
Ada saja yang melihat Kinayu turun dari mobil Yudha, apa lagi mereka melihat jelas Yudha mencium bibir Kinayu di dalam mobil. Walaupun tak banyak yang tau tapi cukup mengganggu.
Kinayu sadar hari ini akan tiba, hari dimana hubungannya dengan Yudha terbongkar. Yang menyesakkan adalah pikiran buruk memicu perkataan yang tajam. Dia memang istri kedua tapi ia bukan penggoda apa lagi pelakor seperti yang di sebutkan mahasiswi cantik bermulut julid.
"Pinter sich, tapi percuma kalo otaknya di buat berpikir picik."
"Anjir tampang kalem tapi otak sableng! dasar pelakor ulung!"
"Munafik! kalo di kelas naif giliran di belakang masang tarif!"
Kinayu menarik nafas dalam, rasanya ia mual mendengar semua celotehan yang menjelekkan. Ingin membela diri pun ia tak mampu, hanya akan membuat malu dan di kira halu.
"Sabar ya Kinayu, kamu kuat. Nggak usah di dengerin ya!" Novi dan Arum memberikan semangat. Mereka terus bersama Kinayu sampai selesai kelas.
Mengantar Kinayu sampai parkiran hingga suara sumbang itu menghilang. Kinayu menunggu taksi online yang telah ia pesan. Duduk di halte dengan sabar, hal yang jarang ia lakukan karena selalu ada motor kesayangan yang menemani ia kemanapun pergi.
Tin
Mobil melintas dengan sengaja membuka kaca, memperlihatkan kemesraan yang kini sudah tak menjadi masalah baginya. Hanya menghela nafas panjang dan tak memperdulikan.
Sedangkan di dalam mobil itu Satria serasa gerah dengan tingkah Rara yang sengaja memanas-manasi Kinayu. Keduanya belum tau berita yang tadi sempat membuat dada Kinayu sesak.
"Ra jangan gitu, aku tidak enak kalo sampe nanti di lihat papah kamu!"
"Papah tidak mempermasalahkan kok, justru mendukung aku sama kamu. Lagian kamu sama Kinayu kan sudah putus jadi apa salahnya kita bersama?" Rara terus bergelayut manja di lengan Satria tanpa perduli Satria yang tidak suka.
Satria mendengus kesal, jika tidak karena Kinayu dia tak mau berkerja dengan Papahnya Rara yang mampu menggajinya dengan uang yang tak sedikit.
.
.
.
"Eh kakak ipar sudah pulang, kok cepat? nggak enak badan?" tanya Gea yang sedang duduk di teras depan.
__ADS_1
Kinayu tersenyum melihat Gea yang mudah mengakrabkan diri. Dia duduk di samping Gea dengan menatap sepupu Yudha dengan tatapan lembut.
"Cuma ada satu kelas, jadi aku sudah pulang," Kinayu melihat perut Gea yang tampak bergerak seperti ada yang mendorong dari dalam perut. "Gea ini kok...."
"Iya mbak, anak aku sepertinya minta kenalan. Coba aja pegang perut aku mbak!"
Kinayu tampak antusias, ia mengusap perut Gea hingga menimbulkan gerakan dari dalam.
"Gea anak kamu nyapa aku loh, ini dia nendang ya Ge?" Kinayu terkekeh melihat perut Gea yang bergelombang.
"Sepertinya anak aku suka nich sama mbak, tuh gerak terus. Apa dia tau kalo mbak juga hamil, jadi ada temannya." Gea menghela nafas berat kemudian melihat perutnya yang buncit. " Baru ini ada yang mengusap, jadi anak aku suka. Dia aktif setiap ada sentuhan..."
"Apa suami kamu tidak pernah menyentuh nya?" tanyanya hati-hati.
"Hanya mengusap punggung saat aku merasa kesakitan," Gea tersenyum pada Kinayu. "Mbak beruntung mempunyai suami seperti mas Yudha, dia sangat perhatian tidak seperti suamiku. Tapi aku mencintainya, walaupun aku tau dia tidak."
Kinayu menggenggam tangan Gea, tersenyum menatapnya. "Sabar ya, akan ada saatnya dia membalas cinta kamu. Yang terpenting ia tidak memberikan kekerasan fisik sama kamu. Tapi mengapa kamu mau di nikahi sirih?"
Gea mendengus mengingat pria yang mulai ada di hatinya, "masih untung aku di nikahi mbak. Aku tidak mau banyak menuntut mbak, dia mau menemuiku saja aku sudah bersyukur. Benar kata mas Yudha, aku ini bodoh." Gea tertawa kecil, tapi dapat terlihat jelas oleh Kinayu jika tawa yang terlihat hanyalah dusta. Hatinya penuh luka sama dengan dirinya tapi tak ia tunjukan pada orang lain.
Kinayu tersenyum getir, semua yang tidak tau apa-apa selalu menganggap dirinya adalah pelakor. Sedih sudah pasti, sakit hati sudah menjadi makanan sehari-hari, dendam tentu saja tidak, dia tidak ingin mengotori hatinya.
"Aku hanya gadis penebus hutang, Mas Yudha membeliku dari tangan bapakku."
Gea tercengang mendengar penuturan Kinayu, ia tak menyangka di jaman secanggih ini masih ada yang menukar anak dengan uang. Dan lebih parahnya lagi Yudha membeli anak gadis orang seperti membeli sayur di pasar.
"Dan kamu bersedia?
"Aku terpaksa."
"Miris."
Gea menggelengkan kepala, memandang Kinayu dengan tak percaya. Benar-benar kasihan tapi setelah teringat Yudha yang begitu mencintainya dia sedikit lega.
"Tapi mas Yudha sangat mencintaimu!"
__ADS_1
"Beda dulu beda sekarang."
"I see....." Gea menganggukkan kepala, "sabar ya mbak! tapi aku mendukungmu. Kamu harus kuat bertahan di rumah ini jangan sampai kalah sama lampir itu. Apa lagi kamu saat ini sedang hamil. Aku harap kamu berhati-hati dengannya. Jangan sampai dia mencelakakan bayi kamu!"
"Hhmm..." Kinayu menganggukkan kepala.
Sore ini Kinayu tampak kedatangan tamu, kedua orang tuanya datang berkunjung, entah siapa yang memberitahukan alamat tempat ia tinggal tapi cukup membuat Kinayu tak percaya.
"Nak...."
"Bapak, Ibu....Bagus...Kinayu merindukan kalian." Mereka berempat berpelukan mengungkapkan kerinduan yang selama ini tertahan.
"Kalian sehat?"
"Alhamdulillah... Kabar kamu gimana nak?" tanya Ibu setelah semua duduk di ruang tamu.
"Alhamdulillah sehat Bu, bagaimana Bapak dan Ibu bisa tau rumah ini?" seingat Kinayu, Kinayu tidak pernah memberitahukan Pada Bapak Ibu.
Bapak tampak menghela nafas panjang, kemudian menatap putrinya dengan serius. Sedangkan Kinayu menatap penuh tanda tanya. Pasti ada alasan sampai kedua orangtuanya datang, apa lagi terlihat jelas wajah sendu mereka menatap Kinayu.
"Bapak tau dari suamimu dan bapak kesini ingin meminta maaf pada mu nak." Bapak beranjak dari duduknya dan bersimpuh di hadapan Kinayu.
"Bapak..." Kinayu segera turun dari sofa, menatap wajah bapak yang penuh beban. "Maafkan bapak telah mengorbankanmu nak, karena bapak kamu menderita. Bapak sudah tau semuanya, kamu disini menjadi istri kedua dan tersiksa." Bapak memeluk Kinayu dan menangis tersedu, begitupun dengan Ibu dan Bagus yang ikut merasa bersalah.
"Pak, sudah.....Kinayu sudah ikhlas Pak, jangan bersedih Bu Pak. Kinayu memutuskan untuk menerima demi kalian. Demi kebahagiaan Ibu, Bapak dan Bagus. Jadi jangan sedih dan tidak ada yang perlu di sesali. Ini sudah menjadi jalan hidup Kinayu."
"Selama ini pasti kamu sangat menderita nak, semua pasti tidak mudah. Apa lagi kamu harus satu rumah dengan istri pertamamu..Ya Allah nak bapak minta maaf..."
Kinayu menangis melihat Bapak benar-benar menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri hingga tak kuasa menahan Isak tangis. Sebagai anak melihat Orang tuanya seperti ini tentu saja sangat sedih, tapi Kinayu heran siapa yang menceritakan itu semua. Tidak mungkin Yudha.
Setelah tenang, Kinayu mencoba bertanya. Dia tidak ingin menduga-duga dan terjadi salah paham. Kinayu menarik nafas dalam lalu menggenggam tangan bapak dan ibu.
"Siapa yang menceritakan semua ini pada Bapak dan ibu?" tanyanya dengan lembut.
"Satria..."
__ADS_1