ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 52


__ADS_3

Gea keluar kamar menuju dapur untuk mengambil minum, tampak jelas dari arah ruang tamu saat ia berjalan dengan langkah pelan, seketika bapak dan ibu saling memandang dengan tatapan penuh makna. Mereka mengira jika Gea lah istri pertama Yudha. Di tambah lagi melihat perut Gea yang besar membuat mereka salah paham, karena kemarin Satria tidak memberitahu siapa istri pertama Yudha.


Ibu merasakan sesak di dadanya, raut wajah beliau semakin sendu dengan hati kacau. Tak dapat ia bayangkan keseharian putrinya, menghadapi mahligai pernikahan dengan berbagi perhatian dan kasih sayang. Ibu menggenggam erat tangan bapak, menggelengkan kepala pada Bapak dengan air mata yang kembali mengalir.


"Assalamualaikum..."


"Wa'allaikumsalam Bee.." Kinayu beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Yudha, mengecup punggung tangan Yudha dan di balas kecupan kening oleh pria itu.


"Baru pulang mas?" tanya Gea menghampiri.


"Iya, minum susu yang ada di dapur. Masih ada stok yang kemarin belum sempat di minum Kinayu Ge.."


"Iya mas."


Yudha menatap ke arah sofa, melihat kedua mertuanya dengan gurat wajah kesedihan dan adik iparnya dengan wajah memerah.


"Sayang kenapa nggak hubungin aku kalo bapak ibu jadi kesini hari ini? tau gitu aku pulang cepat."


"Aku juga nggak tau Bee, tiba-tiba sudah sampai."


"Bu...Pak..." Yudha menyalami kedua mertuanya kemudian mengulurkan tangan pada Bagus dan segera di raih oleh pemuda itu.


Keluarga Kinayu bukan keluarga yang kasar, walaupun hati mereka sakit tapi tidak untuk berbicara kasar hingga mengeluarkan umpatan. Bapak menatap Yudha dengan hati yang entah. Beliau paham jika saat itu tak ada Yudha ntah bagaimana dirinya. Tapi tak juga menerima jika anaknya harus menderita. Apa lagi yang ia dengar, Kinayu berulangkali masuk rumah sakit akibat perlakuan dari istri pertama.


"Bagaimana kabar Bapak dan Ibu? saya pikir tidak hari ini datangnya, jadi saya bisa mengatur jadwal agar bisa menjemput Bapak dan Ibu." Kinayu datang membawakan kopi untuk Yudha. "Makasih sayang.."


Melihat perhatian Yudha pada Kinayu membuat Bapak ragu tapi mendengar kabar dan kebenaran jika anaknya di perlakukan tidak baik dan di jadikan istri kedua membuat beliau sakit.

__ADS_1


"Tidak apa nak Yudha, maaf jika Bapak datang tidak mengabari terlebih dahulu. Tapi bapak dan Ibu kesini ingin menjemput Kinayu."


Yudha terhenyak mendengar alasan Bapak mertuanya, kemudian menatap Kinayu yang hanya menundukkan kepala. Yudha segera meraih jemari Kinayu dengan lembut dan menggenggamnya hingga Kinayu kembali mampu menatapnya.


"Ada apa?" lirih Yudha menatap Kinayu dengan tatapan tak mengerti.


"Dengarkan bapak dulu Bee." Kinayu membalas genggaman tangan Yudha dengan mengusap memberi ketenangan pada suaminya. Ia paham jika Yudha cukup terkejut saat ini dan terlihat matanya sedikit gelisah.


"Maaf Pak, kenapa menjemput Kinayu? apa ada masalah?" tanya Yudha berusaha untuk tenang.


"Nak Yudha, bapak sudah tau semuanya. Bapak tau jika Kinayu menjadi istri kedua di rumah ini. Sebagai orang tua bapak tidak terima tapi mengingat jasa nak Yudha di awal pertemuan kita sangat banyak untuk bapak dan keluarga. Bapak ingin menyelesaikannya dengan baik, bapak akan tebus kembali putri bapak dan mengambilnya kembali."


deg


Tak hanya Yudha yang terkejut, Kinayu pun tak menyangka bapak akan berucap seperti itu. Kedatangan bapak yang tiba-tiba dan mengetahui semua tanpa ia yang mengabari saja sudah membuatnya terkejut di tambah lagi bapak ingin menebus dirinya yang kini tengah berbadan dua.


"Tapi nak, putri bapak menderita hidup bersama istri tua. Bagaimana bapak bisa tenang di saat bapak mendapat kabar jika putri bapak di perlakukan tidak baik oleh istri pertama nak Yudha?"


"Siapa yang memberi kabar demikian Pak?" Yudha yakin ada yang sengaja mengatakan pada keluarga Kinayu tentang rumah tangganya.


"Nak Satria datang ke bapak dan memberitahu semuanya."


Kinayu segera menoleh ke arah Yudha, dia menahan rasa sakit di jemarinya karena Yudha mencengkeram begitu kencang. Kinayu mengusap lembut dada Yudha mencoba menenangkan.


Yudha menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Berulang kali ia lakukan dengan menatap wajah Kinayu yang teduh memenangkan. Rasanya ia ingin menghajar Satria lagi karena telah lancang mencampuri urusan rumah tangganya.


"Apakah aku tidak boleh marah?" bisiknya pada Kinayu.

__ADS_1


"Marahmu hanya boleh di ranjang dan melampiaskan padaku, tidak boleh melakukan kekerasan pada siapapun."


Yudha mengulum senyum, Kinayu pandai menenangkan hatinya. Ia mampu meredakan emosi Yudha dan kembali tenang menyikapi masalah yang datang.


Yudha beranjak dan bersimpuh di depan kedua mertuanya membuat semua yang ada di sana tampak tertegun tak menyangka. Yudha di awal kedatangan begitu angkuh dan tegas dengan segala kekuasaannya, kini menurunkan harga dirinya demi mendapatkan restu kedua mertuanya.


"Maaf kan saya Pak, jujur saya sudah melupakan semua transaksi di awal yang melibatkan Kinayu, bahkan saya sudah mengikhlaskan uang itu Pak Bu. Saya mencintai anak Ibu dan Bapak tulus. Walaupun saya tau masih belum bisa menjadikan Kinayu satu-satunya tetapi saya janji akan membahagiakan dia dan tak akan membiarkan siapapun menyakitinya."


"Apa lagi sekarang Kinayu tengah hamil anak saya, buah cinta kami Pak. Bapak dan Ibu sebentar lagi akan memiliki cucu. Apa bapak dan Ibu tega memisahkan anak dengan ayahnya? tolong ijinkan saya memperbaiki hubungan kami Pak."


Kinayu menangis melihat ketulusan hati Yudha, melihat keseriusan Yudha meminta restu. Yudha yang ia kenal tak terbantahkan dengan sikap tangguh, bijak dan arogan kini begitu lembut memohon dan meminta dengan ramah.


"Bangun nak!"


Yudha beranjak dari sana dan kembali duduk di samping Kinayu. Tersenyum tipis pada Kinayu dengan mengusap air mata sang istri.


"Jangan menangis, biarkan aku berjuang demi kamu."


Kinayu menganggukkan kepala dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya. Cinta itu mulai tumbuh dan semakin bersemi. Kinayu merasa menjadi istri yang sangat di cintai.


"Apa nak Yudha bisa berjanji pada Bapak untuk tidak menyia-nyiakan Kinayu?"


"Saya berjanji Pak dengan sepenuh hati saya. Saya akan menjaga Kinayu dan mencintainya."


"Nak Yudha, Ibu yakin istri pertamamu pasti tak bisa menerima Kinayu dengan baik. Ibu ini perempuan yang tak akan mau di madu dan posisi keduanya sangat tak di untungkan. Istri pertamamu pasti sangat sakit hati, dan orang yang sakit hati bisa melakukan apapun. Ibu mohon jaga putri ibu. Dan bersikaplah adil padanya."


"Aku berjanji Bu."

__ADS_1


__ADS_2