ISTRI KEDUA DOSENKU

ISTRI KEDUA DOSENKU
Bab 63


__ADS_3

Mata Kinayu terbuka setelah beberapa waktu lalu sempat merasakan sakit dan di bawa Ibu ke bidan terdekat. Pandangannya masih sama hampa tanpa ada Yudha. Kinayu melirik jarum jam yang mengarah ke angka tiga. Luar biasa dari pagi ke siang dan menuju sore belum kunjung ada kabar dan sukses membuat Kinayu semakin cemas.


Tapi mengingat kata bidan tadi jika tidak boleh banyak pikiran mengharuskan Kinayu untuk tetap tenang dan berusaha menjauh dari pikiran yang bukan-bukan. Rasa sakit di perutnya juga masih tersisa bahkan keram membuatnya tak nyaman.


Perlahan Kinayu turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Ia ingin membersihkan diri karena sudah sore dan pamali kata Ibu mandi magrib-magrib apa lagi malam hari.


Kinayu sengaja tak mau membuka ponselnya, ia tak ingin kecewa karena tak kunjung dapat balasan dan berakhir membuka media sosial yang membuatnya semakin penasaran akan keberadaan Yudha.


Hampir Lima belas menit Kinayu di kamar dan kini keluar dengan wajah lebih segar. Wanita itu segera duduk di depan meja rias, mengeringkan rambutnya yang basah dan memberi make up tipis agar lebih manis.


Kinayu keluar dari kamar karena perutnya merasa lapar, mungkin mencari cemilan di kulkas Ibu lebih baik dari pada terus di kamar dan kepikiran.


Kinayu cukup terkejut dengan Yudha yang tiba-tiba memeluknya saat ia membuka pintu, pria itu mendekap erat hingga ia merasa sesak.


Yudha mendorong perlahan tubuh kinayu dan menutup pintu dengan kakinya. Menghirup aroma vanila yang ada di tubuh istrinya dan menelusupkan wajahnya di celah leher wanita yang ia rindukan.


"Aku merindukanmu, maaf tidak memberi kabar dan maaf jika membuatmu cemas." Yudha benar-benar merindukan Kinayu, tapi ada rasa sesal juga karena tak menepati janji untuk menjemputnya pagi ini.


"Kamu kemana saja Bee?"


"Aku di rumah dan tidak pergi kemana-mana, tidak usah memikirkan sesuatu yang mengganggu kesehatanmu. Kata Ibu perut kamu sakit? apa anak ayah rewel?" Yudha merenggangkan pelukannya dan menatap wajah cantik dengan riasan tipis membuat Yudha semakin gemas dan ingin segera membawa pulang.


"Iya, terlalu mencemaskan ayahnya."


Yudha berjongkok sejajar dengan perut Kinayu, mengusap dan memberi kecupan sayang di sana. Rasa keram dan nyeripun berangsur membaik bahkan hilang. Kinayu tersenyum melihat Yudha yang membisikkan sesuatu di perutnya dan kembali memberi kecupan bertubi-tubi hingga ia merasa geli.


"Bee sudah! sakitnya sudah hilang malah geli kamu ciumin terus!" Kinayu memasang wajah cemberut seketika Yudha beranjak dan mengecup bibirnya.


"Kita pulang yuk!" bisiknya.

__ADS_1


Kinayu tampak merona, ia tau pembicaraan Yudha ke arah mana. Kinayu hafal betul apa yang diinginkan Yudha, karena semenjak hubungan keduanya membaik dan saling mencintai, Yudha menjadi sering meminta jatah bahkan semalam saja tak menyatu paginya pasti akan meminta terus.


"Ayo sayang berkemas, aku sudah tak tahan!" Yudha menggigit telinga Kinayu dan mengedipkan mata lalu melangkah keluar kamar.


"Aku tunggu di bawah!"


Kinayu mengulum senyum dengan sensasi jantung yang berdebar kencang, menatap punggung Yudha hingga menghilang di balik pintu kamar.


"Dia kan sedang di landa masalah, tapi kenapa wajahnya biasa saja. Bahkan masih sempat-sempatnya meminta jatah." Kinayu menggelengkan kepala dan segera berkemas.


Setelah pamit pulang kepada kedua orangtuanya kini Yudha telah membawa Kinayu menuju kediamannya. Rumah yang hanya akan di tempati oleh Yudha dan Kinayu serta anak-anak mereka. Pria itu cukup lega setelah masalah perlahan teratasi dengan baik. Dan kini ia pun bisa memiliki satu istri yang paling ia cintai. Terlepas dari Silvi yang hanya membuat malu.


Kinayu melirik Yudha yang tampak menghubungi seseorang. Ntah siapa tapi cukup membuat Kinayu gereget melihat gaya cool dari suaminya.


"Kamu urus semuanya, jangan sampai ada yang tersisa. Saya tidak mau ada yang mengganggu ketenangan saya dan istri!"


"Hmm..."


"Cinta banget ya sama aku, lihatnya sampai seperti itu, hhmm?" Yudha melirik sekilas dan meraih jemari Kinayu untuk ia kecup.


"Bapak dosen yang satu ini sungguh meresahkan."


Sampai di rumah dengan aman tanpa ada wartawan yang mengepung di depan pagar. Yudha membukakan pintu rumah mempersilakan Kinayu untuk masuk.


Kinayu terkesima melihat bingkai besar dengan foto pernikahan mereka berdua. Kinayu bahkan tidak tau Yudha mendapatkan foto itu dari mana. Senyumnya terukir sesaat tetapi setelahnya ia menatap Yudha dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kamu satu-satunya sekarang. Dan nyonya di rumah ini.." Yudha merapatkan tubuhnya dengan melingkarkan tangannya di perut Kinayu.


"Aku sudah mentalaknya dan lusa akan sidang. Dan mulai sekarang kamu lah ratu di rumah ini, berekspresilah sesuka hatimu. Lakukan apapun yang kamu mau tanpa takut dan ragu. Sementara kamar utama di dekor ulang, kita tidur di kamar kamu dulu yang nantinya juga akan aku jadikan kamar anak kita."

__ADS_1


Kinayu menitikan air mata, tak menyangka akan ada di titik ini. Dimana ia menjadi istri satu-satunya dan tak akan ada lagi yang mengusiknya. Bukan ingin bersenang-senang atas kemenangan merebut Yudha tapi lebih bersyukur karena buah dari sabar begitu indah.


"Apa mbak Silvi akan terima ini semua? aku takut dia akan_"


"Sssttt ......jangan berpikir sesuatu yang akan membebankan dirimu. Aku akan melindungimu semampuku. Dan aku pun tak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi. Dia sudah tidak ada hak atas diriku dan rumah ini. Jadi jika ia datang kamu harus tunjukan padanya siapa dirimu sekarang. Jangan lemah di hadapannya!"


Kinayu menganggukkan kepala dengan tersenyum, ia membalikkan badannya menatap Yudha dan mengecup bibirnya membuat Yudha terkesiap tak menyangka.


"Sudah mulai berani ya? mau dimana? di ruang keluarga? ruang tamu? atau dapur?"


"Kenapa tidak mencoba di sofa itu! sepertinya sensasinya lebih oke!" jawab Kinayu genit dan sukses membuat Yudha semakin gemas. Tanpa pikir panjang ia mengangkat tubuh Kinayu dan merebahkannya di sofa ruang keluarga.


"Aku turuti maumu sayang..tapi apa baby aman?"


"Aman karena tau akan di tengok ayahnya," Kinayu mengapit tubuh Yudha yang kini mulai merangkak naik ke sofa panjang, menatap dengan damba dan gejolak yang begitu besar. Yudha segera menyatukan bibir mereka tetapi segera di tahan oleh jemari Kinayu.


"Kenapa sayang?"


"Apakah setelah ini aku akan di madu? akan ada lagi Kinayu selanjutnya?" tanyanya dengan wajah cemas. Kinayu begitu takut jika Yudha kembali menikah lagi karena sebelumya ia dengan mudah menikahi gadis orang.


"Apa kamu meragukan cintaku? hanya ada kamu dan hanya kamu, tidak akan ada siapapun yang mengisi hati dan ranjang ku!" bisiknya kemudian meraup bibir ranum yang sejak tadi sangat menggodanya. Menikmati suguhan manis yang tercipta untuknya tanpa ada penghalang dan sensasi yang menggiurkan. Bahkan Kinayu bergerak begitu lincah mengimbangi memancing gejolak gairah Yudha semakin membara.


Berawal di sofa berakhir di karpet tebal dengan saling memanjakan dan memberi sentuhan hangat. Menyatu dengan hasrat hingga menimbulkan suara khas percintaan dari kedua bibir dan penyatuan yang begitu panas.


.


.


.

__ADS_1


Sambil nunggu mereka proses mantap-mantap kita merapat dulu yuk ke judul yang satu ini. Masih hangat seperti Kinayu dan Yudha. 🤗🤗



__ADS_2