
"Aku merindukanmu sayang..." Yudha terus mendekap dengan bibir menelusuri leher Kinayu. Menghirup aroma tubuh yang membuatnya tak ingin menjauh.
"Bee eugh.....jangan gini, nanti ada yang lihat gimana? masuk ruangan sana, jangan membuatku menjadi sulit Bee. Lagian belum ada 5 menit loh, kamu dari tadi kan lihat aku di kelas."
"Aku tidak tahan melihat wajah cemberut kamu, kamu cemburu hmm?"
Kinayu tak menjawab, ia memejamkan mata merasakan hembusan nafas Yudha menjalar ke leher dan tengkuknya. Kemudian mengimbangi langkah Yudha yang mendorong tubuhnya perlahan masuk ke dalam ruangannya.
Yudha mengunci pintu, ia tak akan membiarkan ada yang mengganggu. Dan lantai ini pun areanya, tak ada yang berani naik jika tak ada mandat darinya.
"Bayinya rewel nggak sayang?"
"Papahnya yang tampak rewel," jawab Kinayu yang masih berada dalam pelukan Yudha bahkan kini keduanya saling berhadapan dengan tangan Yudha mendekap erat punggungnya.
Yudha tersenyum tipis menatap mata lentik yang tampak mengerjap, dia mendekatkan wajahnya menempelkkan kedua kening dan menatap dalam mata Kinayu.
Seakan terhipnotis Kinayu terpanah melihat sosok tampan itu begitu dekat menatap lekat hingga jantung berdetak cepat.
"Aku mencintaimu...." lirihnya.
Wajah Kinayu merona, senyumnya mengembang melihat ketulusan di diri Yudha.
Mata Yudha terpejam merasakan tangan mulus Kinayu menyentuh pipinya, merasakan cinta yang kembali tumbuh dan mengecup jemari itu dengan sayang.
"Aku sayang kamu..." ucap Kinayu gugup.
"Baru sayang? berarti belum cinta?" tanya Yudha penasaran.
"Sedikit." Kinayu menunjukan jari telunjuk dan ibu jarinya yang ia apit dengan mata menyipit.
Yudha tampak gemas, ia menghujani Kinayu dengan kecupan, hingga wanita itu tampak kewalahan dan meminta ampun padanya.
"Ampun Bee, sudah!"
"Aku akan membuatmu jatuh cinta setiap hari padaku!" bisiknya tanpa melepas Kinayu sedikitpun.
"Caranya?"
"Membuat mu cemburu setiap hari."
"Jahat! aku pulang kerumah bapak kalo kamu begitu!"
Yudha terkekeh, baru berucap seperti itu saja Kinayu sudah merengut. "Bilang sedikit, baru gini saja sudah marah! bagaimana jika beneran?"
"Nggak ada jatah!" celetuk Kinayu.
"Jatah apa?" Yudha kembali mendekat hingga Kinayu tampak gelagapan.
__ADS_1
"Jatah......mmmmm jatah...itu..."
"Apa sayang?"
"Jatah.....nganu...mmmm itu ....apa sich.." Kinayu serasa ingin kabur sedangkan Yudha semakin maju dengan mengulum senyum.
"Sepertinya istri aku sudah mulai ketagihan!"
"Apa sich .." Kinayu memalingkan wajahnya, ntah sudah semerah apa wajahnya sekarang. Yang jelas Yudha membuatnya sangat malu.
"Aku sudah pesankan kamu taksi, maaf ya aku tidak bisa mengantar kamu pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, kamu harus hati-hati dan jaga anak kita ya sayang."
cup
Yudha mengecup bibir Kinayu lalu mengantarnya sampai lift bersamaan dia yang akan lanjut mengajar. Keduanya melangkah bersama tanpa mereka sadar ada sepasang mata yang mengintai.
.
.
.
tok
tok
tok
"Biar aku saja, lanjutkan makannya Bee!" ucapnya lembut, kemudian segera melangkah menuju pintu, Yudha sempat melihat pergerakan sang istri sesaat kemudian kembali melanjutkan makan.
cklek
Kinayu menatap siapa gerangan yang datang di malam-malam seperti ini. Bukan Silvi melainkan wanita cantik dengan perut buncit yang di duga tengah hamil besar. Wanita itu menatapnya dengan tatapan heran.
"Kamu siapa?" tanyanya.
Dahi Kinayu mengernyit, dia menatap datar wanita itu yang justru bertanya siapa dirinya sedangkan dirinya sendiri adalah tamu di rumah suaminya.
"Aku..."
"Siapa sayang?" Yudha tiba-tiba datang menghampiri ketika merasa tak tenang saat Kinayu tak kunjung kembali.
"Mas Yudha...." wanita itu menerobos masuk membuat mata Kinayu membola dengan mulut menganga, apa lagi saat melihat jelas wanita itu menghampiri Yudha dan memeluknya dengan erat.
Yudha terkejut melihat kedatangan wanita itu dengan perut besar, ia membalas pelukannya dan menenangkan saat tiba-tiba tangisannya terdengar pilu.
Kinayu terdiam, masih tak mengerti siapa wanita yang tiba-tiba menangis di dalam pelukan suaminya. Dia melihat pemandangan yang menyesakkan dada, sepintas pikiran buruk menyerang. Apa lagi melihat Yudha membalas pelukannya dengan erat dan berusaha menenangkan. Panggilan mas pada Yudha juga membuat hatinya ngilu. Yang lain bebas memanggil itu kenapa dia tidak.
__ADS_1
"Hey..kamu kenapa? dan perutmu..." tanya Yudha menatap wanita itu dengan intens, merenggangkan pelukannya dan melihat perut yang di perkirakan mengandung 7 bulan.
"Iya mas, aku hamil.."
"Jadi kamu menghilang karena tengah hamil? anak siapa?" tanya Yudha lagi.
Wanita itu mengusap kasar air matanya, ia menatap Yudha dengan menggelengkan kepala.
Yudha mengusap wajahnya dengan kasar, mengehala nafas berat dan menatap datar wanita yang kini ada di hadapannya. Tangannya bersidekap dada dengan mata menyelidik.
"Tante dan om tau?"
Lagi-lagi wanita itu menggelengkan kepala membuat Yudha memijit pelipisnya, sampai ia lupa jika Kinayu sejak tadi diam menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Jangan bilang mas, Gea tidak mau membuat mereka malu dan khawatir dengan keadaan Gea. Aku janji akan menyelesaikan masalahku sendiri." Gea menundukkan kepalanya, ia takut melihat tatapan Yudha yang begitu tajam padanya.
"Apa dia sudah menikahimu?"
"Sirih..."
"Astaga, dimana otakmu Gea? kamu itu berpendidikan, tapi kamu mau dinikahi secara sirih dengan keadaan yang sudah berbadan dua seperti ini, lalu dimana suami brengs3kmu itu?"
"Jangan terus memarahiku, aku kesini butuh teman karena kesepian. Suamiku sedang ada pekerjaan keluar kota. Dan aku sendirian di rumah." Gea masih terus menundukkan kepala, ia tak berani mengangkat kepalanya. Karena Yudha akan tau jika ia sedang berbohong atau tidak.
"Jangan kamu menutupi apapun dari ku, akan aku cari pria itu dan bertanggung jawab menikahimu dengan benar!"
"Jangan mas, ini semua salahku. Aku dan dia berawal dari kesalahan dan aku tau diri untuk menuntut apapun darinya."
Yudha menarik nafas dalam, ia tak habis pikir dengan otak anak muda jaman sekarang. "Ini bekalmu sekolah jauh-jauh sampai meninggalkan negara kelahiranmu, hanya untuk menjadi bodoh?"
"Lalu apa bedanya denganmu? apa kamu tidak bodoh dengan menikahi Silvi?" kesal Gea. Kemudian ia terdiam teringat sesuatu, Gea menoleh ke belakang menatap wanita cantik yang masih muda kira-kira seumuran dengannya bahkan mungkin di bawahnya diam menatap dengan wajah polos.
"Cantik....siapa dia? kau punya simpanan?"
Yudha baru teringat akan Kinayu, dia segera melangkah mendekati Kinayu yang menolak rangkulannya.
"Hey...dia itu sepupuku," bisik Yudha kemudian kembali merangkul tubuh Kinayu.
"Dia istriku, bukan simpananku. Tak seperti kamu!"
"Mulutmu mas! Hay kakak ipar, kenalkan aku Gea, sepupu paling cantik yang mas Yudha punya." Gea mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Kinayu hingga keduanya saling berjabat tangan.
"Ternyata matamu terbuka juga mas, apa kamu sudah menceraikan Silvi?"
"Dia istri keduaku."
"Ternyata kamu sama bodohnya sepertiku!"
__ADS_1
Mata Kinayu membola mendengar ucapan Gea kemudian melirik Yudha yang kini wajahnya sudah memerah.