
Prang
pyaar
"Brengs3k!"
Silvi geram, belum lama ia mendapatkan kabar dari asistennya jika namanya viral dan kini menjadi sorotan lambe turah. Banyak sekali yang memberitakan dirinya dengan bermacam artikel yang telah tersebar.
...Model cantik Silvia Agatha yang kini sedang naik daun di poligami oleh suaminya......
...Akibat tak kunjung memberi keturunan, suami Silvia Agatha menikah lagi......
...Yudha Prasetya seorang pengusaha dan juga Dosen menjadikan mahasiswinya istri kedua.....
"Keterlaluan kamu mas!"
Semua kabar yang beredar membuat reputasinya sebagai model terancam. Silvi pun tak menyangka jika Yudha adalah seorang dosen dari istri keduanya sendiri.
"Ana, gue nggak bisa keluar rumah. Wartawan Ngepung rumah gue! gimana donk!"
"Ck, sebenarnya tuh gosip bener nggak?"
"Bener!"
"Loe ngapa nggak cerita sama gue!"
"Udah nggak usah ngajak debat, gue harus keluar sekarang juga dari rumah ini!"
"Gue nggak bisa ngebantu loe, wartawan juga udah pada Ngepung apartemen gue! loe minta bantuan siapa kek!"
SHIIITT
Waktu istirahatnya terusik dan ia tak bisa diam saja di dalam rumah. Silvi ingin segera keluar dan pergi dari sana. Bisa saja ia nekat tetapi wartawan sudah pasti memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1
"Gilang...."
Tak ada pilihan lain selain meminta pertolongan pada Gilang. Silvi segera menghubungi Gilang dan memintanya untuk menjemput bagaimana pun caranya. Yang jelas hari ini ia harus keluar.
"Kenapa sayang?"
"Tolong aku!"
"Kamu kenapa? bilang sama aku kamu kenapa sayang?"
"Aku tidak bisa keluar dari rumah, para wartawan sudah berdatangan dan memenuhi pagar rumahku!"
"Aku akan segera kesana!"
Gilang selalu menjadi pelindungnya dan orang nomor satu yang selalu ada untuknya. Hal ini lah yang membuat Silvi tak ingin melepaskan pria itu. Sekalipun ia mencintai Yudha tapi ia juga menginginkan Gilang.
Silvi mondar mandir di kamarnya menunggu kedatangan Gilang. Sesekali mengintip lewat jendela kamar keadaan di luar dan yang benar saja wartawan semakin banyak berdatangan. Ingin rasanya ia menemui Yudha dan Kinayu, memprotes dengan apa yang terjadi dan meminta keduanya untuk bertanggung jawab atas kekacauan yang ada.
Apa lagi kabar yang ada jelas menjelekkan dirinya. Ia di sebut tak bisa mempunyai anak atau mandul sesuai yang ia katakan pada Yudha dan keluarganya tapi bukan berarti Silvi mau orang lain tau dan menghina semaunya.
"Baik nyonya.."
Silvi keluar dari pintu belakang, Gilang sudah datang dan menunggunya di halaman belakang rumah. Tak lupa Silvi menggunakan kaca mata, masker, dan topi untuk menyamarkan wajahnya agar para pemburu berita tidak mengenali dirinya.
"Sayang..." seru Gilang saat melihat Silvi keluar rumah, dia segera berlari dan menarik tangan Silvi untuk segera keluar.
"Gimana caranya? aku manjat pager gitu?" tanya Silvi saat keduanya sudah ada di pagar belakang rumah.
"Iya, aku akan angkat kamu. Disana sudah ada kursi yang sengaja aku letakkan agar kamu mudah turunnya."
Tak ada jalan lain, Silvi akhirnya menyetujui dan berusaha naik dengan di bantu oleh Gilang. Beruntung ia tak menggunakan dress hari ini. Jadi lebih memudahkan dirinya untuk melewati pagar.
Dan berhasil, keduanya sudah ada di luar pagar dan segera berlari menuju mobil Gilang. Silvi membuka maskernya dan bernafas lega karena sudah bisa keluar dari rumah. Tujuannya kali ini adalah ke apartemen dan memikirkan semuanya di sana. Dia tak bisa diam saja dan menerima nasib. Sedangkan ia harus menyelamatkan nama baiknya.
__ADS_1
Ana pun terus meyakinkan pihak management jika kabar yang ada itu hoak. Memang Silvi di poligami tetapi bukan karena dirinya tak bisa punya anak. Itu semua karena Yudha yang memang berniat mendua. Agar semua bersimpati pada Silvi dan justru memberi dukungan.
"Kenapa bisa banyak wartawan di rumah kamu?"
Kini keduanya sudah dalam perjalanan, Gilang segera pergi dari sana sebelum wartawan sadar akan Silvi yang mengendap keluar rumah. Apa lagi jika sampai wajahnya di ketahui dan masuk berita. Sudah pasti Yudha tau jika selama ini Silvi dan dia ada hubungan.
"Kamu belum tau berita yang viral hari ini? bahkan wajahku memenuhi halaman media sosial. Mereka sudah tau tentang rumah tanggaku! dan mereka mengira jika aku mandul!"
"Tapi sebenarnya mandul atau tidak?" tanya Gilang lagi.
"Kenapa pertanyaanmu seperti itu? kamu meragukanku? bahkan aku bisa punya anak banyak tapi tak untuk sekarang, karirku sedang di atas dan aku tidak mau hamil. Banyak kontrak yang sudah aku tanda tangani dengan syarat tak boleh hamil dalam masa kontrak kerja. Tapi memang aku pun belum siap dan belum mau. Makanya aku bilang pada Yudha jika aku tidak bisa hamil. Tapi bukan berarti semua orang bisa menghinaku. Aku tak terima jika karirku hancur karena kabar gila ini!"
Gilang terdiam dia tak lagi bertanya atau pun menimpali, dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Dan hatinya yang entah membuatnya tak mengerti.
Kini keduanya telah sampai di apartemen Silvi, mereka segera masuk setelah sebelumnya merasa ada yang memata matai.
"Akhirnya...sampai. Benar-benar pemburu berita itu membuat hidupku tak tenang. Aku hanya ingin beristirahat saja tak bisa, hhuuuuhhff...."
"Memang semalam habis berapa ronde?" tanya Gilang yang ikut duduk di sofa mendekati Silvi.
"Bahkan dia tak menyentuhku! aku sangat menginginkan tapi dia tak bergairah melihatku. Apa menurutmu aku tak menggoda lagi?"
Gilang mengulum senyum dengan mata menyapu tubuh Silvi, bodoh jika Yudha tak tergoda sedangkan dia saja begitu minat dengan istrinya.
"Kamu tak ada duanya, apa lagi jika sudah berada di atas. Aku bahkan kamu buat tidak tahan."
"Betulkah?" Keduanya saling mengunci pandang dengan tangan Silvi yang sudah jelalatan. Entah karena semalam menahan sebab tak di jamah Yudha atau memang hasratnya sedang tinggi. Yang jelas Silvi mendadak ingin.
"Sayang ..." Gilang mengeram tertahan, ia harus kembali ke kantor tetapi Silvi membuatnya tak mampu beranjak. Bahkan di bawah sana sudah kembali tegang padahal semalam ia sudah terpuaskan.
"Kenapa?" tanya Silvi dengan memasang wajah polosnya.
"Aku harus kembali ke kantor. Jangan membuatku terdampar di sini dan jangan sekali-kali menggodaku karena aku tak akan melepaskanmu jika sudah menyatu."
__ADS_1
"Siapa takut! aku sedang pusing dan ingin. Jadi jangan pergi, tetaplah disini! karena aku sudah tak tahan."
"Silvi ...." Gilang benar-benar tak bisa menolak, bahkan ia sudah membungkam mulut Silvi dan menindihnya di sofa. Mengulangi hal yang memabukkan dan menghabiskan waktu bersama.