ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 67


__ADS_3

"Maaf nona, terpaksa rahim anda harus di angkat!"


jeduar


Kehancuran macam apa hingga tak tersisa kebahagiaan sedikitpun. Inikah karma atau siksaan dunia. Sudah jatuh tertimpa tangga dan tak ada lagi yang tersisa. Allah mencabut semua yang ia punya hingga ke akar-akarnya. Ucapan yang dulu pernah ia umbar kini menjadi kenyataan. Dan tak tau lagi harus bagaimana. Hidup pun serasa sudah tak berharga.


"Bagaimana bisa Dok?" tanyanya dengan derai air mata yang begitu deras.


"Benturan yang keras di perut mengakibatkan kehancuran di rahim anda. Dan dengan sangat berat hati kami mengangkatnya untuk kesembuhan anda. Selain itu...."


"Apa lagi Dok?" tanya Silvi tak sabar.


"Kaki kiri anda terpaksa harus kami amputasi karena hancur terjepit mesin mobil bagian depan. Maaf....jika ini membuat Anda bersedih. Tapi semua yang kami lakukan demi kesehatan anda."


deg


"Kenapa tidak kau ambil nyawaku sekalian Tuhan! kenapa? hiks....hiks...hiks...." Silvi hancur dan benar-benar hancur. Sudah tak ada lagi yang di pertahankan dan di banggakan dari dirinya. Seorang model papan atas yang di agungkan kini menjadi cacat dan tak dapat melakukan apa-apa.


"Bagaimana dengan teman saya Dok?" seketika ia teringat akan Gilang. Semua berawal dari perdebatan keduanya. Hingga ia marah dan gelap mata. Silvi menyesal sangat menyesal. Tapi apakah penyesalan bisa mengembalikan semuanya. Jawabannya adalah Tidak! penyesalan akan menambah masalah dan sakit hati yang mendalam.


"Keadaan teman anda kritis, tapi anggota tubuhnya masih lengkap dan hanya lecet di beberapa titik. Hanya saja benturan di kepala membuatnya harus mengalami pendarahan."


Silvi memejamkan mata dengan mencengkeram sprei. Hidupnya sudah tak berarti lagi dan tak tau harus seperti apa ia melangkah ke depan. Andai ia tak tergoda. Andai ia menurut apa kata Yudha. Dan andai ia bisa mempertahankan rumah tangganya tanpa memikirkan karir dan bersikap sebagai istri yang baik. Semua tak akan seperti ini....Dan sekarang hanya andai dan sesal yang tersisa.


Silvi menyerah dan hanya bisa menerima, entah ia akan kuat atau justru memilih pergi dari kenyataan. Dia hanya bisa meratapi nasib tanpa ada keluarga yang menemani. Kabar akan dirinya yang masuk rumah sakit dan cacat juga begitu cepat tersebar hingga ke telinga keluarganya.


Yudha pun telah mendapat kabar tentang sakitnya Silvi, tapi tak untuk di jadikan alasan ia mengurungkan perceraian. Bahkan sidang tetap berlangsung walaupun tanpa kehadiran Silvi. Ia ingin semua cepat selesai dan bisa hidup damai dengan sang istri tercinta.


Yudha terus mendampingi Kinayu di rumah sakit hingga tubuh dan kandungannya benar-benar kuat kembali. Dan setelah dua hari di rumah sakit, kedua mertuanya datang mengunjungi.

__ADS_1


Awalnya Kinayu begitu takut hingga menggenggam erat tangan Yudha, ia takut orang yang belum bisa menerimanya akan kembali menyakiti. Bukan takut akan dirinya yang tersakiti tetapi ia takut kandungannya yang akan kembali menjadi korban.


Yudha yang mengerti pun mengusap lembut tangan Kinayu, menenangkannya jika semua akan baik-baik saja.


"Jangan khawatir sayang, Mamah ingin menjengukmu bukan menyakitimu. Dan ada aku yang akan melindungimu," bisik Yudha dan mengecup lembut kening Kinayu.


"Kinayu...." lirih Mamah melangkah mendekat, beliau tersenyum menatap menantu yang telah ia siakan. Meraih tangan Kinayu dan menggenggamnya dengan air mata yang sudah membasahi pipi.


"Bagaimana kabar menantu mamah?"


Kinayu tercengang mendengar pertanyaan dari Mamah, bukan pertanyaannya tetapi panggilan "menantu mamah" yang membuatnya tertegun tak percaya.


"Sayang..." lirih Yudha menyadarkan sang istri yang diam dengan lamunannya.


"Eh....i.iya Bee, Alhamdulillah kabarnya sudah lebih baik Bu." Kinayu melempar senyum, ia berusaha untuk tenang dan menerima kedatangan mertuanya dengan baik.


"Syukurlah...panggil Mamah sepeti Yudha nak! Mamah datang untuk meminta maaf kepadamu, atas semua kesalahan mamah dan ucapan mamah yang telah menyakiti kamu. Maaf telah berfikir buruk padamu. Mamah menyesal nak, mau kah menantu mamah memaafkan?" tanyanya dengan wajah penyesalan. Dada Mamah begitu sesak mengingat setiap ucapan kasarnya pada Kinayu.


"Kinayu sudah memaafkan Mamah dan tak ada ganjalan di hati Kinayu pada Mamah. Hanya Kinayu mohon jangan sakiti anak Kinayu Mah, jika Mamah ingin Kinayu pergi...."


"Sayang.." Yudha tak terima ucapan sang istri. Bagaimana mungkin ia rela Kinayu pergi begitu saja sedangkan cintanya sudah begitu besar pada wanita itu.


"Tidak nak, Mamah tidak akan mengusir kamu lagi, apa lagi menyakiti anak kamu. Itu cucu Mamah dan Mamah sangat mengharapkannya. Maafin Mamah ya Kinayu, Mamah menyesal. Kamu menantu satu-satunya di keluarga Prasetya nak."


Kinayu terharu mendengar ucapan mamah mertua yang begitu tulus dengan segala penyesalan yang ia tunjukan. Kianyu merentangkan kedua tangannya ingin memeluk beliau untuk pertama kalinya. Begitu bahagia hati Kinayu, akhirnya bisa di terima baik bahkan di cintai dengan sepenuh hati.


Perjalanan rumah tangga yang sulit sudah ia lalui, begitupun penyiksaan di awal pernikahan telah ia lewati dengan baik. Dan mampu bertahan dengan segala kesabaran dan keikhlasan. Keluarganya pun kini bisa kembali memulihkan perekonomian yang sempat jatuh dan bapak bisa lebih hati-hati dalam bertindak. Lebih menghargai apa yang telah di perjuangkan dan tidak lagi bertindak gegabah.


Kegagalan hidup di jadikan pelajaran berharga yang tak akan terlupakan. Harapan Kinayu saat ini memiliki keluarga yang utuh dengan penuh kasih sayang. Dan menjadi istri serta ibu yang baik untuk suami dan anak-anaknya.

__ADS_1


"Makasih telah menerima Kinayu dengan baik Mah."


"Sama-sama sayang, Mamah juga sangat berterima kasih padamu telah memaafkan Mamah."


Yudha dan Papah tersenyum hangat, mata keduanya tampak basah melihat pemandangan yang mengharukan.


Yudha menepi saat merasakan getaran di ponselnya, ia tak ingin mengganggu kedekatan antara ibu dan istrinya. Yudha mengernyit melihat siapa orang yang menghubungi dirinya.


"Hallo..."


"Maaf Pak Yudha jika saya mengganggu Bapak, kebetulan di ruangan ibu Gea tidak ada yang menjaga. Dan kini Ibu Gea sudah sadar dan ingin bertemu dengan Pak Yudha dan istri. Bagaimana Pak? apakah bisa datang sekarang?" tanya Dokter yang menangani Gea.


"Baik, saya akan segera kesana."


"Terimakasih Pak, saya tunggu."


Yudha menarik nafas dalam, kemudian kembali masuk kedalam ruangan. Kinayu menatapnya dengan senyum manis yang membuat Yudha gemas dan ingin sekali mengecup bibir tipis itu.


"Sayang, kita di tunggu Gea di kamarnya."


"Gea.....?" tanyanya heran.


"Maaf aku lupa memberitahumu jika Gea sudah melahirkan dan kondisinya sempat kritis karena pendarahan. Saat ini ia telah siuman dan menunggu kita," tutur Yudha menjelaskan.


Kinayu menganggukkan kepala, ia segera beranjak dari tidurnya di bantu oleh mamah. "Ayo Bee..."


"Pakai kursi roda ini ya sayang!" Yudha mengambil kursi roda yang telah di siapkan sebelumya.


Yudha mendorong Kinayu menuju kamar di mana Gea di rawat. Kedua orangtuanya juga mengikuti untuk menjenguk Gea. Sesampainya di kamar itu sudah ada Papah Gea dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Mas.." sapa Papah Gea dan segera mendekati Papah Yudha dan mendekapnya. Entah apa yang terjadi, tapi Gea saat ini melambaikan tangan agar Kinayu dan Yudha mendekat.


__ADS_2