ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 41


__ADS_3

"Aku mau pulang!" Kinayu segera beranjak dari sofa tapi tangan kekar Yudha segara menangkap tubuhnya hingga masuk kedalam dekapan.


Kinayu dapat merasakan Yudha dengan posesif memeluk dan menghirup bagian lehernya begitu dalam. Hatinya berdesir dengan jantung memompa kencang.


"Di luar hujan!"


"Aku ada jas hujan."


"Tapi aku tidak mengijinkan!" Yudha terus mendekapnya dengan dagu yang berada di atas kepala Kinayu karena Kinayu tak setinggi Silvi. Tubuhnya hanya sebatas dada yudha. Mata Yudha terpejam merasakan sesuatu yang damai setelah seminggu tak pernah saling menyapa.


"Pak..."


"Jangan membantah!"


"Aku merasa tidak enak dengan mbak Silvi, bukannya kalian sedang sangat mesra. Dia akan marah jika tau bapak memelukku!"


Yudha tersenyum tipis, kemudian membalikkan tubuh Kinayu agar menghadapnya. Saling menatap dengan tatapan penuh arti hingga tangan Yudha mengusak pucuk rambut Kinayu.


"Cemburu?"


Kinayu terhenyak, Kinayu membuang muka dengan wajah merona. "Tidak seperti itu Pak!"


"Aku tau kamu merindukanku."


"Pede sekali anda, tapi saya rasa biasa saja!" jawabnya cuek tanpa mau kembali menatap ke arah Yudha.


"Apa yang aku lakukan agar kamu tidak kembali di ganggu oleh Silvi, dan itu berhasil. Aku menepatinya dan tak ada alasan untukmu keluar dari rumah!" ucapnya datar masih dengan memeluk pinggang Kinayu.


Kinayu menoleh ke arahnya, ia tak menyangka jika perubahan Yudha karena ingin dirinya tetap tinggal di rumah dan tak kembali di ganggu Silvi.


"Dan maaf jika aku tidak berlaku adil, aku tak mengunjungimu hingga seminggu."


"Aku sadar akan statusku Pak dan aku tidak menuntut banyak. Kerena aku hanya cadangan, seperti ucapan Mamah pak Yudha tempo hari! Aku harus sadar diri, seharusnya aku yang berterima kasih sama bapak karena sudah membuatku tinggal di rumah mewah."


Tangan Yudha terkepal, bahkan rahangnya mengeras mendengar ucapan Kinayu. Dia tak suka dengan ucapan Kinayu padahal sejak awal ia yang selalu mengingatkan kata-kata itu.


"Bicara apa kamu?" tanyanya dengan sorot mata berubah menjadi tajam dan membuat nyali Kinayu menciut.


"Kebenarannya Pak, aku hanya bicara fakta dan sesuai kenyataan awal jika aku hanya di beli untuk menghasilkan bukan untuk mendapatkan kasih sayang. Apa bapak lupa jika hati bapak sudah mati?" tanyanya ragu.


Yudha semakin mengepalkan tangannya, Kinayu bahkan mengingat semua kata yang pernah terucap. Dan Yudha semakin tak terima saat itu terlontar dari bibir dengan sorot mata terluka.


"Bagaimana jika yang kamu ingat dan kamu ucapkan menjadi sebaliknya?"


Kinayu tercengang, menatap Yudha dengan penuh tanda tanya.


"Maksud bapak?"

__ADS_1


Tanpa permisi Yudha mengecup bibir Kinayu, tak perlu mengungkapkan dengan kata, jika tindakan saja sudah mewakilkan.


"Pak..."


Yudha kembali mengecup bibir mungil itu dengan gemas.


Wajah Kinayu merona, dia mulai paham tapi dia masih butuh penjelasan.


"Pak apa mak_mmmmppppfffffff....."


Yudha kembali menyatukan indra perasa itu dengan lembut. Yudha meraih kedua tangan Kinayu dan mengalungkan di lehernya kemudian mengeratkan kembali pelukannya hingga tubuh keduanya tak berjarak.


Awalnya Yudha hanya ingin membungkam mulut cerewet Kinayu tapi setelahnya ciuman lembut itu menjadi menuntut. Tangan Yudha sudah turun kebagian bawah Kinayu dan mengangkat tubuh wanita yang masih pasif dan belum lihai dalam melawannya.


Yudha mendudukkan Kinayu di meja kerja, menggigit bibir Kinayu hingga wanita itu mulai membuka akses untuk Yudha memperdalam ciumannya. Kinayu pun mulai terlena, lidahnya mulai menyambut dengan pergerakan lembut tapi memberikan sengatan pada Yudha di setiap gerakannya.


Suasana di luar pun mendukung dua sejoli yang sedang di mabuk kepayang, merasakan manisnya yang telah lama tak mereka dapatkan. Yudha pun tak sekasar pertama menyentuhnya, gerakannya menuntut tapi lembut dan seiring dengan tangannya yang semakin masuk kedalam mencari kehangatan hingga lenguhan Kinayu terdengar.


Nafas Kinayu tersengal dengan wajah merona dan pipi memanas. Tubuh pun tak kalah hangat saat tangan Yudha tak lepas terus mendekap.


"Kamu sudah mulai pandai!" bisik Yudha membuat Kinayu semakin salah tingkah. Ia tak berani mengangkat kepalanya hingga Yudha menarik dagu Kinayu agar menatapnya.


"Jangan pernah ulangi kata-kata itu, karena aku tidak suka mendengarnya! maaf jika di awal lisanku menyakiti, tapi hati ini mulai hidup kembali."


deg


Kinayu tak mampu mengatakan apapun, hatinya berdesir merasakan sesuatu yang berbeda tak seperti bersama Satria. Bahkan jantungnya berdetak lebih cepat saat bersama dengan Yudha.


"Mbak Silvi?"


"Biar Silvi menjadi urusanku."


"Dan membuatku setiap malam harus mendengar suara percintaan kalian?" celetuk Kinayu.


"Apa selama seminggu ini kamu mendengar suara ku mendeesah?" tanyanya Yudha mulai melepas pelukan dan mendekati wajahnya dengan kedua tangan bertumpu di meja.


Kinayu kembali mengingat, memang tak ada suara dari Yudha, tak seperti pertama ia mendengarnya. Dan desahaaan itu di dominasi oleh Silvi, hingga suaranya membuat ia merinding.


"Aku tidak mengunjunginya, hanya membantunya."


"Maksudnya?"


cup


"Nanti akan aku contohkan biar kamu paham!"


Kinayu segera membuang muka, mencontohkan apa maksudnya yang bisa mengeluarkan suara kenikmatan seperti itu. "Dasar dosen mesum!"

__ADS_1


Yudha tak menanggapi, ia hanya tersenyum tipis dan mengusak rambut Kinayu.


"Tapi bapak juga harus adil, apa lagi aku hanya istri kedua. Aku tau diri Pak, jangan perlakukan ku seperti ini, baper itu efeknya banyak loe Pak!" keluh Kinayu dengan mata bulat dan wajah polosnya. Sepertinya Yudha mulai akan merindukan wajah polos Kinayu. Dia tersenyum menatap dan Kinayu terkesima melihatnya.


"Kenapa? baru mengakui kalo aku ini tampan?"


"Seluruh mahasiswi di sini juga mengakuinya."


"Termasuk kamu?"


"Aku juga mahasiswi bapak!"


Yudha berdiri dengan bersidekap dada, memandang Kinayu dengan senyum yang mulai luntur dan tatapan menajam.


"Aku salah lagi?" tanyanya Kinayu dengan lirih saat kembali melihat tatapan Yudha seperti sebelumnya.


"Jangan panggil aku bapak! aku bukan bapakmu!" tegasnya.


"Tapi aku mahasiswimu!"


"Jika di kelas, tapi sekarang kamu sedang ada di ruanganku, jadi ganti panggilan itu!" ucap Yudha tak terbantahkan. Kinayu mulai berpikir, panggilan apa yang tepat untuk Yudha.


"Mas?"


"Ganti!" tegas Yudha lagi.


"Biar tidak tertukar dengan mbak Silvi ya Pak?"


Yudha menghela nafas panjang dan terus menatap Kinayu dengan tajam.


"Lalu apa?" lirihnya dengan puppy eyes hingga Yudha gemas dan kembali memeluknya.


"Bagaimana jika sayang?"


"No!" Kinayu menolak tegas.


"Kenapa?" Yudha kembali merenggangkan dan menatap dengan heran.


"Sepertinya hanya aku yang sayang!" jawabnya dengan wajah merengut.


"Berarti sekarang sudah sayang?" tanya Yudha mulai mengikis jarak, mendekat hingga hidung keduanya bersentuhan.


Kinayu tampak gugup, dengan beberapa kali mengerjapkan mata.


" Kata siapa aku sayang, tidak! aku hanya...."


Yudha kembali mengecup bibirnya dengan gemas dan Kinayu pun pasrah, mengalungkan tangannya di leher Yudha dan membiarkan Yudha mengangkat tubuh Kinayu untuk beralih duduk di pangkuan pria itu.

__ADS_1


Yudha tersenyum samar saat ia menangkap seseorang di balik pintu yang sejak tadi tak tertutup rapat.


__ADS_2