
Episode 34 : Perdebatan Akram dan Anna.
***
Setelah beberapa saat, Anna sudah kembali lagi ke ruang makan dengan pakaian yang sudah dikirimkan oleh Nenek Deanny ke rumah.
Anna mengenakan sebuah gaun yang cantik dan sopan, dia tersenyum ceria melangkah ke arah suaminya.
'Astaga, kenapa dia menjadi semakin cantik, bahkan lebih cantik dari lima menit yang lalu!'
'Apakah aku sudah gila? aku seperti terhipnotis! wanita ini benar-benar sangat berbahaya!'
Akram merasa terpesona sekali sekarang, dia tidak menyangka jika istri muda nya ini semakin cantik setiap harinya.
"Tuan, kenapa diam saja? apakah ada yang aneh dengan pakaian ku?"
Anna merasa kebingungan dengan Akram yang ada di hadapannya ini, matanya sejak tadi tidak berkedip dan menatapnya dengan mata yang melebar.
"Ehem!"
Akram segera menyadarkan dirinya, dia tidak mau terlihat gugup dihadapan Anna, walau sebenarnya gerak-gerik nya sudah memperlihatkan perasaan gugup secara nyata.
"Tidak ada, pakaian mu tidak aneh, kamu yang aneh, ayo pergi ..." celetuk Akram melangkah lebih dulu sembari memperlihatkan wajah angkuhnya.
Sebenarnya Akram bersikap seperti itu karena merasa sangat malu, dia merasa Anna bahkan sudah kelihatan sangat cantik hanya dengan pakaian seperti itu.
'Kalau dia tidak mengenakan apapun pasti dia jauh lebih cantik! ho ho ho!'
Akram tertawa nakal dalam dirinya sendiri, tetapi ia segera menyadarkan dirinya kemudian.
'Astaga Akram, dia masih 19 tahun! kau gila! kau gila! tunggu dia 20 tahun dulu, jangan membayangkan hal yang tidak tidak!"
Akram masih menahan dirinya, menurut nya Anna masih terlalu muda untuknya, walau sebenarnya keinginan gila itu sudah semakin tumbuh menggunung di hatinya.
Juga sebenarnya Akram bingung bagaimana cara memberikan alasan pada Neneknya, jika dia sebenarnya sangat merasa bersalah jika harus membuat Anna hamil muda.
🦋
__ADS_1
🦋
"Aku aneh? apa-apaan lelaki ini, aku sudah memasak dengan susah payah tetapi dia masih saja mengatai aku!"
"Haaah!"
"Sabar, Sabar Anna ... ini ujian ..." Seru Anna mengikuti suaminya dari belakang.
Anna sebenarnya sedang bersemangat juga, dia penasaran dimana suaminya bekerja dan bagaimana dunia kerja itu.
Maklum, Anna memang selama ini tinggal di pelosok desa, bagi Anna sebuah kota metropolitan dan pekerjaan kantoran adalah hal yang sangat menarik untuknya.
***
Di dalam mobil,
"Anna ... nanti aku ada meeting sebentar, kau ikut sekretaris ku keliling kantor saja ya, dia akan mengenalkan mu berbagai divisi di perusahaan,"
"Oh ya ... kau akan berperan sebagai sepupuku disana, jangan salah sangka ... pernikahan kita memang harus disembunyikan demi masa depan mu,"
"Jadi ..."
"Tuan ... kenapa pagi-pagi sudah cerewet? aku mengerti sekali ... aku bukan anak kecil yang harus diberitahu segala detail, aku mengerti sekali mengapa pernikahan kita disembunyikan jadi tenang saja Tuan ..."
"Aku tidak akan sakit hati atau tersinggung, jadi tenang saja ..." seru Anna benar-benar bersikap sangat dewasa.
Tetapi bukan jawaban Anna yang membuat pipi Akram memerah sekarang, tetapi tangan Anna yang menggenggam tangannya.
"Deg ... Deg ... Deg!"
"Kau! menggodaku ya? berani sekali kau menyentuh tangan ku?"
"Dasar wanita penggoda, masih muda tapi sudah sangat berani menggoda!"
Seru Akram membuat Anna syok sekali dengan respon berlebihan suaminya.
Sungguh di dalam mobil yang biasanya sunyi menjadi ramai karena keberadaan Anna.
__ADS_1
Padahal dia hanya menggenggam tangannya secara refleks.
"Astaga ..." Anna langsung melepaskan genggaman tangannya dan duduk menjauh.
"Aku tidak menggoda, siapa yang menggoda!" seru Anna kebingungan dengan duduk menjauh dan sedang menyudut ke sisi mobil.
"Tentu saja kau! siapa lagi!" seru Akram sekarang malah menarik Anna dalam satu hentakan dan membuat nya duduk dekat sekali di sisinya.
Akram langsung merangkul Anna dan tersenyum begitu nakal.
"Tuan, anda yang menggoda ku, kenapa menarik aku?" seru Anna benar-benar tidak terima.
Dia hanya menggenggam tangan sudah dikatai menggoda, sedang Akram menarik nya dengan leluasa seolah tidak merupakan bagian dalam menggoda.
"Ini tidak menggoda, aku hanya merasa kedinginan jadi aku butuh kehangatan! memangnya salah?" seru Akram sungguh tidak bisa dilawan jika berdebat.
"Tuan memang pandai berdebat!" gerutu Anna tidak mau lagi melawan.
Anna yang merasa hangat juga langsung bersandar di bahu suaminya, karena pemikiran Anna masih sangat polos tidak ada satupun hal nakal yang dia inginkan saat bersandar di bahu suaminya.
Berbeda dengan Akram tentunya.
Jantungnya hampir meledak sekarang.
'Penyihir kecil ini, membuat aku tegang setiap waktu, astaga ... aku pasti bisa meledak jika seperti ini!'
Gerutu Akram dengan jantung yang berdegup sangat kencang sekarang.
.
.
.
.
Author : Yuk guys jangan lupa dukung author dengan cara like dan komen ya.
__ADS_1
Jangan lupa follow Instagram author juga di :
@Anak_Kost_Joy