
"Bagaimana Dok?"
"Kandungannya sehat, kemungkinan dua Minggu lagi istri bapak akan melahirkan, jadi benar-benar di perhatikan ya Pak! Vitaminnya di minum dan di jaga kesehatannya dengan istirahat yang cukup."
"Kalo berhubungan badan masih boleh Dok?" tanya Yudha lagi tanpa melihat wajah Kinayu yang sudah memerah.
"Boleh, tetapi di perhatikan juga kenyamanan istri bapak. Dan jangan mengganggu waktu istirahatnya Ya Pak!"
"Baik, makasih Dok," jawabnya bersemangat.
Kini Yudha dan Kinayu segera pulang setelah selesai memeriksa kandungan. Keduanya memang belum ada yang tau jenis kelamin anak mereka karena ingin di jadikan kejutan. Untuk pakaian, mereka lebih mempersiapkan ke warna yang netral. Lalu karena masih kecil, sementara kamar akan menjadi satu dengan Tama.
"Mau langsung pulang atau mau mampir dulu sayang?"
"Mau makan bakso di dekat kampus Bee, sepertinya enak. Sudah lama semenjak cuti tidak kesana Bee, boleh tidak?" tanyanya dengan puppy eyes yang menggemaskan, sudah pasti Yudha luluh dan segera menancap gas menuju kampus.
Jarak dari rumah sakit ke kampus lumayan jauh, mereka menghabiskan waktu hampir satu jam untuk sampai di sana. Apa lagi jalanan sempat macet, membuat bumil yang satu ini bosan dan tertidur dengan lelap.
"Sayang, sudah sampai....Ayo turun!" Yudha mengusap pipi Kinayu dengan lembut, membangunkannya dan membukakan pintu mobil membantunya untuk turun.
"Anak ayah mau makan baksonya, jangan pedas-pedas ya. Kasian bunda nanti perutnya sakit." Yudha mengusap perut sang istri kemudian menggandeng tangannya menuju kedai bakso yang tampak ramai oleh mahasiswa yang makan di sana.
"Eh Pak Yudha sama istri, sudah besar perutnya ya sekarang." Yudha dan Kinayu tersenyum saat salah satu mahasiswa menyapa.
Yudha segera mempersilahkan Kinayu untuk duduk di salah satu bangku yang kosong, memesan dua porsi bakso lengkap dan kerupuk pangsit kesukaan Kinayu sebagai pelengkap. Semenjak bersama Kinayu Yudha menjadi lebih merakyat, ia sering makan di warung tenda dan tak jarang ikut makan di kantin kampus bersama sang istri.
Pernah sesekali Yudha mengajak Kinayu makan di restoran mewah tetapi Kinayu justru kurang nyaman. Dia lebih memilih di restoran biasa dengan kelas menengah dari pada elit dan porsinya sedikit.
Pandangan Kinayu terarah pada pemuda yang masuk dengan salah satu teman kampusnya. Orang yang dulu pernah singgah di hati dan sekarang kabarnya sudah mendapatkan ganti. Mata keduanya sempat bertemu hingga akhirnya Satria menoleh ke arah gadis yang datang bersamanya untuk memutus kontak.
"Bunda sudah mau punya anak dua matanya harap di kondisikan ya!" lirih Yudha tanpa menoleh dan kembali melanjutkan makannya.
__ADS_1
Kinayu mengulum senyum, tapi tak juga ingin menimpali karena ia tau sang suami dalam mode cemburu dan merajuk.
"Pak Yudha ..." sapa salah satu mahasiswi yang melewati. Bahkan dengan genitnya tersenyum menggoda pada Yudha.
"Bapak dosen sedang di sapa oleh mahasiswinya tuh, jangan di diemin aja. Bening plus cantik, langsing lagi tidak seperti yang ada di rumah. Bulat anak dua, makannya banyak!"
Saat ini gantian Yudha yang hanya menunduk dengan mengulum senyum, sindiran sang istri membuatnya ingin tertawa. Bahkan Yudha yang hanya bicara beberapa kata tetapi Kinayu menimpali dengan kalimat yang banyak.
"Kinayu....." seru kedua sahabatnya yang baru saja datang setelah tadi sempat ia kirim pesan .
"Hay kalian sini!" seru Kinayu agar mereka mendekat.
"Reuni?"
"Hhmmm.....sebentar saja tidak apa kan Bee, Tama ada Mamah di rumah." Ya, sebelum berangkat memang mamah mertua datang untuk menjaga Tama, karena baby sitternya sedang pulang kampung dan kasian jika Bibi yang mengurus sendiri.
"Iya, ya sudah tidak apa. Aku tinggal keruanganku sebentar ya!" Yudha mengusak lembut kepala Kinayu dan segera pergi.
"Siap Pak!" jawab keduanya. "Doi makin posesif?" tanya Novi kemudian duduk di dekat Kinayu.
"Makin di cinta sama Pak dosen ya Kin!" sahut Arum.
"Alhamdulillah...seperti yang kalian lihat, bagaimana kabar kalian berdua. Kapan main kerumah, sudah lama banget dech kita tidak kumpul bareng!" keluh Kinayu.
"Kita sibuk sama tugas yang semakin numpuk, suami kamu kalo ngasih tugas nggak kira-kira. Kita bisa sampe pagi lagi ngerjainnya. Mumpung banget nggak ada istrinya, mana semenjak nggak ada kamu Pak Yudha jaga jarak banget dengan mahasiswinya dan lebih terkesan dingin. Suami idaman banget sich, tapi kita-kita jadi yang deg-degan gitu tau nggak! deg-degan dan semakin geregetan."
"Bener banget, semakin nambah aja fans nya. Apa lagi setelah kejadian waktu itu, mereka pengen banget ada di posisi kamu Kin!" timpal Arum.
"Dan kalian juga mau?" tanyanya santai melihat keduanya bergantian.
"Mau kamu colok pakai garpu! kamu pikir aku nggak tau kalo kamu sama bucinnya. Malahan lebih bucin dari pas sama Satria!" celetuk Novi.
__ADS_1
Kinayu tersenyum mendengarnya, ya memang bersama Yudha terasa beda. Dia lebih berekspresi menunjukkan cintanya dari pada dengan Satria dulu. Mungkin karena sudah halal atau tertular virus bucin dari suami.
"Tuh tau!"
"Kinayu...." sapa Satria yang datang menghampiri. Kinayu mendongakkan kepalanya menatap dan membalas senyuman.
"Gimana kabar kamu?" tanya Satria setelah melihat perut Kinayu yang semakin membesar.
"Alhamdulillah sehat, kamu sendiri gimana? eh cewek tadi kok di tinggal? nanti cemburu loh!" Kinayu melirik ke arah gadis yang duduk sendiri setelah Satria menghampiri.
"Oh itu...dia masih makan, tidak apa-apa juga. Hanya teman yang kebetulan datang kesini bersama. Aku senang jika kamu semakin sehat. Sepertinya juga semakin bahagia, semoga lancar semuanya sampai melahirkan ya."
"Oh iya Satria, makasih atas doanya. Aku juga senang kamu sehat, apa lagi sekarang lebih bisa dekat dengan wanita. Cuma jangan di PHPin, menurut kabar Casanova kampus bertambah satu ya?" tanya Kinayu membuat Satria menggaruk tengkuknya.
"Mencari yang terbaik bukan untuk di PHPin, aku tidak mau nanti di tinggal nikah lagi!"
Kinayu hanya menanggapi dengan senyuman dan tak berniat menjawab. Toh semua sudah berlalu dan tak perlu di ungkit terus.
"Tapi asli playboy amatiran dia tuh, sering banget buat cewek-cewek yang di PHPin sama dia akhirnya berantem dan saling jambak-jambakan," sahut Arum.
"Merekanya saja yang baper, tanya sahabat kalian yang sudah paham akan sifat aku. Aku memang baik sama semuanya. Tapi meraka salah mengartikan, malah jadi di buat rebutan. Padahal aku belum bilang cinta."
"Makanya cepat move on dari istri orang!"
Ucapan orang di belakang Satria membuat semua menoleh termasuk Kinayu yang tau persis pemilik suara itu.
Yudha menghampiri dan segera meraih tubuh Kinayu untuk segera berdiri. "Sayang kita pulang ya, cuacanya cukup panas dan sebentar lagi pasti akan turun hujan. "
"Ini sudah gerimis Pak," sahut Arum yang tak mengerti dengan kata-kata Yudha sedangkan Kinayu dan Novi hanya menunduk dengan menahan tawa.
"Ya sudah kita pulang ya, sebelum panas dan semakin terbakar!" sahut Kinayu kemudian segera mengalungkan tangannya di lengan Yudha dan mengajaknya pulang.
__ADS_1
"Apanya yang panas dan terbakar sich!" gumam Arum yang masih tak mengerti, sedangkan Satria hanya menggelengkan kepala dan Novi geregetan dengan otak lola temannya.