
“Nasi campur?” ucap Bu Ida dan Bu Sari bersamaan. Tatapan kedua asisten rumah tangga itu menggambarkan ketidakpercayaan pada Kailla.
“Sudah-sudah! Ibu berdua berdiri di pinggir sana, membantuku dengan doa saja,” perintah Kailla, mengarahkan telunjuknya di samping kulkas dua pintu.
Sontak membuat kedua wanita setengah abad itu menahan tawa di bibirnya. Bu Ida malah sampai harus membalikkan badannya ke belakang, untuk menyembunyikan tawanya. Bukannya dia tidak tahu, bagaimana bakat Kailla di dapur. Yang hanya lulus membuat mie instan dan telur ceplok.
“Aku mau membuatkan suamiku Reynaldi Pratama tercinta sarapan pagi yang luar biasa,” ucap Kailla setengah kesal.
Tampak Kailla meletakkan ponsel di depannya, mencari tutorial membuat nasi campur. Setelah yakin, dia mengambil panci dan mengisi dengan air kran. Step awal adalah merebus telur terlebih dulu, sambil menunggu daging ayam mencair. Tangannya juga sudah mulai sibuk mengiris sayur buncis dan wortel untuk membuat sayuran teman nasi campur.
“Bu, minyak diletakkan dimana?” tanya Kailla saat akan mulai memanaskan teflon. Tapi kemudian dia mematikan kompornya kembali, dia ingat belum ada apa-apa yang bisa ditumis, sambil menepuk keningnya sendiri.
“Di dalam lemari Non,” jawab Bu Sari, tidak berani mendekat. Dia hanya mengarahkan telunjuk ke arah lemari yang dimaksud.
“Hmmm, kalau garam dan gulanya Bu?” tanya Kailla lagi.
“Di bawah kompor Non!” Sahut Bu Sari lagi.
Setelah mendapatkan semuanya, Kailla kembali berkonsentrasi penuh, tetap fokus pada kegiatan memasaknya. Sambil sesekali mengomeli Pram.
“Huh! Suami macam apa dia, di saat istri tercintanya sedang berjuang membuatkannya sarapan, dia malah menyusahkanku dengan mematikan alarm,” dengusnya kesal.
“Sabar Non, mungkin Pak Pram tidak sengaja,” ucap Bu Ida yang tidak sengaja mendengar omelan Kailla, berusaha menenangkan. Itu pun setelah melihat Kailla bukan hanya mengiris tapi mencincang buncis dan wortel dengan kasar.
“Aku sudah bersabar cukup lama untuknya Bu!” dengus Kailla menumpahkan kekesalannya setiap mengingat ponselnya yang tercerai berai di atas karpet.
“Iya Non,” Bu Ida menjawab singkat. Bu Ida kembali menahan tawa, selama ini di matanya, Pram lah sosok yang menahan sabar untuk istrinya. Tapi di pikiran Kailla malah sebaliknya.
“Ibu-Ibu tidak tahu bagaimana kelakuannya. Semakin hari semakin menjadi. Semakin tua, semakin menggila,” keluh Kailla. Memukul wortel dalam genggaman tangannya ke atas top table kitchen set. Seketika wortel itu patah menjadi dua bagian.
“Huh!” dengus Kailla, meniupkan udara dari mulutnya.
Semakin Bu Ida dan Bu Sari menimpali ucapannya, dia semakin bersemangat menumpahkan uneg-unegnya, bahkan sudah melebar kemana-mana.
“Sabar Non,” jawab Bu Sari. Ikut tertawa melihat kelakuan Kailla.
Tampak Kailla menyeka keringat dari dahinya. Emosi dan harus memasak dalam waktu singkat untuk pemula sepertinya benar-benar menguras tenaganya. Melihat waktu semakin berjalan, emosinya semakin bertambah. Lenyap sudah gambaran nasi campur nan lezat yang akan dihidangkannya di depan sang suami lengkap dengan pujian Pram setelahnya.
“Sabar bagaimana Bu! Laki-laki tua itu benar-benar menghancurkan semuanya.”
“Sa..sabar Non,” ucap Bu Ida ragu. Pram yang sedang dibicarakan Kailla saat ini menuju ke arah mereka sambil meletakkan telunjuk di bibir, memberi tanda kepada kedua asisten itu supaya tutup mulut.
“Sudah tua, tidak tahu diri! Tidak tahu malu! Ibu tidak tahu, dia melempar ponselku sampai berantakan. Huh!” dengus Kailla.
“Harusnya kan umur segitu, mengalah pada anak kecil. Nah ini, harus aku terus yang mengalah padanya. Tidak siang, tidak malam. Semakin malam, laki-laki tua itu semakin menjadi!” keluh Kailla.
“Kalau bukan memikirkan dia bapak dari bayiku, sudah ku cincang seperti ini,” lanjut Kailla. Tangannya sedang mencincang kasar wortel dan buncis di atas talenan dengan penuh kekesalan.
Kailla kembali menatap ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Belum ada satu pun yang selesai dikerjakannya. Hanya sebutir telur rebus yang sudah siap disantap. Kekesalannya semakin bertambah.
“Belum lagi kalau sudah mengomel. Huh!” dengus Kailla
“Kai, kerjamu hanya membuat kekacauan!”
__ADS_1
“Kai, kamu bukan anak kecil lagi!”
“Kai, kapan kamu akan dewasanya!” ucap Kailla menirukan gaya bicara Pram
“Yang benar Nyonya, kelewatan sekali suamimu itu?” tanya Pram tiba-tiba.
“Iya Bu. Coba saja kalau dia berani mendekat sekarang, kupastikan dia habis di tanganku,” omel Kailla. Saat ini dia sudah beralih memotong ayam menjadi potongan yang lebih kecil.
“Seperti ini Bu!” ucap Kailla memperagakan, sambil tertawa sendiri kali ini.
Tok!Tok!Tok!Tok! Bunyi pisau dapur yang diayunkan kencang berkali-kali pada talenan kayu di depannya.
Bu Ida dan Bu Sari yang berdiri di belakangnya, tertawa melihat kelakuan Kailla yang disaksikan langsung oleh Pram. Mereka sampai harus menggigit bibirnya supaya tawa tidak keluar dari mulutnya.
“Kalau Pram sudah habis di tanganmu, nanti malam siapa yang akan memelukmu, Nyonya?” tanya Pram lagi.
Kali ini Pram tidak hanya berbicara, tapi langsung memeluk pinggang Kailla dari belakang. Kedua tangannya sudah mengunci erat perut Kailla, sambil mengecup basah tengkuk istrinya yang polos membuat Kailla meremang seketika.
"Pagi-pagi, kamu sudah mengomeliku Sayang," ucap Pram mengecup pipi Kailla
“Hah!?” Mulut Kailla ternganga, tangannya berhenti seketika. Dia baru menyadari kehadiran Pram. Ragu-ragu dia berbalik, menatap suaminya yang sudah berpakaian lengkap. Hanya dasinya saja yang belum terpasang, masih terselip di saku kemejanya.
“Sa...yang..,” ucap Kailla ragu, saat tertangkap basah mengomeli Pram di belakang. Segera dia mencuci tangannya.
“Hmmmmm,” gumam Pram, memasang wajah serius. Kedua tangan sedang terlipat di depan dada
“Sa..yang, kapan kamu datang?” tanya Kailla, sambil tersenyum malu-malu.
“Sejak kamu mulai mencincang wortel dan buncis itu Sayang,” sahut Pram. Menatap tajam ke arah istrinya.
“Oh... ayo aku mau mencobanya,” potong Pram, memilih duduk sambil menunggu Kailla menyajikan nasi campurnya.
Tak lama Kailla datang dengan sepiring nasi putih, telur rebus yang sudah dibelah menjadi dua bagian lengkap dengan lelehan kecap manis di atasnya.
Dengan ragu-ragu, dia meletakkan piring itu di atas meja, tepat di hadapan Pram.
“Sayang, ini nasi campur telur rebus dengan kecap manis,” ucapnya ragu sambil menunduk.
Pram menatap makanan di hadapannya tanpa ekspresi, kemudian tatapannya beralih melihat areal dapur yang berantakan hanya demi sepiring nasi campur telur rebus seperti yang disajikan Kailla. Pram berusaha menahan tawa di bibirnya.
“Istrimu memang limited edition Pram. Hal -hal kecil seperti ini yang membuatmu tergila-gila padanya,” ucap Pram dalam hati.
Puas mengagumi sarapan paginya, Pram beralih menatap Kailla yang sedang berdiri di sampingnya. Kailla sedang menunduk menahan malu. Dia sudah cukup malu karena ketahuan mengomeli suaminya di belakang, di tambah harus menyajikan nasi campur yang gagal total. Terlihat dia meremas ujung celemek yang masih tergantung di lehernya.
“Kai, terimakasih untuk sarapannya,” ucap Pram menarik istrinya duduk di salah satu pahanya.
“Kamu memasaknya sendiri kan?” tanya Pram dengan senyum terkulum, tangan kirinya sedang melingkar di pinggang Kailla
“Iya..,” jawab Kailla, mengangguk dengan ragu-ragu.
__ADS_1
“Aku bisa melihatnya, kamu memerintahkan kedua asisten itu berdiri menontonmu,” lanjut Pram lagi, tersenyum. Tangan kanannya sudah mulai menyuapkan nasi dengan telur itu ke dalam mulutnya.
“Dimana kamu melihat resep nasi campur ini Kai?” tanya Pram, dia harus bersusah payah menahan tawanya.
“Jangan menggoda ku lagi,” dengus Kailla kesal, setelah lama diam dan menunduk.
Tawa Pram pecah sudah. Dia hampir tersedak melihat raut di wajah istrinya saat ini.
“Sudah Sayang. Aku mau makan. Tidak menggodamu lagi. Ambilkan minuman untukku,” pinta Pram membiarkan istrinya bangkit dari pangkuannya.
Setelah menyelesaikan makanannya, Pram langsung memanggil Kailla mendekatinya.
“Kemarilah, tugasmu belum selesai Nyonya.” Pram mengingatkan, dia masih duduk menunggu Kailla menyelesaikan tugas rutinnya setiap hari sejak mereka menikah.
Segera Kailla meraih dasi yang terselip di saku kemeja Pram, mengalungkan dan membuat simpulan di leher suaminya. Dalam sekejap, dasi pun sudah terpasang sempurna.
“Istriku semakin mahir sekarang,” ucap Pram berkomentar.
“Aku berangkat sekarang,” pamit Pram mengecup kening dan pipi Kailla. Terakhir mengusap perut rata istrinya, tempat buah hatinya tumbuh saat ini.
“Daddy berangkat Sayang. Nanti siang ajak mommy ke kantor. Kita makan siang bersama,” ucap Pram masih menatap ke arah perut rata Kailla.
“Hah..!” Kailla terkejut.
“Ajak Sam dan Bayu, kita makan siang bersama. Aku akan menghubungimu nanti,” lanjut Pram, bangkit dan mengecup pucuk kepala Kailla dan berlalu pergi.
****
Pram sedang memeriksa berkas di mejanya, saat Andi datang menemuinya. Lelaki tua itu, dengan tidak sopannya menerobos masuk, melewati Stella yang menghalangi dan memintanya menunggu.
“Kamu tidak tahu siapa saya!” gerutu Andi, langsung mendorong pintu ruangan Pram.
“Kamu lagi!” Pram berkata saat melihat Andi sudah masuk dan duduk tanpa permisi di depannya.
“Maaf Pak,” ucap Stella, mengekor di belakang Andi, setelah gagal menghalangi tamu tidak diundang dan tidak ada sopan santunnya.
“Tidak apa-apa Ste, kamu boleh keluar,” ucap Pram.
“Bagaimana? Saya bingung sebenarnya harus memanggilmu apa,” ucap Pram membuka pembicaraan. Sedikit menyindir laki-laki tidak tahu malu yang duduk di hadapannya.
“Hahaha.., kamu sepertinya lupa statusmu Pram. Kamu hanya seorang anak yang dipungut Riadi dari jalanan,” ejek Andi.
“Kalau bukan karena Riadi, sampai kapanpun kamu tidak akan duduk disana,” lanjut Andi.
“Aku menyesal pernah memanggilmu Om. Kalau bukan karena Mommy Anna, aku tidak akan pernah rela,” ucap Pram.
“Terima atau tidak. Kak Anna adalah istri sah Riadi, ibu angkatmu,” ucap Andi sambil tersenyum licik.
“Baiklah, apa yang kamu inginkan?” tanya Pram, menyingkirkan berkas yang menumpuk di atas mejanya supaya lebih leluasa berbicara dengan Andi.
“Aku mau apa yang seharusnya menjadi milik keluarga Wijaya kembali ke tanganku, Andy Wijaya. Aku satu-satunya, ahli waris keluarga Wijaya, setelah kakakku Anna Wijaya meninggal. Tapi bagaimana bisa ayahku malah menyerahkannya kepada kakakku yang akhirnya jatuh ke tangan Riadi Dirgantara.”
***
__ADS_1
To be Continue...
Love you all. Mohon bantuan like komen dan share ya. Love you all