ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 39


__ADS_3

Sampai siang Kinayu hanya diam dan Yudha memilih tak berangkat mengajar dan bekerja dari sana. Dia tidak mau meninggalkan rumah sakit, hingga Kinayu di buat mati gaya karena merasa tak bebas.


Berulang kali meminta untuk pulang, tapi Yudha seakan tuli dan tak mau mendengarkan. Padahal dokter sudah mengatakan jika ia sudah baik-baik saja dan bisa di rawat dari rumah asal minum obat dengan teratur.


Kinayu memainkan kuku, sesekali menggigitnya saat ia merasa mulai bosan. Mau main ponsel pun ia tak punya, untuk tidur serasa sudah kenyang. Lalu mau apa lagi selain melamun dan menggigit kuku.


"Lepas!"


Kinayu menoleh dengan jari yang masih singgah di mulutnya. Menatap polos hingga Yudha di buat gemas.


"Kenapa?" tanyanya dengan bibir masih tersumpal.


"Keluarkan tanganmu! istirahatlah jangan menambah penyakit!" tegas Yudha kemudian kembali menatap ke arah laptop.


Kinayu melepas tangannya dengan bibir cemberut. Dia benar-benar bosan hingga mendengus kesal.


"Kenapa lagi?"


"Aku mau pulang! aku udah sehat Pak!" ucapnya dengan bibir merengut membuat Yudha semakin gemas.


"Lalu mau apa di rumah? sama-sama tidur dan tidak keluar kamar seharian." Masih dengan nada bicaranya yang datar Yudha mulai mendekat. Ia meletakkan laptop di atas meja dan beranjak dari sofa.


"Setidaknya aku bisa belajar, mencari udara segar di balkon kamar dan leluasa ingin bergerak, tak seperti ini!" keluhnya dengan mata polos yang berkaca-kaca.


Yudha menghela nafas panjang, sebenarnya ia sengaja membiarkan Kinayu di sana agar tak bersinggungan dengan Silvi sejenak, setidaknya hingga tubuh benar-benar sehat dan kuat.


...🍀🍀🍀...


"Makasih Ya Pak, aku langsung masuk kamar. Selamat sore Pak dosen!"

__ADS_1


Yudha menatap Kinayu yang kini berlalu masuk ke dalam kamar setelah drama ingin pulang. Yudha pun akhirnya pasrah, meminta dokter mengecek ulang dan setelah dinyatakan sudah benar-benar sehat barulah Yudha membolehkan.


Yudha menarik nafas dalam, kemudian ia pun masuk ke dalam kamar utama. Hingga malam tak ada lagi komunikasi karena Yudha pun sibuk dengan pekerjaan nya. Hingga ia mendengar suara gaduh dari dapur dan mengecek siapa gerangan yang membuat keributan.


"Ampun Mbak!"


Teriak Kinayu saat ia keluar dari dapur setelah mencuci piring bekas makannya dan tiba-tiba Silvi datang lalu menjambak rambut miliknya dengan sekuat tenaga.


"Semalam mas Yudha tidak ada di kamarku! pasti kamu kan yang menggodanya dan mengajak Mas Yudha bersenang-senang di luar? dasar licik kamu!"


"Cukup mbak! lepas!" Kinayu mendorong tubuh Silvi hingga mundur beberapa langkah.


"Aku nggak pernah menggoda Pak Yudha dan aku sudah bilang berulang kali sama mbak, jika mbak nggak suka aku di sini, mbak tinggal bilang sama Pak Yudha agar mengizinkanku pergi dari rumah ini!"


Kali pertama Kinayu melawan, ia tak salah tak juga merasa berkuasa, ia tak seperti yang Silvi tuduhkan.


"Berani kamu melawanku? sekarang juga pergi kamu dari rumah ini! pergi! aku nggak akan sudi punya madu! apa lagi wanita sok polos seperti kamu! aku tau kamu dan keluargamu hanya ingin harta dari suamiku kan? akan aku berikan dan menjauhlah dari suamiku!" sentak Silvi.


"Dengan senang hati!" lirihnya penuh penegasan dan segera melangkah meninggalkan Silvi yang berdiri menatap kepergian Kinayu dengan tatapan tak percaya.


"Mau kemana kamu?" tanya Yudha dengan nada datar dan sikap dinginnya. Sejak tadi ia menyimak dengan tangan terkepal. Tapi tak ada niat untuk memisahkan. Ia tau Kinayu pasti bisa melawan. Selagi masih dalam batasan Yudha tak mau kedatangannya justru akan memperkeruh suasana.


Kinayu terjingkat melihat Yudha yang tiba-tiba datang, tapi setelahnya ia kembali memasukkan barang-barang miliknya ke dalam koper.


"Aku tanya sekali lagi, kamu mau kemana?"


"Mbak Silvi minta saya untuk keluar dari rumah ini Pak," jawabnya tanpa menghentikan kegiatannya.


"Aku yang memiliki wewenang di sini bukan Silvi! dan kembalikan barang-barangmu ketempatnya!" titah Yudha dengan rahang mengeras.

__ADS_1


Kinayu membalikkan badan, menatap Yudha dengan tatapan memohon. "Aku capek loh Pak, aku capek masalah terus sama mbak Silvi. Aku nggak akan kabur kok, aku akan tetap menerima baik kapanpun bapak mau, karena aku tau kewajiban ku. Tapi please ijinkan aku untuk keluar dari rumah ini, aku nggak mau terus masalah sama mbak Silvi Pak!" keluh Kinayu dengan lirih. Dia tau akan sulit keluar dari rumah itu tanpa ijin Yudha. Tapi bertahanpun ia tidak sanggup.


Kinayu menghela nafas panjang kemudian menjatuhkan tubuhnya di lantai dengan perasaan frustasi. Terjebak di dalam rumah mewah ini bukanlah pilihan. Dia tak akan hidup lama jika terus satu atap dengan istri pertama.


"Kamu mau tinggal di rumah orang tuamu?" Yudha mencoba untuk membicarakannya baik-baik, ntah mengapa ia tak tega melihat Kinayu memohon dengan menahan air mata. Bahkan kini Yudha berjongkok di depan Kinayu dengan menekuk kakinya yang satu.


Kinayu menggelengkan kepala, ia tak mau menjadi pikiran dan beban kedua orangtuanya jika kembali kerumah.


"Sewa kos atau kontrakan lebih baik dari pada harus pulang kerumah atau tinggal di rumah ini." Kinayu mulai memberanikan diri untuk menatap Yudha, tatapan tajam yang meneduh dengan seiringnya tangan Kinayu menggenggam tangan Yudha dengan sangat hati-hati.


Yudha sempat terkejut melihat keberanian Kinayu yang tiba-tiba menyentuh tangannya dan cukup salut dengan keberanian yang wanita itu tunjukkan.


"Tapi aku ingin kamu disini, karena jika kamu di luar aku tidak akan mungkin bisa mengawasimu 24 jam Kinayu."


"Aku bukan penjahat yang harus kamu awasi! aku tidak akan pergi kemana-mana, bapak lupa jika aku mahasiswimu? biarkan aku keluar dari rumah ini, agar bapak pun bisa bersikap adil dan aku tidak ingin mengusik kebersamaan kalian."


Yudha membalas genggaman tangan Kinayu, berat baginya membiarkan Kinayu keluar dari rumah. Dia pun tau Silvi tidak akan pernah mau berdamai dengan keadaan. Tapi dengan adanya Kinayu di rumah itu setidaknya ia tenang.


"Tetaplah disini, biarkan aku berusaha lebih untuk kalian berdua khususnya untuk kamu. Aku akan pastikan Silvi tidak lagi mengganggumu. Tapi jika terjadi lagi, aku akan menyewakan rumah untukmu tinggal."


Kinayu menghela nafas panjang, tak ada salahnya mencoba sekali lagi. Kinayu menganggukkan kepala, menyetujui permintaan Yudha. Berusaha memupuk keberanian yang Yudha tanamkan untuk melawan selama ia tak salah.


Yudha tersenyum tipis, senyum pertama yang ia layangkan pada Kinayu. Melihatnya pun membuat Kinayu terpanah. Baru kali ini ia melihat Yudha tersenyum tulus padanya.


"Irit sekali!" ucap Kinayu dengan ibu jari dan telunjuk yang ia satukan.


"Apanya? tanya Yudha tak mengerti.


"Senyumnya..."

__ADS_1


Mendengar itu membuat Yudha membuang muka kemudian segera berdiri dan kembali menatap Kinayu dengan tatapan datar.


"Istirahatlah!" Yudha mengusak rambut Kinayu kemudian melangkah keluar kamar.


__ADS_2