ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 66


__ADS_3

Bugh


Bugh


Bugh


Belum sembuh betul lebam bekas tinjuan Yudha, kini ia harus mendapatkan kembali hantaman dari pria paruh baya yang ia duga adalah ayah dari Gea. Gilang tak melawan, ia menerimanya dengan lapang dada. Dia sadar kesalahannya sangatlah fatal dan berpikir jika inilah ganjaran yang setimpal.


"Apa yang kamu lakukan pada putriku? berani kamu menyakitinya! Biadaab kamu! putriku wanita baik dan kamu seenaknya sendiri merendahkan dia dan berbuat sesuka hati. Bahkan kamu tega menikahinya diam-diam! puas kamu sekarang melihat putriku kritis dan terbaring lemah di sana! pria macam apa kamu sebenarnya!"


Sang ayah benar-benar tak terima, hatinya hancur melihat putri satu-satunya terbaring lemah tak berdaya. Yang ia tau saat ini Gea masih melanjutkan kuliahnya dan satu semester lagi ia lulus. Tetapi kenyataan tak sesuai apa yang di rencanakan. Gea pulang lebih cepat bahkan kini telah memberikan cucu.


Dan sejak tadi lewat Vidio call sang istri hanya bisa menangis menatap wajah putrinya lewat layar ponsel. Beliau tidak bisa ikut ke Jakarta karena penyakit yang ia derita selama ini. Sang mamah pun sudah tak bisa berjalan dan duduk di kursi roda. Struk yang beliau derita dua tahun ini membuat ia tak dapat lagi mengunjungi putrinya. Padahal sebelumya hampir tiga bulan sekali beliau menemui.


"Sudah Pah, yang terpenting sekarang adalah anak kita. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Gea Pah. Mamah mohon bawa Gea pulang dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apapun." Ucapnya kemudian mematikan sambungan telepon tersebut.


Gilang segara bersimpuh di hadapan ayah Gea, pria itu sempat meneteskan air mata tapi setelahnya ia berusaha untuk tegar dan menyentuh kedua lutut pria paruh baya yang kini menatapnya begitu tajam.


"Maaf, saya mohon maafkan saya Pak. Saya tau saya salah, tapi saya ingin memperbaiki semuanya dan memulai dari awal. Saya janji tidak akan menyakiti putri bapak lagi. Saya mohon jangan pisahkan saya dengn istri dan anak saya Pak." Gilang benar-benar takut jika setelah sembuh nanti Gea di bawa pulang oleh ayahnya. Dia yang sudah mulai membuka hati pada Gea tak ingin jauh dengannya.


"Bukan hak saya memisahkan kalian, saya hanya mengikuti naluri sebagai orang tua yang tak ingin anaknya di perlakukan tidak adil. Dan semua keputusan saya kembalikan lagi pada Gea. Tapi jangan banyak berharap, aku yakin putriku tidak akan mau lagi bersama suami sepertimu! laki-laki bajingaan yang tak bertanggung jawab!" ayah Gea segera melangkah tiba-tiba hingga gilang tersungkur ke lantai. Beliau kembali mendekati ranjang putrinya dengan hati yang begitu terpukul.


"Pergi! jangan kembali sampai Gea mau bertemu denganmu lagi!" ucapnya datar dan Gilang pun segera keluar dari ruangan.

__ADS_1


Pria itu segera menemui Silvi, Gilang butuh berbicara pada wanita itu. Ia menahan sakit di wajahnya dan menunggu Silvi di depan rumah sakit karena menurut kabar yang Silvi kirim lewat pesan singkat, ia tidak sedang berada di apartemen.


Sebuah mobil yang ia kenal berhenti di depan pagar rumah sakit, Gilang menutupi wajahnya dengan masker dan segera menghampiri lalu dengan cepat masuk ke dalam mobil.


"Ayo jalan!"


"Hhmm..... akhirnya kamu menghubungi dan ingin bertemu. Tapi untuk apa kamu di rumah sakit Gilang? apakah orang tuamu juga sakit sama seperti Mamah ku?" tanya Silvi cukup penasaran.


Gilang menghela nafas panjang dan menatap kedepan dengan tatapan hampa. "Istriku melahirkan."


deg


ckiiiiit


"Kamu mau mati?"


"Kamu yang sudah cari mati!" sentak Silvi. "Apa tadi kamu bilang? istri? sejak kapan kamu menikah? lalu apa tadi kamu bilang? melahirkan? iya?" Silvi menggelengkan kepala, kenyataan apa lagi yang harus ia terima setelah semua kehancuran di dapatkan, fakta apa lagi di balik cintanya Gilang yang membuat ia sekarang menderita.


"Aku menikah sebelum kita kembali bertemu, maaf jika aku tak menceritakan hal itu padamu. Tapi tentang perasaan ku aku tidak pernah berbohong. Aku benar-benar mencintaimu. Tapi setelah aku melihat bagaimana pengorbanan istriku dan melihat buah hatiku lahir. Aku ingin kita akhiri hubungan ini," lirih Gilang dengan tatapan penuh penyesalan.


Silvi tercengang mendengar pengakuan Gilang. Hatinya bergemuruh ingin sekali ia memaki Pria yang ada di hadapannya ini. Ia datang tanpa permisi dan dengan lancang ia pamit setelah semua pergi. Silvi tak menyangka semudah itu Gilang yang ia tau sangat mencintainya berbalik arah.


"Setalah semua yang terjadi dan aku sekarang sendiri? brengs3k kamu Gilang! kamu anggap aku apa?" sentak Silvi yang tak terima.

__ADS_1


"Maaf, ini yang terbaik. Dan aku harus mempertahankan pernikahan ku. Aku tidak ingin anakku yang menjadi korban dan tak mendapat kasih sayang orang tua yang utuh. Kamu berhak membenciku, tapi imbas dari hubungan ini bukan hanya kamu yang hancur. Aku pun ikut merasakannya dan sekarang istriku kritis di rumah sakit akibat pendarahan karena terlalu banyak beban yang ia tanggung selama kita kembali menjalin hubungan."


"Aku memang mencintaimu, tulus. Tapi aku sadar jika cinta ini salah. Cinta ini hanya menyakitkan semuanya. Maaf jika karena kedatanganku semua menjadi berantakan. Tapi untuk hubunganmu dengan Yudha, itu bukan sepenuhnya kesalahanku. Karena sebelum aku datang hubungan kalian sudah tak baik-baik saja."


"Nggak.....aku nggak terima Gilang, aku nggak mau kamu juga ikut meninggalkanku!" Silvi kembali melajukan mobilnya, bahkan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia tak peduli dengan resiko yang ada. Jika Gilang seenaknya pergi kenapa tidak mati saja sekalian.


"Silvi hentikan Silvi, kamu membahayakan nyawa kita! jangan gila kamu Silvi! aku masih ingin hidup dengan istri dan anakku?" sentak Gilang berusaha mengendalikan setir mobil Silvi lalu menarik tubuh Silvi agar ia bisa menggantikannya tetapi Silvi memberontak dan menyebabkan mobil oleng tetapi kemudian kembali stabil setelah Silvi mendorong Gilang sekuat tenaga.


"Kamu tidak bisa memutuskan begitu saja! aku tidak mau kamu tinggalkan Gilang, kita akan mati bersama dan biarkan istri dan anakmu hidup bahagia tanpa pria pecundang seperti kamu!"


"Stop Silvi! stop!"


"Nggak!" bentak Silvi yang semakin menambah kecepatannya hingga beberapa pengendara lain menyingkir karena merasa tidak aman. Mereka mengira mobil yang di tumpangi Silvi dalam keadaan rem blong sehingga lebih baik menepi dari pada membahayakan diri.


"Kita akan mati bersama Gilang dan kita akan bersama di kehidupan yang akan datang. Aku tidak mau sendiri, jadi kemanapun aku kita harus bersama terus!"


"Gila kamu Silvi, ucapan kamu mulai ngelantur! aku tidak ingin mati bersamamu! hentikan Silvi!" Gilang tak tau harus bagaimana, Silvi sulit di kendalikan. Wanita itu benar-benar marah hingga berbuat nekat. Dan ini tak bisa dibiarkan, tetapi Gilang tak tau harus melakukan apa. Ia terus berusaha agar Silvi menghentikan mobilnya tetapi lagi-lagi gagal. Dan Silvi semakin menjadi hingga seorang pejalan kaki tiba-tiba melintas.


"Injak rem Silvi!" sentak Gilang.


Silvi yang panik dan tak sampai menginjak rem dan segera membanting setirnya ke kiri.


BRAK

__ADS_1


__ADS_2