
Gilang membuka mata setelah sebulan dinyatakan koma. Pandangannya sempat buram tapi setelahnya ia mampu melihat dan menyapu pandang melihat sekitar dengan teliti. Aroma obat-obatan memudahkan dirinya mengenali tempat dimana ia berada. Sendiri tanpa ada keluarga atau pun kerabat. Hanya Yudha yang terkadang datang untuk menjenguk dan menanyakan kondisi Gilang pada dokter yang menangani.
Meskipun Gilang telah berbuat yang tidak baik pada keluarganya, dia tetaplah sahabatnya dan ayah kandung dari anak sulungnya. Apa lagi Yudha tau persis kehidupan Gilang yang memang tinggal sebatang kara karena ia seorang yatim piatu yang memiliki perusahaan hasil kerja kerasnya.
Sedikit demi sedikit bayangan akan semua kejadian yang telah terjadi padanya kembali teringat, hingga terlintas satu nama yang ingin ia temui. Perlahan ia berusaha untuk bangun tetapi tubuhnya masih begitu kaku dan terasa ngilu. Jangan lupakan kepalanya yang masih sedikit nyeri bekas operasi.
"Pak Gilang sudah sadar, saya panggilkan dokter dulu ya Pak!" ucap salah satu perawat yang kebetulan ingin mengecek cairan infus Gilang.
Dokter memeriksa dengan teliti dan bersyukur Gilang telah keluar dari masa kritis dan kembali sadarkan diri.
"Hasilnya bagus Pak Gilang, tinggal menunggu pemulihan beberapa hari lagi dan Bapak bisa pulang. Suatu keajaiban yang luar biasa, padahal Bapak sempat kritis dan koma," jelas dokter tersebut.
Gilang menganggukkan kepala dan berterima kasih pada dokter tersebut. "Dok, berapa lama saya koma?"
"Sekitar satu bulan Pak Gilang," jawabnya dengan menghela nafas berat.
"Apakah ada yang menjenguk selama saya dirawat Dok?" pertanyaan yang mengandung harapan, Gilang sangat berharap Gea datang menjenguknya selama ia sakit.
"Ada Pak," jawabnya lagi.
"Siapa Dok?" tanyanya lagi dengan begitu penasaran.
"Pak Yudha yang sering datang kesini Pak. Beliau yang selalu menjenguk dan menanyakan perkembangan kondisi Pak Gilang. Dan beliau juga yang bertanggung jawab atas semua biaya administrasinya."
__ADS_1
Air mata Gilang hampir luruh, sahabat yang ia khianati justru selalu ada dan tak membenci. Begitu bodohnya dia yang gelap mata hingga menyakiti hati dan mendekati istrinya demi cinta yang menyesatkan dan berujung kehancuran.
"Apakah hari ini dia sudah datang Dok?" Gilang ingin sekali bertemu dan meminta maaf, ia menyesal apa lagi tak hanya Yudha yang ia sakiti, sepupunya juga. Dan selama ini Gilang tidak tau menahu jika Gea adalah sepupu Yudha.
"Pak Yudha biasanya datang di sore hari, sepulang kerja ia menyempatkan datang kesini. Jika beliau tidak sibuk mungkin sebentar lagi sampai."
"Terima kasih Dok," jawabnya.
"Jika sudah tidak ada yang di tanyakan lagi saya permisi dulu Pak Gilang, karena ada pasien berikutnya yang harus di periksa. Setelah makan segeralah minum obat agar kesehatan anda semakin membaik.
"Iya Dok." Gilang menarik nafas dalam setelah melihat dokter keluar dari ruangan.
"Berarti Gea benar-benar tidak datang, sampai hati dia tidak mau menemuiku padahal aku masih sah menjadi suaminya. Lalu bagaimana dengan keadaan bayiku...Bahkan aku belum sempat memberikan nama untuknya. Ya Tuhan ..... dimana mereka sekarang, apakah sudah kembali ikut ayahnya ke Kalimantan. Atau kembali ke apartemen..."
Lamunannya teralihkan saat melihat seseorang yang ia tunggu datang. Dadanya sesak melihat sang sahabat dengan wajah tanpa amarah dan kebencian menghampiri. Bahkan Yudha tersenyum melihat dirinya yang kini sudah sadar.
"Syukurlah loe udah sadar, gimana? ada keluhan nggak?" Yudha begitu akrab dan itu membuat Gilang semakin merasa bersalah.
"Yud," lirih Gilang merentangkan kedua tangannya dan Yudha menyambut dengan baik, memeluk Gilang seperti dulu lagi. "Sorry, gue banyak salah sama loe. Gue sudah khianati persahabatan kita. Bahkan gue menghancurkan rumah tangga loe! Tapi justru loe yang selalu ada di setiap gue ada masalah dan nggak punya siapa-siapa. Makasih Yudha ...." Gilang meneteskan air mata, bahkan hampir terisak.
"Gue udah maafin loe, sekarang loe harus sehat lagi biar bisa kembali bangkit dan memulai hidup yang baru." Yudha melepaskan pelukannya dan menepuk pundak Gilang. Tak mungkin dia tidak terharu melihat wajah penyesalan Gilang dan ucapan maaf untuknya. Tapi Yudha pun harus kembali menyemangati Gilang karena Yudha yakin setelah ini Gilang akan lebih hancur dari sebelumya.
"Memulai hidup baru bersama Gea?" tanya Gilang dengan wajah penuh harap tetapi setelahnya ia tertegun saat melihat Yudha menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa maksud loe? apa Gea minta cerai? atau sudah menikah lagi? kenapa secepat ini? kenapa nggak nunggu gue sadar baru mengambil keputusan?" Gilang memberondong Yudha dengan banyak pertanyaan. Wajahnya pun tersirat luka yang mendalam di balik penyesalan yang ia rasakan.
"Gea......." Yudha menarik nafas dalam dengan menatap Gilang, berusaha kuat untuk menjelaskan pada Gilang. Karena kesedihan keluarga atas perginya Gea masih begitu terasa.
"Gea?" lanjut Gilang.
"Gea sudah pergi untuk selamanya, ia meninggal setelah sempat sadar dan memberi amanah." Yudha menghela nafas panjang setelah mampu menjelaskan.
Gilang terdiam mencerna kata-kata yang Yudha lontarkan, pergi.... meninggal..... hingga ia paham maksud Yudha mengatakan demikian. Jantungnya hampir berhenti berdetak saat kenyataan pahit kembali terungkap. Gea telah meninggal lalu bagaimana dengan dirinya. Bahkan Gilang belum sempat meminta maaf atas perlakuannya selama ini.
Gilang terisak dengan Yudha menepuk pundak Gilang menguatkan. Dan Gilang tiba-tiba terdiam, kembali menatap Yudha dengan tatapan penuh tanda tanya. "Terus anak gue?"
"Anak loe baik-baik saja sama gue. Dia menjadi anak gue yang sah setelah Gea meminta gue dan istri untuk mengangkat anaknya sebelum dia pergi. Dan....." Yudha menggantungkan kalimat membuat Gilang penasaran.
"Dan apa?"
"Gea tidak memperbolehkan anaknya di berikan oleh siapapun termasuk ayah kandungnya."
Gilang memejamkan mata menahan sakit yang mendalam, ini bukan salah Gea justru dialah yang paling bersalah karena sejak bayi itu masih di perut ibunya Gilang sama sekali tak mempedulikan. Pantas jika Gea tak sudi anaknya di asuh olehnya yang merupakan ayah biologis bayi itu.
"Loe jangan khawatir, meskipun Tama sudah menjadi anak gue, tapi gue nggak akan menutup akses untuk kalian bertemu. Loe boleh ajak dia jalan-jalan atau makan diluar dan bermain-main bersama. Loe bisa datang kapan pun loe mau. Menjaga dia sama-sama walaupun dia kini menjadi anak gue!" ucap Yudha sebelum pulang.
Setelah Yudha meninggalkan kamar itu, Gilang kembali terisak ia merasa gagal menjadi ayah dan suami yang baik. Hidupnya seakan tak berarti lagi. Bahkan istrinya sampai tak percaya dan memberikan anaknya pada orang lain.
__ADS_1
"Loe bodoh Gilang! Loe bodoh! kurang apa bini loe....tapi loe tega selingkuh dan nyakitin sampe dia nggak kuat hidup sama loe! hiks....hiks....ampuni aku Tuhan. Berikan tempat yang lapang untuknya. Dia wanita yang sempurna....."