ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 40


__ADS_3

"Belain aja terus mas! aku tuh nggak suka ya mas, aku tuh nggak mau berbagi!" ucap Silvi saat Yudha baru masuk ke dalam kamar.


Yudha tak menanggapi, dia segera melangkah menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana. Melihat itu Silvi pun segera merangkak naik ke ranjang menyusul Yudha.


"Mas!"


"Sudah malam, ayo tidur!" Yudha segara menarik Silvi kepelukannya dan terlelap tanpa ada perdebatan.


Sudah seminggu Yudha tak pernah tidur di kamar Kinayu dan sudah seminggu juga Silvi tak mengganggu Kinayu. Ada rasa lega di hati Kinayu terbebas dari sikap kasar Silvi, tapi ada hati yang terusik saat melihat Yudha terang-terangan bersikap lembut pada Silvi.


Seperti halnya malam ini, saat Silvi pulang dan mendapati Kinayu sedang melayani Yudha makan saat itu juga Silvi mencari masalah.


"Jangan mencari perhatian dengan mas Yudha!" Sentaknya dengan merebut piring yang ada di tangan Kinayu dan meletakkannya dengan kasar di atas meja makan.


"Tapi mbak aku cuma mau menyiapkan makan Pak Yudha!" ucapnya membela diri.


"Mas Yudha terbiasa sendiri tanpa harus kamu layani!" masih dengan nada bicara yang tinggi Silvi begitu emosi.


"Sudah, benar kata Silvi. Aku bisa ambil sendiri," Yudha segara mengisi piring yang baru dan mulai makan dengan Silvi yang duduk disampingnya tanpa mau meninggalkan.


Kinayu menatap Yudha yang kini makan dengan tenang kemudian dia pun segera makan dan menghabiskannya agar segera masuk kamar menghindari terjadinya perdebatan lagi.


"Kamu tidak makan?"


"Tidak mas, sudah malam nanti aku gendut seperti dia!" jawab Silvi dengan menunjukkan jarinya ke arah Kinayu.


"Hhmm..."


Silvi tersenyum miring pada Kinayu, kemudian kembali menatap Yudha. "Mas aku beli lingerie baru, nanti aku coba ya. Kamu pasti suka!" ucapnya dengan suara menggoda dan manja, kemudian melirik Kinayu yang diam menundukkan kepala.


"Ayo kita ke kamar!" ajak Yudha tanpa menghabiskan makannya.

__ADS_1


Silvi tersenyum penuh kemenangan mendapati Yudha merangkul pundaknya dan mengajak masuk ke dalam kamar. Dengan manja Silvi pun menempel dengan memeluk pinggang Yudha.


Sesak, entah mengapa hati Kinayu merasa tak nyaman melihat pemandangan di depannya. Diapun tak berselera meneruskan makan, membersihkan sisa makanan dan segera masuk kedalam kamar.


Paginya Kinayu tak beranjak dari kursinya saat Yudha turun bergandengan tangan dengan Silvi. Kinayu tak melayani tak juga menoleh ke arah keduanya. Ia fokus sarapan agar bisa segera berangkat ke kampus.


Silvi menatap sinis Kinayu yang hanya diam tak berani mendekati Yudha. "Mas, makasih ya yang semalam. So hot baby...." Silvi mengedipkan sebelah matanya dengan wajah menggoda. Kemudian mengecup pipi Yudha dengan mesra.


Kinayu sempat menghentikan kunyahannya tapi setelahnya ia segera menghabiskan makan agar lebih cepat meninggalkan keduanya.


Yudha tak menjawab, ia hanya diam dan segera memulai sarapan.


Kinayu segera pergi setelah menyelesaikan sarapannya melangkah keluar rumah tanpa pamit pada Yudha ataupun Silvi, hingga Silvi melihatnya dengan tatapan kesal.


"Nggak sopan kamu ya! mulut kamu gunanya hanya untuk makan? disini ada orang dan kamu anggap kita apa?" sentak Silvi menghentikan langkah Kinayu.


"Sudah, biarkan saja. Jangan marah-marah terus nanti wajah kamu berkeriput!" ucapnya dengan lembut menghentikan sikap Silvi dan membiarkan Kinayu pergi.


"Please sayang stop! habiskan makannya dan kita berangkat oke!"


Kinayu memejamkan mata mendengar panggilan sayang dari Yudha pada Silvi yang baru ia dengar untuk pertama kalinya semenjak ia tinggal di rumah itu.


Siang ini setelah selesai kelas pertama Kinayu memilih untuk ke perpustakaan tanpa mengikuti langkah kedua sahabatnya yang memilih pergi ke kantin.


Entah mengapa mood nya anjlok, ia hanya ingin fokus belajar mengalihkan segala pikiran yang menggangunya akhir-akhir ini.


Masuk dengan tersenyum pada penjaga perpustakaan yang sudah lama mengenalnya dan berjalan mencari buku di setiap rak yang ia tuju.


Mata Kinayu fokus mencari dengan jemari yang menyentuh satu persatu sisi buku yang tertata rapi. Hingga satu buku menarik perhatiannya, ia mengambil buku itu dan segera mencari tempat duduk di pojok ruangan agar lebih nyaman.


"Lumayan masih ada satu jam," gumamnya kemudian mulai membaca dengan fokus. Halaman demi halaman buku ia baca dengan serius hingga tak sadar ada pria yang duduk dan mengamati tanpa berniat mengganggu. Hingga Kinayu sadar saat melirik ada tangan seseorang menyentuh jemarinya.

__ADS_1


"Baca aja aku nggak akan ganggu, aku hanya rindu!"


Kinayu cukup terkejut kemudian melihat sekitarnya semua tampak hening dan sibuk dengan bacaan masing-masing. Dia pun segera menunduk dan kembali memfokuskan diri tanpa peduli dengan pria di depannya.


Tinggal tersisa lima belas menit sebelum masuk kelas. Kinayu segera mengembalikan buku dan meninggalkan pria itu yang masih menatapnya dengan tatapan yang penuh makna.


"Makasih ya mbak..."


"Udah lama nggak kesini, sekalinya kesini sebentar banget, biasanya juga sampe tidur-tidur!" ucap pegawai perpustakaan tersebut.


Kinayu tertawa ramah, "aku masih ada kelas mbak, kapan-kapan dech kalo pas pulang kejebak hujan aku numpang tidur disini, tapi jangan di marahin ya!"


"Kapan aku pernah marahin kamu, malah aku suruh kamu pindah ke pojokan biar nggak ada yang ganggu! Eh tapi makin kesini makin cantik, aura nya makin keluar, duit banyak nich kayaknya!" ledeknya.


"Di syukuri aja mbak, rejeky anak Sholehah!"


"Dari dulu anak Sholehah, kapan ganti menjadi istri Sholehah?"


Kinayu tak menjawab, tapi hatinya kembali merasa tak nyaman. Hanya membalas dengan candaan kemudian pamit untuk masuk ke kelas.


Tepat jam tiga Kinayu menyelesaikan kelas hari ini, cukup padat karena ada tiga kelas dan memerlukan konsentrasi yang ekstra. Sedangkan kedua sahabatnya sudah pulang karena hanya mengikuti dua kelas.


Kinayu melangkah menuju parkiran dengan suasana kampus yang cukup lengang, karena sudah banyak yang meninggalkan area kampus dengan terburu-buru sebab langit sudah mendung.


Wanita itu melangkah gontai dengan santai, toh ia bawa jas hujan. Jadi tak perlu takut kebasahan atau jika lebat ia bisa mampir ke perpustakaan sampai sedikit terang.


Kinayu sempat menangkap sosok Satria dan wanita berambut ikal siapa lagi jika bukan Rara yang juga melangkah menuju parkiran bersama. Tak ada lagi rasa cemburu, ntah mengapa lebih tenang saat melihat Satria sudah dekat dengan wanita lain.


"Mmmmppptttfff....."


Kinayu meronta saat ada tangan membekap mulutnya dan menyeretnya hingga mundur kebelakang. Ia tak dapat melihat siapa tapi cukup hafal dengan parfum yang orang itu pakai.

__ADS_1


__ADS_2