
Kinayu melangkah gontai kembali ke kelas, ia masih ada jadwal hari ini dan setelah selesai di minta kembali ke ruangan Yudha, karena Yudha tak membiarkan ada celah untuk Satria menemui Kinayu.
"Posesif!" gumam Kinayu ketika kembali mengingat perkataan Yudha.
"Peraturan macam apa itu!" gumamnya saat menuju kelas.
Yudha memberi peraturan yang membahayakan bagi Kinayu, dirinya bisa di curigai semua penduduk kampus jika sering masuk ke ruangan dosen viral incaran semua mahasiswi lajang.
"Makan dan istirahat di ruanganku dan satu lagi, setiap selesai kelas kamu wajib kesini. Setelah itu silahkan pulang!"
"Absen tiap saat, sepertinya dia mulai candu denganku. Tapi sungguh ini merepotkan, bagaimana jika ada yang curiga. Dasar dosen gila!"
"Dosamu terlalu banyak karena mengumpat suami!"
deg
Langkah Kinayu terhenti, perlahan ia menoleh ke belakang mencari sosok pria yang hampir membuat jantungnya tak berdetak.
Seketika tubuhnya merinding saat tak ia temukan siapapun ada di sana. "Siapa sich? tapi kenapa suaranya mirip banget." Kinayu mengusap tengkuknya kemudian perlahan Kinayu berbalik dan melangkah biasa tapi setelahnya ia berlari secepat mungkin menuju kelas.
"Dasar penakut!"
Seperti peraturan yang terucap oleh Yudha, selesai kelas Kinayu bersiap untuk kembali keruangan beliau. Karena infonya Yudha pun masih ada kelas lagi yang mengharuskannya segera sampai di ruangan Yudha sebelum ia kembali mengajar.
"Kalian duluan aja ya, aku masih ada urusan." Kedua sahabatnya saling memandang, tak seperti biasanya Kinayu akan tetap tinggal.
"Emang kamu mau kemana?" tanya Arum dengan tatapan penuh selidik. Ada yang beda dengan sahabatnya, semakin hari semakin terlihat jelas menimbulkan rasa curiga.
"Aku.....aku mau ke perpustakaan sebentar. Ada buku yang mau aku pinjam," Kinayu tampak gugup melihat tatapan Arum dan Novi. Kemudian ia segera beranjak untuk menghindari kedua sahabatnya yang mulai mencium kebohongannya.
"Jika ada masalah kamu bisa cerita sama kita Kinayu, kita ini sahabat bukan hanya sekedar teman biasa. Sudah lama kita sama-sama, apa masih ada yang kamu ragukan pada kita berdua?" Novi akhirnya memberanikan diri setelah beberapa Minggu ini diam dan menahan keingintahuan.
Kinayu menatap kedua sahabatnya bergantian. Sorot mata keduanya membuat Kinayu menyerah dan ingin bercerita tapi ia tak tau apa keduanya akan percaya. Dan ia pun tak ingin di sebut wanita gila yang menghalu sesuatu di luar batas.
"Aku...." belum sempat Kinayu meneruskan ia mendengar ucapan Rara yang membuatnya menoleh kebelakang.
"Satria, mau jemput, aku kan? tadi papah udah telpon kamu ya!" Rara begitu semangat melihat Satria masuk ke kelasnya, tanpa ia perduli jika ada Kinayu di sana.
Satria masuk dengan menatap ke arah Kinayu, bahkan Rara tampak lemas saat langkah Satria ternyata menuju Kinayu bukan dirinya. Tapi sesaat kemudian, senyumnya kembali terbit saat langkah Satria melewati dan hanya menatap tanpa menyapa Kinayu yang juga melihatnya.
"Hhmm....ayo!"
Rara segera menggandeng lengan Satria dan sengaja memamerkannya pada Kinayu. Bahkan ia tak peduli dengan Satria yang merasa tidak nyaman karena Rara terlalu menempelkan tubuhnya.
__ADS_1
"Jangan kayak gini Ra, loe itu anak majikan gue, jadi tolong hargai gue yang menghormati loe!"
Rara tak menggubris, ia puas telah membuat Kinayu nampak cemburu, terlihat dari wajah Kinayu yang memerah menahan amarah.
"Kita duluan ya," ucap Rara pada Kinayu dan dua sahabatnya.
"Iya, duluan aja Ra, nanti kita depanan!" celetuk Arum yang kemudian lengannya di senggol oleh Novi.
Satria menatap Kinayu dengan tatapan penuh makna tapi Kinayu hanya diam. Dia sudah mengikhlaskan dan berusaha melupakan.
" Kalian beneran udah putus?" tanya Novi lagi.
Kinayu menganggukkan kepala, mungkin sudah saatnya jujur tapi tidak dengan siapa orang yang telah menjadi suaminya.
"Kok bisa? kapan? kayaknya Minggu lalu masih di antar pulang. Terus sempat janjian juga di taman. Kenapa Satria udah bawa gandengan baru?"
"Kamu tuh kalo nanya satu-satu! orang bingung mau jawab yang mana dulu!" Novi menggelengkan kepala melihat kelakuan Arum yang justru terkekeh sendiri.
"Maaf ya Kin, jawab mana dulu aja terserah kamu!"
Kinayu melirik jam tangannya, lima menit mungkin cukup untuk sekedar menjawab pertanyaan kedua sahabatnya.
"Aku sudah putus dengan Satria setelah seminggu aku kembali ke kampus. Itu semua bukan salah Satria, kalian jangan berpikir buruk padanya karena dia juga tak tau apa-apa. Dia pria baik yang harus aku ikhlaskan untuk siapapun yang bisa membuatnya bahagia." Kinayu menghela napas panjang setelah mencoba menjelaskan.
"Aku sudah menikah," lirih Kinayu kemudian menundukkan kepalanya.
Arumi dan Novi tampak terkejut, keduanya menggelengkan kepala dengan mulut menganga. Tak di sangka sahabatnya sudah menjadi istri orang.
"Kapan?"
"Sebelum aku masuk lagi ke kampus ..."
Arum dan Novi terhenyak, keduanya kembali saling menatap dan mencoba mengingat semuanya.
"Jangan bilang jika pernikahan kamu ini karena keadaan?" tanya Arum mulai paham akar masalah yang di alami oleh Kinayu. Karena mereka tau persis kesulitan ekonomi keluarga Kinayu yang terjadi selama ini.
Kedua sahabatnya memejamkan mata setelah melihat Kinayu menganggukkan kepala. Tak menyangka sahabatnya harus mengorbankan semuanya demi keluarga.
Ketiganya saling berpelukan dan menangis bersama, kata maaf pun terlontar dari Arum dan Novi karena tak dapat membantu lebih di tengah kesulitan yang Kinayu alami.
"Siapa suami kamu?"
" Pasti orang kaya ya?"
__ADS_1
"Duda?"
"Punya perut gendut?"
"Pasti udah tua ya Kinayu?"
"Brewok ya Kin?"
"Atau rentenir yang minta di tukar dengan anak gadis seperti yang di film-film?"
Kinayu menahan tawa melihat wajah ngeri kedua sahabatnya. "Suatu saat kalian akan tau."
Kinayu meraih tasnya kemudian segera melangkah keluar kelas.
"Eh kita belum selesai Kinayu!"
"Aku buru-buru ada perlu, duluan ya!" seru Kinayu, segera melangkah lebar menuju ruangan Yudha.
Kinayu berharap Yudha belum masuk kelas agar dia bisa cepat pulang dan tak harus menunggu lama di ruangan Yudha sendirian.
"Lama sekali!"
"Maaf...." Kinayu melangkah menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana. Ia mulai membiasakan diri dekat dengan Yudha, mungkin tak terlalu buruk jika ia menurut.
"Aku ada kelas setelah ini, jadi kamu tunggu di sini hingga aku selesai!"
Dengan cepat Kinayu menoleh, dia menghindari itu tapi justru Yudha menyuruhnya untuk menunggu.
"Tapi Pak, saya udah turuti bapak loh." Kinayu menatap Yudha dengan wajah melasnya. "Boleh ya pulang duluan, lagian mau ngapain nunggu. Bapak kan kalo pulang sore, mending saya tidur di rumah Pak."
"Kalo kamu mau tidur, kamu bisa tidur di sana!" Yudha menunjuk salah satu pintu yang ada di ruangannya membuat Kinayu mengikuti arah pandang Yudha. "Itu ruang pribadiku, kamu bisa istirahat di sana!"
"Tapi Pak_"
"Nggak ada penolakan Kinayu! aku akan mengajar dan kamu membuatku telat!" tegas Yudha.
Mau tak mau Kinayu harus mau, ia menganggukkan kepala dengan menghela nafas panjang.
"Pantas kalo pulang selalu sore, tidur dulu ya Pak?" gumam Kinayu.
"Aku bukan kamu yang banyak tidur Kinayu!" tegasnya sebelum membuka pintu. Kemudian menutupnya dengan kasar.
"Kok bisa denger sich..."
__ADS_1