ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 65


__ADS_3

Yudha melangkah menuju ruang rawat sang mamah. Cukup lega setelah semua terungkap, setidaknya ia bisa meminta mamahnya untuk mulai membuka hati menerima Kinayu sebagi menantu di keluarga Prasetya.


Yudha masuk setelah mengetuk pintu, menatap kedua orangtuanya yang juga menoleh ke arahnya. Yudha tersenyum kemudian mendekati keduanya.


"Yudha ..." lirih Mamah dengan wajah sendu penuh penyesalan. Beliau sangat terpukul dengan adanya masalah dalam keluarga putranya. Dan cukup malu pada Yudha, karena selalu membela Silvi hingga semua terungkap bagaimana kelakuan Silvi sebenarnya .


"Iya mah, bagaimana kondisi Mamah?" Yudha mengecup kening mamah dan menggenggam tangan beliau.


"Maafkan Mamah nak, maaf.....sakit Mamah tidak ada apa-apanya dengan semua ucapan mamah yang menyakiti hati kamu dan istri keduamu. Maaf Mamah telah banyak salah karena selalu membela Silvi, Mamah tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan anak mamah, dan bagaimana kamu melewati rumah tangga kamu selama ini."


"Sudah jangan di pikirkan Mah, aku sudah melupakan semuanya. Aku pun sudah mengurus perceraianku pada Silvi dan meminta maaf pada keluarganya jika aku sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga bersamanya. Yang terpenting sekarang mamah cepat sembuh agar bisa kembali pulang."


"Makasih nak, lalu mana istrimu? kenapa tidak kamu ajak? apa istrimu marah pada mamah hingga tak mau menjenguk mamah?" hati beliau begitu sedih, Kinayu wanita baik tetapi ia begitu tega menyakiti. Bahkan gelap mata hingga begitu jahat menghina.


"Dia wanita baik, tidak ada sedikitpun rasa marah pada mamah, justru istriku mendoakan mamah agar cepat sembuh. Dia tidak datang karena takut akan mengganggu kesehatan Mamah. Dia tidak ingin kembali membuat Mamah marah."


"Ya Allah Pah, berdosa sekali aku pada menantuku. Mamah ingin cepat sembuh agar bisa kembali bertemu dan meminta maaf padanya Pah."


Papah tersenyum pada sang istri, "jangan banyak pikiran agar kamu cepat kembali pulang." Kemudian Papah menoleh ke arah Yudha, "tekanan darah mamahmu tinggi karena syok akan apa yang telah terjadi. Lalu bagaimana dengan Gea? apa dia masih berada di rumahmu? apa tidak sebaiknya menghubungi om dan Tante mu agar mereka tau tentang kabar anaknya?"


"Aku telah menghubungi om dan Tante, kemungkinan mereka hari ini datang dari Kalimantan." Yudha memang sudah menghubungi om dan Tantenya kemarin sebelum ia menemui Kinayu. Melihat keadaan Gea yang cukup serius tak mungkin Yudha terus menutupi semua yang terjadi.


"Kamu sudah tau siapa yang menghamilinya hingga ia menutupi semua dari keluarga?"


"Tau Pah, mungkin sekarang dia tengah menimang anak yang telah Gea lahirkan." Yudha menghela nafas berat, kemudian menarik kursi dan duduk di samping Papah.


"Siapa dia Yud?" tanya Mamah penasaran.


"Orang yang sama dengan yang ada di dalam Vidio viral itu!"


"Astaga..... bagaimana bisa? Silvi benar-benar keterlaluan." Mamah tak menyangka jika semua yang terjadi berkaitan dan bagaimana bisa Silvi menyakiti hati dua wanita hamil sekaligus.

__ADS_1


"Sabar Mah, tidak perlu terpancing emosi, semua bisa di selesaikan dengan baik-baik. Apa kah keduanya sudah menikah?" tanya Papah serius.


"Sirih..."


Semua yang ada di sana hanya bisa menghela nafas panjang, tak tau bagaimana ke depannya karena yang lebih berhak adalah orang tua Gea. Mau menerima atau malah mempermasalahkan. Karena dalam keluarga mereka pantang adanya nikah sirih. Mereka semua sangat menghargai suatu hubungan dan wanita. Tak mau nantinya akan merugikan sebelah pihak.


Dering ponsel Yudha membuyarkan pikiran mereka, Yudha segera merogoh ponselnya yang ada di saku celana dan melihat siapa yang menghubungi.


"Bibi...." gumamnya.


"Halo ada apa Bi..."


"Non Kina tuan...."


Mendengar itu Yudha segera berdiri dan gerakannya menjadi tanda tanya besar dari kedua orangtuanya.


"Apa yang terjadi dengan istriku Bi?"


deg


Yudha mencengkeram erat ponselnya, ia segera mematikan panggilan dan pergi dari sana.


"Ada apa Yudha?" seru Papah.


"Istriku sedang tidak baik-baik saja Pah!"


Yudha segera melangkah, pikirannya kalut dan ingin segera menemui Kinayu. Dia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat dimana bibi membawa istrinya.


"SHIIITT.....berani bermain-main denganku, apa belum cukup semua yang telah terjadi padamu!" Yudha memukul setirnya, ingin sekali ia mendatangi Silvi dan memberi pelajaran pada wanita itu.


Yudha berlari menuju UGD, dari jauh nampak Bibi yang sedang gelisah duduk di kursi tunggu. Beliau begitu khawatir dengan Kinayu karena saat ia mendekati wanita itu, kondisinya sudah tak sadarkan diri. Beruntung Silvi tidak jadi menendang perut Kinayu karena dengan cepat Bibi mendorong hingga Silvi tersungkur di lantai.

__ADS_1


Yudha tak mampu lagi bertanya, ia hanya diam bersandar dinding menunggu Dokter yang menangani istrinya keluar. Untuk kesekian kalinya ia mendapati istrinya masuk rumah sakit. Dan semua karena Silvi, tangannya mengepal saat bayangan Silvi terlintas jelas.


ceklek


Yudha segera mendekat saat dokter keluar dari ruangan, Bibi yang melihat pun ikut beranjak dari duduknya.


"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" tanyanya tak sabar.


"Alhamdulillah istri anda masih bisa tertolong, jeratan di lehernya hampir saja membuat dua nyawa hilang. Beruntung cepat di tangani, tapi kandungannya masih lemah dan jika terulang hal demikian saya tidak bisa memastikan bayi yang ada di dalam kandungan masih bisa bertahan."


Yudha mengusap wajahnya, membuang nafas kasar dengan emosi tak tertahan. Bibi yang melihat tuannya begitu kacau pun hanya bisa mengusap pelan punggungnya. Walau bagaimanapun Yudha sudah seperti anaknya sendiri. Selama bekerja Yudha selalu bersikap baik dan cukup paham dengan apa yang terjadi selama ini dalam rumah tangganya.


"Sabar tuan, semoga semua baik-baik saja dan keduanya bisa di beri kekuatan untuk melewati cobaan ini. Tuan jangan bersedih di depan non Kinayu, beri semangat agar non Kinayu melupakan kejadian tadi tuan. Kasian dia ..."


"Terima kasih Bi.."


Setelah Kinayu di pindahkan di ruang VIP, Yudha masuk dengan perasaan menyesal. Andai tadi memaksa Kinayu untuk ikut, mungkin semua tak akan terjadi. Dan sang istri tak akan merasakan sakit.


Senyumnya mengembang kala mata itu mengerjab dan menatapnya. Gurat kesedihan dan ketakutan begitu ketara, bahkan tangannya terulur meminta segera di raih olehnya.


"Takut Bee...." lirihnya.


"Jangan takut sayang ada aku di sini, aku tidak akan meninggalkan mu sendiri lagi. Maaf aku tidak bisa menjaga kalian dengan baik." Yudha memeluk dengan erat, dalam hati merutuki apa yang Silvi lakukan hingga membuat Kinayu begitu ketakutan.


"Anak kita?" tanya Kinayu saat bayangan Silvi yang akan menendang perutnya sebelum akhirnya semua nampak gelap.


"Anak kita baik-baik saja, tapi kamu harus banyak-banyak beristirahat agar ia kembali kuat."


"Syukurlah Bee, aku takut akan kehilangan anak kita. Dia datang tiba-tiba dan tak terima aku menggantikan posisinya." Air matanya menetes saat bayangan dan ucapan Silvi kembali terngiang.


"Tenang sayang, jangan menangis lagi. Lupakan apa yang Silvi katakan, karena kamu pantas mendapatkan semuanya. Aku sudah bilang kan, jangan pernah takut padanya." Yudha menghapus air mata Kinayu, mengecup keningnya dan mengusap lembut perut sang istri.

__ADS_1


__ADS_2