
huwek
huwek
huwek
"Sayang...."
Belum hilang keterkejutan Silvi dengan apa yang ia lihat saat ini, harus di tambah lagi dengan panggilan sayang dari Yudha. Secepat itukah semua berubah. Dan secepat itukah Yudha jatuh cinta. Silvi mengepalkan tangannya dengan emosi yang tak terbendung.
"Kenapa sayang?"
Kinayu menggelengkan kepala, entah mengapa baru turun dari tangga dan melihat Silvi dengan wangi parfumnya yang menyengat membuat perutnya mual.
Padahal setelah sedikit perdebatan dan Silvi di bawa Yudha keluar kamar, tubuh Kinayu cukup segar. Aktifitas pagi yang mereka lakukan tadi membuat mood Kinayu membaik tetapi hancur seketika Indra penciumannya merasakan bau yang menusuk hidung hingga ia serasa pusing.
Kinayu menghentikan langkah saat tatapan Silvi begitu tajam seperti ingin menguliti. Tapi mulutnya diam tak menghakimi. Entah apa yang sedang ia pikirkan tapi untuk kembali ke meja makan Kinayu nampak menyerah.
"Kenapa, hmm?" Yudha yang mengerti akan gelagat tak biasa Kinayu menatap penuh selidik. Mungkin Kinayu menutupi tapi Yudha tau ada yang di tahan oleh wanita itu.
"Aku berangkat duluan ya Bee...." lirihnya agar Silvi tak mendengar.
"Tidak ingin menungguku?" pasalnya Yudha belum sempat sarapan dan akan menambah masalah jika Yudha meninggalkan Silvi sendirian.
"Aku duluan saja..." Kinayu segera melangkah menuju meja makan dengan menahan nafas dan pamit pada Silvi saat sudah di ambang pintu.
"Mbak aku berangkat," ucapnya, sempat menunggu sebentar menunggu respon tetapi melirikpun Silvi tak mau. Kemudian Kinayu kembali meneruskan langkah sampai di depan pagar. Kinayu segera memesan taksi, ia tak cukup berani mengendarai motor tanpa seijin Yudha.
Yudha menghela nafas panjang setelah punggung Kinayu tak lagi terlihat lalu ia kembali ke meja makan untuk sarapan. Sebenarnya tak ingin membiarkan Kinayu berangkat sendiri. Tetapi mengingat Silvi ada di rumah dan ia pun tak ingin memancing keributan, maka Yudha membiarkan Kinayu berangkat lebih dulu.
__ADS_1
Sampai sekarang Silvi belum tau jika ia mengajar di kampus, entah tidak tau atau tidak mau tau. Yudha tidak terlalu mempermasalahkan. Yang terpenting ia bisa dekat dengan Kinayu walaupun harus merasa kelelahan dengan dua pekerjaan beda keahlian.
Keduanya makan dengan sama-sama diam, mengherankan memang Silvi hanya diam sejak tadi tapi Yudha tak mempermasalahkan dari pada membuat paginya berantakan karena mood booster hari ini cukup melenakan dan membuat geregetan.
Setelah sarapan Yudha segera berangkat, sempat pamit tapi Silvi tampak acuh. Mungkin karena perdebatan kecil di kamar Kinayu tadi membuatnya merajuk.
"Kamu tidak bekerja hari ini?" Yudha akhirnya bertanya hal yang sebenarnya ia sudah tau. Silvi akan beristirahat di rumah setelah beberapa hari bekerja di luar.
"Aku libur, mau istirahat capek, capek hati, capek pikiran, capek nahan juga tidak pernah lagi kami sentuh."
"Untuk apa menyiram sawah yang tandus! jika mau aku bisa membantu tapi tak untuk menyatu!" ucapnya datar dan memancing emosi Silvia.
"Kamu dosa mas! Kinayu kamu manjakan dan kamu beri nafkah batin tapi aku kamu hanya bantu dengan jari, bagaimana aku bisa terima? jangan mentang-mentang ia masih muda dan kamu bosan denganku!"
"Kalo tau dosa kenapa kamu harus menolak hamil anakku? jangan singgung dosa kalo kita sama-sama punya kesalahan. Introspeksi diri lebih bagus dari pada harus merasa paling benar sendiri! Maaf jika menurutmu aku tidak adil, tapi ini lebih baik dari pada aku menceraikanmu bukan?"
Silvia terhenyak, Yudha benar-benar berubah. Semua kehangatan di dirinya sirna, tak menyisakan satupun hal yang membuatnya merasa di cinta.
"Ini semua karena nenek-nenek itu! Dan...Kinayu hamil, ck tidak akan aku biarkan kamu memiliki cucu dari wanita itu!"
.
.
.
Kinayu tampak ragu masuk kedalam kelas, tatapan tajam semakin membuatnya tak nyaman. Hingga beberapa mahasiswi datang menghakiminya, belum ada konfirmasi yang akurat membuat mereka semakin menghujat.
Bahkan kini pakaian Kinayu sudah basah, bukan cuma hinaan tapi serangan juga mereka layangkan. Ingin bersuara dan membela diri tapi Kinayu tak berani. Ini bukan hanya menyangkut dirinya, tapi juga reputasi suami dan karir Silvi ia pikirkan.
__ADS_1
Hingga Kinayu di panggil oleh pihak kampus untuk menjelaskan semua kabar yang beredar. Pihak kampus tidak akan mempertahankan Kinayu jika kabar bahwa Kinayu sebagai pelakor dan penggoda dosen yang mereka kenal adalah anak dari pemilik kampus itu benar.
"Apa benar kabar yang beredar Kinayu? sedangkan kamu adalah salah satu mahasiswi teladan yang ada di kampus ini. Saya sangat menyayangkan jika kabar itu benar, apa lagi ada foto yang beredar sebagai penguat tuduhan. Kami akan sangat bertindak tegas dan resiko kamu akan di DO dari kampus ini."
Kinayu tercengang mendengar resiko yang akan ia dapatkan. Dia sudah masuk semester 6 dan harus keluar begitu saja tanpa ada ijazah. Sungguh tak adil baginya, Kinayu menghela nafas berat. Ia memejamkan mata sebelum menjawab dan menjelaskan.
"Sebelumnya saya minta maaf Pak jika kabar yang beredar mengganggu dan bisa merusak reputasi kampus. Tapi yang mereka katakan tidak semua benar Pak. Saya memang dekat dengan Pak Yudha tetapi saya bukan penggoda."
"Lalu ada hubungan apa kalian? asisten dosen? apa ada asisten dosen yang sedekat ini?" foto tersebar di atas meja, Kinayu membulatkan matanya saat melihat ada foto yang menampilkan jika keduanya sedang berpelukan dan ada juga yang sedang berciuman. Entah kapan foto itu di ambil, tapi dengan semua foto yang ada jelas Kinayu tak dapat menghindar, ia harus segera menjelaskan agar tidak menjadi fitnah yang berkepanjangan.
"Memang benar saya ada hubungan dengan Pak Yudha ," Kinayu menjeda ucapannya, kedua tangannya mencengkram erat ujung rok dengan menahan hawa dingin karena pakaian yang basah akibat siraman berbagai minuman dingin.
"Saya....."
"Kinayu istri kedua saya!"
deg
Semua yang ada di sana tampak terkejut begitupun Kinayu yang tiba-tiba di tarik hingga ia berdiri dan merasakan dekapan dari Yudha hingga ia mampu merasakan kehangatan yang sejak tadi ia butuhkan.
Para mahasiswa yang kini menguping di luar pun ikut tak menyangka, di tambah lagi melihat perlakuan Yudha pada Kinayu yang begitu lembut.
"Bagaimana bisa Pak?" tanya salah satu dosen pengajar.
"Apanya yang tidak bisa Pak? awal saya mengajar disini Kinayu sudah berstatus sebagai istri saya, jadi gosip yang beredar di luar itu tidaklah benar! Kinayu bukan penggoda apa lagi pelakor. Karena saya sendiri yang mendatangi keluarganya untuk melamar."
Yudha mengeratkan pelukannya, ia tau Kinayu kedinginan. Salahnya ia tak langsung datang ke kampus karena ada sesuatu yang membuatnya harus menepikan mobil guna menerima panggilan dari asistennya.
"Sudah jelas sampai di sini? saya harap bapak semua bisa mengurus gosip murahan ini dan mengembalikan nama baik istri saya lagi! permisi!"
__ADS_1
Yudha segera mengangkat tubuh Kinayu dan membawanya keluar dari ruangan yang di penuhi kerumunan mahasiswa. Pemandangan yang begitu mengharukan dan romantis di lihat.
Seseorang yang sejak tadi diam menyaksikan hanya mampu tersenyum getir, tapi ia cukup tenang jika Kinayu saat ini berada pada orang yang benar-benar mencintainya.