
Yudha masuk ke dalam kamar setelah mengantar Kinayu ke kamarnya. Dahinya mengernyit melihat Silvi yang sudah berganti pakaian dan siap ingin pergi.
Yudha diam dan memilih duduk di sofa, menatap nyalang dan membiarkan Silvi bertindak semuanya.
"Aku pergi!"
"Hhmm....."
Langkahnya terhenti, ia berbalik badan dan menatap Yudha dengan menggelengkan kepala.
"Semudah itu?"
"Bukannya memang kamu ingin bebas? silahkan pergi!" ucapnya datar. Silvi sulit di atur, percuma seandainya ia harus bersusah payah menegur. Membiarkan lebih baik dari pada menahan dan tak ada hasil.
"Keterlaluan kamu mas!" Silvi segera menggeret kopernya dan pergi dari rumah, kekesalan akan sikap Yudha membuatnya lebih memilih bermalam di apartemen dari pada tidur satu ranjang tanpa kehangatan.
Hubungan keduanya sudah terlanjur memburuk, keduanya tak pernah bisa bicara dengan baik dan duduk santai membahas masa depan. Silvi yang sulit dan Yudha tak mudah di curi hatinya.
Pagi yang berbeda, kecupan di kening membangkitkan semangat dan meninggalkan semburat merah. Kinayu terhenyak setelah mengecup punggung tangan Yudha kemudian mendapat kecupan hangat di kening.
"Hati-hati, atau berangkat bareng aku saja ya?"
Kinayu menggelengkan kepala, dia lebih baik berangkat sendiri dari pada mendapati berita tak baik yang akan timbul setelah dirinya kedapatan berangkat dengan Yudha.
__ADS_1
BRAK
Kinayu terjingkat, saat ia ingin meninggalkan kelas setelah menyelesaikan kelas pertama tiba-tiba ada yang membuka pintu kasar hingga terbentur dinding. Bukan hanya dia yang terkejut, semua yang ada di sana pun merasakan hal yang sama dan menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Satria menatap tajam seorang wanita yang diam-diam adalah istri kedua dosen mereka.
"Keluar semua!" teriak Satria dan semua segera keluar dari kelas termasuk ketiga wanita yang ia kenal. Tapi dengan cepat Satria menahan tangan Kinayu, wanita itu memejamkan mata sejenak dan menghela nafas panjang.
"Ternyata dia suami kamu?"
Diamnya Kinayu membuat Satria semakin mengepalkan tangan dan mengeratkan rahangnya, dia menoleh ke arah Kinayu yang kini tertunduk tak tau akan bicara apa.
"Pantas kamu menolak aku tebus, ternyata suamimu adalah Pak Yudha? dan kini kamu telah menjadi istri kedua dosen tampan itu?" Satria berdecih, menyapa nyalang wanita yang kini menatapnya dengan mata tak menyangka.
Ya Satria tidak pernah kasar apa lagi sampai merendahkannya, tapi hari ini emosi menutupi segalanya. Ia tak bisa membedakan mana yang ia sayang dan mana yang ia ajak perang. Matanya penuh amarah dan menyiratkan kekecewaan.
Satria terhenyak mendengar ucapan lugas dari Kinayu, wanita yang sampai saat ini masih ada di hatinya bahkan masih ingin ia perjuangkan. Tapi apa yang ia lihat kemarin seakan membuka mata dan membuat sadar jika Kinayu sudah tak mencintainya.
"Semudah itu kamu melupakanku? semurah itu harga diri mu? aku pikir aku masih ada di hatimu tapi ternyata aku salah, kamu menikmati sentuhannya!" sentak Satria.
"Aku menyesal pernah mencintaimu!"
Kinayu mematung melihat punggung pria yang kini telah merendahkan harga dirinya menjauh dan menghilang di balik pintu. Tubuhnya mendadak lemas, hingga ia tak mampu menopang dan terduduk di lantai.
Kinayu tak membiarkan air matanya jatuh begitu saja. Ia mengusap kasar dengan menahan Isak. Dua tahun bersama dan mengenal dengan sangat baik, sekarang harus hancur karena satu alasan. Dan merubah semua pemikiran.
__ADS_1
Bugh
Satria terpelanting hingga terbentur dinding.
"Siapa kamu berani menghina istriku!" sentak Yudha. Kini keduanya sedang berada di ruangan Yudha. Melihat Kinayu menangis dan terluka, Yudha seakan tak terima. Dia memanggil Satria dengan berdalih tugas kuliah hanya untuk membalas penghinaan yang ia lakukan pada Kinayu.
"Cih, orang yang di puji-puji dan di sanjung-sanjung oleh semua mahasiswi tak lebih hanya seorang maniak yang membeli wanita dan memanfaatkannya. Dimana wibawa anda yang selama ini anda tunjukan?"
"Ini tidak ada kaitannya dengan profesi, jangan kamu campur adukkan masalah pribadi. Dan kamu tidak ada hak untuk ikut campur! Kamu hanya orang asing dan bagian masa lalu dari Kinayu, jadi kamu tidak ada hak untuk menilai seseorang apa lagi menghina Kinayu lagi!" tegas Yudha, pria itu sebisa mungkin menahan amarahnya walaupun ia sangat ingin menghabisi Satria.
"Jangan pikir saya akan terima anda merebut Kinayu dari saya! saya memang kecewa, tapi saya masih sangat mencintainya. Dan jangan bapak kira perjuangan saya sudah berakhir. Suatu saat saya akan mendatangi anda dengan membawa uang untuk menggantikan uang yang telah anda keluarkan untuk keluarga Kinayu!"
Satria pergi dari sana, tak pernah terpikir olehnya sampai ribut dan menantang dosen yang selama ini mengajarnya, apa lagi ia tau betul siapa Yudha.
"Jadi Pak Yudha suami kamu Kinayu?" tanya Novi, tadi Novi dan Arum sengaja menunggu di depan kelas takut-takut Satria kasar karena melihat betapa tajamnya tatapan Satria dengan penuh amarah. Keduanya juga mengamankan depan kelas dari orang yang ingin mencuri dengar termasuk Rara.
Kinayu menganggukkan kepala membuat kedua sahabatnya menghela nafas berat. Itu bukan prestasi tapi nyari mati. Mereka paham betul dengan status Yudha, akan banyak hinaan dan bullyan jika semua orang tau jika Kinayu istri kedua.
Kedua sahabatnnya memeluk Kinayu, saling menguatkan karena mereka tau itu tak mudah apa lagi menjadi istri kedua seorang terpandang dengan istri pertama seorang model ternama.
"Kalian tenang saja, aku pasti bisa melewati ini semua," ucapnya dengan senyum yang di paksakan. Kinayu tak ingin membuat kedua sahabatnya khawatir, mereka masih mau berteman setelah tau statusnya sekarang saja sudah lebih dari cukup baginya.
"Apapun yang terjadi nanti, kamu harus kuat!"
__ADS_1