
Sampai di rumah Yudha segera masuk kamar dan membersihkan diri, dalam perjalanan tadi pun ia hanya diam tak membuka suara. Kinayu yang mengerti hanya diam tak menegur, memberi waktu agar suasana hati sang suami kembali pulih. Kinayu menyiapkan pakaian ganti dan meletakkan di atas ranjang kemudian sengaja menunggu di sofa untuk bergantian masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah 20 menit Yudha keluar dengan sikap dinginnya, mengambil baju ganti tanpa menatap dan segera masuk ke kamar ganti. Melihat itu kinayu hanya bisa menghela nafas berat. Ini kali pertama melihat Yudha cemburu hingga merajuk dan diam membisu.
"Ini aku atau dia yang seperti anak kecil, aku yang hamil kok dia yang sensitif...."
Kinayu segera masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan diri, karena Mamah mertua ingin pamit.
Kinayu segera turun menemui Mamah mertua yang sedang menimang Tama. Disana tampak Yudha duduk santai dengan ponsel di tangannya.
"Mamah sudah mau pulang?"
"Iya nak, keburu Papah mu pulang. Papah itu jika sampai rumah tidak menemukan Mamah, suka repot sendiri. Jadi Mamah pulang dulu ya, lusa Mamah kesini lagi. Setelah menidurkan Tama di kamar, kamu beristirahatlah dulu!"
"Iya Mah, makasih ya Mah telah menjaga Tama. Maaf Kinayu merepotkan." Kinayu meraih Tama dan menggendongnya, walaupun sedikit kesulitan tetapi masih bisa di kondisikan. Dan segera membawa Tama masuk kamar karena sudah terlelap.
"Kasian Kinayu, kenapa kamu malah diam saja Yudha!" tegur Mamah saat Yudha mengantar beliau sampai di halaman.
"Hhmm....."
"Jangan suka merajuk sama istri, tidak baik! istri lagi hamil kamu ambekin begini. Bawa perut saja dia susah masih kamu cuekin, jangan menjadi suami yang egois Yudha. Kamu tidak ingat dengan Gea?"
deg
Yudha mengusap wajahnya kasar, ia menarik nafas dalam meredakan emosinya. Benar kata Mamah, Kinayu sedang hamil besar mana mungkin ia sempat menggoda pria lain. Cemburu menutupi akal sehatnya hingga membuat istrinya kesulitan.
"Mamah hati-hati pulangnya ya, Yudha ingin segera menyusul Kinayu."
Mamah hanya menggelengkan kepala melihat putra nya berlari masuk menyusul istrinya. "Dasar anak itu!"
Yudha masuk ke dalam kamar Tama dengan perlahan. Tampak disana istrinya sedang memeluk Tama dengan tidur di sofa bed yang cukup untuk mereka berdua.
__ADS_1
Yudha melihat keduanya begitu lelap hingga tak mendengar ia masuk kamar. Yudha mendekat menatap wajah lelah sang istri dan mengecup keningnya dengan sayang.
"Maaf telah mendiamkanmu, aku terlalu cemburu dan takut. Sampai melupakan kondisimu yang tengah hamil besar." Yudha menyesal apalagi jika mengingat Kinayu yang menggendong Tama menuju kamar menaiki tangga dengan susah payah.
Yudha mengecup pipi gembul Tama dan keluar kamar membiarkan kedua harta berharganya untuk beristirahat. Yudha memilih masuk ke ruang kerja dan menyelesaikan pekerjaan yang ia tinggal hari ini demi menemani Kinayu ke rumah sakit.
Hingga sore keduanya baru terbangun, dengan telaten Kinayu mengurus Tama memandikan, memberi makan, menemani bermain sampai terlelap kembali tepat di jam makan malam. Kinayu sejak tadi pun baru keluar kamar Tama dan segera menuju dapur untuk memanaskan makanan.
Wanita itu belum melihat suaminya dan menganggap Yudha masih merajuk. Meskipun begitu ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai istri dengan baik tak perduli jika Yudha masih marah. Lanjut menyiapkan piring untuk makan dan membuatkan kopi untuk suaminya.
Yudha turun dengan wajah datar, menatap Kinayu sejenak kemudian duduk dan menyeruput kopi buatan sang istri. Kinayu pun segera mengisi piring Yudha dengan nasi dan lauk pauk yang telah tersedia. Keduanya makan dengan khidmat tanpa ada obrolan dan Kinayu segera membereskan bekas makan setelah keduanya menghabiskan isi piring.
Yudha diam dan tak beranjak, hanya memperhatikan sang istri hingga semua bersih dan melihatnya melangkah menuju kamar.
Grep
Kinayu menghentikan langkahnya saat merasakan pelukan begitu erat, ia mengulum senyum dan diam tanpa niat memulai pembicaraan. Menunggu Yudha berucap dan membiarkan sang suami menciumi dirinya tanpa mengeluarkan penolakan.
Agak lama Kinayu menunggu hingga kakinya sedikit pegal dan hampir menyerah. Tetapi tak lama Yudha akhirnya bersuara setelah puas menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang menenangkan.
"Sayang, apa kamu marah?" tanyanya lagi dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Kinayu.
"Aku cemburu, aku tidak suka melihat kamu berdekatan dengan Satria apa lagi sampai melempar senyum padanya. Aku marah sayang, tapi aku sadar jika sikapku salah. Seharusnya aku tidak mendiamkanmu dan menyalahkan dirimu. Aku bahkan lupa jika kamu tengah mengandung anakku. Aku terlalu takut kamu pergi, maaf sayang....aku meragukan kesetiaanmu."
Kianyu tersenyum dan mengusap tangan Yudha yang masih melingkar di perutnya. Membalikan badannya dan menatap Yudha begitu dalam.
"Aku bukan dia Bee, apa dengan aku mau mengandung anakmu dan bertahan sejak awal hingga aku menjadi yang utama belum cukup membuktikan jika aku setia?"
"Maaf sayang, aku salah......aku terlalu mencintaimu." Yudha kembali memeluk Kinayu, sedikit terhalang karena perut sang istri yang sudah besar.
"Segitunya ya cinta sama aku sampai harus cemburu di depan mahasiswi mu?"
__ADS_1
Yudha merenggangkan pelukan, wajahnya tampak merona dengan menggaruk tengkuknya. Sang istri berhasil menggoda hingga ia malu sendiri rasanya. Dia pun baru sadar jika telah bersikap kekanakan. Apa lagi di sana ada Satria, sudah pasti diam-diam mereka menertawakan dirinya.
"Jangan meledekku sayang!"
Kinayu menggelengkan kepala dan merentangkan kedua tangannya dengan senyum mengembang. "Gendong, aku capek berdiri terus!" rengeknya.
"Apa aku kuat membawamu sampai kamar?"
"Jadi aku terlalu besar hingga kamu tidak kuat menggendongku? katanya seksi, kamu bohong Bee, aku besar kan?" ucapnya cemberut dan segera berbalik badan hendak menaiki tangga.
Happ
"Bee!"
"Jangan lupakan jika suamimu begitu kuat sayang, jangankan menaiki tangga, menaikimu sehari semalam saja akan aku lakukan asal kamu senang!"
Yudha segera membawa Kinayu menuju kamar, menaiki tangga dan merebahkan sang istri di ranjang.
"Capek ya Bee?"
"Sedikit, karena anak tangganya terlalu banyak bukan karena tubuhmu yang berat. Tapi aku berhasil kan?"
"Iya karena suamiku hebat!" ucapnya dengan mengedipkan mata. Padahal Kinayu rasanya ingin tertawa melihat wajah lelah Yudha.
"Ayo kita tidur!" ajak Kinayu yang sudah menarik selimut.
"Tidak ingin bermain dulu denganku?"
"Apakah masih ingin bermain setelah nafasmu tersengal begini?" Kinayu mengulum senyum dan segera menutupi wajahnya dengan selimut. Dia tertawa terbahak melihat wajah suaminya yang menganga mendengar ucapannya.
"Kamu benar-benar meragukanku sayang?" Yudha menarik selimut, ia gemas mendengar sang istri yang menertawakannya dan menghujani wajah Kinayu dengan ciuman.
__ADS_1
"Ampun Bee....!" seru Kinayu tetapi Yudha tak menghiraukan dan terus menghujani wajahnya dengan ciuman hingga ia kegelian.
"Suamiku sungguh meresahkan!"