ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 64


__ADS_3

PLAK


PLAK


"Anak tidak tau diri! sekarang pergi kamu dan jangan pernah menampakkan wajah kamu lagi di rumah ini!"


"Pah....maafkan aku Pah, aku khilaf." Silvi bersujud di kaki Papah nya dan meminta maaf. Silvi pulang setelah mendapati Mamahnya jatuh sakit setelah melihat berita yang beredar tentang putrinya.


"Khilafmu merusak segalanya, membuat keluarga malu dan mamah kamu masuk rumah sakit! Lalu apa lagi yang harus di maafkan? Bahkan kamu telah membuat Papah tak punya muka di depan keluarga Prasetya!"


"Bagus Yudha bertindak tegas sama kamu! Bagaimana suamimu tidak menikah lagi jika kelakuanmu seperti ini? Sekarang Pergi, sudah tak ada lagi yang bisa di harapkan oleh anak sepertimu!"


"Pah."


"Pergi!"


Silvi menangis keluar dari kediaman kedua orangtuanya, kini ia tak memiliki siapa-siapa. Hanya Gilang harapan terakhir yang ia miliki. Dan Ana sahabat yang masih bisa ia andalkan.


Dengan penutup wajah, Silvi menuju apartemen Ana. Ia harus memastikan bagaimana dengan nasib semua pekerjaannya yang sudah terkontrak apakah masih bisa di pertahankan atau tidak.


"Bagaimana An?" tanyanya dengan wajah sendu.


Ana menarik nafas dalam kemudian menatap wajah Silvi dengan perasaan yang ntah. Antara iba dan kesal, karena semua akibat kecerobohan dan kebodohan yang ia lakukan hingga semua lepas dari genggaman.


"Loe tau sulitnya sampe di titik ini, tapi loe lupa akan siapa diri loe! loe bukan orang biasa yang mau gandeng sana sini tanpa di sorot kamera. Loe lagi naik daun dan pesaing loe banyak, bahkan yang nggak suka sama loe tuh nggak bisa di hitung pake jari. Mereka tepuk tangan saat sedikit aja ada kabar buruk tentang loe!"


"Sorry, posisi loe udah di ganti sama yang lain. Dan gue nggak bisa lagi berbuat apa-apa. Gue udah usahain bilang sama manajemen dan semua yang terkait tapi tetep nggak bisa. Nama loe udah hancur dan gue udah kerja sama yang lain. Maaf...."


Silvi terduduk lemas dengan air mata yang mengalir deras, semua tinggal penyesalan. Semua telah hancur, bahkan dia tak tau bagaimana esok menghadapi sidang perceraian untuk pertama kalinya.


"Makasih, sorry gue udah ngerepotin loe selama ini." Keduanya saling berpelukan dengan tangis yang pecah, walau bagaimanapun mereka bersahabat. Ana pun menyesalkan semua yang terjadi. Meskipun sering di buat kesal tetapi ia sayang pada Silvi dan mendukung karirnya. Mencarikan banyak job agar nama Silvi semakin melambung tinggi. Tetapi harus kandas hanya dengan satu godaan yang datang.


Silvi segara menghubungi Gilang, setelah terakhir tidur bersama keduanya tak lagi bersua. Bahkan dia tidak tau kabar Gilang saat ini.


"Kenapa?"


"Ingin bertemu," jawab Silvi dengan perasaan yang bersalah. Tapi ia butuh Gilang saat ini karena tak ada yang lain lagi yang mau menerimanya. Silvi yakin perasaan Gilang tak berubah, karena rasa cinta Gilang terhadapnya bukanlah hanya sekedar main-main saja.

__ADS_1


"Aku tidak bisa, lain kali pasti aku akan menemuimu."


"Tapi aku butuh kamu sekarang, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi bahkan mas Yudha telah menceraikanku." Silvi kembali terisak, jika Gilang juga menolak lalu bagaimana dengan dirinya.


"Nanti aku hubungi lagi!"


Tut


Gilang mematikan ponselnya, ia menarik nafas dalam dan kembali mendekati ranjang Gea. Menatap wanita yang saat ini sudah berhasil melahirkan anaknya, tapi begitu menyakitkan dia mengalami pendarahan yang serius hingga kondisinya saat ini belum stabil bahkan masih menurun.


"Maaf...."


"Maaf aku menyiakanmu, aku janji akan menebus semuanya. Bertahanlah....aku akan meresmikan pernikahan kita dan membesarkan anak kita bersama. Memulai kembali semuanya dari awal, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Gilang mengecup kening Gea. Sejak kemarin kondisinya belum ada kemajuan. Sedangkan bayi yang di lahirkan pun membutuhkan penanganan yang intensif. Karena lahir yang prematur dan hanya memiliki bobot 2kg.


Bahkan Gilang menangis saat melihat bayi yang tak berdosa menjadi korban. Selama kehamilan Gea dia belum pernah memberikan kasih sayang yang tulus. Sesekali membelikan makanan yang ia inginkan tetapi semenjak berhubungan lagi dengan Silvi bahkan ia sering menolak menemani.


Jangankan menemani, saat Gea menginginkan dirinya untuk mengantar kerumah sakit memeriksakan kandungan saja Gilang selalu menolak. Dan setelah melihat wajah bayi nya ia begitu menyesal. Menyesal karena menjadi ayah yang tak dapat di andalkan. Taruhlah ia tak mencintai ibunya tapi apakah harus menyakiti anaknya juga....


Sama halnya dengan Silvi, pagi ini Yudha mendapat kabar dari Papahnya jika Mamahnya sakit setelah mendengar semua berita bahkan melihat sendiri Vidio yang sedang viral. Cukup terkejut tetapi ia berusaha untuk tenang karena hal ini pasti akan terjadi. Apa lagi sang Mamah yang paling antusias akan hubungannya dengan Silvi dan sangat mendukung apa yang Silvi lakukan. Bahkan menyayangi walaupun jelas-jelas mengecewakan beliau karena tidak bisa memberikan cucu untuknya.


"Benar kamu tidak mau ikut sayang?" tanyanya setelah menyelesaikan sarapan.


"Iya Bee, aku di rumah saja ya. Aku tidak kuliah tidak apa, sampai sekiranya semua aman. Aku doakan mamahmu kembali sehat dan bisa mengikhlaskan. Tak apa jika belum bisa menerimaku, tapi aku akan selalu menganggapnya ibu mertua yang hebat karena telah melahirkan dan membesarkan putra yang kini sangat bertanggung jawab dan mencintaiku begitu tulus." Kinayu tersenyum bangga menatap pria yang kini menatapnya penuh cinta.


Kebahagiaan yang tiada tara telah ia raih, bahkan hidupnya hampir mendekati kata sempurna. Memiliki istri cantik, penurut, penyayang dan memiliki hati yang mulia. Hampir tak ada celah, bahkan dia dengan sabar menerima perlakuan tidak baik dari Silvi dan ibu mertua.


"Ya sudah, kamu baik-baik di rumah ya. Jika butuh sesuatu bilang pada bibi. Jangan pergi kemanapun tanpa aku, hubungi aku jika terjadi sesuatu."


cup


Yudha mengecup kening dan bibir Kinayu, kemudian segera berlalu setelah menyampatkan diri menyapa anak yang ada di dalam perut sang istri. Kinayu pun segera menutup pintu dan menguncinya setelah memastikan mobil Yudha telah meninggalkan pelataran.


Kinayu ingin menghabiskan waktu dengan belajar di rumah agar tak terlalu tertinggal dan bisa menyesuaikan dengan pelajaran yang sedang berlangsung. Kinayu asyik duduk lesehan di ruang keluarga tempatnya semalam memadu kasih dengan sang suami. Hingga menjelang siang ia masih terus berkutat dengan buku-buku dan beberapa cemilan yang di sediakan oleh Bibi.


tok


tok

__ADS_1


tok


"Mas Yudha sudah pulang...." gumamnya.


Kinayu segera bangkit dari sana dan melangkah menuju pintu. Dengan wajah bersinar ia menyambut kedatangan Yudha.


tok


tok


tok


"Sebentar Bee..."


ceklek


Kinayu terkesiap melihat siapa yang datang, bahkan dengan reflek tangannya memeluk perut yang sudah sedikit membuncit. Tatapan mata yang tajam membuat Kinayu melangkah mundur kebelakang.


"Mau apa mbak?"


"Mau apa kamu bilang? puas kamu telah menggantikan posisiku sekarang? puas kamu setelah bisa menjadi nyonya di rumah ini? merebut mas Yudha dariku dan merebut semua yang aku punya?" Silvi semakin melangkah ke dalam rumah. Ia menyorot Kinayu dengan tatapan mematikan. Bahkan matanya memerah menahan air mata yang ingin keluar. Ia kecewa, kecewa dengan semua yang ada, kecewa dengan apa yang telah terjadi.


"Maaf mbak mmmppp....."


"Maaf? tidak ada kata maaf untuk seorang pelakor!" sentak Silvi.


"Mba..k le...le..pas..kan a..ku!" Kinayu sulit bernafas, bahkan ia sudah melepas pelukan di perutnya. Wanita itu membolakan mata dengan air mata yang sudah menetes, mencengkeram tangan Silvi yang kini berada di lehernya.


"Tidak akan aku lepaskan, jika aku tidak mendapatkan mas Yudha maka kamu pun tidak akan aku biarkan bersenang-senang dengannya begitu saja. Kamu harus mati Kinayu! kamu harus mati!"


"To...to...long!"


"Bi...Bi..."


"To..."


"Astaghfirullah non Kinayu!"

__ADS_1


__ADS_2