
"Berarti nak Yudha sebentar lagi memiliki dua anak?"
Yudha tertegun mendapat pertanyaan demikian, ia tak mengerti apa yang di maksud oleh ibu mertuanya hingga ia melirik Gea yang sedang makan dengan lahap.
"Dia sepupuku Bu, bukan istriku."
Gea yang merasa di bicarakan akhirnya angkat kepala, ia menatap kedua orang tua Kinayu dengan mengulum senyum.
"Bu, Gea tidak akan mau jika memiliki suami seperti mas Yudha. Ibu tau, mas Yudha itu kalo sudah cinta bucin parah Bu. Lihat saja tangan Kinayu tidak di lepas sejak tadi, padahal hanya makan. Belum di tinggal pulang beneran, ajak saja Kinayu pulang Bu, auto nangis dia!"
"Gea!"
Gea cuek dan kembali menghabiskan makannya. Dalam hati Gea salut dengan Kinayu, mampu meruntuhkan tembok di hati Yudha hingga pria itu luluh dan rela bersimpuh demi dirinya. Hanya saja dia menyayangkan dengan sikap Yudha yang masih saja mempertahankan hubungannya dengan Silvi yang jelas-jelas tak bisa di harapkan.
"Istri pertama mas Yudha model terkenal Bu, cantik dan Kinayu mah apa Bu. Ibu pasti pernah lihat di tv, model terkenal yang sedang naik daun namanya Silvia Agatha."
Yudha mendekati Kinayu dengan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Kinayu merona.
"Silvia Agatha yang model iklan sampo itu? yang wajahnya ada dimana-mana?" tanya ibu lagi.
Kinayu menganggukkan kepala, mengiyakan sedangkan Gea berdecak kesal.
"Dia sangat cantik, berbakat, dan memiliki segalanya tidak seperti anak ibu yang hanya anak rumahan. Badannya pun tidak seindah istri pertama nak Yudha."
"Tapi Kinayu wanita yang saya cinta Bu," tegas Yudha.
Kinayu hanya menundukkan kepala, belum usai pujian yang Yudha bisikkan di telinganya. Kini ia begitu terbuka menyatakan perasaannya di depan Ibu dan semua yang ada disana.
Setelah makan malam Ibu, Bapak dan Bagus tampak bersiap untuk pulang. Mereka pamit dengan Yudha memberikan kunci mobil pada Bapak agar pulang membawa mobilnya. Sejak merintis usahanya kembali, bapak lebih fokus mengumpulkan uang dari pada membelikan barang. Bapak banyak belajar dari pengalaman. Dan tak ingin terulang lagi, fokusnya saat ini menabung untuk keluarganya. Setiap hari bapak menggunakan motornya yang lama untuk pergi kemanapun.
"Tidak usah nak Yudha, bapak bisa naik taksi pulangnya."
"Tidak apa Pak, anggap ini pemberian dari menantu Bapak. Dan ucapan terimakasih dariku pada Bapak dan Ibu karena telah membesarkan putri secantik Kinayu dan mengikhlaskan untuk menjadi istriku Pak." Yudha begitu tulus memberikan satu mobilnya untuk bapak.
"Baiklah, bapak terima ya nak. Tapi seandainya mau di ambil kerumah pun tidak apa, bapak tidak akan melarang."
"Tidak Pak, itu untuk bapak."
__ADS_1
"Terima kasih nak Yudha, kami pamit pulang ya. Assalamualaikum..."
"Wa'allaikumsalam..."
"Bagus jaga Ibu dan Bapak ya!" seru Kinayu sebelum adiknya masuk ke dalam mobil.
"Siap Kak!"
.
.
.
Pagi ini Kinayu kekeh menolak berangkat bersama Yudha, ia lebih memilih naik taksi dari pada harus bersama. Padahal Kinayu sejak pagi lemas setelah mual muntah hingga tak nafsu untuk sarapan.
"Kenapa sich? aku turunin di tempat biasa dan kamu tidak perlu khawatir sayang!"
"Aku nggak mau Bee, aku naik taksi saja. Kalo perlu naik motor juga tidak apa, aku akan berhati-hati, sungguh!" Kinayu tak ingin ada kejadian kemarin terulang lagi. Dia pun takut jika ada yang sengaja menunggu momen di mana Yudha menurunkannya di tempat biasa.
"Bee..." Kinayu merengut dan duduk kembali di kursi teras.
Yudha tak rela membiarkan Kinayu berangkat sendiri. Tapi ia pun tak tega melihat Kinayu merengek tak ingin berangkat dengannya. Entah apa yang menjadi alasan dari penolakannya tapi melihat dari cara Kinayu menolak ia sangat yakin jika ada yang tidak beres dan di tutupi oleh istrinya.
"Ada apa sayang? tidak biasanya kamu sekeras ini?" Yudha melipat kakinya merendah dan menatap sang istri yang begitu gelisah.
Kinayu menggelengkan kepala, ia mengalihkan pandangannya dan tak mau menatap Yudha.
Yudha menarik nafas dalam, kemudian mengikis jarak agar semakin dekat. Menatap lekat membuat Kinayu salah tingkah.
"Aku akan membebaskanmu hari ini tapi jika ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, siap-siap mendapatkan hukuman sayang!" bisik Yudha.
Yudha segera beranjak dari sana dan berlalu mengendari mobilnya. Kinayu bernafas lega melihat mobil suaminya sudah tak terlihat. Dia segera memesan taksi online untuk mengantarkannya ke kampus.
"Kenapa kakak ipar?"
Kinayu menoleh ke arah Gea yang kini duduk di sampingnya. Wanita itu menghela nafas panjang dan menceritakan semuanya.
__ADS_1
"Sulit menjadi istri dosen, apa lagi menjadi yang kedua. Pandangan buruk dari orang lain selalu datang padaku. Terlebih mereka pasangan terkenal."
"Aku mengerti, tapi jangan menjadi bebanmu, kamu tau mas Yudha tak akan diam saja. Tanpa kamu bicara ia akan tau dan kamu tidak perlu khawatir, mas Yudha pasti berdiri di garda terdepan untuk membelamu!"
Sampai di kampus tak ada yang berbeda dari kemarin, tampak beberapa orang yang ia hafal telah menghinanya menatap dengan tajam. Kinayu segera masuk ke dalam kelas tanpa memperdulikan dan di sambut oleh kedua sahabatnya.
"Tidak bareng doi? kok tumben tidak meminta aku untuk menunggu di tempat biasa?" tanya Novi yang merasa heran dan datangnya Kinayu lebih siang dari biasanya.
"Kamu senang sekali aku di julidin oleh team huru hara!" celetuk Kinayu.
"Tidak perlu di pikirkan, jika bosan pasti berhenti sendiri. Eh doi masuk tuh!" Arum menunjuk ke arah pintu dan Kinayu segera menoleh, melihat Yudha datang dengan membawa beberapa buku dan membuka pertemuan.
Pelajaran berjalan lancar, sesekali Yudha menatap Kinayu tak nyaman. Ingin bertanya tapi Kinayu menyembunyikan wajahnya, hingga Yudha yang penasaran segera mendekat.
"Kamu kenapa?" lirihnya.
"Tidak ada apa-apa Pak," jawabnya tak kalah lirih.
"Sepertinya tidak nyaman, jika ingin ke toilet keluarlah! jangan di tahan!" Yudha kembali melangkah mengecek mahasiswanya yang lain.
Kinayu sejak tadi merasakan perutnya bergejolak tapi sebisa mungkin ia tahan sampai kelas Yudha selesai. Namun semakin lama ia tak tahan, Kinayu menutupi mulutnya saat rasa itu semakin menjadi.
Melihat Kinayu yang tiba-tiba mual ,semua yang ada di sana nampak terkejut begitupun dengan Yudha, raut wajah pria itu nampak cemas. Apa lagi melihat Kinayu yang berlari tergesa keluar ruangan.
"Bunting tuh gue rasa."
"Apa iya gosip yang beredar itu benar?"
"Bocor kali sarungnya!"
"Sssttt jangan berisik, yang laki ada disini!"
Yudha mengepalkan tangannya, dia membalikkan tubuh menatap semua mahasiswanya dengan tatapan bercampur amarah.
"Sudah selesai ghibahnya?" tanyanya datar. "Jika masih ingin membicarakan orang lain silahkan keluar dari kelas saya?" tegas Yudha. "Dan kamu, cepat susul teman kamu ke toilet!"
" Baik Pak."
__ADS_1