ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 76


__ADS_3

owek


owek


owek


Yudha tampak menitikkan air mata, sang buah hati lahir ke dunia dengan selamat. Senyum haru mengembang dengan ucapan syukur yang terus ia gumamkan. Meskipun saat ini penampilannya tampak compang camping karena ulah sang istri yang menjambak, menarik bajunya dan mencengkeram hingga lengannya terdapat luka cakaran.


Kinayu memang hanya mendesis tak banyak suara, tetapi tubuhnya seakan balas dendam dan tak terima jika ia merasakan kesakitan sendirian. Alhasil Yudha pun menjadi korban. Tapi karena rasa cinta dan kasian pada sang istri yang berjuang tanpa kata menyerah, Yudha pun ikhlas walaupun kini perihnya masih tertinggal.


"Makasih sayang....kamu hebat!" Yudha mengecup kening Kinayu dengan hati yang begitu bahagia. Lengkap sudah hidupnya, memiliki istri cantik, baik, dan anak-anak yang sehat. Itu semua membuat semangat baru bagi Yudha.


Setelah bertahun-tahun kesepian, hingga bertemu Kinayu dan memiliki istri dua. Kini hidupnya bahagia hanya dengan Kinayu seorang dan anak-anak yang meramaikan rumah.


Kinayu tampak tersenyum, menatap Yudha yang begitu sabar menemani dan rela mendapat setiap serangan yang ia layangkan. Sebenarnya tak ingin bar-bar tetapi rasa sakitnya begitu luar biasa hingga Kinayu pun butuh pelampiasan.


"Selamat ya Pak, anak bapak perempuan...." Dokter membawa bayi mungil berbalut gedongan ke hadapan Yudha. Bayinya telah rapi dan wangi setelah tadi di bersihkan.


"Alhamdulillah....makasih Dok, boleh saya menggendongnya Dok?" tanya Yudha yang sudah tidak sabar untuk menimang buah hati.


"Silangkan Pak dan di adzanin dulu Pak putrinya!"


"Pelan-pelan Bee...." lirih Kinayu saat melihat suaminya meraih bayi mereka dari tangan dokter.


"Setelah itu Ibu bisa menyusui putri ibu ya!"


"Baik Dok.."


"Ya sudah kalo begitu, saya ingin melihat pasien yang lain, permisi."


"Silahkan Dok!"

__ADS_1


Yudha mendekap putrinya, kemudian mengadzani dengan perasaan haru dan suara bergetar. Bahkan Kinayu yang melihat itu ikut menitikkan air mata. Tak menyangka bisa melewati semua ini dengan Yudha, pria yang dulu membelinya.


"Sayang, biar minum susu dulu ya.. Kasihan sepertinya dia haus." Yudha segera memberikan putrinya pada Kinayu, Kinayu perlahan memposisikan diri untuk duduk dan meraih putrinya. Senyum Kinayu tampak nyata, bahkan ia merasa gemas dengan bayinya yang begitu mirip dengan Yudha.


"Nyaman tidak sayang?" tanya Yudha yang melihat sang istri agak gelisah.


"Sedikit sakit Bee, di bawah sana juga belum nyaman dan ini rasanya agak kasar ya, tidak seperti lidah kamu!" Kinayu meringis mendapati bayinya mulai menghisap sumber kehidupan yang sedikit membengkak.


Yudha tertawa mendengar ucapan Kinayu, kemudian mengusak rambut Kinayu dengan gemas. Menatap buah hatinya begitu lahap hingga pipinya bergerak lucu membuat Yudha menatap Kinayu dengan tatapan penuh arti.


"Kenapa Bee?"


"Sepertinya enak, bisa tidak jika yang sebelah buat aku. Haus loh sayang abis lari-lari terus sampai sini masih dianiaya begini," keluhnya kemudian mendapat cubitan dari Kinayu.


"Aauwwwm....sakit sayang!"


"Ini jatah baby kita Bee, jangan berharap lebih! Bahkan dua bulan ke depan tuh kamu harus puasa dan tidak mendapat jatah!" jelas Kinayu kemudian mengulum senyum melihat ekspresi Yudha begitu terkejut.


"Hmmmmm......"


"Aish sayang...... mana bisa seperti itu. Biasa olahraga di suruh diam di tempat. Hhuuuuhhff..." Yudha menghela nafas berat. Sehari tidak menyentuh sang istri saja rasanya nano nano, lalu bagaimana jika harus dua bulan lamanya berpuasa. Dulu saat bersama Silvi, dia tak masalah. Bahkan Yudha termasuk orang yang kuat akan itu. Tapi setelah dengan Kinayu, semua berubah.


"Ya sudah, aku keluar sebentar ya. Mau cari angin sayang."


Yudha segera melangkah keluar ruangan, Kinayu pun tak melarang. Ingin rasanya Kinayu tertawa melihat wajah melas Yudha. Apa lagi penampilannya yang masih sama seperti tadi. Tapi belum sempat Yudha membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka dari luar dan terlihat kedua orangtuanya serta kedua mertuanya datang.


"Dasar kamu ya! istri melahirkan bukannya kabar-kabar malah diem aja! untung Gilang ngabarin Mamah, kalo tidak mana kita tau jika ingin menyambut cucu!" Mamah menjewer telinga Yudha. Belum sudah penderitaan yang ia rasakan mereda, kini harus kembali mengalami tindak kekerasan dalam keluarga dari sang Mamah.


"Auwwhhh sakit Mah! malu ikh ada mertua aku. Lagian Mamah nich apa tidak lihat aku sudah berantakan begini, masih dianiaya juga. Mana sempat aku hubungin Mamah jika aku harus menghadapi serangan dari istri yang ingin melahirkan Mah!" keluh Yudha, semua yang melihat tampak tertawa. Apa lagi Gilang sejak tadi menatap Yudha dengan wajah tengil dan ucapan tanpa suara.


"Mampuuuussss!"

__ADS_1


Yudha hanya bisa menatap tajam dengan mengusap telinga yang begitu panas. Sedangkan Gilang melenggang masuk dan ikut duduk dengan Bapak dan Papah di sofa.


"Ibu...." Kinayu segera memeluk Ibunya dengan erat.


"Maafkan Kinayu Bu jika selama ini banyak salah dengan Ibu. Ternyata begini rasanya melahirkan Bu, sakit sekali." Semua yang mendengar itu tampak terharu, bahkan Ibu dan Mamah pun ikut menangis.


"Tapi kamu kuat kan nak? Kamu hebat, selamat ya sudah menjadi Ibu yang sesungguhnya. Semoga kamu bisa lebih sabar lagi menghadapi anak-anakmu kelak, anak itu titipan yang tak ternilai harganya. Dan juga cobaan bagi orang tua. Harus banyak bersabar ya sayang...."


Kinayu menganggukkan kepala, ia tak bisa lagi menjawab apapun ucapan Ibu. Rasa sakit memang sudah luruh seiring lahirnya sang Bayi. Tapi ingatan akan itu masih terngiang bahkan bekas cakaran di lengan Yudha dan Gilang pun masih membekas.


"Mamah....."


"Maafkan Mamah tidak bisa mendampingi kamu ya sayang. Mamah benar-benar tidak tau nak, suamimu bahkan lupa memberitahu mamah. Dan biarkan saja ia merasakan sakitnya kena amukan kamu!" Mamah benar-benar kesal karena tidak mendampingi menantunya di detik-detik melahirkan cucu yang telah ia tunggu. Padahal sudah jauh-jauh hari Mamah mengatakan akan menemani hingga Kinayu melahirkan.


"Mah ..."


"Diam! Kamu memang salah!" kesal Mamah pada Yudha.


Yudha menghela nafas berat dan mengusap wajahnya kasar. "Diem! loe nggak dengar suruh diem? dari pada loe berdiri aja capek, mendingan loe mandi Yud. Nanti kalo tiba-tiba mahasiswi loe dateng liat penampilan dosennya modelan begini, auto kena mental mereka."


"Benar kata Gilang, CEO kok acak-acakan begitu!" sindir Papah membuat Yudha semakin jengah. Dia hanya bisa menggelengkan kepala dan berjalan menuju kamar mandi.


"Ini hari apa sich? ngapa gue berasa sial, padahal harusnya kan beruntung anak gue lahir."


Gilang memang sudah seakrab itu dengan keluarga Yudha, kedua orangtuanya telah menganggap Gilang seperti anak sendiri. Kesalahan yang pernah Gilang perbuat sudah mereka maafkan setelah Gilang benar-benar menyesal dan bersungguh-sungguh meminta maaf. Bahkan Gilang di minta oleh Mamah Yudha untuk tinggal di rumah utama karena mereka hanya berdua tetapi Gilang belum mau, ia masih ingin tinggal di apartemen walaupun terkadang menginap di rumah kedua orang tua Yudha.


"Eh ngomong-ngomong, siapa nama anak kalian nak? duuuhhhh cantiknya cucu Oma, cantik ya Bu ya?" kedua nenek sedang asyik memandang cucu baru mereka.


"Iya perpaduan yang pas, besarnya pasti menjadi primadona."


"Belum tau Mah, gimana mas Yudha saja. Kinayu manut."

__ADS_1


"Calia Ashalina Prasetya....."


__ADS_2