ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 46


__ADS_3

Pagi ini Kinayu sudah selesai menyiapkan baju ganti dan membuatkan kopi yang ia letakkan di nakas. Sementara Yudha masih berada di dalam kamar mandi Kinayu segera merapikan buku dan penampilannya.


Wanita hamil itu sudah siap kembali beraktivitas. Bertemu dengan kedua sahabatnya lagi yang tampak cerewet selama ia tak bisa ngampus karena tak Kinayu ijin kan untuk datang menjenguk. Bukan apa-apa, kerena ini rumah milik Yudha dan Silvi, ia tak ingin di anggap tak sopan jika mengajak kedua sahabatnya datang.


"Sudah rapi?" Yudha keluar dengan handuk yang melilit di pinggang membuat wajah Kinayu seketika merona. Apa lagi bayangan pertukaran keringat semalam masih begitu nyata diingatan.


Yudha mengulum senyum melihat Kinayu yang tampak salah tingkah. Memakai baju di depan Kinayu dengan santai dan tak ada beban. Sesekali melirik istrinya yang sengaja berdiri membelakangi dengan gugup.


"Sudah..." tangan yang memeluk dari belakang tiba-tiba membuat si empunya terjingkat. Kinayu tampak tegang apa lagi ini hal yang tak biasa di lakukan oleh Yudha.


"Kenapa tegang? apa yang semalam masih kurang!" bisiknya di telinga Kinayu, tubuh itu tampak kaku, meremang, tegang dengan perasaan yang gamang. Belum seluruhnya hati itu mengarah pada Yudha tapi setiap sentuhan lembut yang Yudha berikan membuka lapisan tipis di hatinya terbuka sedikit demi sedikit.


"Bee..."


"Iya sayang ..."


Kinayu melihat ke arah lain saat Yudha sengaja menyibak rambut panjangnya dan menelisik aroma yang menenangkan.


"Jangan gini, ayo sarapan nanti telat!"


"Ini lagi sarapan..." ucapnya dengan mata terpejam, entah mengapa dirinya selalu ingin mendekat, mendekap dan merasakan aroma yang menenangkan jiwa. Sesekali tangannya mengusap perut tempat berkembang anaknya.


Kinayu memejamkan mata merasakan hembusan nafas Yudha di lehernya yang membuat jantung semakin berdebar.


"Hari ini jadwalku padat, aku pasti akan merindukanmu. Setelah selesai kelas datanglah keruanganku. Jangan membuatku menunggu!" lembut tapi penuh penekanan dan perintah yang tak dapat di bantah.


Kinayu menganggukkan kepala, kemudian mengurai pelukan dan berbalik merapikan kemeja Yudha kemudian mengambil jam tangan untuknya dan kopi yang sudah ia siapkan.


"Kopinya mas..."


Pergerakan keduanya terhenti, dengan wajah Yudha yang kembali datar. Kinayu melirik sekilas kemudian menarik nafas dalam.


"Bee ...."

__ADS_1


Entah mengapa Yudha tak suka di panggil demikian, ia teringat akan Silvi dan segala peringainya yang membuat ia muak.


"Aku tidak suka..." lirihnya kemudian keluar kamar dengan membawa kopi.


Kinayu memejamkan mata dengan menggigit bibir bawahnya, dia lebih nyaman memanggil itu tapi Yudha tak mau. Kemudian segera meraih tas dan menyusul Yudha yang baru tiba di meja makan dengan membawa tas kerjanya.


"Tidak usah!" titahnya saat Kinayu hendak mengambilkan makan untuknya. Kemudian dia meraih piring yang ada di tangan Kinayu dan mengisi sendiri dan melahap dengan santai.


Kinayu tertegun melihatnya, tak biasa seperti itu dan selalu ingin di layani tapi pagi ini tampak mandiri. Pikiran akan Yudha yang marah karena suatu panggilan yang salah kembali terlintas membuat Kinayu menghela nafas panjang.


Tak ada percakapan lagi di meja makan hingga keduanya selesai dengan piring yang sudah kembali bersih tak tersisa makanan. Kinayu melirik susu yang ada di sampingnya, tak biasa dan aneh saat susu itu tiba-tiba datang di hadapannya setelah tadi Bibi sengaja membuatkan di akhir sarapan agar masih hangat.


Kinayu hanya melirik enggan kemudian meraih gelas air mineral dan bersiap berangkat.


"Diminum susunya! itu susu hamil bagus untuk anak kita."


Kinayu terdiam, bahkan dari aromanya saja ia sudah tak tahan ingin beranjak. Yudha yang tak mengerti sedikit kesal, ntah mengapa setelah drama panggilan salah moodnya menurun dan sedikit sensitif.


Kinayu menarik nafas dalam, dengan ragu tangannya meraih gelas susu itu dan mulai mengarahkannya ke mulut. Menyesap perlahan dengan melirik Yudha yang terus memperhatikan. Berusaha menelan dengan mata terpejam hingga lolos mengalir kerongkongan.


Yudha tersenyum tipis, setidaknya ia lega karena nutrisi ibu dan bayi terjaga karena kesehatan keduanya sangat penting untuknya. Tapi itu hanya sesaat setelahnya ia melihat reaksi Kinayu yang tak terduga.


Huwek


huwek


huwek


Semua sarapan yang baru ia selesaikan tuntas masuk kedalam wastafel dan menyisakan tubuh yang lemas. Aroma susu membuatnya mual hingga perut bergejolak.


Perlahan Yudha memijit tengkuk Kinayu memberikan pijatan yang membuatnya sedikit mendingan. Dia tak mengira efeknya akan separah ini dan membuat perut Kinayu kembali harus diisi.


"Masih mual?" tanyanya lembut, Kinayu menatap Yudha yang sikapnya kembali berubah. Padahal ia khawatir Yudha akan marah melihat ia memuntahkan semuanya.

__ADS_1


Kinayu menggelengkan kepala, membersihkan mulutnya dengan tisu dan melangkah keluar kamar mandi dengan langkah perlahan. Paginya yang semangat lenyap sudah, perutnya tak nyaman dan tenggorokannya panas.


Bibi menghampiri dengan membawa teh hangat dengan campuran jahe agar mual Kinayu hilang. Perlahan Kinayu menyesapnya dan menghabiskan setengah gelas.


"Masih mual non?"


"Tidak Bi, sudah lebih enakan," lirihnya dengan memejamkan mata.


"Kenapa bisa sampai muntah Bi? apa susunya tak enak? Bibi sudah memeriksa masa berlakunya?"


"Masih aman tuan, tapi memang ibu hamil begitu. Ada beberapa makanan yang ia tolak, jangankan mencoba melihatnya saja sudah menimbulkan mual tuan."


Yudha kembali teringat akan sikapnya tadi, ia bahkan sempat berpikir negatif karena tak tau apa-apa tentang ibu hamil. Sepertinya setelah kejadian ini ia harus rajin membaca buku tentang kehamilan agar tak salah paham seperti tadi.


Yudha menatap Kinayu yang kini sedikit pucat tapi sudah lebih baik dari pada sebelumya. Dia bersimpuh di depan Kinayu membuat wanita itu terkejut. Kemudian meraih tangan yang sejak tadi mengusap perut.


"Maaf..."


Kinayu tercengang melihat Yudha yang meminta maaf dengan wajah penuh penyesalan. Apa lagi sampai harus merendahkan tubuhnya hanya demi dirinya yang tak seberapa.


"Aku tidak paham apa-apa, perut kamu pasti kosong lagi ya. Mau makan lagi?" tanyanya lembut dengan tangan yang satu mengusap perut.


"Nanti saja Bee..." lirihnya.


"Mau di rumah saja? biar aku ijin kan kembali nanti, hari ini juga ada jadwalku dikelasmu. Biar aku kasih tugas langsung saja setelah nanti aku terangkan sedikit materinya."


Kinayu menggelengkan kepala, ia ingin kuliah setidaknya tidak bosan karena ada kegiatan. "Aku mau masuk saja, akan bosan jika hanya di rumah. Nanti aku makan jika mulai lapar. Kamu tenang saja. Aku akan menjaga anakmu dengan baik."


Entah mengapa ucapan Kinayu seperti sentilan untuknya, mungkin ia egois hingga tak memikirkan bagaimana perasaan Kinayu. Yudha mengecup tangan Kinayu, menatapnya dalam dan tersenyum dengan mata memohon.


"Maaf...."


"Dan ini anak kita...."

__ADS_1


__ADS_2