
Novi segera berlari menuju toilet setelah mendapat mandat dari Yudha yang mampu membuat jantungnya ingin lompat. Dia tau jika Yudha sedang dalam kondisi cemas dan menahan amarah. Hingga tatapan begitu mematikan.
Suara orang yang sedang muntah begitu terdengar dari luar, hingga beberapa pasang mata menatap heran siapa orang yang ada di dalam. Tapi setelah Novi masuk, mereka yang kenal segera paham siapa gerangan yang membuat penasaran.
"Temen loe hamil?"
"Masuk angin!" jawabnya singkat.
"Awalnya masuk angin udahannya buncit tuh perut. Loe pikir gue beego? temen loe lagi deket sama dosen kita kan? Jadi yang ke dua apa jadi piaraannya?"
deg
Dada Kinayu begitu sesak mendengar pertanyaan yang membuat dirinya harus menghela nafas berat. Berkali-kali di hujat rasanya mentalnya cukup kuat menghadapi suara hina yang terlontar untuknya.
"Bisa tidak kalian jangan berbicara sesuatu yang belum tentu kebenarannya? Itu fitnah namanya dan kalian bisa kena pasal!" sentak Novi, ia segera menghampiri Kinayu yang tampak lemas dengan wajah pucat.
"Gimana?"
"Aku nggak apa-apa," lirihnya dan segera berlalu keluar toilet. Satu mulut saja sudah membuatnya sakit apa lagi banyak. Dan Kinayu yakin setelah ini akan banyak kabar beredar dengan menyatakan jika dirinya hamil di luar nikah.
"Kinayu, kamu sakit?"
Langkah Kinayu terhenti melihat Satria dengan wajah khawatir menghampiri. Bahkan Satria berani menyentuh lengannya yang tak dapat ia hindari karna begitu cepat dan tubuhnya sedang tak memungkinkan.
Perlahan Kinayu menurunkan tangan Satria, kemudian menggelengkan kepala dengan senyum tipis penuh kekecewaan. Melihat Satria membuatnya teringat akan ucapan bapak yang mengatakan jika Satria datang hanya untuk menceritakan hal yang bukan haknya.
"Ayo nov!"
"Tunggu Kinayu!" Satria kembali menahan lengan Kinayu dan menghentikan kembali langkahnya.
"Aku tidak ingin ada masalah lagi Satria, kita sudah tidak ada hubungan. Aku juga tidak ingin kamu dalam masalah. Bersikaplah sewajarnya, karena semua sudah tak sejalan," lirih Kinayu.
__ADS_1
"Kenapa begitu mudah untukmu? apa sudah tak ada aku lagi di hatimu?"
"Apa masih pantas seorang istri mencintai pria lain?" tanyanya balik.
"Apa kamu mencintainya?" Satria menahan nafas menanti jawaban dari Kinayu, jawaban yang menentukan akan langkahnya. Kemarin Satria masih bertahan karena ia yakin cinta mereka masih dapat di pertahankan. Tapi jika kali ini jawaban Kinayu tak sesuai harapan, ia akan mundur perlahan dari semua usaha yang telah ia korbankan.
Kinayu menatap wajah Satria, getaran yang dulu pernah ia rasakan saat bersama sudah mulai reda bahkan menghilang. Kinayu sudah benar-benar tak merasakan jantungnya berdebar cepat tak seperti bersama Yudha, bahkan dengan Satria terkesan biasa.
"Aku mencintai..."
"Sayang," lirih Yudha yang tiba-tiba menghampiri dan menarik perlahan tangan Kinayu.
"Tunggu!" seru Satria, dia butuh penjelasan. Dan sebagai laki-laki ia tak mau main belakang. Setidaknya jika ia kalah, ia tak di katakan seperti pecundang.
Langkah kaki Kinayu dan Yudha terhenti, sedangkan Novi sejak tadi hanya diam mengamati. Ia hanya sekedar sahabat dan tak ada hak untuk ikut campur masalah rumah tangga. Tapi cukup penasaran dengan sikap asli Yudha pada Kinayu.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku Kinayu!"
"Ada apa sayang?" bisiknya dan hanya di jawab dengan senyuman oleh Kinayu. Setelah itu Kinayu berbalik dan menghadap Satria.
"Maaf jika jawabanku membuat luka baru. Tapi aku harus jujur pada kalian berdua." Kinayu menarik nafas dalam kemudian menatap Yudha dan Satria bergantian. "Aku mencintai suamiku..." lirihnya.
Satria tertegun mendengar kejujuran Kinayu, hatinya sakit namun lebih baik dari pada terus berjuang namun sia-sia. Pria itu tersenyum getir, menatap tak percaya dan tak juga membantah. Sesuai janjinya, ia akan mundur perlahan bahkan tak meninggalkan kata. Dan pergi dengan senyuman yang di paksakan.
"Ayo sayang..." Yudha menggenggam tangan Kinayu tak perduli dengan pandangan beberapa mahasiswa yang melihat keduanya. Sedangkan Novi segera kembali ke kelas untuk mengambilkan tas Kinayu dan menemui Arum untuk meminta tugas dari Yudha.
"Benar kamu mencintaiku sayang?" tanya Yudha yang kini sudah menutup rapat ruangannya.
Pertanyaan yang membuat Kinayu tertegun, wajahnya memerah menahan malu lalu segera menundukkan kepala menghindari tatapan Yudha.
"Sayang..." bisiknya.
__ADS_1
"Apakah harus ada pengulangan Bee?" lirihnya tanpa menatap Yudha.
"Tentu, aku ingin mendengarkannya. Tempo hari kamu bilang otw, apakah setelah beberapa hari tidur denganku cinta itu sudah singgah dan menetap?" Yudha menatap lekat bahkan sangat dekat, hingga Kinayu menahan nafas.
"Aku mencintai suamiku..."
"Siapa?"
"Apanya?" tanya Kinayu dengan wajah polos.
"Suaminya?"
"Pak Yudha dosen paling menyusahkan."
"Kenapa begitu?" Yudha menarik pinggul Kinayu agar tak ada jarak diantara mereka. Dia penasaran dengan alasan yang akan Kinayu ucapkan tentang arti menyusahkan.
"Menyusahkan hatiku karena kamu kelewat tampan Bee, fansmu banyak dan aku tak sekuat itu. Cukup aku jadi yang kedua dan harus berbagi tapi tidak untuk selalu mendapati suamiku di puji. Dan satu lagi, kenapa kamu harus sefamous itu? aku jadi harus menerima hinaan dari sana sini yang begitu pedih."
"Maafkan aku sayang, tapi hati aku cuma ada kamu. Bahkan tak ada yang lain, walaupun sekarang sedikit terbagi...."
"Oleh siapa? katamu tidak ada selain aku! lalu terbagi untuk siapa maksudnya?" kinayu memukul dada Yudha tetapi membuat Yudha tertawa menahan tangan yang kini mulai berani menunjukkan aksinya.
"Apa kamu akan cemburu pada anakmu sendiri, hhmm?"
Kinayu tertegun mendengar pertanyaan itu, ia segera masuk ke dalam pelukan Yudha dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Yudha.
Yudha mengulum senyum lalu membalas pelukan Kinayu, hatinya benar-benar bahagia. Bahkan baru kali ini ia merasakan kebahagiaan yang tak terkira.
"Aku mencintaimu sayang..." bisik Yudha kemudian merenggangkan pelukannya dan saling menyatukan Indra perasa. Saling mengungkapkan perasaan dengan belitan yang kuat dan sesapan yang saling memanjakan. Yudha pun semakin tak dapat menahan diri, baru kali ini Kinayu membalas dengan begitu aktif bahkan rasanya seperti ada sengatan yang menggetarkan hati.
Keduanya terbuai dengan kenikmatan hingga tak sadar suara ketukan pintu terus terdengar. Tanpa perduli dunia luar mereka semakin memperdalam dengan kedua tangan Kinayu memeluk leher Yudha. Kelakuan antara dosen dan mahasiswi yang saling mencintai ini membuat kedua gadis yang sejak tadi berdiri di luar nampak tak sabar dan di buat menganga melihat adegan panas yang menjadi alasan tak terdengarnya kedatangan mereka.
__ADS_1
"Ternyata sepanas ini....."