
Yudha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia mengumpat dirinya sendiri yang lalai dan lupa akan keberadaan Kinayu. Dia yang meminta Kinayu untuk menunggu tapi dia juga yang mengurung kinayu di ruangannya.
"Bodoh"
"Bodoh"
"Bodoh"
Kekesalan atas kecerobohan dirinya sendiri, Yudha memukul setir hingga telapak tangannya memerah.
Saat ini sudah hampir pagi, jalanan pun masih lengang untuk ia berlagak bak pembalap liar. Yudha tak perduli akan keselamatannya, yang ia pikirkan bagaimana keadaan Kinayu saat ini.
Yudha membunyikan klakson dengan tak sabar hingga scurity yang bertugas merasa kesal dengan orang yang datang di jam yang tak seharusnya.
"Siapa sich....ini kan mobilnya_"
"Cepat buka pintunya kalo tidak aku pecat kalian!" teriak Yudha di sertai ancaman. Security yang baru datang setelah membuat kopi pun segara melempar kopinya dan berlari membantu temannya membuka gerbang karena sempat mendengar seruan dari anak pemilik kampus.
Yudha keluar dari mobil setelah memarkirkan mobil secara asal. "Kalian nyalakan semua lampu koridor termasuk lampu ruangan saya!" seru Yudha lagi.
"Baik Pak," jawab keduanya segera bergerak cepat.
Yudha berlari menuju ruangannya, ia menaiki anak tangga tanpa peduli berapa jumlah anak tangga yang harus ia lalui untuk sampai keruangannya, karena di jam segini semua sarana di matikan termasuk lift.
Tampak jelas raut kekhawatiran di wajah Yudha, dengan bulir keringat yang membasahi dahi ia terus berlari menuju ruangannya.
Salah satu scurity menyusul dengan membawa kunci cadangan apa bila di butuhkan. Dan benar saja, saat sampai di sana Yudha kesulitan membuka pintu. Karena panik ia lupa dengan kunci ruangannya yang berada di dalam tas kerja.
"Cepat Pak!" ucapnya tak sabar, ia benar-benar khawatir hingga melupakan semuanya bahkan saat ini ia masih mengenakan piyama tidur.
Scurity itu terkesiap saat membuka pintu, ada wanita tergeletak di lantai dengan wajah pucat. Yudha yang melihat pintu sudah terbuka segera masuk dan mendorong scurity tersebut hingga terjatuh ke lantai.
"Kinayu!"
Yudha berjongkok di samping tubuh Kinayu, menepuk pipinya tapi Kinayu tak kunjung sadar.
__ADS_1
"Kinayu bangun Kinayu!"
Berulangkali mencoba membangunkan tapi tak kunjung ada pergerakan. Kemudian Yudha segera mengangkat tubuh Kinayu dan membawanya menuju mobil. Nyalakan liftnya!" perintah Yudha.
"Sudah Pak!"
Yudha segera berlari membawa Kinayu menuju mobil, tak perduli dengan tatapan heran kedua scurity di sana. Fokusnya hanya dengan Kinayu yang butuh pertolongan secepatnya.
"Saya kok kayak kenal yang perempuan ya, siapa ya Pak?"
"Sama, saya juga seperti kenal. Tapi ada hubungan apa ya perempuan itu dengan Pak Yudha?" kini keduanya lanjut berjaga dengan sedikit mengghibah.
Yudha kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Sesekali ia menatap Kinayu yang kini belum sadarkan diri. Rasa takutnya menguasai, berulangkali ia mengecek denyut nadi Kinayu dengan tangannya yang bergetar.
"Suster tolong bawa istri saya cepat!" Yudha benar-benar di buat gila, ia bahkan sempat memarahi petugas keamanan yang begitu lama dalam pelayanan.
"Dokter tolong istri saya Dok!" seru Yudha saat dokter ingin masuk ke dalam ruangan tempat Kinayu diperiksa.
"Baik Pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin." Dokter segera masuk dan Yudha melangkah mundur terduduk di kursi tunggu dengan wajah tertunduk. Sudah dua kali ia mengantar Yudha ke rumah sakit. Dan dua kali pula ia di buat cemas.
Perasaan apa yang kini menyelimuti hingga ketakutan dan kekhawatiran menjadi satu membuatnya tak tenang. Hampir setengah jam ia menunggu, akhirnya dokter keluar dengan menghela nafas berat.
"Kondisi istri bapak masih sangat lemah, selain asam lambung yang tinggi, istri anda sempat kekurangan pasokan oksigen dan itu yang membuat kondisinya semakin melemah." Sebelumnya dokter sudah tau penyebab Kinayu tak sadarkan diri dari suster yang berjaga dan membantu Yudha membantu Kinayu ke ruang instalasi.
Pagi ini Kinayu terjaga dan membuka mata dengan sempurna, sempat terheran dimana dia berada tapi cukup hafal dengan ciri dari ruangan dan hawa obat yang menusuk Indra penciuman.
Tangannya terasa begitu berat, dia terhenyak melihat Yudha tertidur dengan berbantalkan lengan yang tak di infus. Ingatan akan ketakutan semalam kembali melintas, seketika keningnya mengerut dengan bulir keringat yang mulai timbul.
"Kamu kenapa?"
Kinayu menatap pria itu dengan tatapan sendu berbalut takut. Seketika tangannya meraih tangan Yudha dan menggenggamnya dengan erat. Nafasnya pun mulai tak beraturan hingga dadanya naik turun merasa sesak.
Yudha yang peka segera memeluk Kinayu, ia yakin ini efek dari kejadian semalam. Yudha memeluk erat dan memberi kenyamanan agar wanita itu tenang. Mengusap lembut punggungnya dan membisikkan kata-kata menenangkan dengan sesekali mengecup pucuk kepala Kinayu.
"Jangan takut ada aku, maaf ya telah meninggalkanmu sendiri. Aku lupa, aku ceroboh. Maafkan aku..."
__ADS_1
Yudha yang kemarin begitu tegas dan bijak, hari ini sifat berkuasa lenyap entah kemana. Kinayu pun berangsur tenang hingga Yudha kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Menatap wanita dengan mata teduh yang kini terus menyorotnya membuat Yudha gemas.
"Mau apa?"
"Bapak mau kemana?" tanyanya balik.
Yudha yang sudah beranjak kembali terduduk dan mendekat, menatap wanita itu dengan perasaan entah. Tapi ia cukup lega Kinayu sudah baik-baik saja.
"Aku nggak akan kemana-mana, hanya ingin memanggil dokter agar memeriksa keadaanmu."
Setelah dokter memeriksa keadaan Kinayu dan dinyatakan lebih baik hanya ada trauma yang berangsur akan memulih.
"Kamu mau kemana?" tanya Yudha segera mendekat dan membantu Kinayu yang hendak turun dari ranjang.
"Aku mau ke toilet Pak, agh....." Kinayu tak menyangka gerakan Yudha begitu cepat dan kini tubuhnya sudah melayang.
"Aku bisa jalan sendiri Pak!"
"Berpegangan dan jangan banyak bicara!" tegasnya, seketika Kinayu merengut mendengar nada bicara Yudha yang kembali ke mode awal. Tapi ia tetap menurut dengan mengalungkan tangannya di leher Yudha.
"Sampai sini saja Pak!"
Yudha tak menghiraukan, dia menurunkan Kinayu di dalam toilet dan berdiri tanpa niat keluar dari sana.
"Pak, saya mau buang air. Bapak ngapain di situ? keluar Pak!"
"Tanganmu di infus, nanti jika butuh sesuatu kamu sulit melakukannya sendiri!"
"Tapi tangan saya ada dua Pak! yang satu masih aman, malah tadi sempat bapak buat bantal sampai kebas."
Selalu saja Kinayu di buat geram dengan sikap Yudha yang ingin mendominasi dan tak mau di bantah. Alhasil ia buang air kecil dengan suara khas yang menggelitik hingga wajahnya memerah menahanmalu.
"Sudah?"
"Tunggu! berbalik Pak, aku belum membersihkannya!" Kinayu kembali mencegah tapi tak di hiraukan.
__ADS_1
"Akan aku bantu!" Yudha segera mendekat dan Kinayu dengan cepat menolak, Yudha tak memikirkan bagaimana malunya dia, dengan sesuka hati ingin membantu dirinya membasuh bagian inti.
"Pak, masalah kayak gini masak iya harus bapak yang melakukannya!" Kinayu sudah benar-benar tak bisa berbuat apa-apa saat Yudha lagi-lagi tak terbantahkan. Bahkan ia serasa ingin memukul kepala Yudha dengan gayung saat jemari pria itu dengan leluasa bergerak di bawah sana.