
"Faster baby......yeeeeessssss........"
suara khas percintaan menggema di sudut kamar hotel. Hawa panas kedua insan yang sedang menyatu begitu membara. Tak ada kata selain nikmat yang mendefinisikan kegiatan mereka.
Saling menghangatkan dan menyalurkan hasrat, mengimbangi gerakan dan meninggalkan kesan candu yang membangkitkan keinginan untuk mengulang.
Hingga suara erangan panjang menandakan kegiatan selesai dengan keluarnya cairan yang menandakan kepuasan.
Nafas keduanya tak beraturan dengan dada naik turun tak berirama. Saling mengunci pandang dengan tatapan penuh makna.
"Bagaimana kamu puas sayang?" Gilang mengecup seluruh wajah Silvi dengan gemas, menarik selimut dan menutupi tubuh polos yang beberapa menit lalu menjadi tempat singgah yang melenakan.
"Kamu selalu memuaskan, aku suka," ucapnya dengan senyum menggoda menarik perhatian Gilang yang sulit menahan tangannya untuk mengabaikan tubuh yang selalu membuatnya tak bisa menahan gejolak.
"Sepertinya aku ingin menambah waktu liburan kita sayang," Gilang mendekap erat tubuh Silvi tak ingin melepaskan.
Mencintai sendiri apa lagi milik orang lain adalah tantangan hidup yang memicu adrenalin. Gilang menerima apapun keinginan Silvi karena rasa cintanya yang menutupi akal sehat. Dia mau menjadi teman ranjang sejak Silvi merasa Yudha tak mampu memberikan kehangatan dan kepuasan lagi untuknya. Asal bisa bersama, persyaratan apapun Gilang akan terima.
Gilang akan mencoba merebut hati Silvi dari kegiatan panas yang sering mereka lakukan, membuat Silvi merasa ketergantungan dan akhirnya membutuhkan lalu tak ingin melepaskan. Gilang pun mulai bernafas lega karena Silvi yang mulai manja dan meminta apapun padanya. Perhatian yang ia beri tak sia-sia. Masuk di saat rumah tangga goyang lebih mudah apa lagi merebut hati yang sedang kecewa.
"Bagaimana jika Yudha curiga? aku juga tak ikhlas jika dia merasa bebas dengan istri keduanya. Pasti saat ini mereka selalu bersama, aku yakin wanita itu mencuri kesempatan saatku tak ada di rumah. Ranjang aku mulai dingin semenjak kehadirannya, aku bahkan tak pernah lagi merasakan tubuh Yudha," keluh Silvi dengan memainkan jemarinya di dada Gilang.
"Tapi kamu mendapatkannya dariku sayang, bahkan aku telah membuatmu mendesah panjang hampir setiap malam, apa kah masih belum cukup, hhm?"
__ADS_1
Gilang mengesampingkan status, ia tak ingin Silvi merasa terbebani karena hatinya masih mencintai Yudha, dia tak mau Silvi muak akan dirinya yang ingin memiliki seutuhnya. Gilang yakin sebentar lagi gayung akan bersambut dan ia akan memiliki Silvi sepenuhnya.
"Kamu bahkan selalu membuatku melayang sayang, aku selalu ingin lagi dan lagi. Sepertinya aku mulai candu dengan permainanmu, Yudha sudah hambar dan kamu begitu nikmat." Dengan manja Silvi mengecup bibir Gilang, membangkitkan kembali gairahnya yang sempat rehat setelah pertempuran.
"Eemmhh apa kamu menginginkannya lagi sayang?" tanya Gilang dengan suara berat berkabut gairah.
"Tentu, aku tak akan berhenti jika selalu menempel di tubuhmu. Bahkan tubuhku selalu ingin bergerak liar di atasmu," Silvi sudah merangkak ke atas tubuh Gilang dan melempar selimut yang menutupi keduanya. Matanya membola dengan seringai centil melihat milik Gilang sudah kembali siap bermain dengannya.
"Let's play baby, I want you.... bergeraklah sesuka hatimu sayang!" bisiknya.
"Uuuggh yes dear...."
Hal yang tabu menjadi candu, dan larangan menjadi kewajiban. Tak ada yang bisa mengelak ketika kedua insan berbeda jenis bersama dalam satu ruangan.
Di pelukan Gilang ia merasa sangat di cinta, bahkan pria itu rela meninggalkan pekerjaan demi menyusulnya pemotretan ke luar negeri. Hal yang tak pernah Yudha lakukan, apa lagi saat ini perhatian mulai terkikis dan semua tergantikan oleh Gilang. Katakanlah ia serakah, hatinya dan tubuhnya sudah terbagi pada dua pria. Gilang hampir merobohkan benteng yang ia bangun hanya untuk Yudha. Rasa kepemilikan pada Gilang pun mulai tumbuh walaupun ia belum mengakuinya.
Kebersamaan yang membuat mereka terbiasa hingga rasa mulai ada. Tapi tak berarti ia ingin melepas Yudha dan beranjak kepelukan Gilang. Banyak yang ia pikirkan, Yudha bukan hanya tampan dan mapan, tapi ia idaman semua wanita. Dan Silvi tak akan rela melepaskan. Apa lagi harus kalah dengan istri kampungan yang kini menempati rumahnya.
"Biar aku yang mengendalikannya sayang, kamu membuatku gemas. Terima ini untukmu sayang...."
"Gilang kamu memang selalu tau apa yang aku mau, lakukanlah sesuka hatimu. Aku menikmatinya...."
Sedangkan diluar kamar, Ana tampak jengah melihat keduanya tak kunjung keluar kamar sedangkan jadwal pemotretan satu jam lagi akan di mulai. Ia nampak kesal berulang kali menghubungi Silvi tak kunjung di jawab. Ana paham apa yang mereka lakukan. Dia pun tak ingin ikut campur, tapi dia juga tak ingin jika nanti terbongkar dirinya ikut terseret dalam masalah.
__ADS_1
"Gila nich orang, ngomongnya cinta sama Yudha tapi dikekepin Gilang ketagihan."
Hanya Ana yang tau hubungan terlarang keduanya. Tanpa Ana tau jika Yudha pun sudah memiliki istri kedua yang menjadi pemicu dari apa yang Silvi lakukan. Dia hanya tau Silvi butuh hiburan bukan pelarian yang akhirnya terjebak dengan permainan yang mereka buat.
"Gila loe Sil jam segini baru keluar kamar, mana tuh rambut masih basah! loe ngapain aja sich di dalam? nggak kelar-kelar urusan ranjang loe berdua? udah kayak kagak ada waktu lagi tau nggak! tiap hari ngamar juga."
"Udah jangan marah-marah, gue lagi capek banget nich. Cepet kasih make up gue, loe yang ngeringin rambut gue biar cepet!"
Ana hanya bisa menghela nafas panjang, ia hanya manager dan asisten buat Silvi. Ocehannya pun hanya di anggap angin lalu. Berbeda jika ia sudah marah dalam jangkauan sahabat, Silvi tak akan berkomentar dan tak berani melawan.
"Sayang kamu udah cantik aja, nanti mau aku jemput atau gimana?"
cup
"Nggak usah dech, nanti rame lagi! Banyak kru di sana jadi kamu diem-diem aja di kamar ya sayang!"
"Aku akan keluar mencari angin hubungi aku jika kamu sudah selesai. Aku akan kembali sebelum kamu sampai. Jangan capek-capek ya," Gilang mengedipkan sebelah matanya dan pergi meninggalkan Silvi setelah kembali memberi kecupan di bibir.
"Loe nggak takut Yudha tau?"
"Asal loe nggak bongkar juga Yudha nggak akan tau."
"Males gue ikut campur urusan Loe, jangan aja loe nangis-nangis ke apartemen gue nanti. Gila aja kalo sampe Yudha tau, nggak cuma loe ngerusak rumah tangga loe, tapi loe juga ngerusak persahabatan meraka."
__ADS_1
"Gilang yang berkhianat, bukan gue yang mulai! dia tau konsekuensinya seperti apa."