ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 42


__ADS_3

"Hujannya sudah reda, aku pulang ya..."


Kinayu merapikan pakaiannya yang berantakan akibat ulah Yudha. Kemudian menyisir rambut dan sedikit memoleskan lipstik tipis pada bibir yang kini tampak pucat, apa lagi jika bukan karena kegiatan tadi.


"Aku harus ke kantor, kamu hati-hati ya. Segera pulang dan jangan ngebut-ngebut."


"Jadi kamu kalo pulang sore bahkan malam itu karena harus ke kantor setelah mengajar?" tanya Kinayu setelah rapi dan meraih tas ranselnya yang berada di meja kerja Yudha.


"Iya, kamu pikir aku kemana? aku masih harus bekerja, jika tidak mana bisa membiayai hidup kedua istriku!" Yudha mengekor Kinayu yang melangkah menuju pintu.


Kinayu menganggukkan kepala, ia mulai paham dari mana uang yang Yudha dapatkan. Kemudian segera menghentikan langkah ketika sampai di dekat pintu.


"Bangga ya punya istri dua? sepertinya bahagia sekali, padahal kamu tau tidak efeknya akan menyakitkan. Lihatlah mbak Silvi, dia begitu marah dan stres setiap melihat aku. Aku pun sama walopun aku tidak cinta tapi naluriku sebagai perempuan tidak terima. Itu lah alasannya aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mbak Silvi saat mendapatkan amukan darinya. Karena memang rasanya sakit."


Baru kali ini Yudha bisa mendengar keluhan hati Kinayu, ia pun sadar telah menyakiti Silvi, tapi ini karena Silvi tak sejalan dengannya. Menikah dengan prinsip yang berbeda tak akan pernah bisa baik-baik saja.


"Sebelum kamu masuk ke dalam hidupku, hubunganku dengan Silvi sudah tak baik-baik saja. Bahkan hatiku mati, berarti cinta untuknya pun sudah mati. Dia tidak pernah menghargai aku. Dan yang utama dia tidak mau memiliki anak selama pernikahan ini. Itulah yang membuatku menikah lagi, karena anak. Dan mamah menginginkan keturunan dari ku."


"Jika aku juga tidak bisa memberikan anak untukmu bagaimana? apa kamu akan menikah lagi? dan mengembalikanku ke orang tuaku? atau orang tuaku harus mengembalikan semua uang yang kamu kasih?"


Yudha tertegun mendengar pertanyaan dari Kinayu, ya...jika Kinayu tidak bisa hamil, dia harus bagaimana.....apakah harus melakukan semua yang Kinayu sebutkan?


"Kita masih bisa membuatnya lagi, lagi dan lagi. Asal kamu memang bersedia memiliki anak bersamaku!"


...🍀🍀🍀...


"Mas...baru pulang? mau makan atau mau mandi dulu?" sambut Silvi yang kebetulan sedang membuat minuman suplemen untuk menjaga tubuhnya. Dia meletakkan itu di meja makan dan segera menghampiri Yudha.


"Aku mau mandi dulu! gerah..." Yudha terus melangkah menuju kamar, tetapi saat di undakan tangga langkahnya terhenti setelah melihat jam dinding masih menunjukkan pukul delapan.


"Kamu tumben sudah di rumah?" tanyanya penuh selidik, Silvi yang ingin kembali ke meja makan segera menoleh.


"Oh, aku mau packing mas, besok pagi aku akan berangkat ke Jepang buat pemotretan di sana. Ada perusahaan yang sudah mengontrakku lumayan besar untuk menjadi model iklan dan itu di laksanakan di negara matahari terbit."


Yudha diam dan kembali melanjutkan langkahnya, dia seperti sudah hafal dengan Silvi, satu hari pulang cepat dan bisa seminggu dia tidak pulang kerumah.


Setelah berganti baju Yudha bersiap untuk makan malam, sekilas melirik Silvi yang sedang mengisi koper dengan beberapa barang-barangnya.


"Berangkat jam berapa?"


"Pagi mas," jawabnya kemudian berdiri dan mengalungkan tangannya di leher Yudha.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengantar, karena bertepatan dengan jam kerja."


"Its oke mas, aku bisa sendiri. Ada Ana juga, jadi tidak masalah."


Yudha menatap Silvi penuh keraguan, tak biasanya Silvi pergi jauh tapi tak merengek minta di antar dan pasrah begitu saja.


"Hhmm...."


"Mas mau makan malam? aku masih banyak yang belum di siapkan, makan duluan nanti aku menyusul ya!"


Silvi mencium pipi Yudha kemudian melanjutkan kembali kegiatannya karena dia harus berangkat menuju bandara habis subuh.


cklek


"Bee..."


Yudha menerobos masuk kemudian membungkam bibir Kinayu dan menarik tubuhnya hingga bersandar di pintu kamar. Hatinya merindu, padahal baru dalam hitungan jam mereka tak bertemu.


Kinayu yang tak siap bagai tersengat ribuan voltase hingga lemas dan hanya mampu mencengkeram kaos Yudha dengan kedua tangannya. Belitan lidah dengan frekuensi tinggi menyulitkan Kinayu untuk mengimbangi.


Nafas Kinayu ngos-ngosan, ia merasa kepayahan dengan kedua tangan masih mencengkeram kaos Yudha. Melirik pria yang kini tersenyum tipis dengan tatapan sengit.


"Nyerang mendadak begini, kamu mau bunuh aku!" Kinayu memukul dada Yudha melampiaskan kekesalannya.


"Sudah berani memukulku!" Kinayu terdiam, ia meringis menatap Yudha yang tiba-tiba kembali datar.


cup


"Jangan tegang begitu!"


Kinayu bernafas lega, pria di depannya itu memang selalu membuat jantungnya tidak aman dengan sikapnya yang tak konsisten. Atau memang aslinya datar saja dan butuh di ajak menonton film lawak agar tau caranya tertawa.


"Ngapain kesini?"


"Ayo makan!"


"Mbak Silvi?" Kinayu memilih makan sendiri setelah mereka dari pada bersama dan membuat Silvi marah.


"Dia lagi sibuk!" Yudha menggenggam tangan Kinayu dan membawanya keluar kamar menuju meja makan.


Mengikat rambutnya ke atas dan segera memanaskan makanan lalu menyajikan. Semua ia lakukan dengan cekatan dan di bawah pantauan Yudha.

__ADS_1


"Ini..."


Yudha melirik dengan wajah tak suka saat piring yang terisi makanan untuknya hanya di letakkan dengan satu kata dan membuatnya berdecak.


"Kamu memberikannya pada siapa?"


"Bapak! eh....bea," jawabnya gugup.


"Nggak sopan!"


Kinayu membolakan mata ketika Yudha kembali mendorong piringnya ke arah Kinayu dan diam tak ada suara. Kinayu menarik nafas panjang, kenapa harus ada drama di awal makan malam padahal ia ingin cepat selesai agar ketika Silvi turun dia segera masuk kamar.


"Iya maaf, ini bee dimakan!" ucap Kinayu dengan senyum manis. Yudha menatapnya gemas, hubungan yang baru membaik dan akan dimulai bagai nasi yang baru matang. Masih panas dan ada manis-manisnya. Tanpa ada kata cinta tapi kenyamanan lebih utama.


Kinayu pun mulai menerima walaupun tak munafik dirinya masih belum sepenuhnya melupakan satria, pria baik yang terpaksa harus ia tinggalkan. Masih ada cinta yang belum hilang, tapi tak mungkin ia biarkan karena ada pria yang berhak walaupun pernikahan mereka berawal karena hutang.


Keduanya makan dengan khidmat, sesekali ada obrolan ringan dan saling melempar senyum. Mulai mengakrabkan diri dan membiasakan saling memahami.


"Besok Silvi pergi ke Jepang."


"Jepang?"


"Hhmm.....dan mulai besok malam kita tidur bersama." Yudha menatapnya dengan tatapan penuh makna, Kinayu melihatnya justru gelisah, bayangan akan pertempuran yang menyakitkan kembali terbayang hingga ia bergidik ngeri dan segera menundukkan kepala.


"Aku akan lebih lembut..." ucapnya menggenggam tangan Kinayu.


Kedua mata saling mengunci, terlihat jelas ketakutan di mata Kinayu yang membuat Yudha merasa bersalah. Belum sempat pria itu kembali berucap suara dari Silvi membuat Kinayu segera melepaskan genggaman tangan Yudha.


"Bagus! dasar wanita penggoda! ngapain kamu pegang-pegang tangan mas Yudha? hah!" sentak Silvi dengan mengambil gelas dan menyiramnya ke wajah Kinayu.


"Silvi!" bentak Yudha, ia segera menarik tangan Kinayu berdiri di sampingnya.


"Kamu membentakku lagi mas?" tanyanya tak percaya.


"Karena dia juga istriku! Silvi, tidak bisakah kamu berdamai dengan keadaan? kedudukan kalian sama! aku juga tak akan membedakan jika kamu mau menurut padaku!"


"Aku tau jalan pikiran kamu mas! aku sudah bilang aku tidak bisa punya anak! aku mandul Yudha!" bentak Silvi dan segera berlari menuju kamar.


Kinayu menitikkan air mata, mendengar Silvi mengucapkan kata mandul membuatnya iba.


"Jangan menangis, ayo ke kamar dan ganti bajunya!"

__ADS_1


__ADS_2