
"Makasih sayang...."
cup
Gilang mengecup kening Silvi setelah aktivitas panas mereka lalui. Bahkan Gilang merasa sangat puas karena Silvi begitu liar hingga membuat Gilang mencapai pelepasan yang memuaskan. Sungguh luar biasa saat emosi melanda terlampiaskan di ranjang.
"Laper sayang..." Silvi merengek di balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya hingga dada.
"Aku pesankan makanan ya, kamu bersih-bersih dulu. Setelahnya kita makan dan mengulanginya lagi di sofa." Gilang menggigit pundak polos Silvi dan segera mengangkat tubuh Silvi ke kamar mandi.
"Kamu belum puas?" tanya Silvi yang kini tengah mengalungkan kedua tangannya di leher Gilang.
"Kamu sungguh menggoda membuat aku tergila-gila, lihat saja bahkan ia tak mau turun dan masih berdiri tegak! mau melanjutkannya lagi di dalam kamar mandi?"
"No, I' m hungry baby."
"Oke, berendam lah agar tubuhmu kembali segar. Aku akan mandi di shower dan segera memesan makanan untukmu!"
Setelah membersihkan diri keduanya kembali duduk di sofa. Silvi merebahkan tubuhnya di dada Gilang dengan memainkan jemarinya di dada bidang pria yang telah memberikan kehangatan untuknya.
"Lama banget sayang makanannya belum juga sampai. Aku laper banget loh!"
"Sabar sayang sebentar lagi pasti sampai, dan sayang tangannya bisa tolong di kondisikan. Eugh kamu selalu membuatku menginginkan, jangan sampai kamu gagal makan karena aku lahap kamu duluan!"
Silvi mengecup bibir Gilang kemudian tersenyum miring menatapnya, "akan aku kasih porsi doble setelah aku makan!" ucapannya setelah itu tertawa melihat ekspresi Gilang yang menahan sesuatu.
Silvi beranjak dari sofa dan mencari ponselnya yang masih berada di dalam tas, ia ingin menghubungi Ana dan menanyakan pada Ana tentang perkembangan gosip yang beredar hari ini.
triing
Benda kecil terjatuh di lantai saat tangan Silvi membuka tas, ia menundukkan kepala melihat benda apa yang kini menggelinding di lantai.
deg
__ADS_1
Silvi membolakan matanya melihat cincin pernikahan yang sangat ia kenal, bahkan ia tau pasti siapa pemiliknya.
"Nggak mungkin... Nggak mungkin!" hati Silvi bagai tersambar petir, kakinya lemas hingga tak mampu menahan berat tubuhnya. Beruntung Gilang segera meraihnya dan membawa tubuh Silvi kembali duduk di sofa.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Gilang khawatir.
Silvi menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah jatuh. "Nggak mungkin mas Yudha tau..."
"Apa maksud kamu?" tanyanya tak mengerti.
"Mas Yudha tau kita di sini Gilang! mas Yudha sudah tau semuanya! aku harus pulang, aku harus bisa menjelaskan padanya!" Silvi segera beranjak dari sofa tetapi segera di cegah oleh Gilang.
"Sayang tunggu, kenapa kamu bisa tau jika Yudha sudah tau semuanya? tenangkan dulu pikiran kamu, ceritakan sama aku bagaimana kamu bisa menyimpulkan itu!"
"Cincin ini Gilang! cincin ini milik mas Yudha, cincin ini cincin pernikahanku sama dia. Mas Yudha tadi datang dan pergi setelah melihat kita. Dia meninggalkan cincin ini di atas tas aku Gilang!" ucap Silvi dengan nada tinggi, ia tampak frustasi. Apa lagi Yudha sudah melepaskan cincin pernikahan mereka, sudah di pastikan jika pria itu juga ingin melepaskannya.
"Bagaimana bisa?"
"Bodoh! kamu seharusnya tau bagaimana mas Yudha bisa semudah itu tau, kamu sahabatnya dan mas Yudha tak sebodoh kamu!" sentak Silvi emosi, dia sudah kalut dan segera pergi meninggalkan Gilang yang terdiam setelah Silvi membentaknya dengan kata kasar. Bahkan Gilang tak lagi mengejar tetapi membiarkan karena terlalu kecewa.
.
.
.
"Mas..."
"Mas..."
Silvi berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar, ia melihat Yudha dengan kepulan asap rokok dan beberapa botol minuman di sampingnya.
"Mas kamu ...." Silvi terkejut, baru kali ini ia melihat Yudha sekacau ini, tapi hatinya cukup lega karena ia merasa Yudha masih mencintainya.
__ADS_1
"Bereskan barang-barang kamu dan pergi dari sini!" ucapnya dengan tatapan tajam dan raut wajah yang datar.
" Tapi mas!"
"Nggak ada tapi-tapian Silvi, sekarang juga kamu pergi dan tidak ada lagi hubungan di antara kita. Anggap ini pertemuan terakhir kita dengan status menikah dan akan berjumpa kembali di pengadilan. Aku tidak sudi memiliki istri murahan seperti kamu!"
"Nggak mas, aku nggak mau kita cerai. Kamu tidak bisa egois kayak gini mas! bukan aku saja yang salah, tapi kamu juga. Aku tidak akan seperti ini jika kamu tidak bermain api dan menikah lagi!" ucap Silvi tak terima.
"Aku menikah lagi ada alasan dan kamu melakukan itu hanya karena godaan! dan jangan kamu samakan aku denganmu! aku sah melakukan karena Kinayu istriku, tapi kamu apa? kamu melakukan di luar pernikahan. Lebih tepatnya kamu dan Gilang adalah pengkhianat! Dan aku tidak mau hidup dengan seorang pengkhianat seperti kamu!"
"Hari ini juga, di detik ini aku Yudha Prasetya menalak kamu Silvia Agatha!"
jeduar
Silvi membolakan mata setelah mendengar kalimat keramat yang sangat menakutkan. Yudha mentalak dia dan tak akan ada kesempatan kedua. Dia tau betul sifat Yudha, Yudha tak mudah goyah dalam pendirian dan tak akan mudah luluh hanya dengan air mata. Apa lagi jika hati sudah kecewa.
Silvi menggelengkan kepala, katakan ia pengkhianat tapi ia tak ingin di buang begitu saja. Bahkan jika Yudha menginginkan dirinya untuk memiliki anak, maka hari ini juga ia akan melepas alat kontrasepsinya yang diam-diam ia gunakan.
"Aku tidak mau mas, please....jangan mas! aku tidak mau pisah sama kamu. Oke kita punya anak, tapi jangan ceraikan aku. Kita bisa mulai lagi dari awal mas, aku mohon..."
"Apa penyakit mandulmu itu sudah sembuh, hhm? dengan mudah kamu ingin memiliki anak denganku? sudah terlambat Silvi! bahkan aku sudah tak Sudi memiliki istri seperti mu!" sentak Yudha.
Silvi bersimpuh di hadapan Yudha memohon tetapi Yudha benar-benar tak mau menerima kembali. Bahkan ia segera masuk ke rumah ganti untuk membereskan semua pakaian Silvi dan melempar tiga koper ke luar kamar.
"Pergi sekarang juga dan jangan kamu injakan lagi kaki kamu di rumah ini!" tegas Yudha. Yudha memang dalam pengaruh alkohol tetapi ia sadar apa yang ia lakukan. Sekecil apapun penghianatan yang di lakukan istri walaupun sudah tak ada rasa untuknya. Tetap saja menyakitkan, apa lagi setelah tau yang menjadi selingkuhannya adalah sahabat baiknya dulu.
Orang yang pernah dekat bahkan berjuang bersama sejak kuliah hingga merintis usaha. Dan kini tak pernah lagi bersua karena kesibukan mereka dan Gilang yang beberapa tahun setelah pernikahannya memutuskan memulai usaha di negeri orang.
"Mas tunggu mas!"
Setelah melempar koper itu, Yudha segera menarik Silvi keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamar dengan kencang.
"Mas buka mas!"
__ADS_1
"Mas, aku minta maaf!"
"Mas Yudha...."