
Setelah Gilang di perbolehkan untuk pulang, ia segera terbang ke Kalimantan. Tujuannya adalah berziarah ke makam Gea dan menemui keluarganya untuk meminta maaf atas kesalahan yang perbuat selama menjalin hubungan dengan putri mereka.
Gilang mencari informasi tentang lokasi pemakaman Gea dan rumah kedua orangtuanya. Bukan dari Yudha melainkan ia meminta temannya yang lain untuk membantu. Ia malu jika terus merepotkan Yudha, sahabatnya sudah sangat baik dan banyak menolong tanpa pamrih. Walaupun sudah menyakiti tetapi tidak sedikitpun ada dendam di hati.
Langkah Gilang terhenti di salah satu makam dengan nisan bertuliskan nama Gea Saputri. Dadanya begitu sesak hingga tubuhnya lemas dan luruh ke lantai. Air mata pun tak sanggup ia bendung, wanita yang baru akan ia cintai hanya tinggal kenangan. Gilang hanya bisa menyapa tanpa menatap dan hanya bisa mendekap batu nisan tanpa balasan.
"Maaf..." lirihnya dengan memeluk batu nisan dan mengecupnya. "Maafkan aku telah menyiakanmu Gea. Maafkan aku belum bisa menjadi suami yang baik dan memperbaiki hubungan ini. Aku mulai ingin membuka hati dan mencintai tetapi kenapa kamu pergi? Bahkan tidak meninggalkan pesan apapun untukku. Apa cintamu mulai luntur? kamu pernah bilang jika kamu sudah mulai mencintaiku dan akan berusaha membuatku jatuh cinta padamu, tetapi kenapa saat itu semua akan terwujud justru kamu pergi. Apa kamu menyerah Gea? apa perbuatanku tak termaafkan olehmu?Aku merindukanmu Gea."
Di kala senja aku mulai menemukan cinta
Aku datang tanpa sambutan
Aku pergipun tanpa kecupan
Mulai terbiasa bersamamu
walau hanya memendam rindu
Tempat singgah membuat hati betah
Hingga aku mulai menyerah dan pasrah
"Aku pergi setelah lama menemanimu, aku pamit Gea...." sudah cukup untuk Gilang dan kini ia harus kembali ke tempat dimana hidupnya harus kembali di mulai.
Tujuan Gilang kali ini adalah tempat kedua orang tua Gea untuk meminta maaf. Seharusnya sejak awal datang tetapi belum cukup keberanian. Kini ia harus kembali pulang karena waktu singgahnya telah usai.
__ADS_1
"Mau apa lagi kamu kesini?" sambutan pertama saat mendatangi kediaman orang tua Gea. Mantan mertuanya begitu sangat membenci, mengunci pagar dan masuk kedalam rumah sebelum ia mengatakan tujuan kedatangannya.
"Pak, tolong beri kesempatan untuk saya. Saya hanya ingin meminta maaf kepada Bapak, tolong maafkan saya Pak."
Papah Gea berhenti di ambang pintu rumah, menoleh dan menatap Gilang dengan tatapan tajam. "Pergilah dan lupakan!" ucapnya singkat lalu masuk ke dalam rumah.
Gilang menghela nafas berat, ia menatap nanar pintu yang di tutup dengan kasar. Dia memang salah tapi apakah tak ada kesempatan untuk memperbaiki semua.
.
.
.
"Assalamualaikum....."
Setelah hampir 6 bulan Gilang menghilang, kini ia datang dengan penampilan yang lebih baik dari sebelumnya. Wajahnya sedikit cerah tak seperti terakhir Yudha bertemu. Gilang yang begitu terpuruk setelah mengetahui kematian Gea dan tiba-tiba pergi tanpa kabar. Kini datang melihat anaknya untuk kedua kalinya.
"Gilang, loe dari mana aja? kenapa baru kelihatan?" tanyanya dengan membawa Tama dalam dekapan.
"Gue menenangkan diri di dekat Gea dan gue baru balik dari Kalimantan. Sorry nggak ngasih kabar dan ini......ini anak..." tatapan Gilang jatuh pada anak kecil yang begitu lucu dengan menggenggam mainan di tangan. Wajahnya perpaduan antara Gea dan dirinya. Gilang melihat dengan mata berbinar dan air mata haru. Buah hatinya tumbuh begitu sehat bahkan dulu yang terlahir prematur dan kurang berat badan kini terlihat begitu bulat dengan pipi chubby yang menggemaskan.
Gilang mendekapnya erat, rasa syukur masih di beri kesempatan bertemu dan melihat Tama walupun tidak bisa penuh merawatnya. Tapi ini sudah cukup, ia mulai paham apa tujuan Gea. Wanita itu tidak ingin anaknya kekurangan kasih sayang karena tidak mendapat kasih sayang seorang ibu. Dia ingin anaknya memiliki kasih sayang yang utuh dari orang yang benar-benar tulus.
Selama ini banyak yang Gilang pahami dalam hidup, sampai ia memilih untuk tinggal di dekat makam Gea dan menyewa kontrakan di sekitar pemakaman agar setiap saat ia bisa menemui Gea.
__ADS_1
"Anak Papah, sehat terus ya nak. Papah sayang kamu," Gilang mengecup pipi Tama hingga bocah itu tertawa merasa geli.
"Masuklah! main dengan Tama di dalam." Yudha memberi akses untuk Gilang agar lebih bebas bermain dengan Tama. Bocah yang sedang lucu-lucunya dan mulai banyak belajar. Sudah merangkak, duduk, dan mulai mengenal sesuatu di sekitarnya.
"Apa kabar loe Gilang?"
"Gue baik, makasih ya sudah kasih yang terbaik buat anak gue. Dia tumbuh jadi anak yang sehat dan pintar. "Ucapnya tulus dan menatap Tama dengan penuh kasih sayang. "Iya sayang....pinter ya, mam nya banyak....." Gilang menggoda Tama dengan ekor mata yang basah. Andai Gea masih ada pasti kini dia lah yang ada di posisi Yudha. Memiliki keluarga yang utuh dengan anak-anak yang menjadi penyemangat hidup.
"Hhmm..... sama-sama." Kemudian Yudha melihat Kinayu yang turun dari lantai atas, berjalan sedikit kesulitan dengan berpegangan dan tangan yang lainnya memegang pinggul belakang. "Hati-hati sayang!" seru Yudha segera menghampiri. Membantu Kinayu hingga ikut duduk dan bergabung.
Melihat perlakuan Yudha pada Kinayu membuat Gilang teringat kembali akan Gea, Yudha sangat bersikap baik den lembut sedangkan dia sangat jauh dari kata suami idaman.
Kinayu menganggukkan kepala pada Gilang dan Gilang membalasnya. "Sebentar lagi Tama ingin memiliki adik ya? selamat Yudha gue ikut senang keluarga loe bahagia. Sudah berapa bulan usia kandungannya mbak?"
"Panggil Kinayu saja mas Gilang, kehamilannya sudah memasuki bulan ke 9. Tinggal beberapa Minggu lagi akan melahirkan adiknya Tama."
Yudha menggenggam tangan sang istri dan mengecup keningnya begitu hangat. Ia bangga Kinayu bisa melewati kehamilan yang tak mudah bahkan semakin besar usianya keluhan semakin banyak. Dia pun kuat melewati dengan merawat Tama dan berkuliah.
"Malu Bee ada mas Gilang, jangan cium-cium!" lirihnya tetapi masih dapat di dengar oleh Gilang.
"Tidak apa-apa Kinayu, sudah biasa aku melihat seperti ini. Justru aku acungkan jempol untuk kamu telah membuat sahabatku begitu bucin sama kamu."
Kinayu tersenyum menatap Yudha yang melihatnya dengan tatapan penuh cinta. "Dia wanita hebat yang pernah gue temuin. Dan loe Gilang, gue doain bisa dapetin wanita yang baik seperti istri gue."
"Seribu satu bro, kalo nggak gue nunggu anak loe lahir aja lah. Kan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pohonnya bibit unggul udah pasti buahnya juga bagus!" celetuk Gilang padahal dalam hati ia belum mau menikah lagi apa lagi mendekat dengan wanita. Ia ingin menata hidupnya agar lebih baik dan memanfaatkan waktu untuk bekerja sebaik mungkin.
__ADS_1
"Berani loe nikahin anak gue, hadapin dulu bokapnya!"