
Setelah berganti pakaian hasil dari meminta tolong pada kedua sahabatnya, kini Kinayu merebahkan tubuhnya di sofa dengan berbantal paha Yudha. Ia menatap pria yang kini memenuhi hatinya. Tersenyum tipis melihat betapa tegasnya sang suami saat menjadi pahlawan dadakan di kerumunan mahasiswa.
Tangan Kinayu terulur mengusap lembut rahang tegas milik Yudha hingga membuyarkan segala pikiran yang menguasai otak pria itu.
"Apa aku membuatmu terbebani hingga melamun seperti ini?"
Yudha menatap Kinayu, ia seakan lupa jika Kinayu butuh perhatian. Tangannya mengusap lembut kepala Kinayu dan merapikan rambut yang sedikit berantakan.
"Maaf sayang, ada hal lain yang mengganggu pikiranku. Jika nanti aku menitipkanmu pada Bapak dan Ibu apa kamu tidak keberatan? Hanya semalam saja dan paginya aku jemput kamu lagi."
Kinayu bangun dan duduk menghadap Yudha, menggenggam tangan pria itu dengan menatap lekat wajah gelisah yang begitu terlihat.
"Iya tidak apa, tapi kamu tidak akan melakukan hal yang berbahaya kan Bee? kamu mau kemana?"
"Aku ingin memastikan sesuatu dan dirumah pun banyak wartawan datang. Kita tidak mungkin pulang sekarang. Kamu jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Yang terpenting kamu aman di rumah orang tuamu agar aku tenang meninggalkanmu."
Kinayu menganggukkan kepala, ia memang penasaran tapi tak ingin bertanya terlalu banyak karena Yudha sepertinya masih membatasi akan itu.
"Kabari aku jika terjadi sesuatu ya!"
"Hhmm.... pasti sayang," Yudha mengecup bibir Kinayu dan jemari yang kini dalam genggamannya.
Setelah selesai kelas dan Yudha pun selesai mengajar, kini keduanya bersiap untuk pulang. Sudah tak ada lagi yang di tutupi, mereka berjalan dengan bergandengan tangan tanpa takut ada yang melihat.
Gerbang depan kampus jelas ramai wartawan karena kabar semakin meluas, tapi cukup bisa di kendalikan karena Yudha meminta scurity agar mengetatkan penjagaan hingga ia pulang.
Yudha belum mau mengklarifikasi hari ini, karena waktu belum pas baginya. Ia ingin semua masalah selesai dan pikiran tenang baru dia menjelaskan dan memperkenalkan Kinayu ke khalayak ramai.
"Pakai ini sayang!" Yudha memberikan masker pada Kinayu. Dia tak ingin ketenangan Kinayu terusik karena dengan mudah mereka mengetahui keberadaan Kinayu. Yudha juga tak ingin Kinayu kepikiran sehingga bisa mengganggu kehamilannya.
Keduanya sekarang telah memakai masker dan berjalan menuju parkiran. Yudha melirik security yang cukup hafal dengan dirinya dan memberi kode jika ia ingin keluar. Yudha membukakan pintu mobil untuk Kinayu, memastikan keamanannya setelah itu baru dia masuk ke kursi kemudi.
"Itu yang ramai-ramai wartawan semua Bee?"
"Iya sayang, tapi kamu tenang saja, mereka tidak tau jika kita akan keluar. Jangan terlalu di pikirkan, ini semua karena Silvi seorang model. Kabar tentang hubungan kita menjadi suatu makanan empuk untuk mereka pencari berita."
Yudha melajukan mobilnya dengan santai tanpa membuat mereka curiga dan lolos tanpa meninggalkan jejak. Keduanya langsung menuju rumah orang tua Kinayu setelah di rasa aman.
__ADS_1
"Pak Bu, saya titip Kinayu satu malam ini saja di sini. Saya ada pekerjaan yang tak bisa saya tinggalkan. Kasihan jika Kinayu di rumah sendiri Pak, maaf jika merepotkankan," ucap Yudha dengan ramah.
"Tidak nak, justru Bapak dan Ibu sangat senang Kinayu bisa menginap di sini. Sudah sejak menikah Kinayu tak pernah lagi tidur di rumah Bapak."
Kinayu segera memeluk Bapak saat melihat mata beliau yang berkaca-kaca, ia juga sangat merindukan kedua orangtuanya dan kamar yang telah lama ia tinggalkan. Tapi entah mengapa, terbiasa dekat dengan suami membuatnya merasa ada yang kurang.
"Sayang..." Yudha menarik lembut pinggang Kinayu agar beralih padanya, dan sikap Yudha membuat kedua mertuanya mengulum senyum mengerti jika menantunya cemburu.
"Kenapa Bee?"
"Jangan lama-lama meluk bapak sayang," bisik Yudha.
"Jeleous?" tanya Kinayu heran, ini bapaknya dan kenapa harus cemburu pada mertuanya sendiri. Benar kata Gea, Yudha kalo sudah cinta itu bucin.
Kinayu menggelengkan kepala melihat Yudha yang tampak kikuk dengan mengalihkan pandangannya. Dengan bapak bisa secemburu itu bagaimana jika melihatnya dengan Bagus yang sering bercanda hingga ketiduran. Bisa-bisa Kinayu di angkut bawa pulang dan di larang menginap lagi.
"Ya sudah Pak, Yudha pamit dulu." Yudha menyalami kedua mertuanya kemudian masuk ke dalam mobil dengan Kinayu yang terus membuntuti.
"Jika tidak bisa tidur hubungin aku ya!" ucapnya sebelum masuk kedalam mobil.
"Iya, kamu hati-hati ya. Kemanapun kamu pergi inget baby Bee..." Kinayu mengusap perutnya yang sudah sedikit ada perubahan.
cup
Yudha mengecup perut Kinayu dan kembali menatap wajah istrinya dengan lekat. "Semalaman tidak melihatmu pasti aku rindu. Aku pergi dulu ya."
cup
cup
"Bee nanti di lihat orang!" Kinayu menoleh keluar pagar takut-takut ada yang mengintip atau ada yang lewat saat dengan santainya Yudha mengecup bibirnya berkali-kali.
Kinayu masuk ke dalam rumah setelah memastikan mobil Yudha tak terlihat. Dia menyapa Bagus yang sedang belajar untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi.
"Kamu mau daftar dimana Gus?" tanya Kinayu dan ikut duduk di sofa.
"Aku mau daftar di Bandung dan Jogja mbak, tinggal nanti keterimanya aja dimana."
__ADS_1
"Loh kenapa tidak di Jakarta aja? jauh sekali, nggak kasian to sama Bapak Ibu?"
"Justru biar mandiri, jadi nggak bergantung terus sama bapak ibu, syukur-syukur bisa sambil kerja mbak."
"Gimana baiknya kamu aja, mbak cuma bisa mendukung dan berdoa supaya kamu bisa meraih cita-cita?"
Setelah mengobrol sebentar dengan Bagus Kinayu segera masuk kamar. Sudah lama ia tak menengok kamarnya. Kamar penuh kenangan, kamar tempatnya berkeluh kesah.
.
.
.
"Bagaimana? sudah ada kabar lagi?"
"Belum bos, tapi jika bos ingin memastikan bisa segera ke sana. Karena dua jam lalu mereka sampai dan saya pastikan mereka masih ada di sana sekarang."
"Hhmm....sejak kapan ia membelinya?"
"Belum lama bos, menurut info awalnya hanya menyewa. Tapi beberapa bulan ini sudah di beli dan menjadi hak milik."
"Ya sudah, saya akan kesana sekarang. Dan kamu selidiki masalah selanjutnya. Secepatnya! karena saya tidak ingin masalah ini berlarut-larut."
"Baik bos!"
Tut
Setelah mematikan ponselnya, Yudha segera melajukan mobil ke alamat yang sudah di kirim. Hatinya tak karuan, sejak tadi Yudha mencengkeram setir mobil dengan kuat. Merasakan sesak di dada hingga matanya memerah.
"Pengkhianat...."
Yudha berjalan dengan langkah panjang memasuki sebuah gedung yang menjulang tinggi. Auranya begitu mencekam dengan tangan terkepal. Dia berhenti di depan sebuah pintu yang dengan mudah ia buka tanpa harus mengetuk.
Seringai tipis terlihat saat mata menangkap dengan jelas sesuatu yang menyesakkan tapi puas setelah membuktikannya sendiri.
"Send..."
__ADS_1
Tak perlu banyak kata, cukup bukti yang ia dapat mampu membuka semua kebohongan dan membuktikan siapa yang bersalah di balik tuduhan.
Yudha meletakkan cincin pernikahannya di atas meja lalu pergi tanpa meninggalkan sepatah kata.