
Yudha mengantar Gea ke kamar tamu, nampaknya dia harus bersabar selama Gea berada di rumahnya. Sejak kecil keduanya sering berdebat hingga Gea lebih dekat dengannya dari pada saudara mereka yang lain.
"Berapa malam kamu di sini?" Yudha berdiri di ambang pintu dengan bersidekap dada menatap wanita cantik merebahkan tubuhnya di ranjang dengan perut bak bola yang menutupi dadanya.
"Baru aku datang sudah kamu usir saja, apa mas tidak berpikir kedatanganku memiliki manfaat untuk istri keduamu? aku bisa menjadi teman untuknya agar dia tidak kesepian!"
"Apa tidak terbalik?"
Dengan susah payah Gea bangun dari tidurnya, perut yang sudah membesar membuat ia harus memiringkan tubuhnya lebih dulu baru ia bisa duduk.
"Kamu ini mas, tidak ada rasa kasian sedikitpun padaku! sana balik ke kamar istrimu, manfaatkan waktu selama lampir itu tidak pulang. Aku yakin jika dia pulang kamu tidak akan bisa bebas dengan istri mudamu itu. Tapi ngomong-ngomong sepertinya dia masih terlihat muda, siapa tadi namanya. Kinayu....ya Kinayu...ayu seperti orangnya. Tapi sayang nasibnya tak seayu namanya. Sungguh malang harus menjadi istri kedua Yudha Prasetya. Aku tak membayangkan jika nanti ada yang tau hubungan kalian, kasian dia...."
"Sudah bicaranya? cepat tidur! anakmu pasti mengantuk mendengar ibunya berdongeng tiada henti!" celetuk Yudha kemudian segera menutup kamar Gea dan melangkah menuju kamar Kinayu.
"Belum tidur, hhmm?" Yudha memeluk Kinayu yang sedang berdiri di depan cermin membersihkan wajahnya sebelum tidur.
"Lagi bersih-bersih bee, Gea sudah tidur?"
"Mungkin sedang menangis, biarkan saja."
"Aku merasa beruntung walaupun jalan hidupku tak semulus orang lain, tapi aku di nikahi sah olehmu. Setidaknya anakku kelak memiliki surat-surat yang jelas, kasihan Gea."
Yudha mengeratkan pelukannya, mengecup pipi Kinayu dengan sayang dan menatap wajah wanita yang ia cintai dari pantulan cermin.
"Maafkan aku jika menyulitkanmu di awal pernikahan kita, tapi aku janji akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu setelah ini. Bersabarlah...."
"Apa ada yang membaik selama ia menjadi yang kedua?"
"Apa kamu menginginkanku menceraikan Silvi sayang?"
"Oh...bukan, aku hanya bertanya saja bee. Bagaimana menurutmu akan itu?"
"Aku paham, maafkan aku. Tapi hati ini hanya ada kamu Kinayu Primaningtyas."
Kinayu tersenyum menatap wajah manja Yudha yang terus mengusal manja di lehernya, tak pernah terbayangkan akan berada di posisi ini bersama dosennya sendiri. Apa lagi Yudha adalah sosok yang tak terbantahkan, akan sangat mustahil melihat pemandangan yang sangat langka dan mungkin akan membuat semua orang menganga dan merasa iri.
"Kenapa yang lain boleh memanggilmu dengan sebutan mas, tapi aku tidak? apa bedanya?" lirih Kinayu.
Yudha membalikkan tubuh Kinayu, mengusap lembut pipi yang mulai chabi. "Karena kamu spesial."
"Aghhh..... Bee..." Kinayu terkejut merasakan tubuhnya tiba-tiba melayang di angkat oleh Yudha.
__ADS_1
"Kita pindah di ranjang sayang, sepertinya akan lebih leluasa jika menyentuhmu di sana!" Yudha tersenyum menyapa wajah menggemaskan Kinayu yang mulai memerah.
"Pelan-pelan bee..."
"Iya sayang, maaf aku terlalu bersemangat..."
"Akh.....bee."
.
.
.
"Hari ini aku tidak ke kampus, aku ada meeting penting di kantor. Kamu jangan nakal dan harus terus hati-hati ya.."
Dengan telaten Kinayu memasangkan dasi, ia hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman. Hari ini juga ia hanya ada satu kelas dan tak akan lama berada di kampus.
"Aku akan meminta sopir untuk menjemputmu, jangan membawa motor sendiri jika perlu mulai saat ini aku akan menyiapkan sopir pribadi untukmu."
"Jangan berlebihan Bee, aku tidak mau mbak Silvi marah atas perlakuan manismu. Aku bisa naik taksi, tapi jika di ijinkan naik motor pun aku akan lebih berhati-hati."
Yudha menghela nafas berat, selalu ada Silvi setiap alasan yang Kinayu utarakan dan itu membuatnya tak bisa lagi menjawab. Ingin rasanya hanya Kinayu saja yang ada dalam rumah tangganya tapi ia tak ada alasan besar untuk menceraikan. Karena mamahnya yang sangat menyayangi Silvi.
"Pagi mbak.."
"Panggil saja aku Gea," ucapnya di sela-sela kunyahan.
"Habiskan dulu yang ada di mulutmu baru berbicara!"
"Kaku sekali kamu mas!" Gea kembali meneruskan sarapannya dengan menu berbeda dengan tuan rumah.
Kinayu meringis melihat apa yang Gea makan, semangkuk bubur ayam yang di aduk dengan kerupuk yang sudah lunak di dalamnya. Perutnya bergejolak melihat itu dan segera berlari ke arah wastafel berada.
huwek
huwek
"Mual lagi sayang..." Yudha segera menghampiri dan memijat tengkuk Kinayu. "Bi tolong buatkan teh hangat untuk istriku!"
"Baik Tuan."
__ADS_1
Gea tampak berpikir dengan kemudian kembali meneruskan sarapannya. Ia paham apa yang terjadi pada Kinayu dan bersyukur akhirnya Yudha akan segara menjadi ayah.
"Mbak Kinayu hamil?"
"Iya," jawab Yudha singkat, ia merangkul pundak Kinayu dan menarik kursi untuknya duduk.
"Bee aku mual," keluh Kinayu saat harus duduk di depan Gea. Yudha yang melihat perubahan wajah sang istri, membuatnya melirik isi mangkuk yang tengah Gea makan.
"Kamu mual melihat bubur yang di makan Gea?" tanyanya ragu.
"I...iya Bee.."
"Astaga Kakak ipar, kenapa tidak bilang dari tadi. Sebentar aku akan menghabiskannya dulu ya. Ini sangat enak walaupun tampilannya macam ee' ayam."
"Gea!" Yudha memalingkan wajah Kinayu agar tak melihat isi mangkuk Gea . Entah dari mana Gea mendapatkan bubur itu hingga pagi-pagi sudah memakannya dengan lahap.
"Sudah selesai kakak ipar, kasian sekali kamu kak. Itu tadi enak tapi kamu tidak bisa memakannya. Ya sudah aku mau ke kamar dulu ya, sudah kenyang mau rebahan."
"Hey, perutmu sudah besar. Olahraga sana di luar bukannya malah tidur di pagi-pagi begini! aku adukan pada Tante jika kamu malas!" tegas Yudha.
Yudha sudah banyak membaca buku tentang kehamilan, ia tau apa yang harus di lakukan dan tidak. Jangankan sedang hamil, yang tidak hamil saja tidak di anjurkan tidur pagi.
"Aish...oke..oke.. suamimu bawel mbak!" Kinayu mengulum senyum dengan menundukkan kepala.
"Sayang ayo sarapan tak usah pikirkan dia!"
Seperti kemarin, Yudha memberhentikan mobilnya tepat di tempat kemarin ia menurunkan Kinayu. Mengecup kening, bibir dan perut Kinayu.
"Papa berangkat ya sayang, jangan rewel karena papah tidak ada di kampus hari ini."
Kinayu tersenyum, hatinya menghangat melihat Yudha yang berinteraksi dengan anaknya.
"Hati-hati ya Bee, aku turun dulu."
"Iya sayang."
Seperti biasa mobil sahabatnya sudah standby di belakang mobil Yudha. Sampai di kampus Kinayu segera turun. Ada rasa aneh saat melihat pandangan mata beberapa mahasiswi yang begitu tajam melihatnya.
"Mereka kenapa?"
Kinayu hanya menggelengkan kepala hingga langkahnya terhenti saat ada salah satu dari mereka bersuara begitu lantang dan membuat hatinya tak tenang.
__ADS_1
"Gila, tampang kalem tapi berani ngerayu dosen...."