
Setelah makan malam Kinayu dan Yudha duduk di sofa ruang keluarga, keduanya memutuskan untuk melanjutkan kegiatan di sana. Kinayu belajar kemudian mengerjakan tugas sedangkan Yudha mengerjakan pekerjaannya dengan sama-sama menghadap laptop.
Keduanya menempel walaupun hanya sekedar kaki atau tangannya yang jelas Yudha tak ingin Kinayu jauh sedikitpun. Sesekali pria itu mengecup gemas pundak Kinayu tanpa mengalihkan pandangannya ke layar laptop.
"Mas..."
Yudha dan Kinayu menoleh ke arah Gea yang sudah rapi dengan tas jinjing berisi beberapa helai pakaian. Yudha beranjak dengan mengerutkan kening, menatap penuh tanda tanya.
"Mau kemana?"
"Pulang."
"Pulang?" tanya Yudha memastikan.
"Ya, suamiku sudah pulang. Dan aku juga harus segera pulang." Dengan tatapan sendu dan raut wajah penuh beban Gea melangkah menuju Kinayu dan memeluknya. Gea membisikkan sesuatu yang membuat Kinayu segera menganggukkan kepala. Kemudian tersenyum terpaksa.
"Mau aku antar?" tanya Yudha yang tak tega mengingat kondisi Gea dengan perut yang sudah membesar, berjalan saja Gea tampak kepayahan. Dan jika mengingat suaminya yang belum jelas membuat Yudha sedikit cemas.
"Aku sudah pesan taksi."
"Hati-hati! dan jika terjadi sesuatu cepat hubungin aku!" ucapnya dengan tatapan iba. Yudha mengusak rambut Gea. kemudian meraih tas yang Gea bawa untuk ikut mengantarnya ke depan.
"Gea?"
Seruan dari orang yang baru datang membuat ketiganya mengalihkan perhatian. Tampak Silvia datang dengan menggeret koper. Masuk dengan tatapan nyalang pada Gea yang selama ini ia kira berada di luar negeri tetapi ternyata ada di rumahnya tengah hamil.
"Kamu hamil?...wow....ini lah hasilnya belajar jauh-jauh hanya untuk membawa aib? ckckck sungguh di luar dugaan, kamu luar biasa! siapa bapaknya?"
"Bukan urusan kamu, mau apa aku, mau seperti apa diri ku tidak ada kaitannya dengan kamu!" celetuk Gea dan segera melangkahkan kakinya keluar dengan menyenggol lengan Silvi.
"Kamu mau kemana mas?"
"Mengantar Gea, kenapa kamu mau ikut?" tanya Yudha dengan menghentikan langkahnya. Menatap datar Silvi yang melihatnya dengan wajah cemberut.
Yudha menggenggam tangan Kinayu untuk mengikuti langkahnya, tanpa memperdulikan Silvi yang terus mengamati keduanya dengan kilatan amarah. Hingga kembali masih dengan jemari yang belum kunjung terlepas.
Silvi tersenyum getir melihat pemandangan tak mengenakan di depan mata, dia menatap keduanya dengan tatapan muak. Kemudian melangkah maju melepaskan jemari Kinayu dan menggantikan dengan jemarinya.
__ADS_1
"Sudah cukup satu Minggu aku membiarkan kalian dekat, malam ini dan seterusnya mas Yudha tidur bersamaku untuk mengganti malam-malam yang telah kamu habiskan dengan suamiku!"
Kinayu menatap wajah Yudha dengan senyum yang tersemat di wajahnya, ia cukup sadar diri jika bukan hanya dia istri Yudha tapi ada Silvi istri pertama yang harus mendapatkan jatah yang sama. Dan waktu berduanya sudah cukup setelah Silvi kembali dan meminta haknya.
Kinayu menganggukkan kepala, tatapan Yudha penuh kekesalan yang berbalut kesedihan. Ia tak ingin membiarkan Kinayu tidur sendiri tetapi dia tau akan kewajiban dan keadilan yang harus ia kasih.
"Ayo mas!" ucap Silvi lembut dan segera menarik tangan Yudha untuk segera masuk kamar.
Kinayu menatap nanar pria berpunggung tegap yang selama seminggu selalu ada di ranjangnya. Menemani dengan melewati malam panas yang sangat berarti hingga percikan cinta semakin bersemi.
"Jangan cemburu Kinayu, ikhlas, kamu hanya yang kedua."
Kinayu menghela nafas panjang, kemudian segera melangkah menuju kamar. Malam yang sepi dan dingin begitu menusuk sendi. Dia pun harus bersiap seandainya akan terdengar suara desahaaan dari kamar sebelah. Apa lagi Silvi yang baru pulang.
Cukup sulit memejamkan mata, tubuhnya bolak balik tak kunjung terlelap hingga ia memutuskan untuk duduk di sofa, menyandarkan tubuhnya berharap menemukan mimpi di sana.
Pagi menjelang dengan sinar matahari menerobos sela korden, sedikit terganggu tapi setelahnya membuat ia tersenyum. Samar-samar matanya melihat pria tampan yang sudah rapi dengan kemeja maroon berdiri di hadapannya. Menyambut dengan senyuman yang membuatnya terpanah.
"Kamu yang memindahkanku ke ranjang?" tanyanya dengan merenggangkan otot tubuh dan duduk di depan suaminya yang kini telah duduk di pinggir ranjang.
"Hhmm....tidur jam berapa?" Yudha menatap dalam wajah imut khas bangun tidur dengan bibir mengerucut seperti mengingat sesuatu.
grep
Langkahnya terhenti merasakan pelukan yang semalam sangat ia rindukan. Matanya terpejam berusaha untuk kuat menghadapi walaupun terasa sakit. Tapi mau gimana jika ia hanya madu dan orang baru.
"Aku merindukanmu, maaf ...semalam aku membuatmu tidak bisa tidur."
"Bee, jangan begini nanti jika mbak Silvi masuk aku akan kena marah. Bersikaplah sewajarnya ketika ada dia agar aku aman."
Yudha seakan tak perduli, ia terus menghirup aroma tubuh Kinayu di sela leher jenjangnya dan mengeratkan pelukan.
"Apa baby rewel sayang?"
"Tidak, dia mengerti jika ayahnya sedang tidak bisa menemani." Kinayu berusaha untuk tersenyum dan menyentuh pipi Yudha. "Aku mandi dulu ya, tunggu aku di meja makan."
Kinayu segera melepas pelukan Yudha dan melesat ke dalam kamar mandi. Dengan cepat ia menutup pintu tetapi segera di tahan oleh Yudha.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku ikut!"
Kinayu tercengang melihat Yudha yang sudah rapi tapi ingin mandi lagi, apa maksudnya. Sedangkan hati Kinayu sedang tidak baik-baik saja dan sangat takut jika Silvi datang dan membuat paginya berantakan.
"Kamu sudah mandi Bee!"
"Tapi aku merindukanmu sayang!"
"Aku tidak kemana-mana!" jawab Kinayu polos, ntah otaknya sedang kemana atau masih tertinggal di alam mimpi yang jelas Kinayu tak mengerti maksud dari Yudha.
"Aku menginginkanmu, satu ronde saja tidak lebih."
"Semalam?"
"Tak ada deesahan di kamar sebelah!" Yudha segera menerobos masuk kamar mandi dan menguncinya. Semalam saja tak berjumpa, ia merasa ada yang kurang. Tak apa hanya satu ronde saja yang terpenting keinginannya akan Kinayu tersalurkan.
"Kamu sudah mandi loh Bee!"
"Tak apa aku bisa mandi lagi sama kamu!"
Yudha segera menyambar bibir Kinayu dan mengeksekusinya. Bumil ini semakin nampak berisi dan menambah rasa gemas di hati Yudha.
"Sudah Bee..."
"Ternyata tidak cukup satu kali sayang, nambah lagi boleh? janji akan lembut dan tidak mengganggu anak kita."
"Bee....."
Entah keduanya ingat akan waktu atau tidak, bermain-main hingga puas. Dan keluar dengan rambut basah, memicu masalah yang membuat Silvi naik darah dan menghampiri dengan mendorong tubuh Kinayu dengan keras. Beruntung Yudha segera keluar dari kamar mandi dan meraih tubuh Kinayu. Jika tidak entah akan seperti apa jadinya.
"Pakai pelet apa kamu hingga mas Yudha tak mau lagi menyentuhku!" sentak Silvi.
"Hentikan Silvi! kamu tidak berhak menghakimi Kinayu karena disini aku yang memilihnya!"
"Kamu nggak adil mas!" sentak Silvi.
__ADS_1
"Ajarkan aku caranya untuk adil!"