ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 47


__ADS_3

Katakan sikap Yudha egois, tapi karena terlalu ingin memiliki anak membuatnya lupa jika ibu yang mengandung anaknya pernah terluka karena ucapan di awal pernikahan.


Kinayu menatap datar keluar jendela, hari ini ia berangkat dengan Yudha. Pria itu tak mengijinkan Kinayu mengemudi motornya sendiri dengan tubuh lemas. Yudha meraih tangan Kinayu dan membawanya ke pipi, sesekali mengecup hingga wanita itu menoleh dengan tatapan sendu.


"Jangan sedih lagi, aku sudah minta maaf. Nanti istirahat di ruanganku jika kamu lelah ya.


"Bagaimana aku turun dari mobil ini? akan banyak pertanyaan dan mata aneh memandangku nanti. Belum lagi pemburu gosip, bagaimana jika sampai ke telinga mbak Silvi?" Kinayu menghela nafas berat, bagaimana bisa tenang jika hidupnya bersama orang yang tersorot orang banyak.


"Aku tidak akan membuatmu kesulitan, aku janji akan melindungimu."


Mobil Yudha berhenti di jarak 10 meter dari gerbang kampus. Berat bagi Yudha tapi ia tak ingin menambah beban pikiran Kinayu. Menatap wanita yang sibuk merapikan penampilannya sebelum turun dari mobil dan membubuhkan sedikit lipstik untuk menghilangkan kesan pucat karena tadi sempat hilang saat muntah.


"Aku turun ya..." Kinayu mengulurkan tangan tapi Yudha menarik tubuhnya dan mendekap erat. Kinayu merasakan jantung Yudha berdebar, dan baru kali ini ia merasakan debaran yang begitu kencang hingga jantungnya ikut tertular.


"Kenapa?" tanya Kinayu polos, ia tak mengerti dengan sikap Yudha yang tiba-tiba berubah, bahkan tersirat ketakutan di matanya.


"Jangan marah, jangan sedih, maaf aku salah..." lirihnya.


Kinayu tak lagi berucap, hatinya berdesir mendengar suara berat penuh penyesalan. Entah mengapa ia seperti melihat sisi terendah Yudha, apa lagi tangan yang terasa dingin memeluk posesif hingga ia merasa sesak tapi tak ingin memberontak.


Dan Kinayu yakin bukan semata-mata karenanya, ada sesuatu yang membuat beban di pikiran hingga Yudha diliputi ketakutan.


Yudha merenggangkan pelukannya, menatap wajah polos istrinya yang menggemaskan.


"Jangan kecapekan ya, ingat aku menunggumu di ruanganku!" ucapnya lembut dan mengecup bibir mungil yang menggoda.


"Ini di jalan loh! kalo ada yang lihat bagaimana?" tanyanya setelah Kinayu sadar akan kedekatan keduanya.


Yudha menghela nafas panjang, "jika perlu aku ingin dunia tau, kamulah istri yang aku cintai."


Kinayu menundukkan kepalanya dengan wajah bersemu, mengulum senyum merasa di cintai dosen tampan yang pandai merangkai kata.


"Bapak dosen ini sungguh pintar menggombal, pantas saja fansnya banyak!" celetuk Kinayu.


Yudha terkekeh mendengar ucapan Kinayu yang seakan meledek kemudian mengusak lembut rambut Kinayu dengan gemas.

__ADS_1


"Mana ada aku gombalin mahasiswiku? yang ada aku yang tiap hari di gombalin mereka. Apa kamu lupa jika kedua sahabatmu saja memujiku?"


"Tapi tidak sekarang, karena mereka tau kamu adalah suamiku!"


"Sudah mengakuinya sekarang?" tanyanya dengan seringai tipis menggoda. Kinayu membuang muka, ia malu akan ucapannya.


"Kamu lihat saja nanti di kelas, kuat tidak sahabatmu menahan senyum untukku!"


Kinayu menggelengkan kepala, menatap sengit pria di depannya dengan tangan bersedekap dada. Tapi sikap marahnya ini justru membuat Yudha ingin memeluk dan menghujani dengan ciuman.


"Kenapa?" tanya Yudha polos.


"Berani tebar pesona dengan mahasiswimu, malam ini bapak dosen tidak boleh masuk kamarku!" tegas Kinayu dengan bibir merengut kemudian turun dari mobil Yudha karena Novi sudah datang.


"Istriku menggemaskan..." gumam Yudha melirik spion yang menampakkan wanita muda masuk kedalam mobil temannya dengan bibir mengerucut.


.


.


.


Bahkan Arum yang sejak tadi mengamati auto kenyang dan menggeser mangkok bakso dengan sisa yang masih banyak. Kemudian di habiskan Novi karana Arum melarang Novi untuk memesan makanan.


"Kalian kenapa sich? aku tuh belum sarapan, tambah lagi harus belajar. Rasanya laper banget aku tuh. Jadi jangan ganggu ya, nanti keburu waktu istirahat habis perutku belum kenyang!"


Novi dan Arum saling bertatapan, hal yang tak biasa dan patut dicurigai dan segera mencari kebenarannya karena jika menunggu Kinayu bicara pasti akan lama mengingat Kinayu yang sulit untuk jujur.


Kelas selanjutnya diisi oleh Yudha, seperti biasa para mahasiswi menebar senyum merekah begitupun kedua sahabat Kinayu yang menatap lekat seakan lupa yang mereka lihat adalah suami sahabatnya.


Kinayu menatap jengah semuanya, tak biasanya ia akan sangat terganggu dengan sikap taman-tamannya di kelas. Mencoba untuk fokus menyimak tanpa perduli dengan tatapan menggoda hingga bola matanya melebar saat ada mahasiswi yang tak mengerti dan Yudha mendekati hingga jarak keduanya begitu terlihat intim.


"Yang ini loh Pak maksudnya apa ya? saya nggak ngerti dech."


Sebagai dosen Yudha tak mungkin menolak saat mahasiswinya bertanya dan butuh penjelasan. Tanpa ia sadari sejak tadi ada sepasang mata yang kurang nyaman melihatnya.

__ADS_1


"Modus aja loe Bella!" celetuk salah satu temannya.


"Bilang aja mau pamer br@ baru kan loe!"


Bella memang terkenal sexy dengan pakaian yang pas di bodynya. Dan selalu membuka dua kancing atas dengan sengaja, ntah apa alasannya.


"Ehemm.....sudah mengerti kan?" tanya Yudha dengan sikap datar.


"Oh i..iya sudah Pak."


Yudha kembali melangkah ke depan dengan melirik sekilas wajah Kinayu yang di tekuk. Pria itu mengulum senyum kemudian kembali menerangkan materi.


"Ada lagi yang ingin bertanya?" Yudha melihat seluruh mahasiswanya tak terkecuali Kinayu yang hanya diam. Tak biasanya ia bungkam, terlebih di jam pelajarannya yang selalu ada pertanyaan di setiap kali ia mengajar.


"Kinayu!"


Kinayu mengangkat kepala dan menatap Yudha dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Tidak ada yang ingin di pertanyakan?"


Kinayu menggelengkan kepala, "tidak pak." Kemudian kembali menunduk melihat buku.


"Baik, jika tidak ada pertanyaan lagi, saya selesaikan kelas hari ini. Selamat siang!"


"Siang....."


"Aduh.....yang cemburu sama bapak dosen tercinta. Sepertinya sudah ada bunga-bunga di taman nich!" goda Arum.


"Apa sich!" Kinayu segera beranjak dari sana dan pergi meninggalkan keduanya.


"Eehh....mau kemana?" seru keduanya sahabatnya tapi tak di hiraukan oleh Kinayu. Dia terus berjalan menuju ruangan bapak dosen dengan membawa beberapa buku sebagai alibi agar tak terlalu di curigai. Menaiki lift menuju lantai yang hanya ada satu ruangan disana.


Hap


Mata Kinayu melebar merasakan tarikan di tangan dan bekapan di mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2