ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 37


__ADS_3

Kinayu melangkah menuju pintu yang Yudha tunjuk tadi, perlahan membuka hingga terlihat sempurna. Mata membola dengan mulut menganga, tak menyangka di dalam ruangan dosen ada kamar serapi ini. Tak banyak perabot tapi cukup nyaman untuk di buat istirahat.


Kinayu melangkah ke dalam, tak ia temukan pigura apapun di sana. Sama halnya dengan di rumah besar Yudha, hanya di dalam kamar utama terpajang foto pernikahan tapi tak ia temukan di ruangan lain.


Kamar itu hanya ada kasur besar, lemari pakaian dan meja rias. Tak ada sofa maupun pelengkap lainnya. Masih dalam kawasan sederhana dan jauh dari barang mewah.


Kinayu duduk di pinggir ranjang, senyumnya terukir saat merasakan betapa empuk kasur yang ia duduki saat ini.


"Nyaman..."


Kinayu melepas sepatu dan mulai merebahkan tubuhnya. Tidur menelungkup membelakangi pintu kamar dengan mata terpejam merasakan kenyamanan.


"Wangi, berasa lagi meluk seseorang."


"Eh, ini mah wangi parfum Pak Yudha, katanya nggak pernah tidur tapi parfumnya nempel banget."


Kinayu terus bergumam hingga kantuknya tiba dan ia terlelap dengan damai.


Yudha kembali tepat pukul 3 sore dan harus segera pergi ke kantor karena asistennya sejak tadi menghubungi. Masuk kedalam ruangan kemudian mengambil tas dan kunci mobil, lalu segera keluar dan tak lupa mengunci pintu sebelum meninggalkan ruangan.


Sampai di kantor, Yudha di suguhi dengan banyaknya pekerjaan yang sudah pasti memakan waktu dan menguras pikiran. Tanpa pikir panjang ia segera membuka laptop dan berkutat dengan pekerjaannya hingga malam tiba. Bahkan Yudha mengabaikan makan siang dan makan malam.


Yudha pulang dalam keadaan lelah. Melangkah ke dapur mengambil air minum dengan langkah gontai kemudian lanjut masuk ke dalam kamar.


"Mas, baru pulang. Malam sekali mas?" Silvi baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Dia pun belum lama sampai rumah. Sempat heran Yudha belum pulang tapi setelah menanyakan pada asisten Yudha, dan memberi kabar jika sang suami baru keluar kantor seketika dia bisa bernafas lega.

__ADS_1


"Aku mau mandi, tolong siapkan air hangat ya!" pintanya.


"Biasanya juga menyiapkan sendiri mas, aku mau keringkan rambut aku dulu, udah malem mas takut masuk angin." Silvi menjawab tanpa menoleh ke arah Yudha.


Yudha hanya diam dengan melepas kancing kemeja, jengah dengan sikap Silvi yang tak pernah mau menuruti. Hingga ia memutuskan untuk menyiapkan sendiri tanpa meminta dua kali.


Setelah rapi, Silvi mengajak Yudha makan malam. Sebenarnya ia enggan karena sudah hampir larut malam tapi karena tau Yudha belum makan. Ia segera mengajaknya dan ikut menemani makan.


"Tumben..."


"Pengen nemenin kamu mas, kasian makan sendiri." Dengan senyum manis ia menatap Yudha yang sudah terlihat kembali segar.


Yudha menganggukkan kepala dan melanjutkan makan. Setelah keduanya selesai, mereka segera kembali ke kamar untuk beristirahat. Apa lagi tubuh Yudha begitu lelah setelah seharian bekerja. Ia ingin segera tidur agar esok hari kembali segar dan bersemangat.


"Mau langsung tidur mas?" tanya Silvi saat melihat Yudha sudah menarik selimut, ntah apa yang Silvi inginkan, tapi dia cukup kecewa setelah melihat Yudha menganggukkan kepala.


Hingga ia terlelap dan kembali terjaga saat suara ponselnya berdering dan nama Gilang tertera disana. Silvi memutuskan untuk beranjak dan pindah ke kamar tamu untuk menerima panggilan dari pada tidur di sebelah suami hanya di abaikan.


Tepat pukul 2 malam Yudha terjaga, keringat membasahi dahi dengan nafas ngos-ngosan. Mimpi buruk mengganggu tidur lelapnya hingga bayangan Kinayu kembali melintas.


Dalam mimpi ia melihat Kinayu sedang meminta tolong dalam kegelapan. Bahkan wajahnya tak dapat Yudha lihat hanya suara teriakan yang begitu jelas di telinga. Mengejarpun ia tak bisa karena semakin di kejar Kinayu semakin menghilang.


Yudha turun dari ranjang, ia melipir ke kamar sebelah untuk melihat Kinayu yang sejak pulang kerja belum sempat ia temui. Masuk kedalam kamar Kinayu yang masih padam dengan hati mulai tak tenang. Dan menyalakan penerang ruangan tapi tak ia temukan Kinayu di atas ranjang. Bahkan ranjang tampak rapi seperti belum terjamah.


"Kemana dia?"

__ADS_1


Yudha membuka pintu kamar mandi tapi tak ada ia temukan keberadaan Kinayu, menelisik ke setiap sudut ruangan hasilnya pun nihil. Hingga ingatannya akan Kinayu tadi siang mulai terbayang saat tak ia temukan tas Kinayu di meja belajar.


"Kinayu...." Yudha segera berlari menuju kamarnya mengambil kunci mobil dan jaket lalu berlari menuju garasi. Ia bahkan tak mengingat keberadaan Silvi yang juga tak ada di ranjangnya.


...🍀🍀🍀...


Kinayu sudah kehabisan tenaga untuk berteriak, sejak sore ia mencari cara untuk keluar dari ruangan tapi tak kunjung ada jalan. Semakin panik lagi saat ia tak menemukan tas kerja Yudha dan kunci mobil yang jelas-jelas ia tinggalkan saat mengajar.


Lampu yang padam membuatnya ketakutan, bahkan kepalanya mulai pusing karena sejak siang ia tidak makan. Berharap cepat pulang tapi justru di tahan oleh Yudha hingga ia terjebak di dalam ruangan tanpa ada penerangan dan hanya sendirian.


"Pak Yudha tolong aku."


Kinayu meringkuk di balik pintu, ingin kembali ke kamar tapi ia tak bisa karena jalan tak terlihat. Tadi sore lampu masih menyala tapi entah kenapa ketika malam hari lampu tiba-tiba padam hingga ia menjerit ketakutan.


"Bapak....Ibu ...Kinayu takut...hiks hiks..." Ntah sudah berapa lama Kinayu menangis dan berteriak meminta tolong. Tubuhnya semakin lemah dengan udara yang semakin menyesakkan.


Kinayu pasrah, ia sudah berusaha tapi semua tertutup rapat. Bahkan jendela di desain permanen dan tak dapat di buka. Ketakutan semakin menjadi saat suara-suara yang tak ia inginkan mulai menyambangi telinga.


Jantung Kinayu berdebar dengan tangisan yang semakin pecah, matanya pun terpejam tak kunjung terbuka.


"Pak tolong Pak," lirihnya, bayangan Yudha yang memintanya untuk tetap tinggal dan menunggu di dalam kamar kembali menari diingatan.


Baru kali ini Kinayu menyesal menjadi istri penurut, andai sejak tadi ia membangkang kejadiannya tidak akan seperti ini. Bahkan ponselpun ia tak punya, mustahil malam-malam masih ada yang berkeliaran. Adanya scurity tak mungkin sampai di lantai atas ruangan Yudha yang hanya ada satu ruang. Bahkan ruangan Dekan tak ada di sana, bodoh jika Kinayu terus berteriak minta tolong sedangkan siang hari saja jarang ada yang melewati ruangan ini.


"Bapak, Kinayu mau pulang, Kinayu takut Pak .."

__ADS_1


"Ibu tolong Kinayu....."


"Pak Yudha kamu jahat...." suaranya semakin melemah hingga jantungnya terasa sudah sangat payah bahkan paru-parunya seakan tak mampu lagi bekerja.


__ADS_2