
"Anak Bunda.....Anak Bunda .....Anak Bunda ......anak Bunda...."
"MasyaAllah pintarnya anak Bunda mam nya..." Kinayu begitu semangat menyuapi makan Tama yang tampak lahap. Bahkan sejak tadi menyanyi ala Bunda yang sedang viral di aplikasi tok tok.
Siang ini ia sendiri yang merawat Tama, sudah tak ada kegiatan apapun di luar rumah. Fokus Kinayu hanya pada kehamilannya dan Tama yang semakin tumbuh besar. Kinayu yang memiliki hati lembut, begitu sayang pada Tama. Bahkan ia tak pernah menganggap jika Tama anak angkat.
"Ayo a' lagi sayang....Anak Bunda....anak Bunda.... wah pintar ya, suapan terakhir habis. Sehat-sehat ya sayang, sebentar lagi dedek lahir dan kita main bersama."
Tama tampak senang, dia mulai merangkak meraih mainan. Belajar duduk dan menggigit-gigit mainan. Kinayu pun tak menyangka di umurnya yang masih muda ia sudah memiliki anak dua. Bahkan belum selesai kuliah sudah di panggil bunda.
"Nah....setelah ini, kita bobo siang ya nak. Biar tidak lelah, nanti jika ayah pulang kita bisa main lagi."
Kinayu membersihkan wajah Tama yang kotor dengan makanannya, menggantikan pakaian dan membawa Tama menuju kamar.
"Ayo kita ke kamar sayang, gendong bunda yuk!" Kinayu segara meraih tubuh Tama, karena perut yang sudah besar ia memposisikan Tama di samping bagian pinggulnya. Menaiki tangga perlahan hingga sampai di kamar Tama dan lanjut menina bobo kan.
Setelah Tama tidur dengan lelap, Kinayu segera turun ke bawah untuk makan siang. Menu makanan sehat telah tersedia di atas meja. Bibi telah menyiapkan dan dengan lahap Kinayu makan.
"Ssstt........" Kinayu mencengkram gelas minum saat ingin meraihnya. Perutnya tiba-tiba mendadak sakit bahkan rasanya sangat-sangat sakit.
"Perutku sakit banget ya Allah...." Kinayu memejamkan mata dengan menahan rasa yang tak karuan.
Bibi tampak heran saat ia masuk rumah setelah mengangkat pakaian tampak Kinayu dengan wajah pucat kepayahan. Beliau segera meletakkan semua pakaian yang ada di tangannya di atas mesin cuci dan segera melangkah menghampiri.
"Non Kinayu kenapa? kok seperti kesakitan begitu?" Bibi memegang tangan Kinayu dan segera di cengkeram oleh wanita itu.
"Sakit banget perut Kina Bi, tolongin Kinayu Bi..."
"Walah non Kinayu sepertinya mau melahirkan, Bibi telpon tuan dulu ya!" Bibi segera berlari mengambil ponselnya yang tergeletak di meja dapur dan menghubungi nomor Yudha. Hingga panggilan ke tiga Yudha tak kunjung menerima sampai Bibi frustasi sendiri harus bagaimana.
"Tidak di angkat non. Bibi minta tolong tetangga dulu ya Non, sabar tunggu dulu ya......"
Kinayu menganggukkan kepala dengan meringis menikmati sakitnya yang menjalar ke bagian pinggang belakang. Bibi berlari keluar untuk meminta bantuan, tetapi saat ia ingin membuka pintu gerbang kebetulan melihat mobil yang ia kenal pun ingin masuk ke dalam.
__ADS_1
"Tuan! Alhamdulillah....."
"Ada apa Bi?" tanyanya heran.
"Tolong non Kinayu mau melahirkan tuan, saya menghubungi tuan Yudha tetapi tak kunjung di angkat telponnya. Mungkin sedang sibuk, ayo tuan tolong non Kinayu!" Bibi segera menarik tangan Gilang saat ia sudah turun dari mobil dan sengaja menepikan mobilnya tanpa membawa masuk karena harus segera membawa Kinayu ke rumah sakit.
"Kinayu!" Gilang segera berlari melihat Kinayu yang begitu pucat dengan keringat membasahi wajahnya. Seketika bayangan akan Gea terlintas jelas, ia ingat betul bagaimana Gea menahan sakit saat masih di apartemen.
"Mas tolong Kina ya!" lirihnya yang sudah begitu kepayahan. Ternyata begini rasanya ingin menjadi ibu, rasanya sungguh luar biasa hingga ingin berteriak tetapi malu pada tetangga.
"Ayo Kinayu, kita ke rumah sakit sekarang!" Gilang segara meraih tubuh Kinayu membantunya untuk melangkah menuju mobil.
Bibi tampak berlari sebisa mungkin membawakan tas yang sudah Kinayu siapkan jika sewaktu-waktu hari itu datang, dan terbukti ia tak perlu repot menyiapkan dan sudah siap di bawa.
"Hati-hati ya Tuan!"
"Iya Bi, tolong jaga Tama ya Bi! Dan ini ada mainan serta susu Tama." Gilang memberikan paper bag besar yang berisi makanan, susu dan mainan Tama, ada juga beberapa baju untuknya.
Gilang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tetapi tetap hati-hati, semua bagai Dejavu baginya. Bahkan saat ini ia ikut berkeringat karena terlalu panik melihat Kinayu yang begitu menahan sakit. Wanita itu tak berteriak, hanya mendesis tetapi cengkeramannya begitu kuat hingga kukunya menancap di lengan Gilang yang menjadi tempat pelampiasan kesakitan
"Gila, Yudha yang buat ulah gue yang jadi sasaran! Tapi asli, gue panik....Gea loe nggak lagi ngingetin gue akan semuanya kan!"
Gilang segera minta pertolongan pada perawat di sana untuk segera membawa Kinayu ke ruang bersalin. Dia ikut berjalan cepat mendorong brangkar menuju ruangan hingga di persilahkan masuk oleh perawat yang jaga jika ingin menemani di dalam.
"Saya bukan suaminya suster, saya ini kerabatnya. Nggak mungkin saya lihat goa punya sahabat saya. Yang ada wow gitu suster....." ucapnya dengan meringis menahan perih.
"Baik Pak, sebaiknya segara hubungi suaminya agar pasien ada yang menemani." Ssterpun tampak canggung mendengar ucapan Gilang.
"Baik Sus."
Gilang segera menghubungi Yudha, panggilan pertama tidak ada jawaban. Panggilan kedua dan ketiga pun sama belum mendapat jawaban hingga Gilang mengumpat Yudha dan merutuki kebodohannya.
"Monyet Yudha nich! udah tau bini mau lahiran masih aja sibuk!"
__ADS_1
Gilang tak menyerah, ia tak mungkin masuk menemani Kinayu. Dan hanya bisa berusaha terus untuk menghubungi hingga Yudha mengangkat panggilan darinya.
"Anjiiiiiir loe abis ngapain sich? Ngegigoolo loe!"
"Bangk3 mulut loe! gue baru kelar ngajar, ada apaan? nggak usah sok penting dah loe!"
"Bini loe mau beranak monyeeeeet loe mau gue yang nemenin dia sampe brojol?"
"Kinayu mau melahirkan? loe dimana sekarang?"
"Gue di rumah sakit, cepat loe kesini! anak loe udah buka pintu vip siap launching!"
"Oke...gue kesana sekarang!"
Tanpa pikir panjang, Yudha segera meraih tas dan kunci mobil. Ia bergegas meninggalkan kampus menuju rumah sakit. Yudha tak membayangkan wajah istrinya saat ini. Semalam wanitanya masih merasakan kenikmatan yang luar biasa tapi saat ini pasti sedang menangis karena berjuang menahan sakit melahirkan sang buah hati.
"Sabar ya sayang, aku datang."
"Anak ayah jangan nakal ya, jangan buat bunda kesakitan ..."
Yudha berlari masuk menuju ruangan bersalin, dari jauh tampak Gilang yang sedang bersedekap dada menunggu di luar ruangan.
"Bagaimana istri gue udah lahiran belum?" tanya Yudha tiba-tiba membuat Gilang tak langsung menjawab. Tapi tampaknya Yudha pun tak sabar dan segera masuk ruangan.
"Yudha...." seru Gilang.
Yudha keluar kembali dengan wajah memerah, ia menatap Gilang dengan tatapan sulit di artikan.
"Kaget kan loe? main masuk aja sich loe? abis liat apa loe? atau abis di timpuk sama laki orang?"
"Berisik bini gue mana?"
"Ada di ruangan sebelah sana!" Gilang menunjuk ke arah ruangan yang berada di sebelah ruangan yang ia masuki tadi.
__ADS_1
"Terus loe ngapain nunggu di sini njiing?" Yudha berlari menuju ruangan yang di tunjuk Gilang dan segera masuk ke dalam.
"Lah emang salah kalo gue nunggu disini? jaraknya juga cuma 1 meter, Bapak dosen yang satu itu otaknya kadang-kadang minta di sentil!"