Nex Carlos di channel youtube-nya,” rengek Kailla lancar.
Saat ini otaknya sudah membayangkan seberapa nikmatnya bakso panas lengkap dengan saos tomat, kecap dan sambal cabe yang banyak ditambah perasan jeruk.
“Kalau ditambah pangsit goreng sepertinya enak Sayang,” lanjut Kailla sambil menelan ludahnya. Menatap Pram penuh harap.
Pram yang mendengar permintaan Kailla hanya bisa mengerutkan dahinya. Dimana dia bisa mendapatkan bakso seperti yang diinginkan Kailla.
“Ini Austria Sayang. Tidak ada pedagang bakso gerobakan disini,” ucap Pram pelan.
****
__ADS_1
Terimakasih.