ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 72


__ADS_3

Di suatu rumah sederhana, wanita cantik dengan senyum mengembang begitu senang melihat hasil dari tangannya yang memuaskan. Bahkan ia tak menyangka hasil dari kursusnya selama tiga bulan bisa menghasilkan sesuatu yang bisa di jadikan uang.


Silvi dengan segala keterbatasannya kembali bangkit dan memukai hidup baru menjadi penjual baju online. Mulai dari daster hingga pakaian anak-anak yang harganya cukup terjangkau untuk kelas menengah kebawah. Penjualannya melalui online dan terkadang ia jual ke pasar tradisional.


Wanita itu benar-benar hidup dengan segala kesederhanaannya. Tinggal di suatu desa dengan berbekal uang tabungan dan hasil dari penjualan apartemen. Kini ia memiliki satu rumah sederhana dan dua mesin jahit untuk membuat pakaian yang akan ia jual. Memang butuh waktu yang tidak sebentar menghasilkan satu buah pakaian tetapi ia ulet dan telaten dalam menjalaninya.


Silvi juga membuka jasa permak, apa saja selagi ia mampu dan bisa menghasilkan pundi rupiah akan ia terima. Pendapatannya juga tak seperti dulu menjadi model yang sekali tampil bisa mendapat puluhan hingga ratusan juta. Sekarang sehari mendapatkan uang lima puluh ribu saja sudah bersyukur.


Dia pun meninggalkan hidup royal, makan seadanya yang penting kenyang. Sudah tak memikirkan badan yang terpenting sehat dan bisa menjalankan hidup dengan baik. Sudah banyak perubahan di diri Silvi. Sifat angkuh dan sombong hilang bahkan sakit hati akan kejadian beberapa bulan lalu sudah ia kubur dalam-dalam. Dan tak mau lagi mengungkit masa lalu. Ia sudah sangat bersyukur masih di beri kesempatan hidup dan meminta ampun pada yang maha pencipta.


Keahlian yang ia miliki dan ia kuasai begitu cepat pun, ia anggap sebagai hikmah dari apa yang telah terjadi. Allah akan menggantikan sesuatu yang hilang dengan yang lebih baik. Dengan ini ia bisa lebih menghargai hidup dan memanusiakan manusia.


"Ini Bu sudah jadi..." Silvi memberikan seragam sekolah yang telah ia jahit kepada salah satu warga sekitar. Di mulai dari selembar bahan sekarang bisa di pakai dan di gunakan untuk bersekolah.


"Udah jadi to mabuk, makasih banyak ya mbak. Iki upahe njait, nah Iki ono rejeki lebih. Di terima Yo mbak...."


Dengan mata berkaca-kaca, Silvi tersenyum menerima. Dulu ia menyepelekan orang kampung, orang yang kurang mampu dan kini ia yang di beri uang dari orang kampung. Dunia seakan terbalik untuknya, tapi ia menerima dengan senang hati dan berterima kasih.


"Makasih banyak ya Bu, semoga rejeki ibu berkah dan bisa puas dengan hasil tangan saya. Bisa berlangganan lagi ya Bu..." ucapnya ramah dengan senyum tulus.


"Sama-sama Mbak Silvi, saya pamit. Assalamualaikum...."

__ADS_1


"Wa'allaikumsalam...."


Silvi masuk dengan kursi rodanya, ia menyisihkan sebagian hasil dari upah ke dalam celengan dan sisanya untuk ia makan tiga hari kedepan. Setidaknya sampai hasil dari pekerjaannya sudah jadi dan bisa ia jual kembali.


Sekarang ia pun lebih memilih masak sebisanya dari pada membeli makanan dan tidak bisa berhemat. Silvi yang dulu ingin makan tinggal memerintah, kini ia memasak sendiri di dapur sederhana dengan kompor gas biasa tak seperti di rumahnya dulu bersama Yudha.


Makan dengan nasi dan telur dadar sudah sangat nikmat baginya. Bahkan Silvi tampak lahap hingga piring bersih tanpa tersisa satu butir nasi.


"Alhamdulillah kenyang ..."


Silvi menghela nafas panjang menatap senja dalam kesendirian. Senyumnya terukir dengan indah, di usianya yang seharusnya sedang menikmati keluarga utuh dengan suara tangis anak-anak. Kini ia hanya bisa bermimpi tanpa berharap lebih.


"Aku hanya ingin hidupku lebih baik tanpa ada ambisi. Sudah cukup penyesalanku, seperti ini aku lebih bersyukur. Aku lebih paham arti hidup dan bisa menghargai semua yang aku punya. Allah pun tak semata-mata mengambil tanpa mengganti. Tangan ini mampu menciptakan jahitan yang rapi dan pakaian yang bernilai jual. Terimakasih Tuhan, maaf jika dulu aku sangat buruk...."


.


.


.


"Pagi sayang..." Yudha mengecup punggung polos sang istri, ia mendekap erat tubuh Kinayu di dalam selimut yang sama.

__ADS_1


"Pagi Bee, aku masih sangat mengantuk. Rasanya aku baru tidur tapi sudah harus bangun. Bolehkah aku tidur lagi Bee?" rengek Kinayu dan menarik selimutnya hingga menutupi wajah.


"Tapi anak ayah butuh sarapan dan minum susu, bangun dulu sayang nanti istirahat lagi. Apa ingin mengulang yang semalam?" tanyanya menggoda dengan menggigit telinga Kinayu dengan lembut menimbulkan sesuatu yang berdesir di bawah sana.


"Bee ...kamu tidak cukup satu kali loh semalam. Kamu tuh aneh, perut aku makin besar tapi kamu makin giat dan semakin meresahkan. Enak sich tapi capek loh Bee."


Yudha tertawa mendengar keluhan sang istri, bagaimana tidak meminta setiap hari jika rasanya semakin menggigit. Dan jangan lupakan tubuh sang istri yang semakin terlihat sexy dengan perut buncitnya. Yudha pun selalu ingin, apa lagi saat melihat sang istri memakai baju tidur tipis karena cepat gerah, tapi justru membuatnya tak tahan jika hanya memandang dalam diam.


"Setelah melahirkan nanti tidak perlu diet ekstra untuk mengembalikan badan ya sayang, lebih berisi lebih sedap di pandang. Berasa di peluknya..." Yudha mengecup tengkuk Kinayu dengan gemas membuat sang istri menggeliat manja.


"Bee.....jangan nakal, aku geli loh! dasar pak dosen mesum, bagaimana jika mahasiswamu tau di balik kalemnya Pak Yudha ternyata ia pria yang hot!"


Yudha semakin terkekeh mendengar ucapan Kinayu yang semakin membuatnya geregetan. Bagaimana tidak si bumil satu ini berlagak seperti pembawa berita gosip, saat bilang hot lidahnya dijulurkan, bukan terkesan centil justru terkesan lucu.


"Justru jangan sampai tau, aku kalem saja banyak yang menggoda bagaimana jika aku terlihat dosen hot? mana mungkin mereka akan diam saja, bisa jadi godaan itu semakin parah. Bahkan rela melempar tubuhnya emmmmmmmm....." Kinayu tak tahan dengan ucapan Yudha yang menurutnya membuat telinga panas, ngelantur dan perlu di hentikan. Bumil itu segara berbalik dan membungkam nya dengan bibir yang sejak tadi ingin sekali Yudha raih. Tapi bak buah simalakama, justru ini di jadikan Yudha kesempatan. Pria itu melumaaat dan menyesap dan tak membiarkan Kinayu lepas, sempat gelagapan akan serangan istrinya yang tiba-tiba tapi setelahnya lebih menikmati dan tak bisa di hentikan lagi.


"Kamu sengaja memberi umpan dan akan aku tangkap degan senang hati..." bisiknya lalu kembali menyatukan Indra perasa yang selalu di jadikan awal dari kegiatan yang berujung panas. Kinayu sudah pasrah, ia lupa jika suaminya benar-benar hot dosen. Dan membalas walaupun badan sedikit tak nyaman tetapi Yudha selalu bisa memberikan suatu yang melenakkan dan kepuasan di ujung kegiatan.


"Bee......lagi!"


"Yakin?"

__ADS_1


"Yes....."


"Kalo ini bukan hot dosen tetapi bumil nakal! nikmati sayang, aku suka!"


__ADS_2